Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 817 - Ini adalah Tugas Terakhirku


__ADS_3

Shinobu terus memasang tatapan yang terlihat ketakutan ketika melihat Aerith berhasil memisahkan semua Beast itu sampai keberadaan mereka mampu menimbulkan banyak masalah dan kehancuran.


Sebagian dari mereka menjadi monster berdarah dingin yang tidak memandang lawan, semuanya berhasil membantai apapun tetapi masih terdapat beberapa Beast yang gugur dengan tragis karena melawan kerajaan yang salah.


"Kenapa... kenapa Mama mempercayaiku...? Kenapa...?" Tanya Shinobu kepada dirinya sendiri selagi menatap kedua tapaknya yang ternodai oleh darahnya sendiri.


"Jika aku memang... harapan yang dapat bersinar maka... beritahu aku kenapa... kenapa aku tidak bisa menghentikan semuanya begitu cepat tanpa harus menyebabkan kerugian yang lebih besar...?!" Shinobu menghantam daratan.


Shinobu mencoba untuk mengerahkan semua kekuatan dan Lenergy di dalam dirinya untuk bisa menginjak kekuatan serta tingkatan baru demi mengalahkan Aerith yang terus tertawa.


"Aku ingin bisa menyelamatkan mereka..."


"...mereka adalah bangsaku yang terakhir... setidaknya berikan aku kekuatan untuk menyelamatkan mereka, Mama!" Shinobu memohon kepada Kou karena dirinya sudah tidak berdaya lagi.


"Aku... Aku tidak bisa... aku tidak tahu caranya bagaimana..." Kepala Shinobu terasa sangat berat sampai pandangannya mulai buram karena dirinya telah kehilangan banyak darah.


"Aku... aku terlalu takut untuk melakukannya sendirian..." Shinobu menggunakan Lenergy terakhir untuk menyembuhkan luka Anastasia sebelum dirinya dibunuh oleh Aerith.


Shinobu melebarkan matanya ketika melihat Konomi dan Ako sampai tertekan oleh pasukan tinta yang meniru rupa mereka.


Bukan hanya kedua saudara itu saja tetapi Hinoka sendiri menerima balik ledakan tinta yang berubah menjadi garis sampai melukai dirinya dengan beberapa tusukan.


Hanya Koizumi saja yang masih bertahan dengan melawan balik semua pasukan tinta itu, tetapi dirinya sempat memasang tatapan khawatir ketika melihat Shinobu dinodai dengan darahnya sendiri.


Sebuah ledakan tinta besar terjadi di belakangnya karena Hinoka yang sempat melempar sihir ledakan tetapi musuhnya berhasil menangkis sampai mendarat di arah yang berbeda.


"H-Huh---"


"Kau melihat kemana!? Shinobu Koneko...!!!" Aerith menyerang Shinobu dengan menendang perutnya menggunakan lututnya lalu menghantam punggungnya sekuat tenaga sampai ia terjatuh di atas tanah.


Aerith mengangkat tubuh Shinobu dengan mencekik lehernya lalu ia membiarkan dirinya melayang di atas langit, setelah itu tubuhnya menerima pukulan dan tebasan yang terus melukai tubuhnya sampai meninggalkan banyak luka memar.


Termasuk dengan kulit serta daging yang sudah robek sampai Aerith mencengkeram perut Shinobu cukup kasar sampai mencabut dagingnya hingga bekas dari cabutan tersebut mengeluarkan genangan darah seperti air terjun.


"A-Ack...! Ughhh...!!!" Shinobu menutup bekas luka itu dengan tatapan kesakitan, mata kirinya tertutup rapat karena dirinya sudah mulai kehilangan kendali terhadap kesadarannya sendiri.


Shinobu terkejut ketika melihat Aerith menendang wajahnya sampai mata buatannya hancur lalu mengeluarkan banyak oli, ia terjatuh di atas tanah dengan tatapan yang lemas sampai ia mencoba untuk bangkit kembali.


Aerith menginjak perutnya lalu duduk di atas tubuh kecilnya, "Kucing kecil yang malang..."


