Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 783 - Keinginan untuk Kedamaian hanya akan menciptakan Peperangan


__ADS_3

Kou mulai menggendong tubuh kecil Shinobu, "Koneko sayang... apakah kamu ingin mendengar sesuatu yang terdengar cukup menyenangkan?"


"Berkaitan dengan pelajaran, kehidupan, dan hal lainnya... mungkin akan berguna untukmu suatu saat nanti, semuanya... aku ingin kamu mengerti." Kou memberi Shinobu sebuah kecupan di pipi.


"Mmm...! Koneko... ingin mendengarnya." Koneko memeluk leher Kou erat selagi mendengar perkataannya.


"Ingat ya... suatu saat nanti... perkataan ini mungkin akan membantu dirimu ketika sedang bimbang dan bingung terhadap perang serta pertarungan..."


"Keringat yang mengalir di medan latihan adalah penebus darah di medan pertempuran."


"Cinta itu serupa perang. Mudah memulainya tapi sukar mengakhirinya."


"Untuk mengetahui musuhmu sendiri, Koneko harus menjadi Musuh Anda. Jika kita tidak mengakhiri perang, perang akan mengakhiri kita."


"Percayalah tidak ada perang yang akan mengakhiri semua perang. Apakah mereka yang terlahir makmur layak untuk berbicara tentang perang?"


"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani mencoba dan mencoba. Damai itu bukan karena tidak ada perang melainkan karena ada keadilan."


"Kematian yang tak berarti. Kebencian tanpa akhir. Rasa sakit yang tak pernah berakhir. Itulah perang."


"Ketika 'terserah' dibalas 'ya sudah' maka pecahlah perang teluk itu. Ia yang takut kalah sudah pasti kalah. Kecepatan adalah inti dari sebuah perang."


"Jangan pernah takut dengan medan perang baru! Kedamaian palsu tidak lebih baik daripada perang. Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh, ketika diplomasi berakhir, Perang dimulai."


"Mama tahu itu dari Nenek yang sudah mempelajari tentang berbagai macam peperangan dalam pandangan beberapa orang, ras..." Kou mengelus kepala Shinobu pelan-pelan.


"Politik adalah perang tanpa pertumpahan darah, sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah."


"Perang tidak pernah berubah. Namun setiap orang berubah, melalui jalanan yang mereka lalui."


"Ekspresi hanya dapat menimbulkan kebencian, dan kebencian dapat menimbulkan perang. Terkadang dengan kalah dalam pertempuran, kamu menemukan cara untuk memenangkan perang."


"Keberanian tanpa pertimbangan seperti perang tanpa membawa amunisi, terkadang kamu akan kalah dalam pertempuran. Tapi kebenaran selalu memenangkan perang."


"Jadilah sinar cahaya dalam kegelapan, jadilah tenang dalam badai dan jadilah damai saat perang. Jika yakin perang akan menghasilkan kemenangan, kamu harus bertempur, meskipun aturan melarangnya."


"Strategi tanpa taktik adalah rute paling lambat menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi adalah suara sebelum kekalahan."


"Kita tidak pernah menganjurkan perang kecuali sebagai alat perdamaian. Perang adalah pilihan terakhir, menjaga perdamaian adalah pilihan utama."


"Tampak lemah saat kamu kuat, dan tampak kuat saat kamu lemah. Perang tidak pernah menjadi solusi abadi untuk masalah apapun, perang adalah permainan yang bisa dimainkan dengan senyum di wajah, tetapi tidak akan ada tawa di hati."


"Keinginan untuk mendapatkan kedamaian hanya akan menciptakan perang dan kebencian untuk melindungi yang dicintai."


"Ketika kamu gagal di dalam masa perjuangan, bukan berarti kamu harus mundur. Tanpa sastra, kata-kata hanya pecundang yang mengundang perang."


"Sukses adalah kemenangan dalam perang melawan diri sendiri. Lebih baik bersiap perang daripada berharap bahwa musuh tidak pernah datang."


