
Anastasia menempati semua Grimoire itu di atas meja lalu ia mengangkat kedua lengannya sampai ketujuh buku itu terbuka lebar sampai melepaskan banyak sihir esensial elemen yang merasuki kristal di depannya.
Kristal itu kembali berputar sampai Anastasia mulai menunjuknya ke depan, mencoba untuk menguasai dan mengontrolnya sampai ia memegang erat Holy Corpse bagian rusuk yang membakar tapak kanannya.
"Nrrrggghhhhh...!!!" Anastasia mengerutkan dahinya, merasa tertekan sehingga perputaran kristal itu mulai bertambah cepat sampai menumbuhkan tentakel yang menghantam tubuhnya itu.
Anastasia terpental ke belakang, ia langsung menutup kembali semua Grimoire itu sampai ia mulai mengumpulkan nafasnya yang terengah-engah, Holy Corpse bagian rusuk yang ia pegang kembali ia masukkan ke dalam tubuhnya.
"Masih belum cukup ya... jika seperti ini, kita hanya akan membuang waktu lebih banyak lagi." Kata Zangetsu yang berbicara melalui pikiran Anastasia.
"Aku sudah melakukan apapun... sebisa mungkin sampai sisa dari tubuh Dewa juga tidak berhasil, apakah kau memiliki sebuah ide?" Tanya Anastasia yang melihat kristal kekacauan di depannya terus membesar.
Pandangan juga tertuju ke dalam kristal yang memperlihatkan sebuah mata kecil sampai terdapat banyak sekali tentakel sekecil pensil yang terus melakukan pergerakan aneh pada lapisan kristal itu.
"Kristal itu adalah pembatas kekuatan dari Eldritch yang tersegel di dalamnya... Eldritch yang bisa masih bayi, tetapi dia berhasil dari keturunan Abomination yang tinggi."
"Kristal itu tidak akan bisa hancur... kau menggunakan tulang rusuk itu, bisa dibilang Eldritch tersebut akan tumbuh di dalam kristal yang ia anggap sebagai tempat tinggal."
"Masih bayi... walaupun umurnya masih bisa dibilang bayi tetapi ia berasal dari keturunan Abomination tingkat tinggi, ia memiliki kemampuan untuk menghapus konsep yang kau inginkan."
"Bukannya idealmu adalah memberikan ujian untuk semua orang...? Menghapus konsep sihir agar mereka semua bisa berjuang dengan cara murni yang tidak mengaitkan soal sihir?" Tanya Zangetsu.
"Itu benar... aku harus memenuhi apa yang Magus inginkan... Magus yang sudah merawat diriku untuk melihat dunia lebih jauh dengan masa depan tanpa sebuah sihir."
"Tanpa bantuanmu dan Koneko maka aku tidak bisa menginjak titik sejauh ini..." Anastasia kembali mempelajari semua kesalahan yang ia rasakan sebelumnya dengan menulis di kertas yang selalu ia simpan dalam sakunya.
"Kalau begitu... kau hanya perlu beristirahat dan memikirkan sesuatu yang lebih tinggi, menghapus konsep sihir di masa yang asli tidak begitu menakjubkan bukannya begitu...?"
"Apa maksudmu...?"
"Dari namanya saja berkaitan dengan kekacauan, kau tahu menyebabkan skala kekacauan hanya di masa asli itu kurang hebat bukan? Kenapa tidak coba untuk mempengaruhi semua masa, dimensi, alam semesta yang tidak terbatas?"
Anastasia memasang tatapan kaget ketika mendengarnya, eksperimen sudah pasti akan bertambah lebih lama sehingga ia mulai menundukkan kepalanya karena ide Zangetsu tadi terdengar lebih menantang.
"Memberikan semua orang dari masa yang berbeda sebuah ujian tanpa menggunakan sihir yang sudah dihapus konsepnya ya..." Anastasia memegang dagunya.
"Aku membutuhkan kekuatan waktu dan realitas untuk bisa memperbesar skalanya sampai tidak terbatas."
"Kalau tidak salah... Koneko memiliki teman yang bisa menggunakan sihir waktu, dia yang selama ini selalu mencurigakan dirimu..."
"...Shimatsu Koizumi." Anastasia mulai menarik lacinya lalu mengeluarkan dokumen yang berisi tentang Koizumi.
"Jika aku menggunakan Koneko untuk meminta pasir waktu kepada dirinya maka ia sudah pasti akan curiga..."
"...Koneko tidak pernah berbohong sama sekali bahkan kepada musuhnya sendiri ketika ia melawan kesatria zodiak sejak itu."
"Menjadikan Koizumi sebagai alat untuk memperbesar skala kristal itu masih belum cukup..."
