
"Semuanya terlihat membosankan... kita sudah mencoba semuanya bukan?" Tanya Koizumi selagi melihat-lihat semua video game itu.
"Bagaimana kalau kita bermain tambang dan membangun lagi?! Biarkan aku menghancurkan---" Hinoka menerima sentilan di keningnya oleh Koizumi.
"Tidak mau! Setiap rumah dan bangunan yang aku buat selalu kau hancurkan dengan lahar dan bom!" Seru Koizumi yang sudah kesal bermain game seperti itu.
"Ehehehe... game itu memang mengandung banyak kehancuran sih, tidak salah lagi jika Kak Hinoka suka." Kata Shinobu selagi melihat-lihat semua video game itu di rak kaset.
"Hahhhh... bukan itu saja! Setiap tambangan yang aku peroleh selalu saja Hinoka curi...! Uggghhh!" Koizumi menyimpan rasa dendam kepada Hinoka tentang video game tambang dan membangun.
"Fufufu... sepertinya Koizumi terbakar hari ini... video game selanjutnya aku akan membuat dirimu kalah lagi." Hinoka mulai menahan tawanya selagi menutup mulutnya itu.
"Lihat saja, Hinoka! Aku tidak akan kalah darimu lagi soal video game, jika sesuatu yang kita mainkan baru maka aku akan menguasainya lebih cepat...!" Koizumi menunjuk Hinoka.
"Hohhh... kalau begitu aku menerimanya!" Hinoka mulai memeluk Koizumi erat untuk menjalani tantangan itu.
"Lepas...!" Koizumi mencoba untuk mendorong tubuh Hinoka.
"Hahhh~ Tubuhmu terasa begitu lembut dan wangi..." Hinoka melepas Koizumi lalu ia menundukkan dan berhasil menghindari serangan sentilan itu.
"Kalau begitu... bagaimana jika kita bermain petualangan elemental---" Hinoka mengambil sebuah kaset tetapi Koizumi langsung merebutnya karena ia juga muak dengan gamenya.
"Tidak mau...! Aku memiliki keberuntungan yang begitu buruk di dalam sana, hanya kalian saja yang mendapatkan karakter tipe lima sedangkan semua yang aku dapatkan hanya tipe tiga dan empat yang jelek!"
"Ahh, Kak Koizumi memang buruk soal game keberuntungan." Shinobu mulai mencari video game lainnya dengan membuka setiap laci yang dimiliki oleh rak itu.
"Jangan jatuh?"
"Tidak! Kau terus mendorong diriku...!"
"Perang tank!"
"Tidakkkk! Tank yang aku dapatkan selalu jelek!"
"Menghancurkan gedung!"
"Setiap karakter terlalu kuat, tidak ada sedikit keseimbangan!"
"Arwah gelap?"
"Tidak! Itu video game tersulit yang aku coba bahkan kau juga tidak bisa!"
"Menaklukkan neraka!"
"Kita sudah bermain video game itu berkali-kali, membosankan..."
"Perang di Medan perang dengan mengumpulkan beberapa---" Koizumi mulai mendekati Hinoka lalu memasang tatapan kesal.
"Sekali aku bermain game itu dan mati... kau hanya diam di hadapanku lalu melempar sebuah granat untuk membunuh diriku...!"
"Te-he~ Bukannya itu lucu?"
"Te-he~ Tidak!" Koizumi menyentil keningnya.
__ADS_1
Shinobu melebarkan matanya ketika ia menemukan kaset yang terlihat begitu baru, ia baru saja ingat bahwa Kou sempat memberi dirinya sebuah video game yang dapat membantu ilmu pengetahuan dan pikirannya itu.
"A-Aku menemukannya...! Sesuatu yang baru...!" Shinobu memegang kaset itu menggunakan kedua tapaknya sampai kedua sepupu itu mulai menatap dirinya.
"Ohh~ Video game baru ya? Seperti apa isinya?" Tanya Hinoka yang mulai melihat kaset itu dari dekat.
"Hinoka, ini yang terakhir kalinya... jika kamu bermain curang denganku maka aku tidak mau bermain lagi!" Kata Koizumi selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Hehhhhh...!"
