Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 63 - Sistem yang terbuat dari Kecerdasan Korrina


__ADS_3

Di tengah malam dimana semua peserta saat ini sedang tertidur dengan sangat nyenyak karena mereka menghabiskan waktu mereka seperti berlatih, bertarung, dan menonton pertarungan. Tidak ada satupun peserta yang berani berlatih karena ia tidak baik untuk tubuh mereka bahkan Shira dan Arata lebih memilih untuk beristirahat daripada merusak tubuh mereka. Korrina yang sedang berada di kamarnya juga tertidur dengan tenang bersama Haruka yang tidur di sebelah bantal-nya, "Fuuhhh... Fuhhhh..." Haruka mulai mengeluarkan air liur-nya sehingga membuat bantal itu dipenuhi dengan air liur-nya.


"... ..." Korrina memiliki ekspresi tidur yang khawatir karena mimpi-nya terlihat seperti tidak baik, di setiap orang tidur terkadang akan menemukan sebuah mimpi baik atau buruk dan terkadang juga hanya kegelapan yang tidak menunjukkan mimpi apapun, itu terdengar membosankan sih.


~Mimpi~


"Dengan menggunakan kecerdasan-mu, Korrina. Kau bisa melakukan apapun serta menciptakan sebuah perlindungan yang layak untuk semua orang yang tidak bisa melindungi diri mereka masing-masing." Ucap Alvin selagi menggenggam tangan kanan Korrina dengan sangat erat sehingga ia mulai menunjukkan ekspresi, "Kecerdasan-ku?" Tanya Korrina selagi memiringkan kepalanya, Alvin hanya bisa mengangguk selagi tersenyum kecil.


Korrina menghabiskan beberapa waktu untuk menciptakan sebuah kacamata yang ia modifikasi menjadi sebuah sistem yang sangat canggih, ia bisa melakukannya berkat kecerdasan serta teknologi tinggi yang ia pelajari dari Xuusuatouri, tempat semesta yang paling maju dengan teknologi yang sangat canggih dan rumit, bahkan Korrina sudah menghabiskan beberapa tahun untuk belajar teknologi dan sistem di semesta tersebut, "Waahhhhh~~~" Ucap Korrina yang mulai memegang sebuah kacamata berwarna hitam dengan lensa putih, ia merasa senang sekali sehingga kedua matanya berbinar-binar bahwa ia berhasil menciptakan sesuatu yang sangat canggih dengan kemampuan-nya sendiri.


"Lihat Alvin! Aku berhasil! Aku berhasil loh!!!" Korrina mulai melompat-lompat selagi merasa puas terhadap ciptaannya, Alvin hanya bisa terkekeh selagi mengusap-usap kepalanya, "Bagus, bagus. Kamu memang istri-ku yang pintar." Ucap Alvin sehingga Korrina mulai menggunakan kacamata tersebut dan membuat Alvin tersipu karena keimutan Korrina yang menambah beberapa kali lipat, "Tech, apakah kau bisa mendengarku?" Tanya Korrina sehingga kacamata itu mulai menjawab pertanyaan Korrina.


"Ya, Korrina Ghifari. Saya adalah teknologi tinggi yang anda ciptakan sehingga menciptakan berbagai unsur sistem yang tercampur menjadi satu contohnya seperti AI (Artificial Intelligence.) dan saya memiliki banyak informasi berkat semua DNA yang kau masukkan ke dalam sistem peningkatan-ku." Tech adalah nama AI atau teknologi yang dari kacamata tersebut, sepertinya Tech akan sangat berguna untuk mencari informasi atau semua hal yang penting seperti mendeteksi kondisi tubuh atau racun yang ada di tubuh seseorang, "Lihat, Alvin! Lihat!!! Aku benar-benar berhasil! Aku menciptakan Tech!" Korrina mulai melompat-lompat lagi.


"Tech...? Aku tidak bisa mendengar-nya." Ucap Alvin karena Korrina baru saja sadar Tech hanya akan respon ketika sebuah data tentang seseorang sudah tercantum di sistem-nya, saat ini hanya Korrina saja yang dapat mengakses Tech, "Hehehe~ Mari kita coba dengan berjalan-jalan!" Ucap Korrina yang mulai menarik lengan kanan Alvin lalu ia pergi menuju hutan yang besar dan indah.


