Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 528 - Rasa Bingung yang Bercabang


__ADS_3

Pertarungan semi final dihentikan secara tiba-tiba, semua penonton otomatis terlihat kebingungan dan kesal karena pertarungan yang sudah terjadi terlihat begitu sengit dan menebarkan karena pertarungan dari elemen api cahaya dan es.


"Maafkan saya atas penghentian pertandingan secara jeda ini tetapi kami baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa kalian lihat begitu saja..." Kata Morgan, ia mulai menekan tombol merah mejanya.


Sebuah layar mulai menunjukkan Replay, layar itu fokus kepada tapak kiri Methode yang tidak sengaja menyentuh daratan yang mengartikan dia telah di diskualifikasi karena telah mengenai batasan.


Semua orang tercengang ketika melihatnya termasuk Methode dan Asriel, semua penonton terdiam sekejap lalu bersorak keras di tambah dengan tepukan tangan yang keras.


"Wow... kemenangan melalui keberuntungan sepertinya, ekspresi penonton berubahnya cepat juga, seperti penonton bayaran." Kata Rokuro dengan ekspresi datarnya karena ia tidak menyangka hasilnya.


"Bisa di bilang Methode terlalu bersemangat sampai ia tidak fokus dengan tapak kakinya itu, hahhh... Dia memang seperti itu kalau sudah terbawa suasana dengan pertarungan menarik." Haruka menghela nafasnya panjang.


Asriel yang terlihat masih kaget tidak bisa mengeluarkan kata apapun, ia tidak merasa senang atau lega melainkan bertambah semakin di tekan karena pertarungan selanjutnya, ia akan melawan Honoka.


"Haahhhhhh... aku sepertinya melupakan pertarungan kita bukanlah latih tandingan melainkan turnamen, seharusnya aku lebih fokus tadi." Methode menghela nafas panjang lalu menepuk wajahnya sendiri.


Setidaknya seluruh penonton bersikap positif dan tidak ada yang menertawai Methode karena pertarungan yang terjadi sungguh memanaskan seluruh semangat penonton.


"Kau bertarung cukup baik, Asriel, jika di bandingkan dengan anak Ayahmu yang palsu itu, kau jauh lebih dalam segi strategi dan kecerdasan..."


"... seperti yang Legenda katakan, tidak selalu kekuatan atau pukulan solusinya melainkan otak dan strategi juga dapat meraih kemenangan dengan mudah." Methode mulai berjabat tangan lagi dengan Asriel.


"Sebenarnya aku sudah mengharapkan sebuah kekalahan sejak awal, aku bertarung dengan sekuat mungkin untuk menunjukkan diriku sebagai Legenda tetapi aku tidak menyangka aku akan menang karena sebuah keberuntungan..."


"...bukan itu saja, yang lebih parah lagi itu... yah... aku harus melawan Honoka." Asriel menghela nafasnya.


"Hahaha, Honoka terlihat cukup cerdas karena keturunannya jadi aku hanya bisa membantu dirimu dengan ucapan semangat. Semangat..."


"...dan kau menang, itu artinya kau masih berada di bawah diriku loh! Aku jauh lebih kuat di bandingkan dirimu!" Kata Methode, ia mulai mendarat di atas daratan lalu berjalan pergi.


"Ekspresinya berubah cepat seperti itu..." Asriel mendarat di atas tanah lalu ia menatap kedua lengannya yang masih bergetar, rasa gugup selanjutnya adalah ia memasuki tahap final.


"Lebih baik aku melawan Rokuro atau siapa pun kecuali Honoka tetapi bertarung dengannya mungkin dapat membuat pengalamanku semakin berkembang." Asriel mengepalkan kedua tinjunya lalu ia menghampiri ruangan peserta.


"Selamat, Asriel. Tidak buruk juga ya, keberuntunganmu itu." Kata Shuan selagi menepuk punggungnya beberapa kali.


"Melihat hasil tadi, aku merasa yakin bahwa hidupku akan berakhir penuh kesialan selanjutnya karena keberuntungan yang sudah tersia-sia." Asriel menghela nafasnya lalu menerima sebuah kecupan dari Mitsuki.


