
Korrina duduk di atas kursi sambil membuka beberapa halaman di buku yang baru saja ia ambil dari perpustakaan miliknya, ia saat ini sedang mempelajari sejarah penuh tentang inti semesta yaitu [Touri]. Selvia bersama Korrina berada di ruangan yang sama yaitu penyembuhan dimana mereka sama-sama sedang sibuk melakukan aktivitas mereka sendiri, Selvia sedang melakukan latihan di dalam pikirannya karena iblis memiliki kemampuan hebat seperti itu.
Korrina sempat menatap Alvin yang masih beristirahat di atas ranjang-nya, Korrina sudah mengerahkan semuanya dalam menggunakan sihir penyembuhan serta teknologi yang dapat menyembuhkan dirinya. Alvin masih belum bangun walaupun satu bulan sudah berlalu dengan cepat, Korrina tidak memiliki niat untuk menyerang bangsa Iblis yang saat ini sedang menaklukkan segala semesta.
Banyak sekali ras yang menghubungi Korrina agar ikut bertarung tetapi ia tidak bisa membantu mereka sendirian tanpa rekan-rekannya, teman-temannya di akademi saja masih belum bertemu lagi dengan Korrina. Kemungkinan besar mereka semua terjebak di tempat dimana mereka tersesat dan tidak bisa kemana-mana karena penyerang Iblis atau awasan iblis yang berkeliaran dimana-mana.
Di ruangan itu terdapat sebuah radio dimana seorang pria sedang membicarakan bangsa Iblis yang sedang menyerang dan menaklukkan segala semesta, yang ada di dalam pikiran Korrina hanyalah keselamatan Alvin dan anak-anaknya termasuk Haruka yang masih bayi. Selvia membuka kedua matanya dan melihat Korrina yang terlihat bingung, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali merasa kesal terhadap Ayah-nya sendiri yang memulai segalanya.
"Sepertinya di luar sana terdapat kekacauan yang besar-besaran karena Ayah-ku ya..." Selvia mengatakannya dengan nada yang merasa bersalah.
"Kau tak perlu merasa bersalah seperti itu, Selvia. Ayah-ku juga dulunya pernah menyatakan kekacauan dan perang besar-besaran. Dunia ini... Orang berubah... Orang jahat hanya ingin mendapatkan kekuatan yang sebenarnya untuk memberi diri mereka menuju kedamaian itu... Intinya orang kuat dapat melakukan apapun yang mereka mau." Korrina menutup buku yang ia baca.
Korrina segera memeriksa kondisi Alvin melalui kedua lensa yang saat ini sedang menunjukkan status Alvin dimana detak jantung-nya bisa terlihat hanya [1%] saja, hal itu membuat Korrina berkeringat serta khawatir karena ia sendiri tidak merasakan jiwa atau arwah di dalam tubuh Alvin.
"Apakah kondisi Alvin baik-baik saja...?"
"Semakin hari kondisi-nya semakin memburuk... Sepertinya tidak ada cara lain untuk bisa menyelamatkannya di saat-saat kritis seperti ini..." Korrina menciptakan sebuah keyboard digital di depannya untuk melakukan cara lain dalam menyembuhkan Alvin.
Tech sudah tidak mampu membantu Korrina lagi karena semua cara yang ia gunakan tidak berhasil untuk membuat kondisi Alvin membaik.
"Korrina... Maaf, sepertinya Alvin tidak bisa diselamat---"
"Jangan membantah...!!! Laksanakan saja...!" Teriak Korrina dengan nada yang kesal, teriakan itu sempat membuat Selvia terkejut.
Korrina melakukan cara lain lagi tetapi gagal ketika lensa-nya memperingati dirinya bahwa detak jantung Alvin saat ini sedang berada di persentase [0], Korrina melebarkan kedua matanya karena kehidupan Alvin saat ini tidak bisa ia bantu lagi. Selvia bahkan sempat terkejut ketika mendengar suara yang cukup keras terdengar seperti, 'tiiiiiiiiiiiiiii......'
__ADS_1
Korrina melepaskan kacamata-nya sendiri, sepertinya dirinya terlalu memaksa untuk mengubah takdir kematian secara paksa. Korrina sudah bisa melihat dari kondisi tubuh Alvin bahwa dia disiksa secara habis-habisan sampai dirinya terus merasakan kesakitan abadi walaupun sudah disembuhkan dengan cara apapun tanpa henti.
Korrina hanya bisa bungkam, Tech dan Selvia bersama-sama mencoba untuk menenangkan Korrina. Selvia bisa melihat wajah Korrina yang tadinya sempat kesal seperti ingin membunuh seorang berubah menjadi ekspresi sedih, wajahnya sekarang lebih menunjukkan bahwa dirinya menerima takdir kematian Alvin.
Korrina mulai melepas semua alat teknologi dan selang yang menempel di tubuh Alvin, Selvia ikut membantu sambil menepuk-nepuk punggungnya agar ia bisa merasa tenang. Setelah semua alat yang menempel di tubuh Alvin dilepas , Korrina segera mengambil sebuah selimut merah dan menutup seluruh tubuhnya.
"Kau memang hebat, Alvin... Walaupun kau pulang lalu pergi, setidaknya aku bisa melihat wajahmu untuk terakhir kalinya. Setidaknya kau mati dengan aman sekarang... Kau tidak perlu merasakan apa arti dari kesakitan itu lagi..." Ucap Korrina sambil tersenyum, air matanya mengalir cukup deras dari kedua matanya.