"Bila anakku terlahir tanpa sebilah pedang, bukan berarti kamu harus mati di medan perang." Kou tersenyum lalu mengusap kedua pipi Shinobu.


"Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas dan bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit."


"Seperti dalam perang mana pun, kita harus mempersiapkan diri untuk bertempur. Semua perang adalah tanda-tanda kegagalan setiap ras sebagai makhluk yang berpikir."


"Tidak pernah ada perang yang baik atau perdamaian yang buruk."


"Legenda penuh kebanggaan bertarung bukan karena dia membenci apa yang ada di depannya, tetapi karena dia mencintai apa yang ada di belakangnya."

__ADS_1


"Kesopanan tidak hilang gara-gara perang. Dalam masa perang, kesopanan dibutuhkan, lebih daripada dalam masa damai."


"Tidak ada lagi rasa benci pada siapa pun. Pihak apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian."


"Bertempur dan menaklukkan musuh dalam peperangan bukanlah kehebatan paling tinggi. Kehebatan tertinggi terjadi ketika kamu mampu menghentikan musuh tanpa perlawanan apapun."


"Perang tidak bisa dimenangkan dengan emosi. Tetapi perhitungan yang dingin..."


"Bagaimana...? Apakah kamu bisa melakukan semua itu, Shinobu Koneko...?"


"Hebat sekali---"


...


...


"...Mama." Shinobu memegang erat tanah dengan keras sampai semua teman melihat dirinya sempat mengeluarkan partikel cahaya emas.


"Aku sendiri yang dipenuhi dengan kesalahan...! K-Kenapa harus... kenapa harus membuatnya lebih buruk lagi?"


"Mereka semua yang membenci diriku karena aku salah... kenapa aku harus melawan mereka jika semua itu adalah kesalahanku...?"


"Mama kehilangan Co. Corp... semua itu adalah kesalahanku... aku berhak menerima semua hukuman itu..."


"Tolong jangan... jangan membawa sesuatu yang penting dalam kehidupanku..." Shinobu mendekati Hana dengan tatapan kecewa.


"Apa kau ingin tahu kenapa dunia ini begitu keras kepadamu? Itu karena hanya kau sendirian yang bersikap baik kepada dunia ini."


"Kau itu memang baik Shinobu dan juga murah hati, hanya saja kau menyalah gunakan kebaikanmu sendiri, kau bilang semua orang menyalahkan dirimu kan? Lalu kau anggap apa orang tuaku yang selalu menawarkan berlian-berlian itu?!"


"Lalu jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri dan menganggap nyawamu itu tidak ada nilainya, jika kau bersikap seperti itu maka surga pun tidak ingin membuka kan pintunya untukmu."


"Apakah aku memang... memiliki sebuah arti dalam kehidupan ini...?" Tanya Shinobu, pikirannya yang begitu luas karena The Mind tetap tidak membantu dirinya dengan pandangan dunia yang begitu buta ini.


"Koneko tidak mengerti..."


"Aku... Aku... tidak bisa menjadi sesosok Legenda yang di inginkan oleh semua orang..."


"Aku takut..."


"Memang benar kau sudah tidak layak untuk menjadi Legenda, tapi itu hanya berlaku sekarang, belum terlambat untuk mengembalikan harga dirimu yang sudah tercoreng."


"Asal kau tahu, selama ini aku selalu mengawasi dirimu, entah saat kau sedang menunggu di kuburan Kou, di kabin, atau saat menjual jurnal mu itu."


"Aku memperhatikan dirimu dari kejauhan, berharap dunia yang keras ini dapat mengubah pola pikiranmu itu, tapi ternyata aku salah."


"Kebaikan yang tidak terbayar hanya akan menjadi sia-sia, Shinobu."


"... ..." Shinobu menurunkan ekor dan telinganya sampai ia perlu mengikuti keinginan Hana untuk mengambil kembali semua kepentingan yang di rampas oleh Hana.