"...waktu yang kau habiskan bertambah lama, bagaimana jika kau melakukannya sekarang, Anastasia."
Tubuh Anastasia mulai bergetar sampai mengeluarkan banyak keringat dingin ketika Zangetsu memberikan dirinya sebuah kode untuk menghidupkan dirinya dengan sihir senar.
"Apakah... harus benar-benar... sekarang...?" Tanya Anastasia.
"Ya... dengan bantuan diriku maka aku bisa menjaminkan kau sebuah kristal kekacauan yang akan cepat selesai."
"Lagi pula... Magus yang sudah merawatmu itu... dia mengenal dekat dengan diriku sampai kau bisa mengenal diriku karena siapa?"
"Magus itu..."
"Benar..."
Anastasia memikirkannya untuk kedua kali lalu ia mengangguk, ia melangkah menuju ruangan yang dipenuhi dengan senar sihir.
__ADS_1
"Sihir senar ya... kau dapat menciptakan sesuatu individu yang sudah mati menggunakan senar, senar itu akan membentuk boneka yang dapat mengikuti perintah dirimu."
"Kalau begitu, tambahkan dengan sihir tanah lihat yang terkandung di dalam Grimoire itu maka aku sudah bisa menjadi sesosok individu yang normal."
"Akan aku laksanakan secepat mungkin agar kau mau membantu diriku."
"Tentu saja..." Zangetsu tersenyum jahat.
***
"Pelajaran hari ini cukup membosankan seperti biasanya... aku ingin pulang...!" Seru Hinoka sampai menutup wajahnya di atas meja.
"Kenapa kamu tidak keluar saja dari akademi ini, bukannya kamu sudah memiliki karier sendiri yang menghasilkan banyak uang?" Tanya Konomi.
"Tetapi sangat membosankan jika aku tidak diperlakukan seperti seorang idol di akademi ini...?" Hinoka menatap ke depan, melihat banyak sekali orang yang terus menatap dirinya.
"Kau ini memang banyak maunya... apakah aku harus memanggil Shinobu untuk memberikan dirimu pelajaran?" Tanya Koizumi.
"Tidaaaaakkkk...! Jangan memperlihatkan pocong lagi...!" Seru Hinoka yang mulai menepuk meja beberapa kali sampai mereka semua mendengar bel istirahat telah berbunyi.
"Baiklah, setelah pelajaran ini selesai maka aku sudah bisa menikmati latihan lainnya..." Koizumi bangkit dari atas meja lalu melangkah menuju kelasnya.
"Koizumi, apakah kamu tidak akan memulai latihan yang kau janjikan dengan paman Arata ketika berhasil membunuh seorang Dewa?" Tanya Ako.
"Hmm? Ohh, soal itu... Kakekku terlalu sibuk, dia menjaminkan latihannya nanti setelah kembali dari misi pemberontakannya itu."
"Apakah kamu masih menyimpan kepala itu...?" Tanya Konomi.
"Tentu saja." Koizumi mengulurkan lengan kanannya lalu memunculkan kepala Erion yang sudah membusuk sehingga membuat mereka semua kaget.
"Lihatlah... derajat seorang Dewa, walaupun sudah mati tubuh mereka akan tetap membusuk sampai menyamakan mereka dengan sesuatu yang merendahkan!"
"Fufufu~ Koizumi memang psikopat ya..." Hinoka tertawa di belakang Koizumi sampai ia melancarkan satu tendangan tetapi ia berhasil menunduk.
"Uhh~ kamu memakai ****** ***** merah muda ya~ sungguh gadis sekali~"
"Bleh~"
"Brengsek... Hinosapi...!"
"Hubungan kalian memang hebat ya..."
"Tidak hebat sama sekali...! Ketika aku menginap di markas yang Shinobu ciptakan, dia selalu saja mengeluarkan suara yang mesum itu...!" Koizumi memasang tatapan kesal, tidak bisa tidur di malam hari karena suara yang Hinoka keluarkan.
"Jangan-jangan...? Mikrofon itu?"
"Ya... aku juga curiga dia membawa seorang pria ke rumahnya karena suaranya terdengar lebih intens dari sebelumnya!"
"Kebiasaan Hinoka memang mengerikan ya..."
"Masturbasi."
"Masturbasi?" Tanya Shinobu dengan tatapan bingung, ia kebetulan baru saja datang dari perpustakaan dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
Mereka memasang tatapan kaget karena tidak menyadari Shinobu yang sudah bersama mereka, tingginya yang begitu kecil tidak sempat mereka sadari sampai Koizumi mulai memerah karena tidak harus menjelaskan apa.
"Uhh... apa ya... anggap saja seperti latihan menyanyi?"
"Kalau begitu, Koneko juga suka masturbasi!"
""GAHH!?""
