
Turnamen permohonan masih tetap berlanjut dengan kondisi aman dan meriah, semua penonton sangat menikmati setiap pertarungan yang di sediakan oleh para peserta.
Sebentar lagi, para peserta kuat akan saling berhadapan, menciptakan pertarungan yang jauh lebih intens dan spektakuler bahkan penonton sudah tidak sabar, sebagiannya bahkan menunggu Minami kembali bertarung.
"Sepertinya turnamen permohonan generasi keempat memang sangat meriah berbeda dengan generasi sebelumnya bukan, Pak Morgan?" Tanya Jorgez yang mulai melakukan sedikit interview dengan Morgan.
"Tentu saja... Ini adalah hari-hari yang sangat saya nantikan, melihat seluruh peserta dari berbagai macam semesta bertarung untuk terakhir kalinya di Solicitation."
"Dan sepertinya kita sudah mendapatkan banyak hasil dari penerus generasi sebelumnya yang memberikan pertarungan cepat juga hebat..."
"Bahkan semua penonton sampai tergila-gila dan merasa tidak sabar untuk melihat Shiratori Minami kembali bertarung, dia memiliki banyak penggemar yang besar." Kata Morgan.
Minami bisa mendengarnya dengan jelas dan itu membuat dirinya menepuk wajahnya sendiri karena ia menyesali perbuatan sebelumnya, Haruka mulai menepuk punggung Minami.
"Tidak buruk juga, Minami... Bukannya ini yang selalu kau inginkan sejak kecil? Menunjukkan pengabdi cahaya keadilan kepada seluruh alam semesta..." Haruka terkekeh.
Bukan hanya penonton yang berada di kota permohonan saja yang menggemari dirinya melainkan semua penghuni Touriverse yang menonton di rumah mulai menyukai Minami juga.
"Hahhhh... padahal aku hanya iseng melakukannya, sekedar lelucon tetapi apa yang terjadi tidak bisa di ubah. Aku terlambat..." Minami menghela nafasnya panjang.
"Semoga saja aku tidak bertemu dengan Minami di semi final... bisa saja penggemar Minamism itu mengatakan sesuatu yang buruk kepada lawannya." Kata Mitsuki.
"K-Kau ada benarnya juga... Aku jadi merasa ngeri ketika bertemu dengan Minami nanti." Kata Hana.
"Apa!? Jangan seperti itu...! Bertarung ya bertarung, jangan sampai mereka mengacaukan konsentrasi mereka bahkan Kou sendiri terlihat sangat siap untuk bertarung denganku." Minami menatap Kou.
"Ke-Kenapa aku...?" Kou menunjukkan dirinya sendiri.
"Kamu tidak peduli dengan para penonton bukan? Mana mungkin mereka mengatakan sesuatu yang kejam dan buruk kepada gadis kecil sepertimu..."
"Yahhhh... Hanya saja aku tidak akan bertahan begitu lama sampai menginjak semi-final..." Kata Kou sambil menggaruk pipinya pelan.
"Kalau begitu, aku akan melakukan sesuatu kepada para penggemarku, untuk tidak mengganggu dan menyoraki teman-temanku dengan cara yang salah!" Minami mengepalkan kedua tinjunya.
"Hohhh... Kamu baru saja bilang penggemarmu, sepertinya kau sudah terbawa suasana ya, Kakak." Kata Shuan.
"Ack... Ti-Tidak, lupakan soal apa yang aku katakan tentang penggemar." Minami mulai menutup wajahnya sendiri sehingga Jorgez mulai mengumumkan ronde selanjutnya.
"Seluruh peserta yang akan bertanding, di harapkan untuk memasuki arena sekarang juga!" Seru Jorgez keras.
"Semoga beruntung, Rokuro! Aku tentunya akan menyemangati dirimu..." Haruka menepuk punggung Rokuro, membuat dirinya merasa kekuatan dari semangat yang Haruka berikan.
"Ya, aku ingin secepatnya memenangkan turnamen ini lalu pulang." Rokuro berjalan pergi meninggalkan ruangan penonton.
"Kau juga jangan sampai kalah dengan Legenda sepertinya." Kata Honoka sehingga ia mulai mendorong Bakuzen dari belakang.
__ADS_1
"Tidak perlu mendorongku seperti itu! Setidaknya perlakukan diriku dengan lembut untuk bisa mendapatkan motivasi mengalahkan Legenda kuat seperti Rokuro." Kata Bakuzen.
"Kalau begitu semangat, jika kau kalah, ledakanmu memang tidak berguna." Honoka terkekeh, membuat Bakuzen merasa bersemangat sehingga ia mulai mengikuti Rokuro dari belakang.
