Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 535 - Reality Vs Ice


__ADS_3

Hari esok, hari yang di tunggu-tunggu oleh semua orang yang sangat menantikan pertandingan terakhir yaitu Final. Pemenangan akan mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui kubus.


Kubus yang dapat mengabulkan permohonan apapun, menjadi dewa juga bisa di bilang tidak mustahil. Hari esok telah tiba dan kota permohonan saat ini dipenuhi dengan penghuni setiap semesta.


Berdatangan, merasa tidak sabar untuk menonton final yang pasti akan berakhir sangat sengit. Sebagian dari mereka juga bahkan mengenakan pakaian yang melambangkan Minami.


Shira dan Megumi datang duluan dengan menciptakan sebuah dagangan kecil yang menjual seluruh barang tentang Minami, tidak membutuhkan waktu satu menit dan dagangan itu sudah habis.


Jumlah penonton yang berdatangan tidak bisa Shira hitung karena ia terlalu kewalahan menjual seluruh barangnya itu menggunakan kecepatan cahaya agar bisa mempercepat keadaan.


Keenam peserta yang akan bertarung berada di lapangan, mendengar pidato Morgan soal pertandingan final yang akan di mulai dalam waktu yang dekat, bisa di bilang semua ini adalah perjalanan yang begitu panjang.


Dan pertandingan mereka akan mengakhiri era dari turnamen dan akademi permohonan, generasi ke empat yang terakhir untuk melaksanakan turnamen yang dipenuhi dengan murid berbakat dan berpotensi.


Turnamen yang sudah menginjak tingkat akhir yaitu final saat ini dipenuhi dengan penonton yang merasa tidak sabar, suara yang mereka dengar hanyalah para penonton yang terus bersorak dan bertepuk tangan.


Minami yang berdiri di paling tengah mulai menatap ke atas langit, "Perjalanan yang cukup panjang... berbulan-bulan harus menyelesaikan tantangan dan masalah..."


"...sekarang adalah harinya, aku sebagai keturunan Shiratori harus bisa menjadi generasi penuh kebanggaan." Ungkap Minami selagi menatap Shira dan Megumi yang sedang tersenyum kepada dirinya.


"Ayah... ibu... apakah kalian melihat diriku sekarang? Putra yang dulunya penuh dengan kegagalan mampu memperbaiki semuanya sampai membawa dirinya..."


"...menuju tingkatan yang sangat di inginkan, memenangkan final dan meraih kubus permohonan itu untuk menyembuhkan Kou." Shuan mengepalkan kedua tinjunya.


"Keturunan Shimatsu... harus bisa menunjukkan harga dirinya kepada seluruh penghuni semesta yang melihat..."


"...membantai sesuatu dan memenangkan sebuah pertarungan adalah kewajiban kami semua." Rokuro mengepalkan kedua tinjunya lalu menatap Arata dan Ophilia yang sedang tersenyum.


"Aku merasa sangat gugup sekarang... pertarungan yang mungkin bisa menjadi sejarah dan kenangan bagi seluruh penghuni semesta..."


"...aku juga memiliki kesempatan yang begitu besar untuk menunjukkan kepada seluruh semesta bahwa Shimatsu dan Phoenix adalah nomor satu bahkan aku lebih baik lagi jika aku mengalahkan keturunan Shiratori." Hana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya pelan.


"Turnamen yang sangat besar... semua orang pasti akan mengetahuinya karena cerita dan sejarah terkait di dalamnya..."


"...lawanku adalah salah satu anggota terkuat Comi, aku harus bisa menunjukkan tekadku sebagai Shichiro untuk bisa memenangkan pertarungan ini." Asriel menatap kedua orang tuanya yang sedang melambai kepada dirinya.


"Mama... Kakak... Kou... aku akan mencoba untuk bisa memperbaiki adik kecilku, memenangkan pertarungan hanya dengan satu tujuan..."


"...menyembuhkan Kou dan menunjukkan diriku sebagai keturunan yang paling di kenal buruk dan baik oleh semua orang!" Honoka menepuk kedua pipinya beberapa kali.


