
Shinku bersama seluruh pasukan-nya berubah menjadi aura Crimson yang menipis dan hilang begitu saja, semua kutukan Crimson itu juga mulai hilang dan kembali menunjukkan angkasa yang terlihat sangat indah dengan warna-nya tersendiri. Shinku sebelum pergi, ia menatap Korrina yang sedang berlutut dengan ekspresi serius-nya.
"Aku mengakui-nya...!!! Kau benar-benar kuat, Mortaaaaaagggghhhhh---" Shinku berubah menjadi aura Crimson dan mulai menipis.
Perang antar semesta akhirnya berakhir dan dimenangkan oleh pihak yang lebih pantas untuk memperjuangkan kedamaian demi kewajiban mereka sendiri, Kuro bangkit dari atas tanah dan melihat Korrina yang sedang bernafas berat selagi berlutut di atas tanah dengan ekspresi yang mulai kelelahan.
"Hah... hah... hah..." Korrina duduk di atas tanah hingga punggung-nya mulai bersandar di dada Alisha, ekspresi-nya terlihat cukup ketakutan melihat Korrina yang terlihat sangat kelelahan, dia mencoba untuk memulihkan-nya tetapi sihir Crimson yang terdapat di dalam dirinya segera menghapus efek penyembuhan itu.
"Alisha... Tolong... bantu aku..." Kata Korrina pelan, ia menatap ke depan dan melihat seluruh teman-temannya mulai mendekatinya. Grimoire itu telah hancur hingga lembaran-nya berserakan dimana-mana.
Mereka semua sontak kaget ketika melihat rambut Korrina yang yang sangat pendek, rambut biasa-nya yang pirang telah sepenuhnya berubah menjadi warna merah dan wajah-nya juga memiliki beberapa garis merah. Akina berlutut di depan Korrina dan mulai menyentuh pipi-nya, satu sentuhan saja sudah membuat Akina langsung merasa seperti disengat.
"A-Apa...?" Akina mencoba untuk membantu dirinya dengan melepaskan sihir penyembuhan tetapi semua sihir itu tidak memberi Korrina efek apapun, Korrina mulai menyentuh tangan Akina dan ia langsung kaget ketika tubuh-nya merasakan kehangatan yang cukup nyaman.
"Korrina..." Akina mulai menatap Korrina yang terlihat senang, ia tersenyum sambil mengelus kepala Akina.
"Aku akan baik-baik saja... Ini tidak seberapa..." Jawab Korrina, Akina mulai menangis ketika melihat Korrina yang masih bisa tersenyum dan bersikap biasa saja walaupun ajal sebentar lagi akan bertemu dengan diri-nya.
Beberapa dari mereka semua mulai merasa sedih ketika melihat Korrina yang masih bisa tersenyum dan bersikap biasa saja, rasa kesakitan yang saat ini menyelimuti-nya bisa terasa cukup menyakitkan bagi hati mereka ketika melihat Korrina yang dapat bertahan dengan semangat dan niat-nya. Semangat-nya lah yang mampu membawa mereka ke puncak kemenangan.
"Anakku..." Koura mulai merinding ketika melihat anak-nya sendiri yang terlihat sangat hancur, ia mencoba untuk menyembuhkan-nya tetapi Korrina segera menolak-nya dengan mencium hidung-nya.
"Ibu... aku berhasil... hehehe, aku dapat melindungi-nya... Aku menunjukkannya kepada kalian semua... kan...?" Korrina tersenyum.
Shira tiba di belakang Akina dengan ekspresi yang kaget melihat Korrina yang benar-benar terluka karena sudah mencoba mantra untuk menghancurkan buku sihir itu. Mereka semua terlihat diam dan Shira langsung bisa mengerti dengan situasi-nya, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantu Korrina.
Seluruh populasi Touri masih berada di tempat itu dan mengepung Korrina, mereka semua tentu akan mengenal sesosok Legenda yang sangat legendaris tetapi mereka mulai tidak mempercayai apa yang baru saja mereka lihat, Korrina terkesan melihat seluruh populasi Touri bisa berkumpul di tempat yang sama... Melihat hasil kerja keras-nya.
"Shira... Ternyata... kau bertahan..." Korrina tersenyum.
"Tentu saja..." Jawab Shira sambil menundukkan kepala-nya, ia mencoba untuk menahan tangisan-nya.
"Mama...!!!" Haruka menghampiri Korrina dan segera memeluk-nya erat ketika melihat kondisi yang sangat parah, Haruka mencoba segala cara untuk bisa membuat Korrina kembali tetapi apa yang dia lakukan itu tidak mampu membuat Korrina kembali, Korrina hanya bisa tersenyum lebih lebar ketika melihat anak-nya sendiri.
__ADS_1
"Mama...!!! Tidak...!!!" Haruka mulai menangis, ia memeluk Korrina dengan sangat erat... Mencoba untuk tidak membiarkan-nya pergi begitu saja.
