
Tubuh Shinobu memancarkan sinar cahaya lagi sampai ia membuka kedua matanya dengan tatapan polos, kematian bisa dibilang sudah menjadi hal kebiasaan bagi dirinya sampai ia tidak menunjukkan ekspresi apapun kecuali polos.
"Syukurlah... aku selalu lupa tentang nyawa sembilan Neko Legenda..." Kata Koizumi yang melihat Shinobu melempar daun herbal emas kepada dirinya untuk segera memulihkan tubuhnya sendiri.
"Shinobu Koneko...! Bagaimana rasanya kematian...?!" Tanya Aerith yang memutar tongkat sihirnya untuk mempersiapkan karya yang akan ia hidupkan.
"Kematian tidak memiliki rasa... tetapi kesakitan yang aku berikan padamu tentunya akan berasa." Jawab Shinobu yang mulai memasang tatapan serius sekarang.
"Hahaha~ kalau begitu... buat aku kesakitan!" Aerith langsung menggambar sebuah karya yang mengeluarkan banyak sekali rudal dan sihir tinta menuju arah mereka berdua.
Shinobu membidik semua serangan itu menggunakan kedua tapaknya sampai pergelangannya mengeluarkan banyak sekali tipe senjata yang menembak secara bersama sampai menimbulkan ledakan dahsyat di hadapan mereka.
"Shinobu... bisa di bilang dia itu abadi, bersatu dengan tinta dan karya dari gambar... sungguh tidak masuk akal." Kata Koizumi yang menerima pemulihan cukup.
Asap di hadapan mereka langsung menipis sampai menunjukkan Aerith yang mendekati Koizumi dengan kuas besar yang ia pegang menggunakan kedua tangannya seperti memegang [Claymore].
Koizumi secara refleks menahan serangan Aerith menggunakan belatinya lalu ia menyentuh belatinya sendiri untuk menarik aura Crimson di dalamnya sampai ia mengeluarkan belati yang terbuat dari sihir Crimson.
Setelah itu, ia lancarkan kepada Aerith tetapi ia berhasil dilindungi oleh tinta yang membentuk perisai di punggungnya seperti kura-kura.
"Nrggghhh...!!!" Koizumi merapatkan giginya ketika saling bertatapan dengan Aerith yang bernafas berat karena tidak sabar menerima serangan penuh emosi darinya.
"Itu saja...?! Mana rasa luka yang harus kau berikan padaku, Koizumi...!?" Kuas besar itu langsung mengeluarkan tinta yang bergerak di belakang Koizumi sampai membentuk sesuatu yang tajam.
Shinobu langsung menghancurkannya menggunakan pukulannya lalu ia menginjak bahu Koizumi dan melompat ke atas sampai melewati kuas besarnya itu.
Satu serangan ia ayunkan menggunakan Kerisnya tetapi Aerith sempat menggambar sesuatu menggunakan kelima jarinya yang sudah dinodai dengan tinta.
Jari-jarinya mengeluarkan tinta yang membentuk seperti tongkat besar, tongkat itu mengejutkan Shinobu sampai ia langsung menahan serangan tersebut tetapi dirinya masih terdorong ke belakang.
Koizumi mencoba untuk menghentikan waktu lalu ia melancarkan ratusan tebasan ke arah Aerith menggunakan kedua belati tersebut.
"Apa...?!" Koizumi mengangkat kedua alisnya ketika melihat serangan Koizumi ditahan oleh tinta yang keluar melalui pori-pori dan kulit Aerith.
Waktu kembali berjalan, salah satu dari tinta itu menyerang Koizumi sampai menyelimuti kedua lengannya untuk melarang dirinya melakukan serangan apapun, penglihatan Koizumi sampai terhalang juga.
"Sialan...!"
"Tolong jelaskan kesakitan yang kau rasakan...!!!" Aerith mengangkat kuasnya ke atas sampai mengeluarkan tinta yang membentuk hujan pedang di atas langit.
Koizumi menunjuk ke atas sampai menghentikan waktu objek tinta tersebut, Aerith tersenyum lebar seketika melihat Koizumi melancarkan satu tendangan yang mengenai wajahnya sampai ia terdorong ke belakang.