"Kak Koizumi... hampir setiap video game selalu mengatakan hal itu, tetapi berhasil melupakannya dengan bayaran ken---" Hinoka langsung menutup mulut Shinobu yang hampir saja membongkar senjata rahasianya.
"Apa tadi, Koneko...? Kamu ingin memainkannya cepat? Wahh~ Aku juga~" Hinoka mulai membisiki Shinobu untuk tidak memberitahu Koizumi tentang kentang goreng itu.
Shinobu mengangguk dengan cepat sampai Hinoka berhenti menutup mulutnya, ia melihat Shinobu melarikan diri karena ia baru saja di sentuh oleh Hinoka dengan penuh kejutan.
"Hei! Apa yang kau lakukan kepada sepupu kecilmu itu?! Kau tahu bahwa dia masih merasa takut denganmu jika kau mengejutkannya seperti itu." Koizumi mendekati Shinobu yang sedang sembunyi.
"Eeeppp!" Shinobu langsung menciak ketika melihat Koizumi mendekatinya.
"Ini aku, Koneko." Koizumi membantu Shinobu untuk berdiri lalu ia menatap Hinoka dengan tatapan serius.
"Ayolah, kita bermain video game itu agar Koneko bisa terbiasa dengan dirimu." Koizumi mulai meraih tangan Shinobu lalu mendekati Hinoka yang sedang mencari video game lain.
"Oke~~~ Ayo bermain~"
Hinoka mengangkat lengan kanannya sehingga ia melihat Shinobu mulai mempelajari video game itu sebentar lalu ia terkejut ketika game yang ia pilih hanya bisa di mainkan oleh tujuh orang.
"Video game ini jadi seperti bermain otak juga... j-jika kita seorang pekerja maka tugas kita harus menyelesaikan semua tugas yang tersedia dalam catatan kita."
"Ahh! Seperti game detektif dan teka-teki ya?! Aku sangat menyukainya!" Seru Hinoka yang sudah mengerti.
Koizumi terus mendengarkan peraturan itu dari Shinobu agar ia tidak dapat merasakan kekalahan dari lagi kedua sepupu yang harus ia lindungi.
"I-Itu benar... hanya saja kita sebagai pekerja dapat menjadi seorang detektif untuk menembak monster yang sudah membunuh salah satu pekerja..."
"...tugas seorang pekerja adalah menyelesaikan tugasnya sedangkan monster yang menyamar menjadi pekerja itu harus membunuh semua manusia agar bisa menang."
"Apa yang akan terjadi jika para pekerja berhasil menyelesaikan misi itu?" Tanya Koizumi.
"Kita menang... tetapi rasanya cukup sulit... monster akan membunuh seorang pekerja kapan pun, jika seseorang menemukan mayatnya maka ia dapat melapornya sampai para pekerja lain mulai berkumpul di ruang utama."
"Setelah itu, kita akan berdiskusi... hanya di antara kita, terdapat monster menyamar yang harus kita tembak menggunakan pistol yang akan tersedia ketika sudah memilih salah satu pekerja itu."
"Jika kita berhasil membunuh monster itu maka... akan terdapat sebuah peringatan bahwa kita berhasil, jika kita menembak seseorang yang salah maka... peringatan itu akan muncul juga."
"Oh begitu ya~ Jadi salah satu dari kita bisa menjadi monster untuk membunuh para pekerja, jika seseorang berhasil menemukan tubuh itu maka kita terpaksa harus menuduh seseorang?" Tanya Hinoka.
"I-Itu benar... kita juga sebagai pekerja harus percaya dan berpikir... apakah kita bisa mempercayai satu sama lain...?" Tanya Shinobu dengan ekspresi gugup karena ia ingin sekali memainkan video game itu.
"Boleh saja! Terdengar cukup menarik..." Koizumi mengangguk lalu ia menatap Hinoka yang terlihat begitu bersemangat karena ia dapat membunuh siapa pun ketika menjadi monster.
"T-Tapi... dimana kita akan menemukan 4 pemain lainnya...? Bermain publik... tidak akan berjalan dengan baik..." Kata Shinobu yang mulai menyalakan semua mesin virtual itu.
__ADS_1
"Konomi dan Ako! Sisanya aku bingung...!" Kata Hinoka yang mulai memikirkan seseorang, semuanya terdengar sibuk bahkan ia juga tidak akan mengajak Ayahnya yang terlalu sibuk memberontak.