"Sssshhhh... Semua-nya akan baik-baik saja... Aku menyayangi-mu, Haruka kecilku..." Korrina meneteskan air matanya, anak-nya yang lain mulai datang menghampiri Korrina dan segera memeluknya dengan sangat erat lalu mundur beberapa langkah untuk memberi hormat terakhir mereka kepada Ibu yang sudah membesarkan mereka sendirian.
Korrina mulai meraba kedua bahu Haruka dan mencoba untuk menenangkan-nya, "Ha-ru-ka... Mama waktu itu bilang apa...? Hanya menangis ketika tidak ada suatu buruk yang terjadi."
"Tapi ini... Ini buruk...!"
"Tidak kok, Mama... baik-baik saja." Korrina tersenyum.
Mereka semua mulai menangis dan sebagian dari mereka mulai mencoba untuk menahan dan menyembunyikan tangisan itu, Korrina langsung kaget ketika melihat mereka semua menangis dan sebagian dari populasi Touri mulai meneriakkan 'Aku mencintaimu, Korrina!!!'.
'Hei-hei, tidak perlu menangis... Mengapa menangis melihat-ku seperti ini sih... Aku baik-baik saja..." Korrina masih bisa menunjukkan senyuman itu walaupun rasa yang ia rasakan hanya kesakitan, hati-nya juga tidak bisa menerima bahwa dia sebentar lagi akan meninggalkan Haruka untuk selama-nya.
"Mama... akan selalu bersama-ku bukan...? Mama akan selalu berada di sisiku..." Kata Haruka, ia menghapus air mata-nya.
"Tentu saja, dimanapun Mama selalu berada dekat denganmu... Terutama di dalam dirimu dan hati-mu sendiri." Korrina mulai memeluk Haruka erat.
"Kalian semua... nikmatilah hidup kalian sebisa mungkin... jangan melakukan tindakan gegabah yang aku coba... Touri... masih harus bisa bertahan, semangat kalian-lah yang membawa kemenangan ini..." Korrina mulai menatap mereka semua sambil mengelus punggung Haruka.
"Maafkan diriku, Haruka... Mama malah memiliki rambut pendek dan merah seperti ini... Tetapi aku sudah cukup senang melihat-mu selamat dan tidak terluka sama sekali, kenapa mereka harus melihat-ku dengan tatapan sedih sepertimu... seharusnya mereka tahu bahwa Mama sebenarnya baik-baik saja..." Korrina mulai batuk darah sampai baju Haruka mulai dikotori dengan darah hitam milik Korrina.
"Mama... Kenapa Mama selalu saja bersikap seperti itu walaupun semua keadaan yang Mama alami itu selalu buruk... Dari awal Mama selalu seperti ini, seharusnya Mama sadar bahwa nyawa Mama itu bisa saja hilang bukan...!!!" Seru Haruka sambil menatap Korrina yang masih terlihat tenang.
"Percuma saja untuk mengeluh... Semua-nya sudah tercantum di takdir, apa yang aku rasakan memang biasa saja kok... Apalagi ketika melihat-mu dan kalian semua... Mama merasa senang, lagipula... Sangat tidak berguna untuk takut dan juga merasakan sedih terhadap takdir yang kita hadapi ini... Apalagi diriku yang sudah hancur ini..." Korrina tersenyum.
"Tapi... Mama tidak akan mati, Mama hanya lebih memilih untuk istirahat karena... Mama-mu tidak bisa digantikan oleh siapapun kecuali dirinya sendiri loh~ Kalian yang berkumpul di tempat ini dan mengepung diriku... terasa seperti ingin berpisah saja."
"Perjalanan dan perjuangan Mama masih jauh, kedua itu akan menjadi sia-sia jika Mama berhenti dan meninggalkan kalian semua sekarang ini bukan...? Hanya saja aku membutuhkan istirahat... Istirahat yang cukup lama, menikmati waktu-ku sendirian... setidaknya bersama kalian semua... ini terasa seperti istirahat yang cukup nikmat." Korrina meneteskan air mata-nya.
"Senang... Bahagia... Lega... Bersyukur... Semua perasaan baik sudah bisa aku rasakan... Semuanya bercampur menjadi satu hingga dapat membuatku tenang seperti ini... Aku... Aku tidak ingin meninggalkan-mu... Haruka...!" Korrina tidak bisa lagi menahan tangisan-nya, ia segera memeluk Haruka dengan sangat erat hingga mereka semua mulai menangis.
"Semua orang pasti akan bertemu... dengan saat-saat seperti ini... Takdir kematian memang sudah tercantum... takdir yang tidak bisa di ubah... mungkin... Semua orang yang hidup... pasti suatu hari akan bertemu dengan kematian mereka tersendiri... dengan cara apapun..." Suara Korrina mulai terdengar lemah dan lemas hingga ia pandangan-nya mulai kabur.
__ADS_1
"Haruka... Apakah kamu masih ingat kenapa seluruh orang hidup walaupun mereka semua tahu bahwa kematian pasti akan bertemu dengan mereka...?" Tanya Korrina, Haruka segera menggelengkan kepala-nya... Dia terus menangis tepat di dada-nya.
