
Arisu bersama yang lain-nya merasa senang melihat Korrina yang kembali siuman, Homura segera memberi dirinya segelas air putih untuk menenangkan diri-nya yang terlihat ketakutan... Konari kembali berulah dengan menatap Korrina, ia bisa membaca dan mengetahui isi pikiran-nya, mimpi buruk yang bisa disebut nyata atau palsu tetapi semua yang ia lihat itu terasa seperti tanda-tanda yang akan datang pada masa depan.
Ketika meminum segelas air tersebut, Korrina kembali seperti biasa kali ini ia terkejut ketika melihat populasi asli berada di dalam ruangan yang sama dengan diri-nya... awalnya ia sudah bersiap siaga untuk menyerang tetapi ia melihat Konari yang terlihat biasa saja, itu artinya mereka semua berada di pihak Konari dan tidak akan pernah melakukan apapun.
"Apakah kau sudah merasa baikan, Korrina?" Homura mulai berbicara, Korrina hanya mengangguk karena ia tidak sedang ingin berbicara atau mengeluarkan sedikit suara ketika mengalami mimpi buruk tadi.
Arisu menundukkan kepala-nya kepada Konari dan Konari segera mengangkat kepala kepala Arisu menggunakan sihir Scarlet-nya karena ia tidak membutuhkan permintaan maaf dari siapapun kecuali seseorang yang sudah mengadu domba semua-nya, berawal dari Komi yang berubah menjadi sesosok dewi yang tidak waras dan tidak berguna.
"Kami tidak membutuhkan permintaan maaf-mu, Arisu. Tidak ada guna-nya untuk menyalahkan siapapun karena yang salah adalah seseorang yang memulai semua ini dari awal, Haruka juga salah tetapi dia sudah memperbaiki kesalahan-nya sendiri, satu-satunya permintaan maaf yang aku ingin lihat adalah seseorang yang ingin bertanggung jawab atas semua kesalahan ini." Konari menyilangkan kedua lengan-nya.
"Hmm... Aku tahu itu, tapi aku merasa bersalah melihat Korrina seperti ini... dia dibenci hampir oleh seluruh populasi Touri bahkan setengah-nya saja tidak ada yang mempercayai diri-nya." Arisu mengambil sebuah piring karena dia berniat untuk menyuapi Korrina yang duduk sila di atas kasur sambil melamun memikirkan tentang mimpi yang misterius itu.
"Ayo, nenek... jangan melamun seperti itu, makan dulu ya..." Arisu mengambil sebuah sendok yang terisi makanan lezat, Korrina membuka mulut-nya pelan lalu Arisu tersenyum ketika melihat diri-nya yang benar-benar menurut.
Konari sepertinya bisa mempercayai Arisu dan Homura untuk menjaga Korrina sementara karena ia memiliki urusan yang harus ia urus, lebih penting dan juga lebih utama dari apapun agar Komi yang saat ini sedang berada di dimensi Crimson itu tidak pernah keluar, Mortem yang berasal dari dimensi asli telah kembali dan kali ini menciptakan konflik lainnya.
"Aku tinggal sebentar ya, aku akan kembali dalam waktu yang dekat." Konari berjalan keluar dari ruangan itu lalu ia melompat tinggi dan mendarat di atas tiang yang sangat tinggi, ia mencoba untuk menghubungi Tech untuk mencari koordinasi Haruka dan Honoka saat ini.
Kedua mata Konari yang terdapat lensa mata mulai menunjukkan Konari sebuah tempat, luar angkasa yang sangat biru... sepertinya Haruka dan Honoka masih sibuk untuk mengulurkan waktu dalam memperbaiki Kamitouri, ia tidak mau semesta yang sangat penting itu menghilang begitu saja karena Haruka membutuhkan sumber air yang terdapat di dalam semesta tersebut.
__ADS_1
Konari tiba-tiba merasakan keberadaan Shiratori Shira yang berasal dari dimensi palsu itu mulai mendekat, kekuatan dan level yang setara dengan Shira asli tetapi... ia bisa merasakan perbedaan yang besar dari dalam diri-nya hingga Shira muncul di hadapan Konari sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Konari tidak perlu melindungi dirinya sendiri ketika melihat Shira palsu itu.
"Sepertinya kau ini setengah asli dan palsu ya, yahhh... tidak ada guna-nya untuk bertarung melawan seseorang yang asli. Aku tidak tertarik sama sekali asalkan terdapat pemicu yang dapat membuat-ku tertarik untuk bertarung." Shira mengulurkan lengan-nya kanannya.