"Hyaaannn~ sakit~"
Punggung Koizumi langsung menerima sihir yang dilepaskan oleh pasukan dari kerajaan lagi, ia menoleh ke belakang selagi mengusap noda tinta di kedua matanya.
"Mengganggu saja...!!!" Koizumi melempar belati Crimson nya ke depan lalu ia mengepalkan tinju kirinya sampai meledakkan belati tersebut dan menyebabkan serangan sihir yang menusuk leher mereka.
Aerith bangkit tetapi Shinobu langsung mendorong dirinya menggunakan Golden Repulsor yang dilepaskan menggunakan kedua tapaknya.
Setelah itu, ia mengeluarkan banyak sekali daun emas yang lepas melalui tubuhnya dan menggerakkannya ke depan sampai mengangkat tubuh Aerith lalu membungkus tubuhnya sedikit demi sedikit.
Shinobu menoleh menuju arah Ako lalu menggunakan The Mind untuk mengendalikan tubuhnya tanpa kesadaran dirinya, kedua lengannya yang sedang memegang busur langsung membidik kepada Aerith.
Satu panah es besar mulai Ako tarik sampai ia menyadarinya, ia melihat dirinya langsung melepaskan panah itu menuju arah bungkusan es sampai menyebabkan ledakan kecil dari pembentukan kristal es.
Shinobu terdorong ke belakang lalu ia bersama Koizumi menyerang secara bersamaan tetapi tubuh Aerith berubah menjadi tinta seketika sampai mengeluarkan banyak garis yang mencoba untuk menusuk anggota tubuh mereka.
Shinobu mengeluarkan perisai melalui kedua pergelangan tangannya lalu dibungkus dengan daun emas, setiap pertahanan yang ia gunakan terasa tidak berguna karena garis tinta itu menembusnya sampai mengenai lehernya.
__ADS_1
"Ahhh...!"
Koizumi melesat ke atas langit lalu ia melompati waktu sampai berhasil menghindari serangan tersebut, tetapi ia sadar bahwa Aerith menghilang entah kemana.
Shinobu membalut lukanya dengan daun herbal lalu ia melepaskan pembakaran melalui kedua tapaknya untuk terbang tinggi ke atas lalu menyerap cahaya matahari di atas langit.
"... ...!!!" Shinobu melepaskan laser cahaya melalui kedua tapaknya menuju arah Aerith tetapi tubuhnya mengeluarkan kapsul tinta yang menahan serangan tersebut.
"Seranganmu sangat unik, Shinobu Koneko...!" Aerith langsung menirunya dengan menggambar replika serangan tersebut sehingga kapsul itu mengeluarkan dua lengannya yang melepaskan laser hitam ke arahnya.
Shinobu melempar belatinya ke depan sampai menghapus semua serangan tersebut lalu ia melepaskan Golden Repulsor menuju arah Keris tersebut sampai terpental ke atas langit.
Aerith tersenyum lalu ia menggunakan tongkat sihirnya untuk menggambar sebuah zirah yang terpasang di Beast dengan inti dari Chip tersebut.
Beast itu langsung mengamuk, Koizumi merasakan firasat aneh sampai ia langsung mempersilahkan pertahanan sampai zirah tinta yang dikenakan oleh Beast itu mengeluarkan garis yang menyerang dirinya.
"... ...!!!" Koizumi berada di posisi pertahanan tetapi garis itu sudah menembus kedua lengannya tetapi tidak bisa mengenai tubuh bagian tengah dan atas karena tertahan oleh Lenergy yang menahannya.
"Sun's Vision!" Mata kanan Shinobu mengeluarkan lambang matahari sehingga matahari yang berada di atas langit memancarkan cahaya yang begitu cerah menuju arah Aerith.
Kerisnya yang terpental ke arah berbeda langsung mengikuti tanda sinar matahari itu secara diam-diam, Aerith memutar tongkat sihirnya lalu mengumpulkan banyak sekali tinta yang ia lepaskan seperti laser menuju arah Shinobu.
"... ..." Shinobu hanya bisa diam sampai Konomi datang lalu memutarkan tombaknya yang dilapisi es sampai mengubah tinta di hadapannya menjadi es hitam sedikit demi sedikit.
"Percuma saja...!!! Kalian semua tidak akan bisa membuat diriku merasakan kesakitan penuh nikmat lagi..." Aerith menarik sebuah kapsul di dalam sakunya lalu membukanya sampai banyak sekali tinta terlepas menuju arah mereka.