"Baiklah para peserta sekalian, di final ini akan terjadi empat pertandingan yang berlangsung sampai tengah malam, mungkin." Morgan mulai berbicara kepada mereka.

__ADS_1


"Sistem akan memilih pertandingan siapa dulu yang di mulai pertama, bersiaplah. Peraturan tetap sama, hanya saja arena jauh lebih besar dan dipenuhi rintangan berbahaya sekarang." Morgan mulai menunjuk ke atas.


Layar besar yang melayang tepat di tengah-tengah turnamen mulai menunjukkan enam kartu identitas yang berputar, pemutaran terjadi selama 30 detik dan pertandingan final pertama yang akan di mulai adalah...


"Shichiro Asriel Vs Honoka Comi akan bertanding di final pertama sebagai pembuka juga! Silakan kalian memasuki arena segara." Kata Morgan, Asriel dan Honoka berjalan pergi menuju arena.


"Sial... kenapa harus pertama...?" Ungkap Asriel dan ia bisa melihat Honoka tersenyum kepada dirinya.


"Mari kita melakukan yang terbaik, Asriel. Bertarung layaknya seperti bangsa Legenda di pertandingan final ini..." Kata Honoka sambil mengulurkan lengan kanannya, mereka mulai berjabat tangan.


"Pertandingan Final kedua yaitu Shimatsu Rokuro Vs Shiratori Shuan dan pertandingan final yang terakhir yaitu Shimatsu Hana Vs Shiratori Minami!" Seru Morgan keras.


Seluruh penonton mulai bersorak keras dan bertepuk tangan begitu meriah, pertarungan final akan di mulai sebentar lagi dan kedua peserta sudah berada di atas arena.


Melakukan sedikit pemanasan dan pengontrolan terhadap kekuatan serta sihir mereka, seorang wasit mulai memasuki arena dan akan memulai pertandingan yang di tunggu-tunggu.


""KALIAN BERDUA...!!! SEMANGAT...!!!""


Asriel dan Honoka langsung memasang tatapan fokus, mencoba untuk memenangkan final, mereka memiliki tujuan yang sama tetapi mereka harus tetap mendalami harga diri mereka sebagai Legenda.


"Kita akhirnya sudah memasuki babak Final saja ya...! Pertandingan yang sangat di tunggu-tunggu oleh semua orang, seorang keturunan Shichiro..."


"...anak dari seorang Legenda yang melakukan pekerjaannya untuk membasmi para Eldritch juga, dia telah memenangkan banyak pertarungan di turnamen ini dan mengikuti tantangan yang begitu sulit."


"Lawannya adalah putri kedua dari seorang ratu Touriverse yang sangat senang untuk membantu semua orang, seorang Legenda yang dapat mengendalikan realitas semaunya."


"Dia sangat kuat bahkan serangan apapun bisa di jadikan sebagai pemulihan bagi dirinya, apapun itu... dia menganggapnya sebagai kebalikan."


"Dia adalah salah satu keturunan ratu Touriverse yang begitu membanggakan bahkan sampai memperbaiki turnamen dan kota permohonan dari serangan kedua iblis jahat."


"Juga dapat mengalahkan Kakaknya sendiri yaitu seorang Legenda yang mengendalikan waktu, dia adalah Honoka Comi!" Semua orang memberi sorakan yang keras juga kepada Honoka.


Asriel bisa melihat tubuh Honoka yang melepaskan aura Crimson, tubuhnya langsung tersengat dengannya bahkan ia sampai menyelimuti tubuhnya dengan suhu dingin agar bisa melindungi dirinya itu.


"Aku bisa merasakannya... sihir dan kekuatan murni yang begitu berbeda di bandingkan diriku." Ungkap Asriel.


"Dan itulah kenapa... aku berdiri di sini, mencoba untuk mengalahkan keturunan Comi yang terkuat." Asriel menghela nafas panjang dan melibat wasit mengangkat lengan kanannya.


"Ini menunjukkan seberapa kuat dan mampunya diriku mencoba untuk melawan seseorang yang jauh lebih kuat dariku, untuk menunjukkan kekuatan dan pencapaianku kepada kedua orang tuaku." Ungkap Asriel.


