
Korrina duduk tepat di depan Yuffie yang sedang memeriksa tubuh-nya, kedua telapak tangan Korrina sekarang masih terus diselimuti dengan garis-garis merah yang tidak beraturan... Dirinya mulai mengkhawatirkan bahwa sirkuit sihir-nya bermasalah karena sesuatu yang ia sentuh selalu saja hancur dan diselimuti dengan aura Crimson.
Yuffie menggunakan stetoskop yang ia ciptakan, stetoskop ini memiliki kegunaan lain-nya karena dapat mendeteksi kesalahan yang ada di dalam tubuh seseorang... Misalnya sirkuit sihir yang rusak dan tidak terkendali-pun bisa terdeteksi dengan stetoskop tersebut.
Yuffie menggunakan stetoskop itu untuk memeriksa seluruh tubuh Korrina dan Korrina juga sudah memperingati dirinya untuk tidak menyentuh kedua telapak tangan-nya yang diselimuti dengan garis merah karena itu terlalu bahaya untuk dirinya.
"Apakah masalah-nya serius...? Apakah sesuatu terjadi kepada diriku?" Tanya Korrina dengan ekspresi yang bingung, Elf itu masih terus memeriksa tubuh Korrina dan tidak mengetahui kondisi apa yang sekarang dialami oleh Korrina.
Yuffie tidak menjawab pertanyaan-nya, Korrina langsung menaikkan diafragma dari stetoskop itu menggunakan sihir telekinesis-nya lalu ia menaikkan suara-nya sekeras mungkin agar Yuffie bisa mendengarnya, "Apakah kau menemukan sesuatu yang serius...!?!?"
Yuffie sontak kaget ketika kedua telinga-nya mendengar suara Korrina yang sangat keras, ia segera melepas stetoskop itu lalu menutup kedua telinga-nya yang berdengung.
"Apakah kau mencoba untuk membuat-ku tuli...!? Bisakah kau bersabar sedikit, Korrina!?" Seru Yuffie sambil mencoba untuk menyembuhkan kedua gendang telinga-nya yang mungkin saja sudah rusak karena Korrina.
"Aku tidak bisa bersabar...!!! Aku tidak bisa melakukan apapun dengan kedua telapak tangan-ku ini yang diselimuti dengan garis-garis merah. Gejala hal aneh lain-nya sering terjadi dimana aku tidak bisa merasakan rasa sakit... Waktu itu ketika aku tidak sengaja menyayat lengan-ku, aku tidak merasakan apapun..." Kata Korrina sambil memegang dagu-nya.
"Mungkin Grimoire yang kau hancurkan itu memberi efek yang kadang menguntungkan dan merugikan untuk dirimu." Jawab Yuffie.
"Hei... Aku hanya ingin menjadi gadis normal loh, rambut ini sih aku sudah suka tetapi kedua telapak tangan-ku dan juga kekuatan-ku tidak bisa aku kontrol dengan mudah...!!!" Korrina mulai mengacak-acak rambutnya hingga rambutnya mulai diselimuti dengan aura Crimson, sepertinya kedua telapak tangan Korrina bisa saja kutukan yang diberikan oleh Grimoire itu.
"Gangguan Lenergy... Aku bisa merasakan di dalam dirimu bahwa sumber Lenergy-mu seperti terus berkurang tetapi itu tidak memberikan dirimu efek apapun kecuali kedua tangan-mu itu... Apakah kau merasakan gejala aneh lainnya?" Tanya Yuffie.
"Kadang aku merasa nyeri dan pegal... Tetapi rasa sakit tidak pernah aku rasakan, mungkin saja aku sudah lupa merasakan kesakitan sejak mengendalikan buku Grimoire itu...? Kesakitan yang selalu tahan membuat tubuh-ku beradaptasi bahwa kesakitan dari buku itu lebih menyakitkan dari apapun..."
"...Kehilangan kasih sayang Haruka juga mungkin menyakitkan." Korrina menundukkan kepala-nya.
__ADS_1
"Kenapa kau membahas sesuatu di luar topik..." Kata Yuffie pelan.
Korrina mulai mengingat sesuatu bahwa dirinya memang menahan semua rasa sakit yang diberikan oleh Grimoire itu sampai hembusan nafas terakhirnya... Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali kesakitan yang muncul di seluruh tubuhnya, mungkin saja karena telah menghancurkan buku tersebut, Korrina tidak bisa merasakan sakit tetapi resiko-nya adalah ia telah menjadi sesosok Legenda yang lebih dominan dengan sihir Crimson.
"Sepertinya buku itu benar-benar tidak hancur ya...? Tidak ada yang pernah mengatakan di sejarah bahwa Grimoire hancur untuk selama-nya, terkadang aku membacanya bahwa Grimoire yang hancur akan merasuki tubuh seseorang yang menghancurkan buku tersebut dan memberi dirinya keuntungan lalu kerugian yang sederajat." Korrina melirik ke atas sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat sedih.
"Kau akan baik-baik saja jika kau bisa mempelajari ilmu ketenangan... Atau... lakukan-lah segala aktivitas seperti manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun."
"Kapan gejala aneh ini akan sembuh...? Satu jam? Dua jam? Satu hari?"
"Entahlah... Aku tidak pernah mengatasi pasien seburuk ini, tetapi nyawa-mu tidak terancam sama sekali, Korrina. Intinya kau tidak boleh melakukan tindakan gegabah lagi, kau seharusnya mengingat apa yang terjadi kepada kita semua ketika kehilangan dirimu..." Ucap Yuffie pelan, ia mencoba untuk menahan air matanya dan Korrina mulai mengerti dengan tips yang ia berikan.