"Jangan putus asa seperti itu, kamu akan melawan Honoka loh, bukannya itu mendebarkan?" Tanya Mitsuki.


Asriel melihat Honoka yang saat ini sedang menggoda Hana dan Minami, ia menghela nafasnya mencoba untuk mengumpulkan semangat agar bisa bertarung dengannya.

__ADS_1


"Ahh, Asriel... sepertinya kau berhasil memenangkan pertarungan itu ya." Honoka berhenti memeluk Hana lalu ia menghampiri Asriel dengan tatapan serius.


"Mari kita ciptakan final yang begitu meriah nanti! Untuk dirimu mungkin aku memiliki sebuah pengecualian..."


"Pengecualian? Jangan berani-beraninya kau menahan diri kepada diriku! Itu bukan keturunan Comi yang aku ketahu..." Asriel tetap melarang Honoka untuk menahan diri.


"Bukan begitu, masalahnya aku tidak ingin berlebihan menggunakan Heaven's Reality... membutuhkan waktu istirahat yang cukup panjang untuk menggunakan kemampuan itu." Kata Honoka.


"Kalau begitu... aku merasa lega? Tidak, sepertinya sihir realitasmu itu yang dapat mengalahkan diriku, sebanyak-banyaknya aku melepaskan sihir kau pasti akan mengubahnya menjadi sesuatu."


"Wah, kau sudah mengetahui apa yang akan aku lakukan nanti, hebat sekali." Honoka mengangguk selagi memasang ekspresi yang terlihat senang.


"Kita sekarang sudah mengetahui siapa yang bertanding di Final nanti... Tiga final yang akan berlangsung, Honoka melawan Asriel dan Rokuro melawan Shuan..." Kata Bakuzen.


"...penentuan final selanjutnya adalah melalui dua semi final tersisa yaitu Minami melawan Mitsuki dan Kou melawan Hana."


Hana masih merasa sedikit gugup dan berbelas kasihan kepada Kou yang begitu lemah dalam apapun, ia sudah memikirkannya sejak awal bahkan seluruh rencana yang akan ia lakukan pasti berakhir cukup salah.


"Menahan diri salah... tidak menahan diri salah, jika aku menahan diri maka reputasiku sebagai keturunan Shimatsu dan Legenda akan hancur juga terancam." Hana mulai menatap Kou yang saat ini sedang tertidur di pangkuan Haruka.


"Astaga... apa yang harus aku lakukan, aku cukup malang sekali melihat Kou yang tertidur damai seperti itu, sebentar lagi pertarungan kita akan mulai." Hana mulai terlihat kebingungan, pikirannya juga dipenuhi dengan cara bertarung di semi final melawan Kou.


"ALLLL RRIIIGGHHHTTT!!! Kita lanjutkan semi final selanjutnya...!!! Hanya tersisa dua lagi sebelum kita memasuki tahap Final...!!! Pemenang akan mendapatkan Solicitation Order!!!" Seru Jorgez keras.


Mereka sudah menyiapkan seluruh barang-barang yang memiliki gambar Minami dimana-mana bahkan Shira hari ini menghasilkan banyak uang dengan menjualnya kepada para penonton.


"Aku tidak menyangka putri kita akan setenar ini, Megumi... kita menghasilkan banyak uang sekarang bahkan bisa berlibur kemana saja!" Kata Shira dengan tatapan yang terlihat bahagia.


"B-banyak sekali..." Megumi bisa melihat Shira menyimpan semua uang itu di dalam kantong yang sudah penuh.


Layar di atas semua penonton mulai menunjukkan empat kartu yang berputar, setelah 10 langsung terbuka dan menunjukkan wajah Hana dan Kou yang mengartikan mereka akan bertarung di semi final sekarang.


"Shimatsu Mizuhana melawan Kou Comi!" Seru Jorgez keras, seluruh penonton bersorak keras karena tidak sabar melihat pertarungan hantu melawan elemen air.


"Ini benar-benar buruk... apa yang Hana lakukan selanjutnya? Setiap pilihan mengandung banyak risiko sepertinya." Arata mulai berbicara, ia hanya bisa berharap Kou dan Hana dapat bertarung dengan baik tanpa menyebabkan masalah.