"Salam kenal, nama-ku adalah---"
"Shinra. Aku akan memanggil-mu Shinra saja." Informasi Konari semakin meluas hingga ia mengetahui identitas Shira palsu yang asli, dia asli-nya bernama Shiratori Shinra tetapi diri-nya sendiri tidak mengetahui nama asli-nya karena reinkarnasi yang menghapus sebagian dari ingatan-nya.
"Jika kau ingin memanggil-ku seperti itu maka tak apa, aku mengerti... dimensi asli juga memiliki Shiratori Shira tersendiri ya, menarik juga." Shinra mengangguk pelan.
Sepertinya tidak ada kesalahan yang terjadi ketika Konari memanggil-nya Shinra, awalnya dia berpikir bahwa Shinra sendiri akan mengingat serpihan ingatan-nya tetapi dengan memanggil nama asli-nya saja belum menjadikan bukti kuat untuk dirinya mengingat ingatan-nya, jika saja dia mengingat-nya maka Shira sudah pasti ia kenal sebagai adik-nya sendiri.
Mereka berdua berjabat tangan dan Shinra tidak memiliki waktu yang cukup lama untuk berbicara dengan Konari karena ia ingin menjelajahi Touri yang baru bersama, ketika ia pergi meninggalkan Konari sendirian... ia mulai berharap bahwa Shira tidak bertemu dengan Shinra karena Shira sudah pasti akan mencoba untuk membuat diri-nya mengingat jati diri-nya yang asli.
"A-Apa ini...!? Kenapa kau membiarkan dia sendirian!?" Konari memegang erat kerah baju Arisu sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, "Kami tidak meninggalkan-nya sendirian...!!! Aku dan Mama sudah menjaga-nya tetapi ketika kita mencoba untuk mencuci piring, ia hilang entah kemana!"
"Ck...!" Konari menghabiskan waktu saja ketika bersama dengan Arisu, ia lebih baik pergi untuk mencari diri-nya bersama dengan Tech... Arisu ikut bersama diri-nya untuk mencari Korirna, jika dia bertemu dengan populasi asli maka nyawa-nya benar-benar terancam.
***
__ADS_1
"... ..." Korrina melayang di atas angkasa melihat seseorang yang baru saja ia selamatkan membawa diri-nya ke sebuah tempat yang sangat sepi, dia tidak merasakan apapun... berbicara saja tidak bisa bahkan tubuh-nya bergerak sendiri.
Kedua mata Korrina masih terlihat mati, ketika ia mencoba untuk berbicara... hanya perkataan yang terdengar aneh keluar dari mulut-nya, angkasa itu terasa sepi sekali ketika Korrina bersama orang misterius itu. Tidak ada yang mengetahui Korrina dimana sekarang, mungkin saja orang misterius itu yang telah menculik-nya.
"Sudahlah... kenapa kau terus melanjutkan-nya...? Kenapa kau menerima neraka itu kembali jika kau benar-benar ingin beristirahat? Bukan-nya kau dulu pernah menemukan sebuah jalan yang membawa-mu kepada kedamaian abadi?" Orang itu mulai berbicara, Korrina berhenti dan melayang sambil menunjukkan wajah yang suram.
"... ..."
Orang itu menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat serius, kegelapan yang menghalang-nya mulai menipis hingga air mata mengalir keluar melalui kedua mata-nya ketika melihat tampang wajah dari seseorang yang baru saja menyelamatkan diri-nya, entah ini mimpi atau ilusi... Korrina merasa semua ini nyata, satu-satunya hal yang ia ingin sekali alami untuk kedua kali-nya.
"A... Alvin..." Kedua mata Korrina telah kembali, yang tadi-nya terasa mati kembali penuh dengan harapan ketika menatap Alvin... Korrina secara refleks menyentuh kedua pipi-nya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat bersyukur untuk bisa bertemu dengan-nya lagi.
"Korrina, sepertinya kau benar-benar rusak ya..." Alvin tersenyum tipis.
"Hmm... tidak apa... setidaknya kerusakan itu bisa diperbaiki oleh diri-mu..." Korrina memeluk Alvin erat.
"Memperbaiki-mu...? Ahahaha, aku senang mendengar hal seperti itu dari-mu." Alvin perlahan-lahan menyelimuti lengan kanan-nya dengan aura merah pekat, aura itu menciptakan sebuah bilah pedang yang sangat tajam karena ia berniat untuk membunuh Korrina karena memiliki kesempatan yang sangat besar.
"Dengan ini... Korrina sudah pasti akan kembali pulang..." Korrina ternyata bertemu dengan Alvin yang berasal dari dimensi palsu, ia langsung mengayunkan lengan kanannya hingga Korrina bisa melihat pedang itu yang mengarah ke leher-nya.
__ADS_1
"... ...!!!"
Slaassshhh...!!!