"Kalian terlihat dekat ya..." Kata Hana.
"Benarkah? Terlihat biasa saja kok..." Jawab Honoka dengan sebuah senyuman.
***
"Kali ini, ronde selanjutnya akan di mulai dengan arena yang akan berubah menjadi berbatuan, setiap peserta segera mengeluarkan sirkuit sihir mereka masing-masing!!!" Seru Jorgez keras.
Rokuro dan Bakuzen mulai saling menatap satu sama lain, mereka mengharapkan pertarungan ini sebagai pertarungan pertemanan tanpa menahan diri.
"Arata, sepertinya anak kita akan bertarung sekarang juga, kita lihat siapa penerus yang akan memenangkan ronde ini!" Ucap Shizen.
"Aku tidak menyangka akan secepat itu Rokuro bertarung dengan temannya sendiri, akhirnya... Aku menunggu pertarungan yang sebenarnya!" Arata menyilangkan kedua lengannya.
"Pertarungan..." Wasit mulai mengangkat lengan kanannya.
"...di mulai!" Seru wasit tersebut sambil melepaskan serangan api ke atas sehingga pertarungan dari ketiga arena telah di mulai.
Bakuzen mulai melesat maju ke arah Rokuro selagi menjatuhkan beberapa perangkap seperti bubuk yang tidak dapat Rokuro lihat, Rokuro melompat maju lalu menyerang pertama dengan melancarkan satu tendangan.
Tendangan itu langsung di tahan menggunakan kedua lengan Bakuzen, setelah itu Rokuro melompat ke belakang dan menghantam daratan untuk membelahnya menjadi dua.
Rokuro melepaskan beban yang ia kenakan berupa sarung tangan, ia melepaskan kedua sarung tangan itu lalu menjatuhkannya di atas tanah sampai kedua sarung tersebut mampu membuat daratan retak.
Bakuzen bergerak maju lalu melakukan satu putaran yang di lanjutkan dengan sebuah tendangan, tendangan itu berhasil di tahan oleh Rokuro.
"Ledakan...!" Seru Bakuzen sehingga tendangannya tadi yang sudah mengandung ledakan hilang seketika dan terserap oleh tato berlambang Greed di kedua lengan Rokuro.
"Sihir ledakan itu... Aku akan berhati-hati dalam menghadapinya!" Rokuro melepaskan ledakan itu melalui tubuhnya yang berbentuk aura merah, aura tersebut mulai menjauh dan melepaskan ledakan begitu besar.
Ledakan tersebut bahkan sampai mengandung dorongan besar yang di rasakan oleh para penonton, membuat mereka semua merinding dan merasakan pertarungan ini akan berakhir menyenangkan.
"Oh goooodd!!! Sepertinya peserta Rokuro berhasil melawan balik sihir ledakan dari peserta Bakuzen...!!! Apa yang akan ia lakukan selanjutnya!?" Seru Jorgez.
Bakuzen mulai memegang kerah baju Rokuro, mencoba untuk menjatuhkannya lalu menyerangnya tetapi Rokuro menendang tangannya lalu melompat ke belakang, mencoba mengukur arena karena ia tidak ingin sengaja terjatuh.
Rokuro tiba-tiba menginjak perangkap Bakuzen yang menciptakan ledakan besar, ledakan itu mampu mendorong Rokuro mundur sampai tubuhnya menerima beberapa luka.
"Ternyata arena ini sudah menjadi dominasi bagimu ya... Arena yang kau ledakan sedikit demi sedikit hanya akan memberikan celah untuk terjatuh." Kata Rokuro sehingga ia melesat maju ke arah Bakuzen.
Bakuzen melancarkan satu gumpalan merah yang berisi ledakan melalui jarinya tetapi Rokuro menghindar dan memunculkan sebuah sabit yang ia ayunkan secara langsung.
__ADS_1
Bakuzen menahan serangan sabit itu menggunakan lengannya sampai sabit itu mampu membuat lengan Bakuzen terkupas sampai mengalirkan banyak darah.
Setelah serangan itu berhasil di tahan oleh Bakuzen, Rokuro mulai menendang wajahnya sampai ia terhempas ke belakang dan menerima serangan gumpalan ledakan yang Rokuro lepaskan melalui sabitnya.
Bakuzen mengusap darah yang mengalir deras melalui bibirnya lalu ia menjentikkan jarinya, menyebabkan daerah di sekitar Rokuro mulai meledak bahkan lengannya menerima satu serangan besar.
