Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 457 - Keringat Dingin


__ADS_3

Ujian untuk seluruh angkatan dari kelas A-B-C-D-E telah berakhir dengan hasil yang cukup mengejutkan, seluruh murid bukannya merasa kesal atau tidak menerima tetapi mereka hanya bisa merasa terhibur karena kemampuan miliki Honoka.


Realita yang ia ciptakan dapat menipu semua orang terutama Morgan sendiri, kemenangan hari ini cukup memuaskan juga bagi Hana dan Minami, mereka sampai merayakannya dengan berpelukan.


Honoka hanya bisa melihat mereka selagi memegang pinggangnya sendiri, ia tersenyum dan melihat Morgan mendekati dirinya untuk memberitahu sesuatu yang penting.


"Kemenangan ini pantas untuk dikenang dan dihargai oleh siapapun. Aku tidak menyangka kau akan melakukan sesuatu yang lebih hebat dari Korrina." Morgan mulai menepuk punggung Honoka beberapa kali.


"Terima kasih, aku sendiri tidak menyangka semuanya berjalan dengan sesuai rencana... Jika Bapak ingin melihat potensi ku maka itu adalah sebagiannya." Honoka tersenyum.


Morgan hanya bisa tertawa terbahak-bahak karena ia merasa puas untuk melihat ujian yang berjalan cukup sengit ini, seluruh murid yang kalah langsung dikeluarkan dari akademi dan dibawakan kembali menuju tempat tinggal mereka.


Honoka tadi sempat melihat Takatora yang mengancam dirinya dengan menunjuk lehernya beberapa kali seperti memperagakan ingin menggorok lehernya tetapi ia tidak takut karena ia sudah siap kapanpun untuk memberi dirinya pelajaran.


Morgan dan Honoka mulai berjabat tangan, tidak lupa untuk memperingati dirinya bahwa ia bebas melakukan apapun di akademi ini tanpa perlu mengkhawatirkan poin sama sekali.


Morgan telah menandai Hana, Honoka, dan Minami sebagai petarung yang telah di daftarkan ke dalam turnamen. Mendengarnya membuat mereka semua merasa sangat senang sehingga Honoka memeluk mereka dari belakang.


Pelukan itu terasa kuat kedua lengannya tidak sengaja mencekik leher Minami dan Hana.


"Hono... Honoka...!" Hana mula menepuk lengannya beberapa kali.


"Ahh, maaf-maaf." Honoka melepas mereka berdua dan Morgan mulai mengangguk beberapa kali karena ia bisa melihat mereka bertiga adalah murid layak yang pantas mengikuti turnamen itu.


"Bapak mengharapkan banyak dari kalian, ketika turnamen di mulai... Kerahkan semua kemampuan yang kalian miliki pada saat turnamen!" Morgan mengangguk.


""Tentu saja.""


***


"Uwahhh, klasik sekali ya... Diselamatkan oleh Honoka pada saat hari penentuan, aku kira kita akan kalah." Minami mulai berbicara selagi meregangkan kedua lengannya yang terasa pegal.


"Aku sudah bilang sejak awal bukan? Tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kalian hanya perlu bertahan hidup dan aku sedih kalian semua tidak selamat..."


"...Lyazen dan Marie gagal untuk menuruti perintahku." Kata Honoka selagi menatap lantai yang begitu bersih.


"Aku akan membuat kekalahan mereka menjadi tidak sia-sia, aku akan coba untuk menyemangati mereka berdua ketika aku bertemu dengan mereka lagi." Kata Hana selagi menepuk kedua pipinya beberapa kali.


Mereka berbicara seperti biasanya di lorong yang begitu ramai, semua murid mulai menggosipkan tentang mereka yang baru saja berhasil memenangkan ujian itu.


Pengumuman pemenang bisa terdengar di seluruh tempat bahwa Honoka, Hana, dan Minami telah terdaftar di turnamen. Mereka bertiga akan menjalani kehidupan yang damai dan santai selama beberapa bulan.


Mendengarnya saja membuat Honoka tersenyum lega, ia juga memiliki niat nakal kepada kedua saudaranya yang masih harus bersaing.


"Oh iya... Aku belum memberitahu kalian." Honoka menatap mereka berdua.


"Kita telah resmi menjadi anggota yang sudah terdaftar, itu artinya tujuan kita masih belum selesai karena terdapat beberapa murid yang bisa saja melakukan sesuatu yang buruk kepada kita..."


