
"Sebentar lagi..." Anastasia terus memperdalam eksperimennya terhadap kristal kecil yang berhasil ia potong, ia mulai menyentuhnya sampai merasakan sihirnya mulai menghilang.
"Makhluk Eldritch yang memiliki kelas sama dengan Cthulhu... rasanya menghapus konsep sihir saja sudah menyebabkan kekacauan besar sampai memberikan sebuah keuntungan untuk bangsa Manusia, Elf, dan Malaikat." Zangetsu mulai berbicara.
"Teknologi mereka sangat canggih terutama lagi dalam segi senjata... aku bisa merasakan salah satu dari mereka akan bergerak, menggunakan kesempatan ini untuk menyingkirkan bangsa yang dominan dengan sihir."
"Itulah yang membuatnya menarik, Zangetsu... apa yang terjadi jika konsep sihir sudah dihapuskan, Touriverse bahkan semua alam semesta yang berada di luarnya akan kesulitan."
"Jika kau memang ingin membantu diriku untuk memperluas skalanya sampai tidak terbatas maka ujian yang sesungguhnya memang terjadi..."
"...dunia akan berubah secara terbalik, semuanya terpaksa bertarung dengan yang namanya senjata, fisik, dan pikiran mereka masing-masing."
"Tetapi... Eldritch yang aku dapatkan tidak dapat menghapus konsep energi sihir, itu artinya semua bangsa masih bisa menggunakan energi sihir mereka masing-masing untuk memperkuat fisik dan senjata mereka."
Zangetsu dan Anastasia mulai menatap kristal kecil itu, mencoba untuk melakukan sentuhan terakhir sampai Anastasia mulai memegang kristal tersebut lalu ia melihatnya dari dekat.
Tentakel Eldritch di dalam kristal itu berdenyut sampai melepaskan banyak sekali aura yang mengeras menjadi kristal kekacauan, ia mulai memberikannya kepada Zangetsu dengan tatapan serius.
"Sudah jadi, apakah kau akan mengumpulkan kedua hal yang aku inginkan untuk memperbesar skalanya?" Tanya Anastasia dengan tatapan serius.
"Ya, kau memang sudah membantu diriku sejauh ini. Penyihir seperti dirimu berhak mendapatkan pujian dariku, sebuah mimpi yang aku selalu inginkan telah menjadi kenyataan."
Zangetsu menyentuh pipi Anastasia lalu ia mendekati bibirnya kepada telinganya, "Holy Corpse yang kau pegang bisa disimpan saja karena kita tidak perlu yang dinamakan Holy Corpse untuk mengatur semuanya."
"Kristal ini adalah kunci... kunci untuk mengakhiri mereka satu per satu, tetapi mengetahui bangsa Legenda dulunya tidak menggunakan sihir."
"Mereka masih bisa bertahan dengan fisik yang mereka miliki, tetapi hal menyenangkan lainnya adalah bangsa Manusia sudah pasti akan menyimpan dendam kepada bangsa yang menggunakan sihir."
"Terutama lagi sejak insiden kebangkitan Legenda fanatik, penyebaran kepercayaan yang digunakan dengan cara paksa telah merubah banyak pandangan bangsa di seluruh alam semesta."
Zangetsu memegang erat kristal itu dalam genggaman di tangan kanannya sampai ia bisa merasakan tubuhnya menerima kekuatan dari lapisan kristal itu.
Kekuatan yang ia terima bukanlah peningkatan melainkan perasaan yang terasa begitu berbeda dan baru sampai ia menatap Anastasia yang mencoba untuk mengeluarkan sihir ke arah dirinya tetapi ia tidak bisa melakukannya sama sekali.
"Sepertinya berhasil..." Zangetsu langsung menghantam dadanya menggunakan kristal itu yang menempel tepat di dadanya sampai ia mulai tersenyum jahat.
"Aku sudah gagal beberapa kali... tetapi kegagalan itu tetap memberikan diriku celah untuk tetap menyelesaikan apa yang harus aku selesaikan sejak dulu."
"Semua ini berkat bantuan dirimu, Anastasia! Sekarang aku bisa menyingkirkan rasa takut yang datang dari masa lalu... ternyata benar bahwa ketakutan memang berasal dari masa lalu."
"Aku akan membawakannya sekarang..." Zangetsu tersenyum jahat lalu ia berubah menjadi tanah liat yang masuk ke dalam lantai untuk pergi menuju suatu tempat yang ia sukai.
***
"Tumben sekali kentang di toko itu selalu menjualnya dengan murah... anak-anak pasti akan menyukai menu spesial yang akan aku buatkan nanti malam." Haruka terkekeh.
"Ahh, mereka sudah tidak bisa dibilang anak-anak lagi sih..." Haruka menatap ke atas langit lalu pandangannya sempat buram sampai menunjukkan awan emas dengan kedua adik dan Ibunya di atas sana.
"Ehh...?"
