
Minami saat ini sedang melihat-lihat barang belanjaan yang diskon, ia harus irit dalam menggunakan poin karena poin bisa dibilang sebagai uang juga untuk sekarang. Minami ditemani oleh Hana dan Honoka karena pergi sendirian itu bisa saja menarik musuh yang mencoba untuk mencuri poin atau melakukan sesuatu kepadanya, Honoka menemani Hana dan Minami yang sibuk belanja sedangkan dirinya terus melihat-lihat pilihan kartu itu yang bahkan menunjukkan pilihan berita yang memberitahu aktivitas dan informasi.
Informasi yang dimaksud itu seperti berita yang begitu fatal dan mengerikan karena tidak ada yang tahu peserta apa saja yang Morgan undang, sebagian bisa saja berhati jahat dan memiliki hasrat membunuh yang begitu besar. Peserta seperti itu wajib disingkirkan sebelum mengorbankan lebih banyak peserta yang tidak bisa melindungi diri mereka sendiri tetapi rata-rata Honoka hanya melihat pemberitahuan peserta asing yang saat ini berlomba-lomba mengumpulkan poin di waktu istirahat seperti ini.
"Honoka, mau aku belikan sabun yang murah?" Tanya Hana, ia mencoba untuk mentraktir dirinya karena ia baru saja selesai membelikan Minami sebuah barang yang begitu murah. Mendengarnya saja membuat Honoka otomatis menyentuh dagu-nya lalu mendekati wajahnya dengan Hana.
"Kamu baik sekali, Hana, kalau begitu... aku menginginkan sabun yang memiliki aroma wangi sama seperti dirimu, kucing kecilku..." Hana tersipu ketika melihat Honoka menggoda dirinya, ia juga sadar bahwa Minami sudah menjauh dari mereka karena tidak ingin menjadi korban oleh Honoka, mereka mulai melanjutkan aktivitas mereka untuk berbelanja barang-barang yang murah dan diskon untuk menghemat poin yang baru saja mereka dapatkan dengan memotret harta yang berserakan di setiap ruangan dan toko yang baru saja mereka kunjungi.
"Apakah kita benar-benar harus bekerja demi kelas kita sendiri...? Walaupun tidak mengetahui nama dari keenam murid yang berada di kelas yang sama?" Tanya Hana.
"Begitulah, Kakak juga bilang bahwa kita sebaiknya memikirkan diri kita sendiri jika ingin benar-benar terdaftar dalam turnamen. Seperti biasanya Kakak selalu bersikap egois seperti Mama, mungkin aku juga sama. Aku hanya ingin kalian masuk ke dalam turnamen itu dan Kakak bilang bahwa suatu saat nanti kita bisa saja bersaing dengan serius, intinya tetap memperdalam harga diri kalian sebagai seorang Legenda..." Honoka tersenyum lalu ia mengambil aksesoris telinga kucing dan mengenakan-nya agar ia bisa mendekati Minami yang saat ini sedang mengambil camilan untuk dinikmati di kamarnya.
"Mina-nya~ Aku ingin di manja olehmu, nya~" Honoka mendekati Minami dan berhasil menangkapnya sehingga ia mulai berpelukan bersama Minami, melihatnya saja membuat Hana iri sehingga ia segera mengambil aksesoris kucing yang sama lalu memeluk mereka semua dan menarik beberapa perhatian murid yang sedang berbelanja, sebagian dari mereka menganggap ketiga gadis itu lemah dan tidak layak untuk melanjutkan akademi tetapi semua yang Honoka rencanakan berhasil karena ia ingin mereka menganggap dirinya bersama temannya rendah.
Sebagian murid perempuan yang melihat mereka hanya bisa tersenyum dan terkekeh melihat keimutan mereka. Setidaknya tidak semua murid perempuan serius dalam melaksanakan akademi ini tetapi siapa tahu mereka bisa saja dikeluarkan dalam waktu yang dekat, Honoka merasakan kepuasan yang begitu tinggi ketika merasakan tubuh Minami dan Hana, sekarang mereka hanya perlu membeli pakaian untuk lima bulan tinggal di kota yang melayang itu.
