
"Sudah enam tahun lamanya... Dewa Erion masih belum mempertemukan kita, kalau tidak salah dia adalah seekor Neko Legenda dengan luka bakar di wajah bagian kirinya."
"Kedua lengan dan kakinya juga terbuat dari robot... dia sepertinya gadis yang cerdas karena sudah memberikan diriku kedua mata buatan ini untuk bisa melihat keindahan dunia."
"Lebih baiknya lagi adalah... dia yang menjadi pertama untuk menarik semua rasa sedih dan kebahagiaanku, tampang serta fisiknya juga penuh dengan kecantikan yang tak akan bisa ditandingi."
Keith memegang erat kalung berlambang angin itu sampai tubuhnya melayang ke atas langit untuk melihat suasana negara angin atau disebut dengan Mitch, penduduk terus bertambah hampir setiap hari.
"Pandangan pertama... apakah angin memang menarik langkahnya menuju diriku...? Apakah Dewa Erion memberkati diriku yang buta untuk mendekati gadis sebaik dirinya?"
"Aku rasa ini memang takdir yang mempertemukan kita, Dewa Erion sudah merencanakan segalanya." Keith tersenyum lalu melihat Beval mengajak dirinya untuk mendekat.
"Apakah Anda membutuhkan sesuatu dari saya, Beval?" Tanya Keith.
"Sepertinya kau memang tidak membutuhkan latihan dan ajaran lainnya, kau sudah bisa di bilang asisten atau partner bagiku."
"Setiap dewa elemen selalu memiliki seseorang yang dapat mereka percayai di sebelahnya, Saint Wind seperti dirimu sudah sangat membantu untuk menarik banyak pengikut yang mau mempercayai angin dan Dewa Erion."
"Saya cukup senang mendengarnya... jika Anda membutuhkan keperluan yang lain maka beritahu saja saya, bukannya festival angin sebentar lagi akan di mulai?"
"Benar sekali... kita sudah dekat, sebelum itu aku hanya ingin memberitahu dirimu bahwa kita yang mempercayai Dewa Erion akan mendapatkan berkah dan kekuatan darinya."
Beval menepuk dadanya beberapa kali sampai sebuah angin keluar melalui tubuhnya lalu membentuk lambang angin yang menandakan dirinya sudah mempercayai dan menyembah Dewa Erion sepenuhnya
Erion yang berada dalam Realm of Wind memberikan dan memberkahi semua kekuatannya kepada pengikutnya yang setia lama dan tentunya yang baru saja masuk.
Keith menepuk dadanya juga sampai mengeluarkan lambang yang sama dengan ukuran besar, "Ukuran lambang menunjukkan betapa setianya kita kepada Dewa Erion."
"Orang yang mati atau gugur akan kehilangan tanda ini dan tentukan Insignia yang kita kenakan... Dewa Erion tidak menginginkan mayat atau penduduk tak berguna yang mati begitu cepat jadi ia mencabut kembali berkahnya."
"Dengan menyebut kata dan menyembah atau mempercayai angin maka mereka akan mendapatkan lambang kepercayaan ini, Dewa Erion tidak melihatnya karena ia sudah melepaskan sihir yang berjalan secara pasif dan otomatis."
"Saya mengerti, Beval."
"Bagus, kalau begitu aku ingin kau mempersiapkan diri untuk upacara dan pertemuan nanti." Beval menepuk punggung Keith lalu pergi meninggalkan dirinya dengan berubah menjadi angin.
***
Shinobu memasang tatapan yang terlihat kecewa ketika melihat ukuran tubuh kedua sepupunya memiliki perbedaan yang cukup dramatis, "Kakak, kalian berumur berapa sekarang?"
"Mm? 13 tahun... kenapa, Shinobu?" Tanya Koizumi yang sedang memakan kentang gorengnya.
"Kakak juga 13 tahun~ hanya membutuhkan 3 tahun lagi untuk bisa menjadi idol yang paling cantik di seluruh dunia, te-he~" Hinoka mengatakannya selagi melakukan pose dua jari.
"Be-Begitu ya..." Shinobu menatap dada Koizumi dan Hinoka yang memiliki perkembangan juga, terlihat seperti gunung kecil yang tertutup oleh pakaian mereka.
Shinobu langsung membandingkannya dengan dadanya sendiri yang tidak memiliki dua gunung kembar melainkan seperti jalan, ia mulai menyentuhnya lalu tidak merasakan apapun.