"Ma... Mama---"
"HUGGGGHHHHHH!!!" Haruka memuntahkan banyak darah dari mulutnya, ia melebarkan kedua matanya ketika melihat sebuah tangan yang berlumuran dengan darahnya di bagian perutnya.
"Maaf untuk membuatmu menunggu lama, Haruka... akhirnya aku bisa menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya aku lakukan sejak itu tanpa menyuruh kedua orang tuamu yang sialan."
Haruka memasang tatapan kaget ketika mendengar suara yang terdengar sangat tidak asing, ia melirik ke belakang lalu melihat wajah Zangetsu yang terlihat begitu senang atas kepuasannya untuk melukai Haruka dengan satu pukulan.
__ADS_1
"Zan... Zangetsu...?!" Zangetsu menarik keluar lengan kanannya sehingga perut Haruka mengeluarkan banyak darah sampai kedua tangannya mulai lemas sampai melepaskan semua barang belanjaannya itu.
Haruka berlutut di atas tanah, merasa bingung dengan apa yang baru saja ia lihat, dengar, dan rasakan. Zangetsu berhasil menyebalkan luka fatal di bagian perut Haruka sampai meninggalkan luka lubang karena sebuah pukulan.
Keberadaannya tidak bisa ia rasakan karena Zangetsu yang menerima kristal itu di bagian dadanya sampai menghapus konsep sihir khusus untuk Haruka sendiri agar ia tidak bisa melakukan apapun.
"Jutaan tahun lamanya... aku melihat dirimu seperti ini sudah menyebabkan diriku merasa kepuasan, sungguh gadis yang tidak mau diam dalam melarikan diri dari kenyataan."
"Zangetsu... kenapa kau... bisa kembali...!?" Haruka merapatkan giginya lalu ia bangkit dari atas tanah, mencoba untuk menggunakan sihir waktu tetapi tidak bisa sama sekali.
"A-Apa---" Zangetsu menghantam wajah Haruka sampai ia terjatuh di atas tanah dengan tengkorak yang retak, wajahnya penuh dengan darah yang mengalir karena bekas pukulan itu.
"Kau sudah hidup terlalu lama, Haruka... seharusnya aku melakukan ini pada hari kelahiranmu sejak itu, bukannya kau merasa sangat bersyukur untuk bisa melihat adik dan ibumu yang sudah mati?"
"Pasti rasanya lebih menyenangkan kau mati pada saat hari kelahiranmu bukan...? Tenang saja, ini adalah hadiah terakhir untuk ulang tahunmu, Haruka Comi!"
"Aku... aku tidak bisa menggunakan sihir... apa yang terjadi...? Bagaimana bisa... apakah ini mimpi...?" Batin Haruka.
"Aku tidak... mau... mati di sini... aku masih belum siap... tidak... aku tidak siap..." Haruka kembali bangkit dengan kakinya yang bergetar, luka fatal yang ia terima tidak cukup untuk membunuh dirinya sekaligus.
"Kau memang adalah seorang Legenda yang bertahan dalam situasi apapun, sepertinya lubang di perut itu tidak akan langsung membunuh dirimu secara instan."
"Terapi akan sangat menyenangkan untuk menyiksa dirimu yang sudah berkeliaran terlalu lama, takdirmu seharusnya mati ketika kau lahir...!!!"
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk menyingkirkan dirimu yang sudah mengubah konsep dan hukum waktu...!!!" Zangetsu menghantam wajah Haruka sampai ia terjatuh.
Zangetsu menginjak dada Haruka lalu ia menarik kerah bajunya, ia bisa melihat tatapan kesal Haruka yang tidak bisa melakukan apapun kecuali melawan dengan fisiknya yang terus melemah.
"Menyedihkan sekali... tanpa sihir... kau bukanlah apa-apa... konsep sihir sudah aku hapus... kau hanya perlu bertahan dengan Lenergy yang kau simpan untuk memperkuat tubuhmu...!" Zangetsu menghantam wajah Haruka beberapa kali tanpa henti.
Keberadaan dirinya bersama Haruka tidak akan bisa dirasakan oleh siapa pun, wilayah yang mereka tempati saat ini sepi sekali sampai Haruka tidak menerima bantuan apapun melainkan siksaan dari Zangetsu.
"...sekarang gadis itu sudah memiliki satu putri dan kehidupan yang cukup mendamaikan!" Zangetsu mencekik leher Haruka lalu ia mengangkatnya, pandangan mereka saling bertemu.
"Tatapan itu... aku menyukainya... harapan dan kesedihan... terutama lagi rasa sakit yang aku berikan padamu, penuh dengan dendam besar di masa lalu karena aku membiarkan dirimu kabur!" Zangetsu menghantam wajah Haruka di atas tanah.
"Ketakutan datang dari masa lalu... tetapi ketakutan itu akan hilang di masa sekarang dimana aku bisa menikmati pandangan yang diriku lihat saat ini!"
"Dengar, Haruka... dengan terhapusnya konsep sihir, kau tidak akan bisa mengulangi waktu... mencoba untuk melakukan reinkarnasi menuju dunia lain juga tidak bisa...!"
