Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 611 - Tanggung Jawab atas Penciptaan


__ADS_3

"Ackk... hentikan..." Haruka memegang erat kedua lengan sesosok misterius itu lalu ia melebarkan kedua matanya sehingga memunculkan jarum jam yang berjalan cepat.


Jarum jam itu yang asalnya berada di atas langsung berpindah ke bawah sampai sesosok misterius itu tercengang ketika Haruka menghilang karena ia melarikan diri menggunakan lompatan waktu.


Sosok itu menoleh ke belakang tetapi wajahnya menerima satu pukulan yang mampu melempar dirinya ke belakang dan terjatuh di atas lantai, Haruka langsung menyelimuti tubuhnya dengan ruang waktu.


"Kau berani sekali datang ke pulau ini tanpa izin apapun, untung saja suamiku tidak melihat dirimu... dia pasti akan membunuhmu langsung." Kata Haruka, ia mendekati sosok itu dan mencoba untuk mencari tahu identitasnya.


"Mulai dari sekarang sampai kelahiran anakku, aku tidak boleh bertarung dulu... anakku yang berada di dalam perut ini bisa saja mendapatkan riwayat penyakit dari Crimson Disease." Haruka memegang jubah sesosok misterius itu.


Ia langsung merobek jubah itu untuk melihat tampaknya, wajah dari sesosok misterius itu terlihat dengan jelas sampai mengejutkan Haruka karena rasa yang tidak disangka, orang itu adalah...


"Kakak...?!" Haruka memanggil sesosok misterius itu dengan sebutan Kakak, nama dari orang itu adalah...


"Tidak... maksudku, Mortem..." Haruka baru saja mengingat bahwa ia bukan lagi seorang adik dari keturunan Comi yang palsu.


"Mortem... apa maksud semua ini? Kenapa kau datang ke semesta asli sampai menyambut diriku---" Haruka melebarkan kedua matanya ketika melihat Mortem mulai meneteskan beberapa air mata melalui kedua matanya.


Ternyata bukan hanya Shou saja yang selamat melainkan Mortem juga selamat walaupun harus meninggalkan semua orang yang sangat ia cintai menggunakan sihir ilusinya.


"Ini semua salahmu... kenapa kau harus memperburuk dan menciptakan masalah yang terus bercabang, sialan..." Mortem menghantam lantai dengan tatapan begitu sedih.


Melihat Mortem menangis sesedih itu untuk pertama kalinya, Haruka sekarang yakin bahwa semesta palsu sedang dalam masalah yang buruk, bisa di bilang semesta palsu adalah tanggung jawabnya sendiri.


Sebagai seorang Legenda yang lahir di era paling pertama mencoba untuk menciptakan dimensi alternatif baru untuk melarikan diri atau bisa di sebut sebagai semesta palsu yang ia tinggali bersama seluruh keluarganya.


Semesta palsu tidak akan bisa bertahan lama, Haruka sudah mengetahuinya sejak awal tetapi setidaknya ia dapat memperbaiki beberapa hal karena kemampuan waktunya.


Hanya saja dia tidak dapat tinggal di semesta palsu dalam waktu yang lama, ia terpaksa untuk mati ketika melawan Zoiru palsu dan akhirnya mengalami reinkarnasi ke inti Touriverse yang asli.


Menjadi keturunan Comi yang resmi karena ia mencoba sebisa mungkin untuk melupakan keluarganya dulu yang mencoba untuk membunuhnya, untuk sekarang Haruka ingin mencari tahu apa yang terjadi.


"Tolong jelaskan---"


"Kau tidak membutuhkan penjelasan apapun lagi, Haruka...!!! Semuanya hancur, keseimbangan berjalan lambat... semua kelancaran itu menghilang seketika kau memberitahu rahasiaku!"


"Kau sebagai penciptaan dari dimensi alternatif palsu itu seharusnya bertanggung jawab dengan menjadi Dewi segalanya... tetapi apa yang kau lakukan sekarang...?"


"Kau menikmati kehidupan layaknya seperti istri yang tidak mengenal masalah apapun, kau melupakan kami semua... semuanya hancur ketika ibuku mengetahui soal keberadaan ibumu!" Mortem menghancurkan ruang waktu itu.


Mortem mulai memegang erat kerah baju Haruka dengan tatapan yang terlihat bersedih, "Tanggung jawab...! Bertanggung jawablah sekarang juga atau kau mati saja sebagai tumbal..."


"...dasar tidak berguna!!! Semuanya sudah hancur sekarang... semua keluargaku dan tempat tinggalku... hancur disebabkan oleh Zoiru asli..." Ucap Mortem dengan air matanya yang terus mengalir deras.