"Kenapa Kakak bisa memiliki dua gunung kembar di dada Kakak?" Tanya Shinobu dengan tatapan polos sampai Koizumi langsung tersedak ketika memakan kentang gorengnya karena dikejutkan dengan pertanyaan memalukan.
"Ahh...! Soal itu... mereka hanya tumbuh secara alami, kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal itu, Shinobu---"
Hinoka langsung meremas dada Koizumi, "Semua kentang goreng yang dimakan oleh Koizumi memberikan dirinya banyak karbohidrat yang berpindah ke dalam dadanya ini."
"He-Hentikan!'
"Rasanya lembut sekali, Koizumi~ sepertinya kamu memang gadis yang tumbuh cukup cepat---" Kepala Hinoka menerima satu pukulan yang menjatuhkan Hinoka sampai daratan.
"Jangan seenaknya menyentuh tubuh orang lain! Kau sendiri punya 'kan!?" Seru Koizumi yang terlihat kesal, wajahnya tetap memerah dan kedua lengannya menutup dadanya sendiri.
Shinobu terus memasang tatapan polos sampai ia mencoba untuk meremas dadanya sendiri tetapi tidak merasakan kelembutan apapun, "Apakah Koneko juga harus makan kentang goreng untuk menumbuhkan gunung itu?"
Koizumi memasang tatapan kaget ketika mengetahui Shinobu masih bersikap sangat polos dan seperti anak kecil walaupun sudah berumur 12 tahun.
Hinoka kembali bangkit dengan tatapan jahatnya karena ia mulai merencanakan sesuatu, "Masih ada cara lain, Koneko...! Kamu menginginkan gunung yang besar seperti Koizumi bukan?"
__ADS_1
"Mm, rasanya terlihat seperti orang dewasa... Koneko tidak ingin terlihat kecil seperti ini, ingin tumbuh tinggi juga." Kata Shinobu selagi menundukkan kepalanya.
Hinoka langsung menggerakkan jari-jarinya dengan bibir yang tersenyum lebar, "Kalau begitu biarkan aku membantu dirimu untuk menumbuhkan itu~"
Koizumi langsung menyentil kening Hinoka, "Hentikan, dia pasti akan kaget ketika menerima kedua tanganmu yang berdosa itu, jangan berbuat mesum kepada sepupu kecilmu yang polos."
"Hehhhh... tapi dia kan ingin memiliki gunung seperti kita terutama yang besar seperti dirimu!" Hinoka menyentuh dada Koizumi lagi lalu kepalanya menerima satu hantaman dari objek keras yang ia ciptakan melalui sihir Crimson.
"Sa-Sakit...! Kenapa kamu menghantamnya kepalaku dengan benda keras seperti itu?! Dasar sapi...!"
"Siapa yang kau bilang sapi, hah!?" Koizumi dan Hinoka langsung mendekati wajah mereka lalu memasang tatapan yang terlihat marah terhadap satu sama lain.
Shinobu hanya bisa melihat selagi menyentuh bibirnya dengan jarinya karena sedang berpikir, ia tidak begitu mengerti apa yang coba mereka katakan dan perdebatkan.
"Sekali lagi kamu bersikap mesum seperti itu maka aku akan menghantam kepalamu dengan tongkat ini agar bisa menghilangkan sikap mesum itu."
"Buuuuu... aku hanya ingin membantu sepupu kecil kita untuk tumbuh, lagi pula pertumbuhanmu cepat juga dibandingkan diriku yang belum bisa menandingi dirimu." Kata Hinoka.
"Bisakah kita tidak membahas hal itu!?"
"Justru jika terlalu besar kau akan terasa kesulitan untuk bergerak dan membawanya, ketika kau lari atau melompat juga banyak tatapan busuk melihat dirimu!" Seru Koizumi.
"Hoho~ banyak sekali laki-laki yang memasang tatapan penuh bergairah ketika melihat dirimu bertarung di akademi apalagi balap lari... kedua gunung itu terus naik ke atas dan ke bawah..." Kata Hinoka selagi memegang dagunya sendiri.
"Jangan membahas itu, dasar bodoh!!!" Teriak Koizumi dengan tatapan yang terlihat malu karena ia sendiri tidak merasa begitu untung untuk memiliki dua buah yang masih tumbuh itu di dadanya.
Koizumi dan Hinoka membicarakan masalah pertumbuhan dari wanita, mereka memiliki opini yang berbeda karena Hinoka merasa iri melihat Koizumi tidak senang sama sekali memiliki kedua buah itu.