"Sekarang kau akan melihat kedua adik dan Ibumu lagi...!!!" Zangetsu mencoba untuk menghantam dadanya tetapi Haruka langsung melepaskan satu tendangan yang berhasil mendorongnya ke belakang.
"Kau masih memberontak... dengan harapan yang tak ada sisa sedikit pun, kau masih mau memberontak sejauh ini ya... sungguh gadis yang tidak pernah bisa belajar dari kesalahannya sendiri!"
"Apa yang kau lakukan... sudah menyebalkan keluasan yang tidak terkendali, kenapa kau tidak mau menanggung semuanya, Haruka?"
"Yang aku... pedulikan... hanyalah... Touriverse... terbebas dari labirin masalah... yang kau akan buat lagi..." Jawab Haruka yang terus bernafas terengah-engah.
"Menyedihkan, sekarang aku akan benar-benar mengakhiri dirimu..." Zangetsu melangkah ke depan lalu ia membersihkan darah di lengannya kanannya itu.
"Menghapus konsep sihir... bagaimana bisa di memegang hak seperti itu... memanipulasi konsep... ditambah lagi..."
"...kenapa dia masih hidup... aku mengingat jelas bahwa Shira sudah membunuh dirinya... tetapi dia tetap kembali..."
"...aku harus... bisa bertahan... bertahan agar bisa... merayakan ulang tahunku sepenuh... menikmati musik semi... sampai titik akhir..." Haruka menggigit bibirnya sampai berdarah.
"Haruka...!!! Tidak ada lagi yang namanya perubahan untuk orang yang tidak layak...!!!" Seru Zangetsu keras sehingga ia melihat kedua pupil Haruka menunjukkan jarum jam yang berputar ke belakang.
__ADS_1
"Heaven's Time...!!!"
Pergerakan Zangetsu sempat berhenti ketika tubuh Haruka melepaskan cahaya surga yang begitu cerah, "Apa...!? Kekuatan surga tidak terikat dengan pengubahan konsep dari kristal kekacauan...!?!?"
"Kembalikan... waktu...!!! Menuju awal--- Aggghhh...!!!" Pandangan dan alam sadar Haruka langsung berpindah menuju dunia yang begitu indah dan cerah sampai ia melihat Korrina menunggu di depannya.
"Haruka..."
"...ayo pulang." Korrina mengulurkan lengan kanannya.
"Ti... Tidak..."
"...aku... tidak mau..." Jarum jam Haruka kembali berjalan normal sehingga pandangannya kembali fokus kepada Zangetsu yang sedang memasang tatapan kesal.
"Aku tidak... mau mati..."
"...biarkan aku... hidup lebih lama..."
"...aku mohon..."
"KAU TIDAK AKAN BISA MELARIKAN DIRI LAGI...!!!" Zangetsu menghantam dada Haruka cukup dalam sampai menghancurkan kedua paru-paru dan jantungnya, punggungnya juga mengeluarkan tinju dari Zangetsu yang mengandung sihir dorongan.
"AAAAAAAGGGGHHHHHH...!!! Haruka menjerit keras sampai mulutnya mengeluarkan lebih banyak darah, serangan fatal terakhir yang menyebabkan seluruh tubuhnya mati rasa.
"Jadi ini..."
"...takdir kematianku..."
"...dalam... musim yang aku cintai... dalam hari kelahiranku..."
"...itu artinya... lambaian tadi... adalah... ucapan... selamat tinggal... untuk Koizumi..." Haruka perlahan-lahan terjatuh di atas tanah dengan jarum jam di kedua matanya yang berjalan sangat lambat.
...
...
Pin jam di rambut Koizumi jatuh seketika, ia bisa melihat pin tersebut jatuh lalu Koizumi mengambilnya dan melihat jarum jam dalam pin tersebut berhenti bergerak bahkan bagian belakangnya terlihat putus.
"Pinnya rusak... apakah sudah terlalu tua...?"
"Aku harus meminta ibu lagi..."
...
...
Haruka terjatuh tepat di hadapan Zangetsu yang mulai menarik bola mata kanan Haruka untuk dijadikan sebagai sampel waktu, "Jutaan tahun lamanya mengubah berbagai macam hal..."
"...sembarangan masuk ke masa dan dimensi berbeda hanya untuk mengubah sesuatu, sungguh perbuatan yang sudah melanggar hukum."
"Aku cukup terkejut kau bisa bertahan sejauh ini... tetapi sekarang... takdir kematian sudah mendekat...! Kau telah mati oleh tanganku sendiri!!!" Seru Zangetsu keras.
"... ..." Jarum jam di mata Haruka masih berjalan dengan pelan, ia sempat berhalusinasi tentang semua temannya di masa akademi.
Haruka melihat banyak sekali temannya di hadapannya termasuk kedua adik dan ibunya yang sudah menunggu, air mata mengalir keluar melalui matanya sampai ia mulai memejamkan matanya pelan-pelan.
"Aku..."
__ADS_1
"...tidak ingin mati..."