Haruka tercengang seketika mendengar nama Zoiru kembali, ternyata prediksinya benar bahwa Zoiru asli akan datang tetapi ia tidak mencoba untuk menghancurkan alam semesta seperti yang palsu.


Kedua semesta Yuusuatouri asli dan palsu pasti akan memiliki perbedaan dalam skala besar, mendengar Yuusuatouri palsu hancur begitu saja membuat Haruka merasa bersalah sampai ia tidak dapat melakukan apapun.


"Untuk sekarang... aku tidak harus apa... mungkin memundurkan waktu juga tidak akan bekerja karena terlambat, kemungkinan juga tubuhku ini aku hancur." Kata Haruka dengan tatapan menyesal.


"Tubuhmu akan hancur...? Itu... itu omong kosong! Bukannya kau tidak bisa mati, sialan!?" Mortem mengeratkan pegangannya lalu ia mengarahkan tinjunya kepada Haruka.


"Mortem... jika aku terus mempermainkan alam semesta alternatif dan di timpa dengan sesuatu yang asli maka bahaya akan muncul secara terus menerus...!" Seru Haruka.


"Aku sendiri merasa tidak tahu harus apa ketika Komi datang, semua itu disebabkan oleh Zangetsu yang memiliki kemampuan untuk menggabungkan dunia, dimensi, semesta, dan galaksi!"


"Mau tidak mau... sesuatu yang menyusup harus hancur, jika inti semesta yang asli ini hancur maka masa alternatif akan di acak dan dipilih sebagai masa yang asli." Haruka mengepalkan kedua tinjunya.


"Alam semesta itu tidak memiliki batasan... masa dan dimensi alternatif juga, semuanya... di luar sana juga masih terdapat banyak alam semesta." Haruka menerima satu pukulan sampai ia terjatuh di atas lantai.


"Mortem..." Haruka menyentuh pipinya lalu ia menatap Mortem yang terlihat sedih dan kesal dengan omong kosong Haruka.

__ADS_1


Mortem menginginkan dunianya kembali tetapi Haruka tidak ingin melakukannya karena terlalu berisiko untuk keselamatan kedua hal yaitu asli dan palsu.


Sejak awal Haruka sudah meminta maaf kepada semua tetapi Mortem terlihat masih tidak menerima, akibat terlalu sibuk memikirkan urusan lainnya, Haruka melupakan cara untuk memperbaiki semesta palsu.


"Kalau begitu... biarkan aku melakukan sesuatu tentang semesta ini agar kau bisa merasakan apa yang---" Haruka menampar wajah Mortem.


"Hentikan, bodoh! Kau sendiri tahu bahwa dirimu mudah terpengaruh dengan amarahmu itu sampai kau perlahan-lahan berubah menjadi gila!" Kata Haruka sambil mengerutkan dahinya.


"Jangan mengatur diriku...!!!" Teriak Mortem keras, ia melancarkan satu pukulan tetapi Haruka melompati waktu untuk menghindarinya sehingga ia memegang erat kedua lengannya.


"Aku mohon dengarkan aku..."


"Tidak...! Tidak ada kesempatan lagi... kau menghancurkan segalanya... bukan hanya hal palsu tetapi keseimbangan di setiap masa alternatif sudah kau buat kacau juga...!!!" Seru Mortem dengan air mata yang terus mengalir.


Mortem memegang erat kerah baju Haruka, "Kenapa kau setenang itu!? Mana adik kecilku yang selalu mengkhawatirkan apapun...?!"


"Karena... aku sendiri sudah tidak bisa di anggap sebagai anggota keluarga kalian... aku hanya sekedar gadis yang menumpang saja sama seperti sekarang..."


"Semua anggota keluargaku mengkhianati diriku... termasuk yang palsu karena sudah mau menyakiti sesuatu yang asli..."


"...hanya di tempat ini lah, aku merasa di terima... karena aku lebih cocok menjadi gadis yang lahir di era modern seperti ini." Jawab Haruka dengan tatapan yang terlihat bersedih.


"Aku tahu rasanya sakit... aku juga merasa hatiku diserang dengan rasa kesakitan sampai pikiranku dipenuhi dengan jalan bercabang... bingung untuk memilih kemana harus pergi..."


"Kenapa kau menyusahkan semua itu...!? Kau memiliki kemampuan yang dapat mengubah apapun, waktu... waktu itu mutlak dan kau seharusnya mengetahui pilihan yang terbaik!!!" Mortem menaikkan suaranya.


"Kau tidak akan mengerti..."


"Omong kosong...!!! Jika kau sejak lahir sudah di incar oleh mereka semua kenapa tidak mengorbankan diri saja agar semua orang yang dekat denganmu bisa merasa damai!!!"