"...jangan pernah lengah, kuatkan pertahanan kalian, mengerti---"


""Honoka/Kakak!!!"" Haruka dan Kou melompat ke arah Honoka sehingga ia terjatuh bersama kedua saudaranya, Minami dan Hana dikejutkan dengan kedatangan teman-temannya.


"Selamat atas kemenangan kalian, Honoka, Hana, dan Minami." Ucap Asriel selagi bertepuk tangan kepada mereka bertiga.

__ADS_1


""Terima kasih...""


"Kakak... Kou... Sakit... Kalian mengejutkan diriku..." Honoka menatap Kou dan Haruka yang sedang memeluk dirinya dengan senyuman.


"Kami merindukan dirimu... Tentu saja kami akan mengejutkan dirimu dengan penuh kasih sayang." Haruka tersenyum lalu membantu Honoka untuk berdiri, sepertinya rencana yang mereka rancang berhasil secara keseluruhan.


[Kak Honoka, selamat.], Kou menunjukkan sebuah layar virtual yang berisi tulisan kepada Honoka dan ia mulai tersenyum lalu mengusap kepalanya.


"Kenapa kamu tidak mau berbicara, Kou...? Kamu sakit lagi, adik kecilku?"


Kou mengangguk dan Haruka mulai menepuk bahu kanannya, "Dua hari yang lalu Kou demam berat lagi, untungnya tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya."


"Kita harus secepatnya mendapatkan kubus permohonan itu."


Hana melihat Rokuro yang mendekati dirinya, melihat adiknya saja membuat dirinya merasa senang karena ia telah selamat dari ujian yang penuh dengan rasa sulit itu.


Hana memeluk adiknya dengan sangat erat dan Rokuro membalas pelukan itu dengan pelukan lagi karena ia merindukan dirinya.


"Selamat atas kemenanganmu, Kakak. Kau sekarang berada di tingkat yang lebih atas dariku."


"Tentu saja, aku akan menunggumu di sana. Jangan mengecewakan diriku!" Hana tersenyum lalu menepuk punggung Rokuro.


Minami melihat Shuan mencoba untuk menyapa dirinya tetapi ia tidak diberi waktu untuk mengatakan sesuatu kepadanya karena Minami langsung membawa dirinya ke tempat yang lumayan sepi sampai seluruh temannya melihat Minami dan Shuan yang pergi begitu saja.


"Kenapa mereka terburu-buru seperti itu?" Tanya Mitsuki.


"Ahhh... Soal itu, sepertinya Minami ingin membahasnya dengan Shuan." Jawab Hana.


"Membahas sesuatu?"


***


"Ada apa, Kakak? Kenapa kau harus membawaku ke teras?" Tanya Shuan.


"Aku ingin membahas sesuatu denganmu, ini sangat penting karena kau juga pasti akan di incar oleh dirinya. Kemampuan yang kau memiliki itu menguntungkan dan merugikan dalam segi apapun."


Minami melepas tangannya dan mulai bersandar di belakang tembok dengan ekspresi yang terlihat lelah, ujian yang ia laksanakan hampir saja membuat dirinya terasa gila dan kesal.


"Ujian yang aku laksanakan selama satu Minggu ini benar-benar hampir membuat diriku gila." Minami mulai menepuk wajahnya beberapa kali, mencoba untuk menenangkan diri karena ia masih terus mengingat tentang seseorang yang membicarakan perang.


"Apa yang kau maksud? Sesuatu aneh terjadi...? Ceritakan kepadaku."


"Kalau tidak salah Mama pernah bercerita kepadamu tentang dua perang yang Papa ikuti bukan?"


"Ya, terus?"


"Beberapa hari yang lalu, aku melawan seorang ras Raijuu yang memiliki kekuatan untuk membuka celah seperti dimensi, celah itu dapat menghapus sesuatu dengan cepat..."


"... mengeluarkan sesuatu yang sudah di hapus juga bisa. Aku dan Hana berhasil menang melawan ras itu tetapi ia meledakkan diri sehingga kami berpapasan dengan bola mata yang memiliki sayap."


"Apakah itu Eldritch?"


"Tidak... Bola mata biasa dengan sedikit sayap yang membantunya untuk bergerak dan melayang." Minami mulai menatap ke atas.

