
"Kita sudah sampai di Indonesia...!!!" Kou mengangkat kedua lengannya karena ia tidak sabar untuk mencoba semua makanan Indonesian yang selalu Korrina ceritakan.
Pesawat itu membuka pintu lebar sampai mendapatkan beberapa sambutan dari Manusia yang mengenakan pakaian khas Yogyakarta.
Kou mendaratkan pesawatnya itu di pendaratan yang berada di kota Yogyakarta karena wisata pertama mereka adalah Keraton Yogyakarta.
"Selamat datang, bangsa Legenda. Kami menantikan kedatangan para pencipta sejarah dan dongeng." Terlihat sultan keraton Yogyakarta datang untuk menyambut mereka.
"Kalau tidak salah namamu itu, Andrian ya? Berapa rupiah yang harus aku keluarkan untuk membeli kota Yogyakarta!?" Tanya Kou dengan kedua mata yang terbinar-binar.
""Membeli kota!?"" Semua manusia tercengang ketika mendengar perkataan Kou, Haruka langsung menghentikan dirinya.
"Oi, Kou, kamu tidak bisa membeli apapun di dunia Manusia... semuanya memiliki keterbatasan sendiri terhadap uang."
Haruka mencoba untuk menghentikan Kou sebelum ia membeli planet bumi dengan kekayaannya itu, mungkin karena saking penasarannya dengan makanan yang di buat Manusia.
"Manusia itu sangat berbeda dengan ras lain soal keterbatasan menggunakan uang, kamu tidak perlu membeli Yogyakarta atau bumi..."
"...menikmati semua fasilitas yang ada saja, tujuan kita datang untuk menikmati semua makanan Indonesia bukan?" Tanya Haruka.
"Hm! Kakak benar juga... kalau begitu aku akan membeli Keraton Yogyakarta dan semua wisata kota Yogyakarta! Berapa rupiah!?"
Andrian melebarkan kedua mata dan mulutnya karena Kou langsung menunjukkan jumlah berlian yang tidak bisa di hitung lagi, Haruka menepuk wajahnya karena Kou masih polos soal manusia ternyata.
"Kou... mungkin kamu harus menenangkan rasa senang dan bahagia itu... untuk sekarang jangan membeli wisata atau tempat dulu ya." Haruka mengelus kepalanya.
"Hehhh... baiklah, kalau begitu, sultan Andrian. Belikan aku semua makanan Indonesia yang lezat agar semua teman dan keluargaku bisa menikmatinya bersama!"
Kou meminta Andrian selagi melempar beberapa berlian kepada seluruh pelayan sampai mereka semua melaksanakan perintah Kou sedangkan Andrian mengajak mereka semua menuju ruang makan.
"Ternyata kau adalah putri dari Korrina Comi ya, dia dulunya selalu mengunjungi Indonesia untuk mengambil makanannya saja." Andrian terkekeh.
"Hm~ Aku juga penasaran makanan apa saja yang tersedia..." Kou mengangguk lalu ia bisa melihat sebagian dari temannya berpisah.
"Loh, mereka kemana...?" Tanya Kou.
"Sepertinya mereka juga merasa tidak sabar untuk memeriksa berbagai macam hal yang begitu baru." Kata Shira karena ia sendiri hanya menunggu hidangan utama.
"Di dunia Manusia saat ini sedang seru-serunya bermain game." Ucap Arata selagi melihat layar virtualnya yang menunjukkan banyak sekali video game.
"Video game...?" Haruki terlihat kebingungan.
"Seperti hiburan... video game juga dapat di gunakan untuk berlatih seperti melakukan simulasi dan semacamnya."
Ketika Arata berbicara soal leluasa video game, Shira dan Haruki terlihat tertarik karena video game juga dapat di jadikan sebagai latihan jika berkaitan dengan simulasi kehidupan atau semacamnya.
"Boleh juga...! Ayo, kita coba bermain video game." Haruki terlihat begitu bersemangat bahkan Shira juga merasakan hal yang sama.
"Anakku Rokuro sudah mengurusnya, mereka semua pergi untuk mencari video game yang cocok untuk di mainkan. Satu-satunya hiburan Manusia yang cukup menyenangkan dan menenangkan."
"Apakah para gadis juga bisa memainkannya?" Tanya Megumi.
"Tentu saja, video game itu cocok untuk siapa pun. Intinya kita bermain hanya untuk bersenang-senang dan mengisi waktu luang."