"Kenapa kau tidak mau bersyukur atas pencapaian kau ini!? Kau sudah menerima pertumbuhan yang sempurna sebagai seorang gadis...!"
"Dada yang lembut dan besar... serta pantat yang membentuk bulat---" Koizumi menghantam kepala Hinoka lagi sampai ia terjatuh di atas tanah.
Shinobu memiringkan wajahnya lalu ia berjalan ke belakang Koizumi untuk melihat pantat yang sempat Hinoka bicarakan sehingga ia memasang tatapan kaget karena melihat bentuk bulat seperti gunung juga.
"Ahh... jika saja aku memilih dada dan pantat sebesar sampai sempurna seperti itu maka kesempatanku menjadi seorang idol pasti besar~"
"Jika kau bertarung rasanya kau perlu membiasakan ukuran itu... kau ini memang ada-ada saja ya, memiliki ukuran dada besar itu tidak begitu baik!" Koizumi mengatakannya demi kewajiban sebagai seorang petarung dan pemberontak.
"Justru bagus juga jika ingin menjadi seorang idol yang dapat menarik perhatian dan menembak hati semua pria, mereka semua pasti akan terus menonton konser seorang gadis yang begitu cantik dan seksi~" Hinoka mengatakannya demi kewajiban sebagai seorang idol.
"Kau ini selalu saja mengatakan--- Hyah!" Koizumi mengeluarkan ******* kecil ketika pantatnya di sentuh oleh Shinobu.
Ia langsung menoleh ke belakang lalu melancarkan satu pukulan tetapi pukulannya itu tidak mengenai siapa pun karena Shinobu memiliki tinggi yang begitu pendek sampai tidak perlu menghindari pukulan tadi.
"S-Shinobu, kenapa kamu menyentuhnya?" Tanya Koizumi dengan pipi yang memerah.
"Fuehhh...! A-Anu... maaf... Koneko tidak tahu rasanya akan sakit... aku hanya ingin menyentuhnya... Kak Hinoka juga memberikan contohnya padaku..." Shinobu menundukkan kepalanya lalu meminta maaf terus menerus kepada Koizumi.
"Tidak apa-apa kok... jika kamu penasaran maka satu sentuhan tidak apa-apa, asal jangan berlebihan seperti gadis bejat di belakangku ini." Koizumi tentunya akan selalu bersikap baik kepada sepupunya yang polos itu.
"Hehhhh... tidak adil! Kenapa aku juga tidak boleh menyentuhnya?"
"Kau sudah keseringan!!! Kau bahkan mengajarkan Shinobu yang tidak-tidak!!!" Bentak Koizumi keras sampai Hinoka hanya bisa tersenyum selagi mengeluarkan ketawa kecil 'te-he'.
"Koneko, jika kamu mau menyentuh pantatku juga boleh kok~ lebih empuk dan besar dari Koizumi, te-he~" Hinoka mengucapkannya selagi menunjukkan pantatnya yang lebih membentuk dibandingkan Koizumi.
"Kok bisa seperti itu ya... lebih bagus dari Kak Koizumi." Shinobu mulai mendekati Hinoka tetapi Koizumi langsung menahan dirinya.
"Kamu tidak boleh menyentuh pantat dan dada wanita sembarangan ya, Shinobu... kamu juga nanti bisa merasakannya sendiri jika sudah tumbuh." Koizumi langsung menampar pantat Hinoka cukup keras sampai mengeluarkan suara yang lumayan besar.
"AWWWW!!! Kenapa kau menamparnya kasar seperti itu!? Kau menggunakan Lenergy untuk menamparnya ya!?" Tanya Hinoka selagi mengusap pantatnya yang sudah pasti memerah karena menerima tamparan itu.
"Refleks, kau sudah bersikap hal yang tidak pantas untuk dilihat oleh Shinobu, pantatmu juga terlihat tidak begitu baik!"
"Kau hanya iri dengan pantatku yang jauh lebih bagus darimu~ fufufu~ kasihan sekali, Koizumi!" Hinoka langsung mengejek Koizumi dengan mengeluarkan tawa kecil.
__ADS_1
Koizumi memasang tatapan yang jengkel, "Aku tidak begitu peduli! Kau tidak memiliki hak untuk menyebut diriku sapi karena pantatmu jauh lebih besar dibandingkan sapi!"