"Tapi aku..."


"Aku hanya ingin mendapatkan kepercayaan semua orang..."


"Kepercayaan bahwa aku tidak bersalah... aku tidak buruk..."


"Aku hanya sekedar Neko Legenda yang cacat... aku ingin bisa di percayai dengan kebaikan..."

__ADS_1


"Koneko... ingin bisa di harapkan..."


"Lantas apa yang harus aku lakukan...? Melakukan kebaikan yang di pandang buruk... melakukan kejahatan yang di pandang baik..."


"...aku tidak mengerti."


"Inikah... yang di namakan keputusasaan...?"


"Keputusasaan tidak ada di kamus bangsa legenda, Shinobu, lagi pula kita saat ini hidup di zaman hidup sebagai penjahat yang berusaha mencari cahaya keadilan, atau hidup menjadi pahlawan yang di kekang oleh kegelapan."


"... ..." Shinobu terdiam seketika sampai ia menatap kedua tapaknya yang memancarkan sinar matahari.


"Apa yang sebenarnya Mama dan Papa harapkan dariku...?"


"Seperti apa keturunan Shiratori dan Comi yang sebenarnya..."


"Kenapa aku sangat terkutuk... aku mencoba sekuat mungkin untuk membuat semua orang bahagia..."


"Seseorang dari marga Shiratori tidak akan pernah menyerah walau di beri ujian seperti berada di neraka, lalu jangan mencoba untuk membuat semua orang bahagia, tapi buat orang-orang di sekitarmu bahagia."


"Setiap keturunan Comi yang aku tahu memang terkutuk tetapi hasil perjuangan mereka untuk melawan kutukan itu mampu memberi hasil yang memuaskan..."


"...aku yakin kamu dapat mengubah dunia semaunya, berbeda dengan apa yang di lakukan Kou Comi dan bahkan Korrina Comi, terdapat sesuatu yang istimewa tetapi belum kau ketahui di dalam dirimu."


"... ..."


"Aku tidak bisa..."


"Aku tidak memiliki kekuatan seperti itu... aku terlalu lemah...!"


"aku terlalu lembut dan cacat..."


"Lalu kenapa ibu mu yang memiliki tubuh setengah astral, tidak memiliki pita suara dan gampang terkena penyakit pernah menjadi ratu seluruh alam semesta?"


"Dia adalah satu-satunya ras gagal yang bisa menjadi nomor satu dalam segala hal bakal semua orang mengingat nama dirinya sebagai penuh kebaikan dan rasa positif."


"Kehidupan di luar juga pasti mengenal dirinya... termasuk dalam dimensi dan apapun itu..."


"...Mama." Shinobu menyebut ibunya karena rasa rindunya yang besar bahwa ia masih belum mendapatkan cukup perkataan darinya itu.


"Shinobu Koneko, apa kau yakin ingin tetap seperti ini?"


Shinobu melihat Hana memberikan dirinya kesempatan untuk terakhir kalinya sampai pikirannya dapat membaca jelas bahwa perasaan dan jawaban yang ia ingin dengar adalah perubahan.


Sama seperti seluruh temannya juga, melihatnya saja membuat Shinobu melangkah kembali menuju jalan dengan pintu tertutup di hadapannya yang menyimpan seluruh jawaban dan kebenaran di balik pintu itu.


"aku ingin berubah... memenuhi keinginan semua orang... mendapatkan kepercayaan mereka semua..."


Hana langsung tersenyum kecil saat Shinobu mulai membulatkan tekadnya, awalnya dia akan memukul Shinobu jika tetap seperti itu


"Bagus, kalau begitu... buktikan tekadmu sekarang juga!"


Shinobu muncul di hadapan Hana selagi memegang semua barang yang di ambil dirinya.


"... ..." Shinobu memakai kembali ikat kepala itu lalu menghadap Hana dengan tatapan serius.


"Koneko... akan berjuang...!"

__ADS_1


__ADS_2