"Kenapa harus melawan Kou yang malang itu... Hana pasti kebingungan harus melakukan apa, aku harap mereka baik-baik saja..." Kata Ophilia selagi memasang ekspresi yang khawatir.


***


"Kou... Kou... Kou..." Haruka mencoba untuk membangunkan Kou dengan mencolek-colek pipinya yang begitu tembam sampai membangunkan dirinya secara perlahan-lahan.

__ADS_1


"Mmm...?" Kou membuka kedua matanya lalu ia melihat Haruka yang menunjukkan senyumannya cerahnya, untuk menyambut siang yang cerah bagi adiknya sendiri.


"Sudah waktunya untuk bertarung, kamu akan melawan Hanacchi sekarang." Kata Haruka sambil mengusap kepala Kou.


Dengan cepat Kou berdiri tegak lalu melakukan sedikit pemanasan, ia merasa tidak sabar untuk bertarung dengan Hana sedangkan Hana terlihat lumayan panik karena ia merasa bingung, tidak tahu harus apa selanjutnya.


"Kou, jangan beri Kakakku ampun." Rokuro mengusap kepala Kou.


"Heh!?" Hana terkejut ketika melihat adiknya yang mendukung Kou, Rokuro bahkan tersenyum serius kepada Hana bahwa ia juga sebenarnya akan memiliki perasaan yang sama dengan Hana jika bertarung dengannya.


"Hana... jangan mencoba untuk menahan diri kepadaku, jangan sekali-kalinya coba... aku ingin merasakan pertarungan yang sebenarnya...!" Kata Kou selagi melompat-lompat penuh semangat.


"Kou, apakah kau yakin?" Tanya Shuan yang mulai jongkok di hadapannya.


"Tentu saja... sebagai bangsa Legenda, sebagai penerus ratu Touriverse... aku harus bisa mengatasinya!" Ucap Kou selagi memberi Shuan sebuah kecupan di pipi.


"Ba-Baiklah... sepertinya aku tidak bisa menghentikan dirimu, kalau begitu semangat!" Jawab Shuan, ia memberi Kou sebuah tepukan pelan di kepalanya lalu ia menatap Hana.


"Kau juga semoga beruntung, Hana..."


"Hmm... terima kasih." Jawab Hana dengan tatapan yang terlihat gugup bahwa Honoka sambil memeluk dirinya dari belakang lalu meremas dadanya.


"Hyaaahhh!!!" Hana langsung berubah menjadi air dan membentuk dirinya kembali di hadapan Honoka dengan ekspresi yang terlihat kesal dan malu.


"Honoka...!"


"Hahaha, Hana... jika bisa, yahh... bagaimana cara untuk menjelaskannya ya, cobalah untuk tidak berlebihan bertarung dengan adikku." Kata Honoka sambil mengusap kepalanya beberapa kali.


"Y-Ya... ke-kenapa Honoka malah mempersulit keadaan...!?" Rasa paniknya bertambah besar bahkan ia bisa melihat Kou menghampiri Honoka lalu menepuk-nepuk perutnya beberapa kali dengan pipi yang di kembungkan.


"Biarkan Hana mengerahkan semua kemampuannya kepadaku..." Ucap Kou pelan, membuat Honoka terkekeh pelan lalu memberi dirinya sebuah elusan di kepala.


"Iya-iya... kalian berdua semangat ya!" Kata Honoka sehingga Hana dan Kou mulai berjalan keluar dari ruangan peserta, mendapatkan banyak semangat dan dukungan dari teman-temannya.


Beberapa menit kemudian, semua penonton bisa melihat Hana dan Kou berjalan keluar dari pintu masuk sehingga mereka langsung di sambut dengan tepukan tangan meriah dan bunga mawar yang berjatuhan.


"Wahhhh..." Kou mulai mengambil semua bunga itu dan mencium aromanya selagi menghampiri arena.


Berbeda dengan Hana, ia terlihat begitu suram dan kebingungan bahkan ia sempat menatap Arata dan Ophilia yang melihat dirinya selagi memasang ekspresi yang sama.


"Bahkan mereka juga sama...!"

__ADS_1


"...apa yang harus aku lakukan...!?"


__ADS_2