Beberapa menit kemudian, Korrina tersesat di dalam sebuah hutan yang dipenuhi kabut, Alvin sudah menghilang ketika ia masuk ke dalam hutan itu, "Alvin, jangan tinggalkan aku sendiri... Itu tidak lucu." Ucap Korrina, Alvin tidak menjawab perkataan Korrina dan itu membuatnya khawatir, "Tech... Bisakah kau mencarikan suami-ku Alvin Ghifari?" Tanya Korrina.


"Perintah diterima, mencari lokasi suami dari sang pencita yaitu Korrina Comi.  Alvin Ghifari, seorang Dewa Crimson yang munafik karena sudah menikahi seorang mortal... Beberapa meter... Beberapa kilometer..." Tech mulai mencari lokasi dimana Alvin berada cukup lama sehingga membuat Korrina merasa kebingungan kenapa Tech tiba-tiba menyebut Alvin sebagai dewa munafik, "Sepertinya perintah-nya harus dipercepat dan disingkat karena terlalu lama." Ungkap Korrina yang mulai mengeluarkan sebuah catatan lalu ia menulisnya untuk meng-upgrade sistem Tech tentang perintah yang Korrina sampaikan.


Korrina mulai berjalan beberapa langkah ke depan selagi melihat sekeliling dimana kabut-kabut mulai berubah menjadi merah Crimson, "Tech...? Dimana Alvin...?" Tanya Korrina yang mulai berkeringat karena ia merasa ketakutan ketika melihat kabut-kabut tersebut, "Menemukan lokasi seseorang yang bernama Memory Morteeeemmmmmmm...... Bzzzzztttttt...." Suara Tech mulai perlahan-lahan menghilang sehingga kedua lensa kacamata yang Korrina gunakan mulai pecah.


"M-Memory Mortem...!? Siapa itu!?" Tanya Korrina sehingga ia melihat dua gadis yang menghampirinya, seorang gadis kecil melewati Korrina dan ia sadar bahwa gadis kecil tadi adalah anak pertama-nya yang bernama Rina Ghifari, "R-Rina!? Kamu kemana saja!?" Tanya Korrina yang mulai melirik ke belakang sehingga ia tidak bisa melihat Rina lagi, ia mulai berkeringat dan bernafas berat ketika melihat Rina hilang tanpa sebuah jejak.

__ADS_1


Seorang gadis dewasa bertopeng dimana topengnya menghalangi kedua matanya saja mulai menyentuh bahu kanan Korrina sehingga itu membuatnya secara refleks menatap gadis yang menyentuh-nya, "Sudah... Lupakan saja..." Ucap gadis itu yang mulai berjalan pergi meninggalkan Korrina lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak apapun, hal itu membuat Korrina merasa lebih takut sehingga kedua matanya mulai berubah menjadi warna Crimson. 


Korrina mengedipkan kedua matanya sekejap lalu ia sadar bahwa ia langsung tiba di Crimson Realm, ia melihat banyak sekali monster serta dewa agung yang sedang didampingi oleh seorang iblis, "H-Hah...?" Korrina menatap ke depan dimana ia melihat Alvin sedang duduk di atas tanah dengan kedua lengannya yang hilang, "Alvin!" Panggil Korrina kepada Alvin yang sedang duduk sila, ia tersenyum lebar ketika melihat Alvin.


"Kau sebenarnya siapa? Berani-berani memanggil namaku walaupun kau hanyalah seorang mortal." Tanya Alvin yang mulai menatap Korrina dengan tatapan yang terlihat kosong, "Ehh...? Aku... Aku ini istri-mu!" Jawab Korrina yang mulai memegang dadanya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat khawatir. Seluruh tubuh Alvin mulai bersinar Crimson sehingga Dewa Agung yang berukuran besar mulai muncul di atas mereka semua selagi **** mereka berdua menggunakan telapak kaki-nya.


~Mimpi Berakhir~


"Ahh... Hah.... Hah.... Hahh..." Korrina terbangun dari mimpi tadi, saat ini ia duduk di atas kasur selagi memegang wajahnya. Korrina terus bernafas berat selagi berkeringat dingin serta kedua matanya yang tadinya berwarna biru lautan mulai berubah menjadi merah darah, "Mimpi... Tech...? Rina...? Memory Mortem...? Dewa Agung...?" Korrina mulai berbicara dengan sendirinya sehingga ia mulai mencari kacamata yang pernah ia gunakan ketika ia pertama kali menciptakan teknologi canggih-nya sendiri, untungnya Korrina menemukannya di laci-nya karena ia perasaan pernah membawanya ketika ia menyuruh Porugi untuk membawa Haruka.