"Jika kau tidak mengerti... lebih baik diam." Haruka masih bisa menahan emosinya tetapi Mortem terus mengatakan sesuatu yang dapat membakar amarah di dalam dirinya.


"TIDAK SEMUDAH APA YANG KAU KATAKAN!!!" Haruka melepaskan amarah besar sampai ia mendorong Mortem mundur dan menarik perhatian Rokuro yang mulai datang.


"Haruka...?!" Rokuro mencoba untuk membantu Haruka tetapi Haruka memperingati dirinya untuk tetap diam karena ia tidak ingin Mortem melukai dirinya.


"Keluargaku mengkhianatiku...!!! Anak dari sang pencipta ingin membunuhku yang tidak berniat untuk apapun...!!! Kelahiranku adalah sebuah takdir untuk menyelamatkannya Touriverse...!!!" Kata Haruka.


"Apa yang harus aku lakukan sejak itu!? Pasrah dan mati begitu saja tanpa berusaha untuk melakukan sesuatu...!? Semuanya tetap akan berjalan kacau bahkan lebih buruk jika aku tidak melakukan sesuatu!"


Mortem mulai mendorong Haruka sampai ia terjatuh, "Ubahlah semua masa... hilangkan lah mereka yang mencoba untuk membunuh dirimu termasuk anak dari sang pencipta itu!"


"Jika aku melakukannya maka semuanya akan berjalan sangat kacau...!!! Apa yang kau katakan tadi hanya akan menciptakan kehancuran untuk segalanya sampai tidak ada yang tersisa lagi!" Haruka bangkit dan mendorong Mortem.


"Kau terlalu banyak mengatakan diriku tidak pernah merasakan penderitaan, justru aku sendiri paling menderita karena sudah melihat segala masa depan termasuk prediksi yang akan terjadi..."


"...semuanya menyakitkan bagiku karena aku sudah mencoba yang aku bisa untuk bisa memperbaikinya!!!" Mortem merapatkan giginya, merasa sangat kesal sampai ia mulai memukul wajah Haruka.


"Oi...!" Rokuro terkejut ketika melihat istrinya di pukul tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak karena terpengaruh oleh sihir Mortem yang memintanya untuk tidak ikut campur soal urusan ini.


"Jangan berikan aku jawaban omong kosong seperti itu, brengsek...!!!" Mortem mulai menarik rambut Haruka sampai ia merasa kesakitan.


"Aku tidak mengerti apa yang kau coba katakan...!!! Kau hanya terlalu pesimis untuk melakukan sesuatu, kekuatan waktumu itu dapat menciptakan perbaikan apapun yang kau inginkan...!!!"


"Kau sendiri tahu bahwa menggunakan kemampuan waktu seenaknya dapat menciptakan beberapa masa alternatif lagi..."


"...aku tidak bisa seenaknya menggunakan kemampuan waktuku yang berada di tingkatan segalanya, aku tidak ingin melihat penderitaan apapun lagi." Kata Haruka sehingga Mortem di tarik ke belakang oleh aura putih.


Mortem tidak bisa bergerak seketika, tubuhnya terasa di tahan oleh aura putih yang menghentikan dirinya melukai Haruka yang sedang hamil.


"Proses menciptakan semesta palsu itu membutuhkan banyak cobaan... angka tidak dapat menghitung cobaan ku untuk memasuki setiap masa yang cocok bagiku..."

__ADS_1


"...semuanya bagaikan neraka, aku sudah hidup di setiap masa alternatif itu tanpa sepengetahuan siapa pun! Semuanya jauh lebih buruk dan sulit dengan apa yang kau bayangkan, Mortem!" Seru Haruka dengan air matanya yang mengalir deras.


"Banyak sekali masa dan semua keluarga juga teman dekatku hilang dalam kedipan mata... tidak tahu harus apa kecuali menciptakan semesta itu sendiri..."


"...aku tidak memiliki masa lalu yang menyenangkan atau riwayat hidup yang dapat disebut dengan damai, hanya semesta asli... yang memberikan semua keaslian itu dengan jelas..."


"...terlahir kembali menjadi anggota keluarga dari keturunan yang terkutuk ini... setidaknya aku bersyukur karena kita semua bersama-sama menerima satu sama lain..."


"...saling berusaha dan bekerja keras untuk melawan semua beban itu sampai memberikan hasil kedamaian ini." Haruka memegang kepalanya, mengingat kembali perjuangannya yang penuh dengan penderitaan dan kesakitan.


"Aku hanya lah gadis yang gagal untuk menjalankan kehidupan yang ia inginkan... semuanya akan menderita dan merasa sakit pada saatnya...!!!" Teriak Haruka.