"...pasti tersiksa ya? Mencoba sekuat mungkin untuk bisa melawan diriku, usahamu terasa sia-sia." Aerith langsung memukul wajahnya beberapa kali sampai Shinobu memuntahkan banyak darah.


"Hentikan...!!!" Seru Shinobu keras sampai mengeluarkan aura emas besar yang mendorong Aerith mundur.


"Aku memintamu untuk berhenti...!!!" Teriak Shinobu keras sampai suara raungan Beast nya menggema karena ia muak tidak bisa membantu mereka dan menyelesaikan masalah di hadapannya.


Aerith melepaskan gelombang tinta sampai tubuh Shinobu langsung hancur menjadi berkeping-keping, sekarang ia hanya tersisa dengan satu nyawa yang langsung Aerith siksa tanpa henti.


Shinobu tidak sempat untuk menyerang, dirinya yang menerima Legend's Boost tetap tertekan oleh Aerith yang menerima kemampuan alami dari Legend's Boost juga karena saat ini karya yang ia kenakan terus meniru Shinobu cukup sempurna.


Shinobu terus di tebas sampai kulit dan dagingnya kembali robek, Aerith berputar lalu menghantam tubuhnya sekuat tenaga sampai dirinya mulai mengangkat tinju kanannya ke atas lalu menciptakan tinju tinta berukuran besar.


"Kau akan menjadi geprek...!!!" Aerith menindih tubuh Shinobu dengan penuh tenaga sampai ia menjerit kesakitan dan tentunya tidak berdaya karena tubuh kecilnya.


"HWAAAAAGGGGGHHHHHH...!!!"


"Aerith...!!! Hentikan!!!" Teriak Anastasia kesal yang tidak tega melihat Shinobu terus tersiksa seperti itu, ia maju ke depan tetapi wajahnya menerima satu pukulan yang menjatuhkannya kembali.


"Diam di tempat... tubuhmu itu sangat berharga... aku tidak sabar untuk memberikan dirimu kepada pria kekar yang akan memberikan diriku banyak uang dengan menjualmu!" Aerith menjilat bibirnya sendiri.

__ADS_1


Aerith menusuk kedua tapak Anastasia menggunakan pedang tinta untuk menjebaknya agar ia tidak bisa bergerak untuk menghentikan dirinya menghasilkan banyak uang dengan memutilasi dirinya.


Aerith mengeluarkan Keris yang tercipta melalui tintanya lalu ia mendekati Shinobu yang kembali bangkit tetapi dirinya kembali terjatuh karena di tendang oleh Aerith.


"Diam di tempat... biarkan aku memutilasi dirimu dengan lembut---" Aerith melirik ke atas lalu melihat sebuah rudal melesat ke arah dirinya tetapi ia langsung membungkusnya dengan tinta berbentuk daun.


Seseorang yang melempar tinta itu langsung mengangkat tubuh Shinobu lalu membawa dirinya pergi, ia menempati dirinya di tempat yang aman sampai ia mulai menatap dirinya yang terlihat kesakitan.


"Putri kecil... saya di sini... tolong bertahan." Kata Tech yang selama ini menyelamatkan dirinya, ia mulai menyentuh pipinya.


"Hangat... Tech... terima kasih..." Shinobu tersenyum penuh dengan rasa syukur sampai ia melihat Tech mulai mundur beberapa langkah lalu menundukkan kepalanya.


"Saya akan menahannya!" Tech melepaskan pembakaran besar melalui kedua kakinya lalu mengejar Aerith dengan melepaskan beberapa Repulsor untuk melukai dirinya.


"Tidak...! Tu-Tunggu...!"


Aerith tersenyum serius, "Satu-satunya orang yang dekat dengan Shinobu ya...! Aku tidak sabar untuk menjual barang rongsokan seperti dirimu!!!"


Aerith muncul di belakang Tech lalu menghantam puncak kepalanya sampai ia terjatuh di atas daratan, setelah itu Tech menatap ke depan lalu menerima satu tendangan yang menghancurkan setengah dari wajahnya.


Ia juga terpental ke belakang lalu melihat Aerith bergerak laju ke depan sampai melewati tubuhnya itu, Aerith menyambut Tech dari arah yang berbeda dengan satu tebasan yang mampu menghancurkan lengan kanannya.