"Tech... System Access: Creator." Korrina mulai mengakses Tech, "Selamat datang kembali, Korrina. Sekarang pukul dua malam dimana semua orang saat ini sedang berada di alam mimpi mereka, saya sarankan untuk anda secepatnya kembali tidur atau tubuh tidak akan merasa bugar." Ucap Tech yang membuat Korrina hanya mengangguk kepala-nya saja, "Bisakah kau memberi tahu-ku sampai mana proses Project of Location untuk sistem baru-mu?" Tanya Korrina.


Korrina bangkit dari atas kasurnya lalu ia menghampiri meja kubus yang berukuran besar hampir sebesar meja, "System Access: Tech's Core System." Cincin Korrina yang memiliki warna hitam dan biru mulai bersinar di bagian jari kelingking-nya, di saat itulah ia mulai menyentuh meja itu menggunakan cincin sehingga meja tersebut bersinar berwarna biru muda karena ia memodifikasinya untuk memiliki warna biru muda, warna kesukaannya. Beberapa hologram mulai muncul yang menunjukkan tentang pencarian lokasi dan data-data Alvin Ghifari, "... ..." Korrina mulai menggeser hologram bagian yang menunjukkan lokasi semesta ke arah kiri sehingga ia melihat sebuah batang proses yang sebentar lagi akan menempuh 100%.


"Proses telah selesai, lokasi ditemukan serta gambaran yang kau minta, Korrina." Tiga hologram yang menunjukkan lokasi, tempat, dan gambar mulai muncul tepat di depan Korrina sehingga membuatnya terkejut serta menutup mulutnya. "A-Alvin...!" Lokasi yang ia cari adalah lokasi dimana Alvin berada, ia melihatnya sedang berada di labirin yang tidak ada batas dan jalan keluar melainkan ia harus melawan banyak sekali tantangan yang menunggu-nya, tempat yang Alvin berada sudah jelas di Crimson Realm serta gambaran juga menunjukkan Alvin yang sedang duduk sila di atas lantai selagi memakan daging prajurit Crimson itu dengan lahap.


"T-Tidak mungkin..." Ucap Korrina yang mulai menunjukkan ekspresi sedih-nya, ia perlahan-lahan mulai menangis karena melihat Alvin yang terlihat jelas bahwa ia disiksa habis-habisan di wilayah itu serta ia pasti akan merasa gila jika ia terus berads di tempat itu, "Ada apa, Korrina? Apakah saya harus mematikan sistem-nya?" Tanya Tech.


"Hmm... Tidak..." Korrina menggelengkan kepalanya.


***


"Haaaaaaaaaaa..... Haaaaaaaaa..." Seorang iblis yang sedang duduk di tahta-nya mulai merasa haus karena tubuh-nya yang lemah karena ia sudah tua sehingga ia tidak bisa melakukan apapun kecuali duduk saja, dia tidak bisa bergerak jadi ia hanya harus menunggu kematian, "Silahkan, tuan Rxeonal. Minumlah." Ucap seorang pelayan iblis yang memberi iblis yang bernama Rxeonal itu sebuah obat lalu Rxeonal meminum-nya sampai habis.

__ADS_1


"Hahhhh... Lama... Kenapa aku masih belum mendapatkan kemudaan-ku?" Tanya Rxeonal yang mulai menatap kedua telapak tangannya yang keriput, bangsa iblis memiliki umur yang terbatas sampai seratus tahun, jika seorang iblis menempuh umur seratus tahun maka tubuh mereka akan rapuh sehingga berubah menjadi keriput seperti nenek-nenek, "Sepertinya Oni Majiru telah gugur dalam pertarungan ketika melawan seorang Legenda... Saat ini, Tournament of Solicitation sedang berlangsung dan masih belum sampai di titik semi final."


"Oni Majiru mati...!? Legenda seperti apa yang mampu membunuh bangsa iblis dengan berjulukan Oni!?" Tanya Rxeonal dengan ekspresi yang terlihat terkejut karena iblis yang berjulukan Oni itu seharusnya kuat dan terkalahkan, tetapi Oni Majiru yang Rxeonal percayakan telah kalah oleh seorang Legenda, "Seorang Saint Legenda yang berjenis Saint Light. Namanya adalah Shiratori Shira, dia adalah seorang Legenda yang memiliki sikap pantang menyerah... Ia tidak akan pernah berhenti bertarung sebelum dia mati." Ucap pelayan itu karena ia mendapatkan beberapa informasi tersebut dari Oni Majin yang menghubungi-nya melalui telepati.