Koizumi mengatakannya selagi mendorong dadanya ke depan untuk menyombongkan apa yang Hinoka tidak punya darinya, Hinoka memasang tatapan kaget dan iri ketika melihatnya.
"Kau sengaja menyombongkan itu ya!?" Hinoka menunjuk kedua dada Koizumi.
"Tidak kok... punggungku hanya merasa---" Hinoka langsung menampar dada Koizumi sebanyak dua kali.
"Ahhh!!! Sakit!!! Berani-beraninya kau, Hinoka...!!!"
"Maju, sapi!!!"
Pada akhirnya mereka malah bertarung dengan saling menampar dada dan pantat mereka masing-masing, Shinobu hanya melihat dengan tatapan polos selagi menatap dadanya serta pantatnya yang tidak terasa begitu spesial.
"Tidak ada rasa..." Shinobu menyentuh pantatnya juga yang tidak terasa begitu lembut seperti Koizumi.
"Maaf, kami terlambat!" Kata Konomi yang baru saja datang bersama Ako, mereka semua awalnya berencana untuk melakukan latihan bersama.
"Tidak kok, selamat datang..." Shinobu tersenyum kepada mereka lalu ia melihat dada Konomi dan Ako memilih perbedaan juga dibandingkan dirinya.
"Mereka kenapa...?" Tanya Ako selagi menunjuk Hinoka yang sedang menampar dada Koizumi sedangkan Koizumi sedang menampar pantat Hinoka.
"Latih tanding?" Tanya Shinobu dengan tatapan polos.
"Kok latih tandingnya seperti itu...?" Tanya Konomi dengan tatapan datar karena ia sering melihat mereka bertarung seperti itu karena iri dengan pencapaian ukuran pantat dan dada.
***
Setelah mereka berlatih dan melaksanakan berbagai macam latihan yang memperkuat fisik dan Lenergy mereka, para gadis memutuskan untuk beristirahat di pemandian air panas.
Shinobu lagi-lagi dikejutkan dengan ukuran gunung yang langsung terlihat tanpa penghalang, ternyata jika tidak mengenakan pakaiannya semuanya terlihat jauh lebih besar.
Koizumi yang paling tinggi sampai ia melihatnya dengan jelas, Shinobu juga melihat Hinoka dengan lantaran yang sama besarnya sehingga ia mulai menatap dadanya yang tidak memiliki buah atau gunung apapun.
Konomi dan Ako juga punya tetapi dirinya tetap tidak, "Ahh~ leganya... menikmati pemandian air panas setelah latihan itu memang yang terbaik."
"Benar..." Kata Koizumi dengan tatapan yang terlihat begitu puas karena rasa dari hangat itu menyegarkan tubuhnya.
"Hohhh... Koizumi, otot lenganmu terlihat begitu indah." Kata Konomi yang bisa melihat kedua otot lengannya yang terlihat begitu sempurna sebagai seorang gadis.
"Ahh, mungkin karena sering latihan fisik jadi seperti ini." Koizumi bangkit dari atas lantai lalu memperlihatkan otot perutnya juga sampai mereka terpesona ketika melihatnya.
"Indah sekali... kamu terlihat begitu sempurna, Koizumi." Kata Ako selagi bertepuk tangan.
"Pantatnya masih jelek..." Kata Hinoka.
"Berisik, sapi!"
"Kau yang sapi"
Koizumi dan Hinoka langsung menyentuh tangan mereka satu sama lain lalu mencoba untuk mendorong dan menjatuhkan satu sama lain ke dalam air yang hangat itu.
"Acara kedua sepupu di mulai lagi ya." Kata Konomi yang mulai menonton selagi menikmati satu botol susu dingin.
Shinobu terus memperhatikan selagi menatap dadanya sendiri sampai ia melihat Ako mendekat, ukuran dadanya juga memiliki perbedaan dengan dirinya sampai ia memasang tatapan sedih.
"Kenapa..." Shinobu mulai berbicara sampai menghentikan pertarungan Koizumi dan Hinoka, mereka semua mengalihkan pandangannya kepada Shinobu yang terlihat sedih.
"Kenapa Koneko tidak memiliki dua gunung...?" Shinobu mulai berkaca-kaca.
"Kenapa pantat Koneko juga tidak membentuk bulat seperti kakak... apakah Koneko memang anak kecil...?"
"Hweehhhhh..." Shinobu langsung menangis seketika karena dia memang masih seperti anak kecil.
""Hehhh!?""
__ADS_1