Aerith menyentuh kepalanya lalu ia menghantamnya menggunakan dahinya sendiri sampai ia langsung menjatuhkan banyak material dan kabel yang putus hingga sistemnya mengalami kondisi darurat.


Tech terjatuh di atas tanah sehingga kepalanya di injak oleh Aerith dengan sekuat tenaga sampai penyok, Aerith mendarat di belakangnya lalu melihat Shinobu berjalan mendekati dirinya dengan pergerakan lambat.


"Mundur... Putri... eror... put... eror... kecil... mundur..."


"...biarkan... eror... saya... yang... eror..." Tech kembali bangkit dengan tubuhnya yang sudah hancur dan berantakan, ia tetap maju demi melindungi Shinobu agar ia mendapatkan waktu yang cukup untuk memulihkan diri.


"Tech...! Sudah...! Jangan melawan lagi...! Hentikan...!" Seru Shinobu keras yang melihat Tech maju ke depan.


"...saya akan... eror... selalu loyal kepada keturunan Comi...!" Tech menghantam wajah Aerith cukup keras lalu ia menendang perutnya sampai dilanjutkan dengan tamparan melalui kedua tapaknya.


"Dasar barang rongsokan yang tidak tahu diri...!" Aerith memasang tatapan penuh nikmat lalu ia menendang perut Tech cukup dalam sampai hancur lalu memukulnya ke depan.


Aerith muncul di atas Tech lalu menghantam tubuh bagian bawahnya sampai hancur lalu menabrak daratan sampai mengguncangkan wilayah di sekitarnya.


"Tech...!" Shinobu melepaskan pembakaran melalui kedua tapaknya lalu mendekati Tech yang benar-benar hancur sampai suaranya sekarang terdengar tidak jelas.


"Halo... put... Putri... Pupuput... tritri... Kekekecil..." Tech sempat tersenyum sampai menusuk hati Shinobu seketika karena dirinya yang terlalu lemah untuk melawan kembali.


"Putri kecil... lepaskan semuanya..."


Shinobu mengangkat kedua alisnya ketika melihat Tech mulai berbicara sekuat mungkin sebelum inti dari sistemnya mati karena Aerith yang sudah melukai dirinya cukup parah.


"Bukanlah... sebuah dosa... untuk melawan sesuatu yang Anda pikir... baik..."


"Terdapat... sesuatu yang... bahkan perkataan sendiri... tidak cukup untuk... menyadarkan... seseorang..."


"Saya... tahu... apa yang Anda rasakan... Putri kecil... Anda... terlalu lembut..."


"...Anda tidak menyukainya... saya tahu... karena saya... sering melihat perjuangan nenek Anda sampai... Anda sekarang..."


"Itu karena... Anda sangat... berbelas kasihan kepada dunia... dan kehidupan ini... untuk melindunginya..."


"Tolong... lepaskan penghalang itu... Anda harus bisa... menjadi harapan... yang selalu... diinginkan oleh mereka... Nenekmu... Kakekmu... Ayahmu... dan tentunya Ibumu..."


Shinobu mengeluarkan kacamatanya lalu ia mengenakannya untuk memperbaiki dirinya dan terutama sistem yang terus menunjukkan banyak sekali masalah serta kerusakan.

__ADS_1


"Tolong..."


"...putri kecil... carilah jalan itu... dengan cahayamu sendiri dalam ruangan gelap..."


"...Saya ingin... selalu loyal kepada Anda dan tentunya menemani sampai akhir..."


"...tetapi Saya tidak bisa membiarkan... Anda terluka seperti ini terus..."


"...Tech... sebuah sistem yang tercipta oleh Nona Korrina... mencintai Anda, putri kecil---"


Aerith langsung melepaskan gelombang tinta yang menghancurkan tubuh Tech tanpa sisanya, Shinobu memasang tatapan kaget seketika karena kacamatanya juga ikut meledak.


"A-Ahh...?!" Tubuh Shinobu merinding seketika sampai ia maju ke depan lalu mencoba untuk mencari Tech tetapi dia sudah hancur tanpa menyisakan apapun kecuali kabel yang terbakar bersamaan dengan material lainnya.