Rxeonal merasa kesal dan dia akan mengingat Legenda yang telah membunuh Majiru, Shiratori Shira pasti akan selalu Rxeonal ingat karena ia sudah membunuh salah satu prajurit-nya yang hebat, "Kita hanya harus berharap kepada Majin." Ucap Rxeonal yang mulai memejamkan kedua matanya. Pelayan itu hanya bisa mengangguk karena ia melihat siaran langsung turnamen itu dan sepertinya Majin telah memenangkan dua pertarungan melawan Lang dan Shizen.


"Sepertinya Majin memiliki kesempatan besar untuk menang karena rasa amarah yang ia alami saat ini ketika kehilangan saudara-nya yaitu Majiru. Ia bahkan tidak memberi kedua musuh-nya sedikit ampunan melainkan membuat mereka berdua langsung terjatuh di atas tanah dengan luka fatal." Ucap pelayan itu.


Rxeonal mulai tersenyum jahat dan merasa bangga bahwa Majin melakukan pekerjaan dengan baik, "Hebat... Masih ada harapan untuknya..." Ucap Rxeonal yang mulai tertidur karena lelah, semua yang pelayan itu katakan benar dimulai dari pertarungan antara Majin melawan Lang yang berakhir cukup fatal karena tubuh Lang perlahan-lahan melemah sehigga ia mengeluarkan banyak sekali darah melalui mulutnya.


"Ahhhhhh.... Grrrgggghggg...." Lang memegang dada-nya yang terasa menyakitkan karena sudah menerima pukulan dari Majin, tinju kanan Majin dilumuri dengan warna kegelapan, "Kau tidak akan bisa menang melawanku..." Ucap Majin karena ia memiliki sihir berbahaya seperti Death Touch dan Death Stare, ia juga mampu memberikan penyakit langka kepada seseorang yang ia sentuh dengan sihir Death Touch yang ditahan, jika tidak ditahan maka sudah jelas bahwa Lang akan mati.


"Berakhir sudah!!!" Majin muncul di sebelah Lang lalu ia menendang kepalanya sehingga membuat Lang keluar dari arena. Majin baru saja memenangkan pertandingan pertamanya dengan mudah tanpa harus terluka, Morgan meresmikan bahwa Majin telah memenangkan pertarungannya melawan Lang.


Shira merasa cukup terkejut ketika melihat Majin yang sangat kuat, melihat dirinya membuat Shira teringat tentang iblis yang pernah ia kalahkan bernama Majiru, "Sepertinya kemampuan dan kekuatannya jauh lebih hebat dari Majiru." Ungkap Shira.


Di pertarungan kedua-nya, Majin sempat menerima serangan fatal dari ledakan yang diciptakan oleh Shizen. Ledakan itu membuat kedua lengannya terbakar dan meninggalkan lukas bekas yang besar serta mata kiri-nya mulai buram karena Shizen memasukkan sedikit ledakan yang membuat mata kirinya tidak berfungsi.


Ketika Majin sadar bahwa mata kirinya tidak bisa melihat, ia langsung mengamuk dan menyerang Shizen menggunakan semua yang ia miliki sehingga ia mengakhiri Shizen dengan melompat ke depan lalu berputar dan menendang lengan bagian kiri Shizen sampai patah dan mengeluarkan suara yang sangat menyakitkan, Shizen membulatkan kedua matanya sehingga ia berlutut di atas arena selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesakitan.


"Nrrggghhh... Tccchhh...." Shizen meringis kesakitan, "AAAAGGGGGGHHHHHHHHH!!!" Teriak Shizen kesakitan karena ia melampiaskan kesakitan itu dengan sebuah teriakan agar luka yang ia alami bisa cepat sembuh, Shizen tidak bisa melakukan apapun lagi karena lengan kirinya. Majin menendang kepalanya sehingga membuatnya terpental ke depan lalu terjatuh di atas tanah.


Semua penonton mulai bertepuk tangan dengan keras dan pelan, pelan hanya untuk penonton yang terasa terganggu melihat Majin sudah membuat dua peserta terluka cukup fatal sehingga meninggalkan beberapa luka bekas. Morgan telah meresmikan Majin untuk memenangkan pertanding-nya yang kedua, Majin hanya bisa tersenyum sini lalu ia melirik ke tempat penonton bagi kelas tiga.

__ADS_1


"... ...!" Shira terkejut ketika melihat Majin yang menatapnya dengan tatapan yang terlihat mematikan, "Kau akan mati." Majin mulai memperagakan leher-nya yang digorok lalu ia berjalan pergi dari arena tersebut.


__ADS_2