"Batasan apapun itu... aku akan menghancurkannya, tidak memedulikan apa yang akan terjadi dengan tubuhku." Asriel mengepalkan kedua tinjunya yang melepaskan suhu ekstrem.

__ADS_1


"Aku harus bisa memperlihatkannya langsung kepada Ayah dan Ibuku!"


"Pertarungan Final di mulai...!!!" Wasit itu langsung memulai pertarungan, kedua Legenda itu masih berada di posisi masing-masing, memutuskan siapa yang akan bergerak duluan.


"Pembuka final ini kita sepertinya sudah diperlihatkan dengan sesuatu yang menarik, kedua Legenda saling menatap satu sama lain, mengetahui risiko dari pergerakan pertama." Kata Morgan.


"Ada apa ini...? Kenapa mereka belum melakukan satu pergerakan sedikit pun?" Tanya Mitsuki.


"Salah satu dari mereka sepertinya tidak ingin melakukan pergerakan yang pertama... Honoka itu cukup kuat tetapi apa yang ia takutkan dari Asriel adalah strategi dan rencananya itu." Jawab Haruka.


"Kemampuan yang mampu mengubah realitas apapun itu sudah cukup untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat tetapi sepertinya Honoka tetap mengikuti harga dirinya." Shuan menyilangkan kedua lengannya.


"Serangan apapun itu... kau tidak dapat mengenai Kakak, semuanya terasa di balikan oleh dirinya, efek negatif dan positif dapat ia ubah menjadi kebalikannya." Kou mulai berbicara.


"Rapalan sihir realitasnya juga tidak memiliki aba-aba atau tanda-tanda... terjadi secara alami."


"Untuk memenangkan pertarungan seperti ini, Asriel tetap harus menjaga pertahanannya dan mencari jalan untuk menjatuhkan Honoka dengan cara yang belum pernah ia ketahu." Kata Rokuro.


Asriel mengepalkan tinju kanannya, menyebabkan seluruh arena di selimuti dengan es kristal keras bahkan suhunya juga terasa begitu ekstrem dan dingin.


Tubuh Honoka bukannya merasakan suhu dingin tetapi ia hanya merasakan suhu hangat yang mampu menghangatkan tubuhnya dan menenangkan pikirannya itu.


Asriel melepaskan serangan tembakan tajam ke arah Honoka tetapi semua serangan itu berubah menjadi udara yang dingin di sekitarnya, Honoka menyerang balik dengan melepaskan gelombang Crimson ke arahnya.


Asriel berhasil menahan serangan itu dengan menciptakan tembok tebal di hadapannya, "Sudah aku duga..."


"...serangan tadi cukup tidak berguna bagi Honoka tetapi aku yakin dia memiliki batasan dan kelelahan dalam menggunakan realitasnya itu."


"Ia juga bahkan mampu menyerang balik dari jarak yang sangat jauh dengan akurasi tepat."


Asriel menciptakan serangan area efek dimana udara di daerah sekitar Honoka membeku, ia mencoba untuk membuat Honoka mengalami halusinasi dan kehilangan berkonsentrasi dengan serangan yang akan ia lepaskan selanjutnya.


Asriel mampu bergerak bebas dan mengubah dirinya menjadi es untuk mempersempit pergerakan musuh, Honoka mengubah semua es itu menjadi batu tetapi batu itu terus melepaskan udara dingin yang menciptakan kristal es dimana-mana.


Semua kristal es itu mulai bermunculan lalu melesat ke arah Honoka, mencoba untuk menusuknya tetapi ia terbang ke atas langit lalu mengubah semuanya menjadi udara.


Tubuh Asriel bergetar seketika, ia mencoba untuk terus menyerang Honoka tanpa henti agar ia bisa kelelahan dalam menggunakan sihir realitasnya itu.


Pergerakan Honoka bertambah cepat sekarang bahkan ia mulai mengelilingi arena selagi melepaskan gelombang Crimson melalui sepuluh jarinya.


"Benar... lawanku ini..."

__ADS_1


"...sangat kuat dan mengerikan."


__ADS_2