Koizumi turun tangan dengan menghentikan waktu lalu muncul di belakang Koizumi dan Shinobu untuk memindahkan mereka tempat yang aman.
Waktu kembali berjalan, semua tinta yang dilepaskan oleh Aerith langsung berbelok arah menuju ketiga gadis itu, mereka bertiga memasang tatapan kaget tetapi serangan itu melambat ketika menerima tembakan panah Ako.
"Keempat pemberontak sudah berkumpul--- HUGGGHHH!!!"
Keris yang selama ini mengikuti tanda cahaya dari matahari itu telah berhasil memutuskan tubuh Aerith di bagian bawah, Shinobu menarik kembali Keris tersebut sampai ia menerima pujian dari Koizumi.
"Dia bisa di bilang abadi tetapi dengan cara yang aneh..." Kata Shinobu ketika melihat usus hitam yang keluar melalui lukanya.
Apa yang ia lihat seharusnya darah yang mengucur dengan jumlah banyak tetapi pandangannya terasa seperti menipu dirinya sendiri ketika melihat banyak sekali tinta yang terlepas sampai menciptakan anggota tubuh baru.
"Sakit...! Sakit...!!! Sakit...!!!! Aahhhhnnn~ sakitnya terasa nikmat~"
Aerith memasukkan jarinya ke dalam kepalanya lalu mengeluarkan lebih banyak tinta, "Berikan aku kenikmatan agar bisa memuncratkan tinta yang banyak, hyannn~"
"Stres...!" Kata Koizumi sambil melempar belati ke arahnya tetapi tinta yang keluar melalui lukanya berhasil menangkisnya.
"Apakah dia tidak memiliki pendirian sebagai seorang gadis dewasa...?" Tanya Ako.
"Tidak-tidak... jangan bahas yang lain, kita jadikan penyihir sebagai topik. Mereka memang memiliki sihir yang begitu sempurna dan unik." Kata Konomi yang melihat Aerith terus melukai dirinya sendiri.
"Tidak dalam seumur hidupku... Anu... bisa merasakan kesakitan yang begitu menyakitkan di serang oleh tinta, penyihir satu ini memang kuat." Kata Shinobu.
"Itu karena kalian hanya sekedar Legenda biasa dan Neko Legenda...!!! Kalian tidak begitu mahir dengan sihir melainkan seni bela diri saja...!"
"Ya... kalian benar... Legenda biasa dapat menguasai apapun tetapi akan memakan banyak waktu untuk menyempurnakannya!"
"Sekali lagi... aku adalah Aerith De Vorde! Seorang penyihir gambar dan tinta yang dapat menciptakan imajinasi karya menjadi kenyataan sampai memiliki rasa loyal padaku!"
Aerith mendarat di atas kepala Beast itu sampai mengeluarkan banyak sekali tinta di sekeliling Beast tersebut, Koizumi menoleh ke belakang untuk menyingkirkan gangguan dari para kesatria dari kerajaan yang berbeda.
"Situasi kita cukup menyebalkan ya melihat semua kesatria itu datang untuk memusnahkan para Neko Legenda..."
__ADS_1
"...rasanya mereka terus ikut campur demi uang dan keuntungan besar, sungguh sejarah Legenda memang berubah dengan cepat, semakin maju semakin rusak."
"Kakak benar... aku merasa khawatir dengan Mama, Nenek, dan tentunya Tante Minami yang sudah menghidupkan kembali semua Neko Legenda hanya untuk dibunuh kembali."
"Oi, oi, jangan melukai mereka...! Lukai lah diriku...!!!" Seru Aerith yang merasa cemburu karena tidak menerima kesakitan apapun.
Aerith mulai menyentuh kepala Beast itu menggunakan tongkat sihirnya, "Transfer."
"GRROOOOAAAAGGGHHHH!!!" Beast itu langsung mengamuk sampai bulunya berubah menjadi hitam lalu mulutnya terbuka lebar sampai mengeluarkan gumpalan tinta yang melepaskan garis ke atas langit.
"Gawat...!" Ako langsung mengeluarkan sihir pertahanannya yang kuat, di bantu dengan Konomi sampai keempat gadis tersebut berlindung di dalam sebuah lingkaran.