__ADS_1
"Ahh! Liat, Minami, bukannya kamu suka ini?" Honoka mengambil sebuah penutup mata dan Minami tersipu ketika melihatnya karena ia sudah menyerah dalam bersikap kekanak-kanakan seperti dulu, ia tidak ingin mengulang-nya lagi karena sudah dewasa.
"Aku tidak memerlukan-nya... aku sudah besar dan dewasa loh..." Ketika Minami mengatakan dewasa dan besar, sebuah tanduk imajinasi muncul di kepala Honoka dan ia tersenyum nakal karena pandangan-nya tertuju kepada dua buah boleh yang terletak di dada Minami bahkan ia mulai menggerakkan jari-jarinya cukup agresif untuk melakukan sesuatu.
"Benar-benar sudah dewasa dan besar ya, Minami~" Honoka mulai meraba dada Minami dari belakang sehingga mengejutkan dirinya dan ekornya bahkan sampai bergerak cepat karena merasa senang bagi tubuhnya tetapi bagi jiwanya tidak karena memalukan, mereka melakukan hal yang begitu mesum di publik bahkan sampai membuat Hana iri juga ketika melihat ukuran melon Minami yang begitu besar dibandingkan saja sangat jauh.
"Shi~ Shi~ Shi~ Liatlah melon besar ini, aku sangat iri sialan!!!" Honoka mulai meremas dengan cepat sehingga Minami menutup mulutnya karena ia tidak ingin menarik banyak perhatian di sekitarnya, Honoka melihat Hana yang sedang menatap dadanya sendiri sehingga pada akhirnya Honoka malah memainkan keduanya, tidak bisa berhenti karena rasa iri-nya yang memiliki dada yang lumayan di bawah standar.
Semua pergerakan Honoka berhenti seketika ketika mendengar suara teriakan kesal dari pintu bagian belakang, kebetulan tidak ada yang melihat tetapi Honoka menatap tajam jendela yang terletak di toko bagian belakang itu, terlihat lima kakak kelas yang sedang mengganggu Bakuzen bahkan barang belanjaan-nya yang dipenuhi dengan makanan dan camilan hancur begitu saja oleh mereka, Honoka juga sempat melihat salah satunya sedang menatap ke arah dengan tatapan yang begitu mesum.
"Istirahat dulu... sepertinya Bakuzen baru saja menginjak sebuah perangkap..." Honoka berhenti menyentuh mereka lalu ia menghampiri pintu belakang dengan cepat, mencoba untuk menghentikan Bakuzen sebelum ia kelepasan dan melakukan tindakan kekerasan yang mampu membunuh mereka karena kemampuan-nya yang berkaitan dengan ledakan.
"Tidak ada yang nanya! Aku tidak peduli kalian angkatan lebih tinggi dari kami... aku juga tidak peduli jika kalian memiliki huruf kelas yang sama dengan diriku karena aku tidak akan membiarkan kalian pergi sebelum kalian ingin membayarkan semua barang yang baru saja aku beli!"
"Ya maaf, Legenda, kami tidak sengaja."
__ADS_1
"Tidak sengaja ya? Kalau begitu..." Bakuzen menunjuk ke depan menggunakan jari telunjuk-nya sehingga meledakkan pakaian mereka sampai tidak tersisa, membuat mereka telanjang dada dan hanya menyisakan pakaian dalam mereka, Bakuzen tersenyum serius dan ia mencoba untuk memukul tetapi dihentikan oleh Honoka karena ia hampir saja melanggar aturan tata tertib untuk tidak menyerang secara ilegal tanpa melakukan sebuah duel.