"Dirimu adalah dirimu sendiri...! Apapun yang terjadi, kau adalah Haruka... seorang gadis yang dapat mengendalikan waktu!!!"


"Berisik!!! Sekali lagi kau membicarakan waktu itu dan waktu ini...!!! Aku akan marah besar...!" Haruka menunjuk Mortem.


"Kemampuan waktu itu sulit untuk di lakukan dalam mencegah masalah atau konflik...!!! Jika kau mempermainkan waktu dengan alam semesta dan atau masa lainnya maka semuanya akan berjalan hancur... penuh dengan paradoks!!!"


"Memangnya kau pikir mudah untuk pergi kembali ke masa lalu untuk membunuh anak dari sang pencipta!? Jika aku melakukannya maka itu sama aku menciptakan masa yang baru...!!!"


"Semua hal yang dapat kita lakukan di masa lalu dapat menciptakan ruang waktu serta alam semesta yang akan terus bercabang tanpa batas...!!!"


"Semuanya akan memiliki ruangan alternatif itu sendiri dan sekarang aku yakin terdapat sebuah masa dimana semesta palsu masih ada jika Komi tidak mati...!!!" Haruka menjelaskannya dengan singkat.


"Kenapa kau menyerah begitu saja...!? Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan semesta palsu itu!?"


"Apa yang harus kau lakukan...?! Kau pasti ingin memaksa diriku untuk menciptakan semesta palsu lainnya yang dapat mengakibatkan kehancuran besar..."


"...setidaknya beri aku waktu untuk memikirkan sesuatu soal kehancuran dari alam semesta palsu itu dan dewa agung yang bernama Zoiru itu!" Seru Haruka, ia merasa lelah terus berdebat dengan Mortem yang tidak akan pernah mengerti maksudnya.


"Sampai kapan aku harus menunggu...!? Semuanya sudah hancur... jika saja aku mendapatkan kemampuan waktumu itu... setidaknya biarkan aku mengulangi semuanya dari nol kembali..." Mortem berhenti marah karena merasa lelah.


"Aku janji tidak akan membiarkan apapun lagi... aku akan mengurus semuanya... biarkan aku mengulangnya sekali lagi... merasakan kehidupan seperti dulu..." Mortem memasang tatapan murka.


"Biarkan aku... mengulang kehidupan itu lagi dari nol... tetapi... aku hanya sekedar kepalsuan yang tidak dapat mengubah dirinya menjadi hal yang asli..." Aura putih itu melepaskan Mortem sampai ia kembali bangkit.


"Jika kau ingin mengulanginya lagi... solusinya hanya satu dan itu adalah Universal Reset..." Ucap Haruka pelan.


"Percuma saja aku lakukan... kalian semua akan menghilang dan tergantikan dengan sesuatu yang lebih baik..." Haruka melihat Mortem berjalan keluar meninggalkan Haruka karena tidak ingin berurusan dengannya lagi.


Haruka melihat Rokuro yang terlihat sangat khawatir kepadanya, "Maafkan aku, Rokuro..."


"...masih banyak sekali rahasia yang aku simpan sampai aku terus mencoba untuk melupakannya, aku sekarang sudah hidup bahagia denganmu sampai aku tidak ingin..."


"...memberitahu rahasiaku yang berjumlah sangat banyak kepadamu. Sebenarnya aku adalah gadis yang lahir di era awal... Zenzaku melihat potensi diriku bahwa aku akan mengubah apapun..."


"...menciptakan sesuatu yang dapat menghentikan semua rencananya untuk menguasai seluruh alam semesta dan menjadi sang pencipta terhadap segala hal."


"Seseorang yang seharusnya tahu harus apa tidak memiliki kewajiban untuk diam jadi aku melakukan sebisa mungkin untuk mengubah masa depan..."


"...sampai titik ini, aku masih merasa tenang karena semuanya berjalan lancar sesuai proses waktu berjalan karena perjuangan yang aku lakukan sejak itu." Haruka bangkit sambil meraba perutnya yang terasa sakit.


"Maafkan aku..." Haruka bersujud kepada Rokuro sampai mengejutkan dirinya.


"Kau tidak perlu begitu, Haruka..."


"...aku tahu kamu pasti akan terus memaafkan diriku." Haruka bangkit dan memberi Rokuro sebuah kecupan di pipi.


"Untuk sekarang, biarkan aku beristirahat saja... pikiranku sedang hancur, aku ingin tidur untuk menghilangkan semuanya." Haruka berjalan pergi meninggalkan Rokuro.


"Baiklah..."

__ADS_1


__ADS_2