"Itulah kenapa... Kematian adalah hal yang biasa dan kita semua harus siap untuk menghadapi-nya... sebenarnya... Mama tidak siap dan terlalu lemah... untuk menghadapi kematian itu... tetapi... jika aku berhenti maka semua-nya akan sama-sama merasakan kematian.."
"...Aku belum siap untuk meninggalkan anak-anakku... terutama dirimu... Siapa... yang akan menjaga kalian jika bukan aku...? Siapa yang akan melihat... perkembangan kalian... Mama masih... ingin melihat... dirimu tumbuh... dan terus bertambah kuat..." Korrina mulai menangis dengan tersedu-sedu, dia tidak bisa lagi menahannya di depan Haruka.
"Aku... masih ingin... melihat-mu... perkembangan-mu... masih ingin melihat... galaksi... semesta... dunia... yang aku cintai... kebersamaan kita... semua... sudah membuatku tenang... bahagia... sungguh... hebat... melihat... kalian... yang masih... ingin... melihatku..." Korrina tersenyum kepada mereka semua sambil memejamkan kedua matanya.
"Haruka... kamu... pasti bisa kan... hidup sendiri... kamu... memiliki banyak... teman... keluarga selain Mama... perkembangan-mu... dirimu... pasti... akan selalu... aku lihat di atas sana..." Haruka mulai menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat serius.
"Mama... aku pasti akan membangkitkan-mu kembali...! Aku akan terus berkembang... Berkembang sampai aku berada di puncak yang jauh lebih kuat untuk bisa melindungi Touri termasuk Mama!" Tatap Haruka serius, Korrina hanya bisa tersenyum sambil memejamkan kedua mata-nya.
Korrina mulai membuka kedua matanya, ia tidak bisa berbicara tetapi mimik mulut-nya masih bisa terlihat bahwa ia mengatakan sesuatu seperti 'Aku akan selalu mencintaimu... Kapanpun dan dimanapun...', Haruka mulai menangis tersedu-sedu karena Korrina sekarang sudah tidak bisa bertahan, dia juga bahkan sadar bahwa Korrina sudah tidak bisa mendengar juga.
Alvenius mulai menghadapi-nya, Korrina mengalihkan pandangan-nya kepada dirinya dan ia tiba-tiba melihat Alvin untuk terakhir kalinya... Ia segera mengangguk dan menatap Haruka dengan ekspresi yang terlihat tenang, dia tidak bisa mengatakan apapun kecuali melihat Haruka yang tidak bisa dilihat karena pandangan-nya yang kabur.
"Mama... Apakah Mama bisa mendengarku...? Melihatku...?" Haruka mulai menatap wajah Korrina dengan ekspresi yang terlihat khawatir.
"Serahkan Touri kepada kami...! Mama boleh istirahat sekarang, Mama bisa beristirahat kapanpun dan sepanjang apapun...!" Haruka tersenyum, Korrina hanya bisa menunjukkan ekspresi senang dan tenang-nya ketika melihat anak-nya yang akhirnya tersenyum ketika melihat dirinya sendiri.
"A... a... a..." Korrina mencoba sekuat mungkin untuk berbicara, "k...u... meny... menya.... nya..yangi...."
"...m...mu...mu..." Korrina menunjukkan senyuman terakhir-nya kepada Haruka lalu ia memberinya sebuah kecupan di kening-nya, setelah itu Haruka langsung terkejut dan segera menatap Korrina yang sudah tiada, dia telah beristirahat panjang dengan kedua mata yang sudah tertutup dan sebuah senyuman yang masih bisa terlihat.
Ketika melihat Korrina yang sudah sepenuhnya beristirahat, Kuro-lah yang pertama untuk berlutut kepada dirinya, mereka semua mulai melihat Kuro lalu melakukan hal yang sama yaitu berlutut sambil menundukkan kepala mereka, mereka semua memberi kehormatan dan doa yang besar untuk Korrina.
Sang pahlawan legendaris yang sudah menyelamatkan Touri, berkat rencana-nya... Semuanya dapat berjalan cukup baik hingga kesempatan menang mereka yang kecil dapat diraih dengan mudah. Sebagian dari mereka memiliki perasaan yang bersalah karena salah satu-nya pernah membenci Korrina dan mencoba untuk membunuh dirinya.
Satu demi satu mereka berlutut untuk memberi Korrina rasa hormat tinggi dan juga sebuah salut, seluruh manusia mengangkat senapan mereka dan menembakkan sebuah peluru ke atas langit untuk menunjukkan kehormatan yang lebih besar kepada dirinya. Beberapa dari ras lainnya juga mulai menghormati Korrina dengan cara yang berbeda.
"Legends... never dies..." Shira berlutut dan mulai melepaskan cahaya besar di atas-nya hingga angkasa mulai dipenuhi dengan partikel emas.
"M-Mama... Hiks... Hweeeeeeehhhhhhhhhhhhh...!!!" Teriak Haruka keras, ia benar-benar tidak bisa menerima Korrina yang benar-benar meninggalkan dirinya untuk selama-nya.
__ADS_1
"...Mamaaaaa!!!"