"Sejak itu kau bilang ingin memberi sesuatu setelah kau pulang... Tetapi ternyata kau memberi-ku hadiah abadi dimana kau akan meninggalkan diriku bersama anak-anakmu... Kita akan bertemu suatu saat nanti, ya...? Kau hanya harus menunggu-ku... Aku mencintai-mu, kau bisa beristirahat di alam dimana itu adalah tempat tinggal terakhirmu..." Korrina tersenyum dan memberi sebuah kecupan di kening untuk Alvin lalu menutup wajahnya dengan selimut.
***
Korrina memasukkan sebuah peti di dalam lubang yang baru saja Selvia gali, setelah peti itu masuk Korrina bersama Selvia memasukkan beberapa bunga yang memiliki warna berbeda ke dalam lubang tersebut.
Beberapa detik kemudian Selvia mengubur lubang itu dengan tanah yang ia gali dan setelah kuburan itu jadi, Korrina memasang sebuah batu nisan yang besar dimana terdapat tulisan [Alvin Ghifari].
"Ini semua salahku... Seharusnya aku datang lebih cepat dari awal, mungkin saja nyawa Alvin bisa selamat..." Selvia merasa bersalah.
"Kita tidak boleh menyalahkan siapapun tentang takdir kematian. Takdir sudah ada sejak kita lahir apalagi takdir kematian, ini semua bukanlah siapapun... Sepertinya takdir kematian Alvin sudah menyelimuti dirinya." Jawab Korrina.
"Maaf... Karena sudah melihat dirimu mengalami sesuatu yang buruk seperti ditinggal oleh suami-mu, masa-masa buruk selalu ada bukan...? Sepertinya kita sama-sama ditinggal oleh sesosok orang yang sangat kita sayangi..." Kata Selvia.
"Apakah kau juga ditinggal oleh sesosok orang yang sangat kau sayangi...?"
"Hmm... Ibu-ku dibunuh oleh Ayah-ku sendiri..."
__ADS_1
"Sepertinya kita sama ya..." Korrina merasa tenang sedikit, ia menatap kuburan itu untuk terakhir kalinya dan memberi ucapan selamat tinggal dimana ia memberi batu nisan itu sebuah kecupan.
Selvia mengusap punggung Korrina untuk menenangkan-nya, "Mari kita sama-sama menjalankan hidup... Jika kita terus sedih bahwa orang yang kita sayangi mati maka mereka tidak akan bisa hidup dengan tenang di atas sana."
"Kau benar..." Korrina mengangguk dan mengusap air mata yang terus mengalir di kedua matanya.
Mereka berdua kembali menjalani hidup bersama, beberapa hari terus berlalu dan hubungan pertemanan mereka mulai semakin erat. Korrina saat ini sedang mencoba untuk melakukan inovasi kepada sistem dan teknologi yang ia buat. Keadaan Rexa, Agfi, dan Haruka sepertinya aman karena Tech baru saja mendeteksi keberadaan mereka yang berada di semesta lain bersama anggota yang pernah mengikuti akademi.
Selvia saat ini terus mendapatkan berita dari semesta yang berbeda bahwa banyak sekali penduduk yang protes dan menderita karena penyerangan Rxeonal. Sepertinya pasukan Rxeonal semakin membesar dan luas bahkan dirinya sendiri tidak bisa menghitung berapa pasukan yang saat ini sedang menaklukkan semesta Touri.
"Ayah... Kau memang iblis sialan yang aku ketahui... Kenapa kau mencoba meraih kedamaian dengan cara salah seperti ini...?!" Selvia merasa kesal terhadap dirinya sendiri.
"Seharusnya aku menghentikan-nya sejak itu, tetapi aku tidak sempat karena Master sialan itu melempar-ku menuju wilayah yang berbeda." Selvia bangkit dari atas sofa dan ia mulai menatap kedua katana-nya yang dikotori dengan darah iblis karena beberapa iblis sempat menyerang desa Ghisaru atau desa dimana mereka tinggal.
Untungnya seluruh bangsa Iblis itu tidak sempat untuk memberi pemimpin mereka informasi bahwa anak dari Rxeonal saat ini sedang berada di desa Ghisaru.
"... ..." Selvia berjalan keluar untuk mencari keberadaan Iblis yang dekat tetapi ia tidak bisa merasakannya lagi karena desa Ghisaru saat ini dilindungi dengan sebuah pelindung dimana seseorang yang menyentuhnya akan langsung terbakar menjadi debu.
Selvia dan Korrina segera mengangkat kepala mereka ketika merasakan keberadaan yang sangat menyengat di ruang tamu, mereka berdua segera pergi menuju ruang tamu dan melihat sesosok pria misterius yang sedang berdiri. Korrina terlihat kaget karena pria misterius itu mengingatkan dirinya kepada seseorang.
"A-Alvin...?"
"Heh...?" Selvia menatap pria misterius itu dengan tatapan yang ragu, "B-Benar... Mirip sekali..."
Korrina segera memeluk pria itu dan menatap wajahnya dengan air mata yang mengalir deras, pria itu terlihat kebingungan dan dia segera membuat Korrina menjaga jaraknya dengan dirinya.
__ADS_1
"A-Alvin...? Apakah kau mengingatku...?"
"Siapa kau...?" Tanya pria itu.