Semua kakak kelas itu tercengang ketika melihat Bakuzen baru saja melakukan kemampuan ledakan untuk menghancurkan pakaian mereka, otomatis mereka akan merasa malu karena ditertawakan oleh murid gadis angkatan ketiga bahkan para murid baru juga sampai mencoba untuk menahan tawa mereka. Kelima Kakak kelas itu sadar bahwa mereka dipermalukan oleh murid baru, mencoba untuk melakukan kekerasan saja tidak bisa karena Honoka menunjuk ke atas dimana terdapat kamera pengawas yang menempel di atap.
"Wah, wah, memalukan sekali ya... kalian hanya bisa menggunakan jabatan angkatan tetapi tidak dapat menggunakannya dengan benar, seharusnya kalian mengajarkan angkatan terbawah kalian dengan baik. Tidak seperti ini, lihatlah hasilnya... kalian dipermalukan. Ma-la-ng se-ka-li." Honoka menatap mereka rendah sehingga amarah mereka menginjak batas, mencoba menyerang saja tidak bisa karena takut kamera pengawas itu akan mencatat perilaku buruk mereka.
"Di tata tertib... seorang korban yang terlibat dalam permasalahan orang yang melanggar ketertiban itu, bisa membalas apa yang orang itu ingin lakukan. Kemampuan yang baru saja Bakuzen lakukan sama sekali tidak akan membuat dirinya menerima pelanggaran." Perkataan Honoka membuat mereka semakin kesal, tidak ada pilihan lain selain melarikan diri karena itu adalah pilihan yang tepat untuk sekarang karena mereka tidak menggunakan pakaian apapun.
"Untuk hari ini, kami akan membiarkan dirimu, anak baru. Jika saja Honoka Comi tidak berada di sisimu maka kau sudah pasti akan dikeluarkan sekarang juga..." Empat murid angkatan ketiga itu mulai meninggalkan mereka berdua dan hanya menyisakan seorang murid ras iblis yang bertanduk besar, murid itu menatap tajam Honoka bahkan tatapan bisa ia rasakan memiliki tekanan yang begitu besar.
"Kami akan menyingkirkan semua angkatan ke satu..." Ucap iblis itu sehingga ia berjalan pergi meninggalkan Honoka dan Bakuzen, masalah baru saja selesai dan Bakuzen mulai menghantam daratan beberapa kali karena rasa ingin memukul dan menghancurkan mereka melonjak tinggi.
"Kau seharusnya berhati-hati jika berhadapan dengan kakak kelas, melihatnya saja... jangan sampai kau lengah karena mereka itu kejam dan menganggap diri mereka elit walaupun mereka tidak tahu bahwa angkatan ke satu dipenuhi dengan hal yang misterius. Angkatan dua dan tiga juga tidak bisa kita biarkan begitu saja, lain kali kau harus berhati-hati... untuk sekarang aku akan menggantikan semua barang itu dengan syarat kau mau memberitahu mereka." Bakuzen berdiri lalu menatap Honoka dengan raut wajah yang begitu kesal.
"Hmph... mereka memiliki huruf yang sama seperti kelas kita... kelas 1-C tetapi mereka berada di angkatan ketiga, aku baru saja mendapatkan informasi bahwa terdapat seorang osis yang sekelas dengan mereka... entah itu omong kosong atau apa tetapi osis itu pernah mendapatkan poin terbanyak sebelum kita datang ke tempat ini, itu saja." Bakuzen mulai menatap kartu-nya dan ia baru saja menerima beberapa poin dari Honoka.
__ADS_1
"Itu artinya angkatan ketiga kelas C sudah menandai kita... intinya kita harus berhati-hati dengan mereka karena setiap pakaian yang dikenakan setiap kelas akan berbeda jadi kita dapat melihat dan membedakan-nya. Aku ingin kau berhati-hati jika bertemu dengan kakak kelas lagi, jika kau lengah sedikit maka kau bisa saja digunakan sebagai alat atau umpan." Honoka masuk kembali ke dalam toko-nya untuk menghabiskan waktu bersama kedua temannya yang sedang memilih pakaian.
"Cih, menyebalkan... jika aku bertemu dengan mereka maka aku langsung ledakan saja..."