"Aneh sekali, kau merasa sedih terhadap sesuatu yang tidak memiliki nyawa...? Kau sekarang sudah tidak punya apapun maka biarkan aku memberikan tiket untuk dirimu agar bisa menemui mereka."


"Tech...! Tech...! Tech...!!!" Shinobu mencoba untuk memanggil dirinya sebisa mungkin tetapi ia tidak menerima jawaban apapun karena semuanya sudah rusak.


Dirinya juga bisa merasakan kedua lengan dan kaki buatannya tidak menerima bantuan apapun dari Tech sampai ia langsing berlutut di atas tanah.


Shinobu hampir saja menangis tetapi ia ingin mengingat sebuah janji kepada Kou bahwa ia tidak akan menangis, tangisannya yang terus ia tahan malah mengeluarkan darah yang menggantikan air matanya..


"Tech adalah... keluarga..."


"...dia keluargaku... aku mohon jangan tinggalkan aku..."


"...Koneko kesepian..." Shinobu menundukkan kepalanya sampai tubuhnya langsung melepaskan dorongan besar yang mengejutkan semua orang di wilayah itu.


"Hahaha! Sekarang kamu mulai marah dan menunjukkan kekuatan asli itu yah!? Sungguh egois sekali kamu Shinobu, membiarkan anggota keluarga mati demi membangkitkan kekuatan aslimu!"


Ketika Shinobu mendengar itu, pupilnya pecah seketika sampai mengubah warna matanya menjadi merah darah, mulutnya langsung dipenuhi dengan taring sehingga ia bangkit.


"GRRRRROOOOOAAGGGHHH!!!" Shinobu melepaskan raungan yang begitu keras sampai mengejutkan mereka semua seketika, pandangan mereka langsung teralih kepada Shinobu.


"ROOOOOAAAAAGGGHHHHH!!!" Shinobu mengamuk dengan tidak stabil sampai suara yang ia keluarkan hanya raungan amarah dari Beast Neko Legenda yang mengubah dirinya menjadi wujud Beast itu untuk pertama kalinya.


Aerith memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu telah berubah menjadi monster kucing emas yang besar dengan kedua kaki dan tangan yang terlihat seperti robot.


"RRRRRAAAAAAHHHHHHHHH!!!" Tubuhnya melepaskan banyak sekali aura emas sampai memancarkan cahaya yang begitu cerah, matahari di atasnya langsung melepaskan semua sinarnya ke dalam tubuh Shinobu.


Sinar matahari langsung padam seketika karena memberikan semua energinya kepada Shinobu sehingga ia berubah kembali menjadi wujud asalnya tetapi aura emas tetap membentuk Beast Neko Legenda.


Matahari kembali menyala, Aerith tercengang ketika melihat Shinobu dikeliling dengan matahari kecil di lehernya sampai ia mulai memasang tatapan yang penuh amarah dan rasa benci.


Shinobu mengingat semua kematian keluarga dan seseorang yang sangat dekat dengan dirinya, semua itu akan terasa sangat sia-sia jika ia terus diam dan melemah seperti itu.


Amarahnya bergejolak tinggi di dalam tubuhnya sampai ia benar-benar tidak bisa menahan dirinya dengan kehausan darah serta niat membunuh yang besar untuk seorang penyihir di hadapannya.


"GRAAAAGGGGGHHHHHH!!!" Shinobu melepaskan teriakan yang sangat keras untuk melampiaskan amarahnya sampai suara dari Beast terus menggema melalui mulutnya.


Suara itu dapat di dengar oleh seluruh alam semesta karena amarahnya terus mempengaruhi dirinya untuk menggila dan menghancurkan apapun tetapi The Mind terus menstabilkannya.


Shinobu mencabut ikal kepalanya lalu ia memasang tatapan tajam kepada Aerith sampai menyebabkan lubang yang besar di tubuhnya yang mampu menjatuhkan dirinya dari dalam zirah itu.


"Koneko...!!!" Shinobu merapatkan taringnya.


"KONEKO AKAN MEMBUNUHMU...!!!"


[Tech telah Gugur]

__ADS_1


__ADS_2