***
Korrina terbang pergi meninggalkan Xuutouri untuk kembali pulang ke rumah-nya, ia mulai berpikir untuk menghubungi Andrian dan Aditya untuk membawakan sesuatu dari Indonesia, tetapi ketika ia melihat rumah-nya... Entah kenapa dia tidak bisa turun atau mengendalikan dirinya yang sedang terbang lurus menuju halaman-nya.
"Heh...?" Korrina jatuh menuju daratan seperti meteor jatuh yang berasal dari luar angkasa, ia menabrak halaman-nya sampai membuat Haruka segera keluar dari rumah-nya hanya untuk melihat ledakan yang terjadi tadi.
Ia mengharapkan sebuah meteor jatuh atau sebuah harta karun yang berasal dari luar angkasa tetapi tidak karena ia melihat Korrina sedang berbaring di dalam lubang yang lumayan luar itu, Haruka segera menghampiri-nya lalu membantu-nya dengan mengangkat tubuh-nya menggunakan kedua lengan-nya saja.
"Apakah Mama benar-benar mengalami gangguan Lenergy...? Atau sihir Crimson itu yang sedang mempermainkan Mama?" Tanya Haruka dengan ekspresi yang terlihat bingung.
Mereka mulai berteduh di bawah payung sambil duduk di atas kursi taman dan menikmati manisan mereka, "Aku tidak tahu... Bahkan Elf yang bernama Yuffie itu tidak mengetahui masalah yang aku alami---"
Sebuah layar virtual besar muncul tepat di depan Korrina yang menunjukkan Andrian bersama Aditya dan Makarov, Haruka langsung merasa senang ketika melihat Makarov karena dia adalah salah satu teman-nya yang benar-benar mengerti tentang dirinya.
__ADS_1
"Makarov!!!" Seru Haruka sambil melambaikan tangan-nya.
"Yo, Haruka... Sudah lama sekali ya, sepertinya kami sebentar lagi akan tiba di rumah kalian untuk memberi kalian beberapa oleh-oleh yang berasal dari Bumi." Kata Makarov.
"Beruntung dan tumben sekali... Aku ingin menghubungi-mu awalnya, Andrian. Apakah kalian membawakan sesuatu yang sakral atau mistis untuk-ku? Aku memiliki sebuah masalah yang lumayan besar sih..." Korrina mulai menceritakan tentang garis-garis di tangan-nya dan kebetulan Aditya membawa sebuah sarung tangan yang ia beli di Indonesia.
Mereka mulai mengerti dengan apa yang Korrina sampaikan, menghabiskan beberapa menit sampai mereka tiba di halaman Korrina. Sebuah pesawat canggih mulai mendarat di atas tanah dimana Andrian bersama kedua teman-nya keluar dari pesawat itu hanya untuk memeriksa kondisi yang dialami oleh Korrina.
Korrina dan Andrian hampir saja berjabat tangan, tetapi secara refleks dari pikiran yang Korrina miliki... Tubuh-nya bergerak sendiri untuk menghindari Andrian dan berakhir tergeletak di atas tanah dengan ekspresi yang terlihat kaget.
"Sebenarnya aku kenapa...?"
"Sepertinya lebih serius dari yang aku pikirkan..." Kata Andrian sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kaget.
Mereka bertiga sudah diperingati oleh Haruka untuk tidak menyentuh Korrina di bagian kedua telapak tangan-nya, jadi mereka langsung memberikan dirinya sebuah sarung tangan yang memiliki motif batik, itu terlihat cukup aneh bagi Aditya tetapi Korrina langsung menerima-nya asal itu produk dari Indonesia.
Sarung tangan yang disentuh oleh Korrina mulai diselimuti dengan aura Crimson sampai motif batik itu bersinar lalu menyerap-nya, ia merasa terkejut untuk sesaat karena motif itu tiba-tiba menyerap-nya dan sarung tangan itu masih terlihat utuh. Korrina segera memakai-nya lalu menyentuh meja menggunakan kedua telapak tangan-nya.
"... ...!" Korrina melebarkan kedua matanya ketika kedua telapak tangan-nya yang sudah diselimuti dengan sarung tangan tidak menghancurkan meja tersebut, ia merasa lega karena kedua telapak tangan-nya sudah tidak menghancurkan apapun lagi.
"Produk Indonesia benar-benar tidak pernah membuatku kecewa, aku merasa lega sekarang..." Korrina tersenyum sambil menatap kedua sarung tangan-nya, ia mencoba untuk menyentuh mereka bertiga dan tidak terjadi sesuatu.
'Yeyyyy...!!! Sepertinya Mama bersikap seperti biasanya sekarang!" Kedua tangan Haruka yang memegang vodka lalu ia acungkan ke atas karena merasa senang melihat Korrina yang tidak menghancurkan apa-apa lagi dengan tangan-nya.
Mereka mengadakan pesta yang kecil untuk beberapa menit, Tech mulai memperingati Korrina bahwa terdapat surat yang masuk ke dalam kotak surat-nya, ia segera menghampiri kotak suratnya hanya untuk melihat surat apa yang ada di dalam-nya. Ketika ia melihat surat tersebut dengan warna-nya yang berwarna merah muda...
__ADS_1
Korrina melebarkan kedua mata-nya karena merasa tercengang, "M... Me.... Menikah...!?"