"Aku akan mencoba untuk menghubungi Ibu, semoga saja dia mau..." Koizumi mulai memejamkan kedua matanya untuk melakukan telepati dengan Haruka.
"Ka-Kalau begitu...! Aku akan mengajak Mama..." Shinobu berjalan pergi untuk mendatangi Kou yang masih memberi makan kepada hewan ternak.
Melihat Koizumi dan Shinobu mencoba untuk mengajak Ibu mereka membuat Hinoka murung seketika sampai ia terdiam untuk waktu yang sebentar, pikirannya mulai mengingat tentang kenangan dari Honoka yang begitu indah bagi dirinya.
"... ..." Hinoka tersenyum pahit, entah kenapa rasanya cukup menusuk di dalam hatinya sampai ia melihat Koizumi yang baru saja selesai menghubungi Haruka.
"Hinoka." Panggil Koizumi yang melihat senyuman palsu di wajahnya itu.
"Mm?" Hinoka menatap Koizumi.
"Bukannya aku ingin kalah, tapi... jangan coba-coba untuk menahan diri lalu kalah dariku!" Koizumi mencoba untuk menyemangati dirinya sampai ia kembali tersenyum lalu tertawa.
"Memangnya aku akan kalah dari seorang Legenda yang sangat payah dalam video game?!" Hinoka tersenyum serius selagi menunjuk Koizumi.
"Itulah semangat yang aku ingin--- Tidak ada ciuman untuk hari ini." Koizumi menutup mulut Hinoka yang hampir saja mencium bibirnya.
"Buuuuuuu...."
***
"Video game baru ya? Terdengar cukup menyenangkan." Kata Konomi selagi menatap kaset tersebut.
"Benarkan!? Kita bisa menjadi monster... lebih baik menjadi monster di bandingkan pekerja yang membosankan karena harus mengurusi tugas ini dan itu!" Seru Hinoka.
"Justru menjadi pekerja lebih baik. Kenapa? Karena kita dapat melakukan pemilihan siapa yang harus di tembak, aku pasti akan terus memilih dirimu." Koizumi menatap Hinoka.
"Kalau begitu, itu adalah sebuah tantangan...!" Hinoka terbakar dengan penuh semangat, ia hanya bisa berhadap bahwa dirinya menjadi seorang monster yang dapat membunuh siapa pun.
"Jangan bermain tidak adil seperti itu, jika seseorang menemukan monster yang membunuh atau bukti yang kuat baru kita pilih..." Haruka mulai berbicara.
"...jika Koizumi memilih Hinoka dan kami memilih dirinya juga lalu ia adalah seorang pekerja maka otomatis kau cukup mencurigakan, Koizumi."
"Ahh, benar juga... ternyata memang membutuhkan otak dan strategi untuk bisa menang sebagai pekerja dan monster." Koizumi menyilangkan kedua lengannya.
"Monster juga dapat melakukan sabotase dengan ruangan pekerjaan seperti mematikan lampu, oksigen, memasang ledakan, serta membutakan tugas kita." Kata Kou.
"Memasang ledakan?!" Hinoka memasang tatapan yang bertambah semangat bahwa monster dapat memasang ledakan untuk menjadi pemenang.
"Anuuu... apakah kita memulai permainannya sekarang juga?" Tanya Shinobu.
""Ayo!""
Mereka semua masuk ke dalam tabung yang berisi teknologi dan sistem rumit, setelah itu menunggu Shinobu memasukkan kaset itu ke dalam teknologi yang berbentuk seperti kubus di tengah-tengah.
Ketika kaset itu masuk dan berhasil baca oleh kubus itu maka setiap tabung akan memancarkan cahaya biru yang mengartikan bahwa sistem sudah siap untuk membawa mereka semua ke dalam game tersebut secara asli.
Mereka menekan tombol hitam untuk menutup tabung tersebut lalu memakai sebuah kacamata agar sudut pandang mereka bisa berpindah ke dalam karakter itu.
"Sistem berjalan dengan baik, putri kecil." Peringat Tech yang mulai menjaga.
__ADS_1
"B-Baiklah... ayo masuk...!"
""Ayo!!!""