__ADS_1


"Mata itu mengeluarkan suara yang sangat dalam, memberitahu diriku bahwa perang belum berakhir. Ia berkaitan dengan Papa karena beliau lah yang membunuh Ayahnya pada saat perang."


Shuan mulai memikirkan kembali tentang cerita yang ia dapatkan dari Minami, Shira hanya membunuh beberapa prajurit yang tidak berguna dan pemimpin dari perang tersebut, kemungkinan besar Rxeonal dan Zangetsu bisa saja berkaitan soal ini.


"Masalah utamanya, mereka ingin membalas dendam, begitu?"


"Ya... Dia menyimpan dendam yang besar, dia bilang bahwa dirinya sangat dekat dengan kita... Kemungkinan dia berada di akademi ini juga."


"Ayah ya... Ayah... Anak dari seseorang yang pernah Ayah bunuh sepertinya tetapi siapa..."


"...Ayah kita jarang menceritakan tentang lawan yang pernah ia bunuh, dia hanya membunuh lawan yang keras kepala sampai tidak mau berdamai dengan dirinya."


"Rionald... Rxeonal... Zangetsu. Itu yang Kakak ketahui, ketiga lawan tangguh Ayah yang ia bunuh karena tidak memiliki pilihan lain." Jawab Minami selagi memegang dagunya.


"Kau sendiri lahir pada saat era perang pertama, Kakak. Seharusnya kau tahu siapa yang mencoba untuk mengincar kita."


"Tidak... Sampai sekarang aku belum mencurigai siapapun, aku membawa dirimu ke tempat ini hanya untuk membicarakan tentang orang yang mengincar Papa..."


"...rasa benci kepada Papa sudah pasti akan dilampiaskan kepada kita, untungnya aku sempat memperingati dirimu, Shucchi. Aku tidak ingin kau menghadapi musuh yang kuat dengan pengalaman kecil..."


"Apa maksudmu dengan itu? Kau mengejek diriku ya..."


"Aku hanya memberitahu, kau tetap diam dan menuruti Kakak saja. Aku akan melindungi dirimu." Minami mulai menyentuh ekor Shuan dengan ekornya sendiri.


"Yah, aku senang untuk bisa melihatmu kembali. Selamat datang, mungkin?"


"Seperti biasanya kau selalu malu-malu..."


"Untuk sekarang bukan waktunya membahas yang lain, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mencari identitasnya?"


"Aku akan menghubungi Mama dan Papa sepertinya... Nanti malam..."


"Apakah kalian Legenda yang bernama Shiratori Minami dan Shiratori Shuan?" Terdengar suara seseorang yang berada di jarak yang sangat dekat dengan mereka.


Mendengar suaranya saja sudah cukup untuk membuat Minami dan Shuan waspada karena merasakan sesuatu yang sangat menyengat di dalam diri mereka sehingga keringat dingin mulai mengalir deras dari tubuh mereka.


"Kakak, kau merasakannya...?"


"Ya... Tekanan ini... Bukan sekedar tekanan biasa..." Minami menatap ke depan dan melihat seseorang yang memakai jubah hitam untuk menghalangi identitasnya menghampiri Shuan dan Minami dengan senyuman yang bisa terlihat.


Senyuman itu tidak terlihat jahat melainkan biasa saja tetapi tekanan yang ia miliki cukup berat sampai mengejutkan Shuan dan Minami untuk sementara.


Shuan masih merasakannya sedangkan Minami sudah mula terbiasa dengan tekanan itu, orang itu mulai mendekati Minami sehingga Shuan terlempar ke belakang dengan dorongan yang tidak bisa ia lihat.


"A-Apa itu tadi...!?" Tubuh Shuan mulai merinding ketika merasakan dorongan itu, ia bisa melihat Minami yang sedang menatap orang itu dengan tatapan serius.


"Shuan benar-benar membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa menginjak titik ini... Aku harus melindungi dirinya..." Ungkap Minami.


"Orang ini terlihat berbahaya..." Minami mencoba untuk menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang ceroboh.


"Oi, sialan! Apa yang kau butuhkan dari kami!?"


Murid berjubah itu mulai menunjuk Shuan, "Aku tidak membutuhkan waktumu, Shiratori Shuan. Kau sangat berbeda dengan ekspektasi yang aku rasakan ini..."

__ADS_1


"Apa kau bilang...?!"


__ADS_2