"Koizumi jangan menyesatkan Nobu yang tidak berdosa itu!" Seru Ako.
__ADS_1
"Be-Berisik...! Aku tidak tahu harus beralasan seperti apa...!"
"Kalau begitu, Kak Koizumi juga mau melakukan masturbasi denganku nanti malam?" Tanya Koneko dengan tatapan yang begitu polos sampai menusuk dada Koizumi.
"Gugghh...!"
Pikiran Ako dan Konomi langsung terbang sampai membayangkan yang tidak-tidak, "Oi...! Jangan membayangkannya!"
"Ahahaha... Nobu, masturbasi itu bukan latihan menyanyi ya... anggap saja seperti sesuatu yang tidak boleh kamu ucapkan secara terang-terang." Kata Ako.
"Fueh? Begitu ya... Koneko mengerti, tetapi nyanyian Kak Hinoka kemarin sungguh hebat loh! Ahh~ ahh~ ahh~ aku suka sekali~ masturbasi~"
"Begitu..."
Koizumi memasang tatapan yang sangat kesal, "Hinosapi brengsek...! Aku akan memberikan dirinya hukuman yang sangat besar karena sudah menodai sepupu kecilku...!"
"Ayo kita pergi menuju kelas secepatnya~" Shinobu bergegas masuk ke dalam kelasnya bersama Ako sedangkan Konomi dan Koizumi berada di seberang kelasnya itu.
***
"Hahaha~ bajuku tembus pandang sekarang~" Kata Hinoka selagi melakukan tarian, tubuhnya melepaskan banyak sekali air yang mengenai mereka semua.
"Kamu memang tidak memiliki rasa malu ya..." Kata Konomi.
"Tidak kok~ lagi pula tubuh idolaku ini sudah sering dijadikan bahan oleh para pria dan mungkin perempuan yang mencintai diriku juga~"
"Hinoka, kau mau aku lempar ke dalam sungai lagi?" Ancam Koizumi.
"Tidak~ terima kasih~"
"Ngomong-ngomong, besok sudah masuk musim semi ya... kita akan pergi kemana besok? Bukannya hari Minggu seharusnya dipenuhi dengan waktu yang sangat menyenangkan?" Tanya Shinobu.
"Musim semi ya... ibuku ulang tahun tidak lama lagi, kalau tidak salah besok karena permulaan musim semi adalah kelahiran beliau." Kata Koizumi.
"Ahh~ Tante Haruka ya~ aku yakin di ulang tahun ini dia pasti akan menyuguhi kita semua dengan makanan yang sangat lezat~" Ucap Hinoka.
"Kalau begitu, besok kita menyiapkan pesta ulang tahun untuk Tante Haruka!" Seru Shinobu sampai mereka semua langsung setuju dengan rencananya.
"Ehh...? Kalau begitu, kalian semua datang secepatnya ke rumahku ya, di belakang rumahku juga sudah tersedia pantai yang begitu sepi dan indah untuk dinikmati bersama-sama."
"Haruka dalam bahasa Manusia yaitu negara Jepang memiliki arti musim semi ya." Ucap Konomi.
"Itu benar, Nenek memberikan nama itu mungkin karena Ibuku lahir di musim semi."
"Nama yang begitu indah ya, cocok dengan seorang Ibu yang mengasuh anak galak ini, fufufu~" Hinoka terkekeh pelan sampai keningnya menerima satu sentilan dari Koizumi.
***
Anastasia membuka setiap halaman yang terkandung di dalam Grimoire of Earth, semuanya terlihat begitu baru sampai ia mulai mengendalikan tanah lihat di hadapannya sampai membentuk rupa yang sama dengan Zangetsu.
"Soul of Strings!" Anastasia menjentikkan jarinya sampai gulungan senar di tapak kirinya mulai menyelimuti tanah liat di depannya.
"Zangetsu!" Seru Anastasia keras sampai Zangetsu yang berada di tempat tak ketahui langsung tertarik ke dalam tubuh tanah lihat yang sudah diselimuti dengan senar itu.
Tidak lama kemudian, terjadi dorongan besar yang melempar Anastasia ke belakang karena ia berhasil menarik jiwa Zangetsu ke dalam tanah lihat itu.
"Menakjubkan..."
"...ternyata senar itu juga memiliki skala tidak terbatas sampai bisa menarik arwah lalu memasukkannya ke dalam wadah."
"Aku bisa merasakannya... kekuatanku tidak dibatas sama sekali, keberadaanku tidak bisa dirasakan oleh Shiratori Shira." Zangetsu mengepalkan kedua tinjunya lalu ia tersenyum jahat.
"Aku harus menyelesaikan sampah yang tidak bisa aku selesaikan sejak itu..."
__ADS_1
...
...