Serangan itu menghempas sabit Rokuro ke atas langit dan menghilang begitu saja, kedua pandangan Rokuro di halangi dengan banyak sekali asap yang melepaskan ledakan kecil, membuat kedua matanya terasa perih.
"Ck...!" Rokuro menyerap seluruh asap itu menggunakan tapak tangannya dan ia melihat Bakuzen mencoba untuk melancarkan satu tinju yang mengandung ledakan.
Kecepatan Rokuro jauh lebih tinggi di bandingkan Bakuzen sehingga serangan tinju Rokuro yang pertama mengenai wajah Bakuzen.
Bakuzen menyerap balik dengan menendang perut Rokuro sampai mereka terhempas ke belakang dan melepaskan sihir yang cukup berbahaya jika mengenai tubuh satu sama lain.
Bakuzen melepaskan gelombang ledakan ke arah Rokuro tetapi Rokuro berhasil menciptakan sebuah pelindung kegelapan di hadapannya sehingga ia merasakan pergerakan Bakuzen di belakangnya.
Rokuro menoleh ke belakang dan menyambut beberapa serangan dari Bakuzen, setelah itu ia menerima beberapa tendangan yang mengenai perutnya sampai Rokuro terhempas ke belakang.
"Kecepatannya hampir tidak bisa di ukur karena sihir ledakan yang di jadikan sebagai perusak konsentrasi ku..." Rokuro berlutut lalu menyentuh daratan untuk mengendalikan tubuhnya terasa nyeri.
"...setiap serangannya yang terkandung juga memiliki ledakan kecil yang melukai daging di dalam diriku, jika aku terus menerima serangan lainnya maka dia bisa saja menanam bubuk mesiu itu." Rokuro kembali bangkit.
Rokuro melebarkan matanya ketika ia melihat daratan mulai terbakar lalu melepaskan ledakan yang begitu besar, Rokuro untungnya sempat menghindari dengan melompat ke belakang tetapi terdapat ledakan lainnya di belakang.
Menyebabkan dirinya terhempas ke depan dan menerima satu tendangan yang mengenai wajahnya, Rokuro terlempar ke atas dan melihat Bakuzen melepaskan satu gumpalan merah di perut Rokuro.
Gumpalan merah itu memiliki tekanan besar yang mampu menjatuhkan Rokuro di atas arena, Bakuzen menunjuk Rokuro tetapi Rokuro melempar kembali gumpalan itu ke arahnya.
Gumpalan itu mulai membesar sehingga Bakuzen masuk ke dalamnya dan menjadi gumpalan tersebut sebagai aura pelindung untuknya, Rokuro melompat ke arah Bakuzen lalu mengayunkan sabitnya dengan cepat.
Gumpalan itu mulai meletus seperti balon tetapi mengandung ledakan yang begitu besar sampai mendorong Rokuro ke belakang dan terjatuh di atas arena.
Arena itu mulai meledak menjadi berkeping-keping karena semua jebakan Bakuzen langsung ia aktifkan secara langsung, Rokuro menerima semua kerusakan dari ledakan itu.
"Rokuro...! Apa yang kamu lakukan!? Jangan terus tertipu dengan perangkapnya!!!" Seru Haruka keras.
Bakuzen tiba-tiba menerima satu pukulan keras yang mampu meretakkan kerangkanya, setelah menerima kekuatan yang mengandung banyak kekuatan Bakuzen terjatuh di atas serpihan arena itu.
"Apa ini!? Sungguh mengejutkan...!!! Rokuro tiba-tiba muncul di atas Bakuzen tanpa tanda apapun...!!!" Seru Jorgez keras sehingga semua penonton bersorak keras karena pertarungan kali ini berjalan mendebarkan.
"Apa itu... Apa yang Rokuro gunakan...?" Arata sendiri melihat atasan Kisetsu telah robek karena menerima banyak ledakan tadi dan ia terlihat seperti mencoba untuk mengumpulkan nafasnya.
"Ini pertarungan yang aku tunggu darimu, Bakuzen!" Rokuro mengepalkan kedua tinjunya sehingga ia mulai mendarat di hadapan Bakuzen.
"Rokuro..." Haruka tersipu ketika ia melihat otot-otot Rokuro yang tertampak begitu jelas.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan tadi, Rokuro...? Aku tidak melihat pergerakan apapun dari arena yang sudah hancur karena ledakan." Kata Bakuzen selagi memulihkan kepalanya yang terasa pusing.
"Apakah perlu seorang Legenda memberitahu kemampuan rahasianya...?"