Aerith mengangkat tongkatnya lalu menggambar sebuah tangan besar sampai karyanya menjadi nyata, tangan besar itu mulai melesat menuju arah mereka bertempat langsung memukul pertahanan tersebut.
"... ...!" Shinobu melihat semua tinta itu mulai menodai tubuh para Kesatria dan Beast lainnya, semua tinta itu mulai menyebar sampai membungkus tubuh mereka, mengubahnya menjadi pasukan tinta.
Tangan tinta yang terus memukul lingkaran pertahanan mereka langsung hancur sampai membungkus sihir pertahanan itu lalu menjebak mereka semua di dalamnya.
Sebagian dari Kesatria juga sudah terbungkus dengan tinta sampai mereka semua di ambil alih oleh tinta itu untuk saling melukai satu sama lain lalu menyerang para Beast.
"Hahahahaha! Ini yang dinamakan seni...! Seni tinta...!" Aerith melepaskan gelombang tinta ke atas langit sehingga memunculkan banyak awan hitam yang menurunkan hujan tinta.
"Sialan...! Kita terjebak di sini...!" Koizumi mulai menusuk tinta tersebut sampai noda dari tinta itu mulai menyelimuti bilahnya sampai membentuk bilah belati yang sama dengannya.
Shinobu langsung menghapus tinta berbentuk bilah itu menggunakan daunnya, "Kita harus bisa melawan sihir dengan sihir lagi..."
"...menggunakan fisik atau senjata hanya akan ditiru oleh tinta tersebut, sihir juga sama tetapi... kita perlu mengerahkan nya bersama---"
BAAAAMMMMMM!!!
"Hmph... tidak perlu jika kita memiliki si bodoh yang dapat mengendalikan realitas dan mengubahnya menjadi ledakan." Koizumi tersenyum bangga.
Mereka langsung mengalihkan pandangannya kepada Hinoka yang melayang lebih tinggi dari mereka selagi melakukan pose imut yang mampu melepaskan ledakan kecil untuk menghalang noda tinta mengenai tubuhnya.
"Te-he~ Idola Hinoka yang begitu cantik dan imut, datang untuk menyelamati~!" Kata Hinoka selagi melakukan pose dua jari kedamaian dengan lidah yang ia keluarkan bersama mata kirinya yang tertutup.
"Hinoka, aku senang kau baik-baik saja...!" Kata Konomi yang terlihat senang karena sihirnya itu paling kuat di antara mereka.
"Hehehe, maaf... aku hanya beristirahat sebentar." Hinoka muncul di sebelah mereka dan terlihat seperti bersemangat.
"Aku juga akan membantu kalian dari belakang..." Kata Anastasia yang sedang duduk di atas sapunya.
Mereka menoleh ke belakang lalu melihat penyihir suara itu mengeluarkan tongkat sihirnya yang mampu menciptakan piano besar sampai ia mulai menyentuhnya.
"Sihir suara dan musikku tidak begitu efektif di jadikan sebagai serangan, tapi... musik yang aku mainkan setidaknya memberikan kalian semangat dan peningkatan yang cukup untuk bertarung."
"Ahh! Itu sangat membantu, terima kasih...!" Shinobu tersenyum lebar.
"Iyey~ ternyata ini pengalaman pertama yang akan aku rasakan sebagai Idola~" Seru Hinoka.
"Baiklah... kalau begitu, mohon bantuannya." Kata Konomi.
"Nobu, aku akan menjagamu dari belakang..." Ucap Ako kepada Shinobu sampai ia mengangguk.
Koizumi tidak mengatakan apapun karena ia masih mencurigai penyihir, maupun dirinya baik dan bersikap membantu tetapi dirinya tidak mau ditusuk dari belakang oleh siapa pun.
Anastasia langsung memainkan piano tersebut sampai mengeluarkan nota lagu dan suara merdu sampai memberikan mereka semangat bertarung sampai hati mereka terbakar penuh dengan perjuangan.
Tubuh mereka juga dikelilingi dengan nota lagu, Shinobu menarik Kerisnya keluar lalu ia mulai menatap Aerith yang terus menyebabkan hujan tinta.
__ADS_1
"Koneko..."
"...akan berjuang!!!"