"Video game ya... boleh juga, mungkin aku juga harus menciptakan hiburan seperti untuk bangsa Legenda yang masih kecil." Kou mencatatnya dengan jelas di dalam kacamatanya.
"Ternyata kalian semua memang unik yang karena tidak mengetahui apa itu sebenarnya video game, kebetulan aku memiliki ruangan untuk bermain berbagai macam video game."
""Ehh!? Benarkah!?"" Semua Legenda itu terlihat sangat tidak sabar karena mereka pertama kalinya mencoba untuk bermain video game.
__ADS_1
"Tentu saja... tujuan pertama kalian mau makan dulu atau bermain?" Tanya Andrian dan mereka semua memilih makanan terlebih dahulu agar semua orang bisa berkumpul.
Beberapa menit kemudian, ruangan makan dipenuhi dengan berbagai macam makanan khas yang berasal dari Indonesia bahkan semua Legenda itu terlihat kelaparan dan tidak sabar untuk mencicipinya.
"Bagaimana, Rokuro? Apakah kau mendapatkan video game yang menyenangkan?" Tanya Arata yang baru saja menyelesaikan hidangan penutup.
"Banyak sekali yang berkaitan dengan tembak-tembakan dan Battle Royale... tetapi aku menemukan dua video game yang terdengar menarik." Rokuro menempati dua kotak di atas meja.
"Yang satu game tentang bertahan hidup, menyediakan banyak permainan dengan lima puluh orang yang harus mengikutinya dan hanya satu pemenang yang tersisa."
"Jadi tujuan utama kita, jangan terjatuh dari atas arena atau semacamnya mungkin...? Cukup menarik juga." Rokuro mulai menggendong Koizumi yang sedang berbaring di atas lantai.
"Dan game satu ini sepertinya bisa memutuskan hubungan pertemanan." Kata Rokuro sehingga mereka semua menatap dirinya.
"Memutus hubungan pertemanan?"
"Ya, tujuan dari game ini bertahan juga. Sepuluh orang dan salah satunya adalah pembunuh yang lepas, kita harus menemukan siapa pembunuh itu di antara kita..."
"...game yang berkandung banyak fitnah dan kebohongan." Kata Rokuro sambil mencubit pipi Koizumi.
"Setelah makan, bagaimana jika kita menikmati video game yang bertahan itu? Lima orang dan hanya satu tersisa yang bisa menjadi pemenang." Kata Kou.
"Terdengar menarik."
"Ayo!"
"Jika video game adalah hiburan maka mari kita lakukan!"
Semuanya terlihat setuju dan mereka menantikan permainan itu bersama, tidak lama kemudian mereka mengikuti Andrian yang membawa mereka semua menuju ruangan permainan.
Mereka bisa melihat banyak sekali komputer dengan alat yang membantu mereka untuk menikmati video game dengan pengalaman asli seperti virtual Reality.
"Hebat juga ya... teknologi dan sistem, semuanya terlihat cukup menarik." Kou terus mendapatkan informasi baru yang cukup membantu dirinya.
"Siapa saja yang ingin bermain?" Tanya Andrian selagi meminta para pelayan untuk membantu mereka bermain menggunakan Virtual Reality itu.
Kou, Haruka, Honoka, Shira, Arata, Haruki, Shizen, Yuuna, Shuan, Rokuro, Bakuzen, dan Asriel ingin sekali memainkan permainan tersebut karena rasa penasarannya itu.
"Jadi tujuan kita itu jangan sampai terjatuh bukan?" Tanya Haruki.
"Ya, kita juga harus bisa melewati garis akhir untuk tidak mendapatkan diskualifikasi." Jawab Arata karena ia sempat mengetahuinya dari berita yang selalu ia lihat ketika bosan.
Mereka semua masuk ke dalam tabung itu lalu mengenakan sebuah penutup mata yang membawa mereka ke dalam video game itu, semuanya terasa begitu nyata.
Semua pelayan itu mulai memasukkan mereka semua ke dalam lobi, menunggu sampai pemain menginjak angka lima puluh dan tidak menghabiskan waktu yang cukup lama sampai mereka memulai permainan itu.
"Sepertinya pertandingan pertama ini kita harus melewati semua gangguan seperti kincir angin yang dapat menjatuhkan kita..."
"...intinya balap menuju garis akhir lebih awal dan cepat sebelum kau gagal karena keterbatasan pemain." Arata mulai menjelaskan.
"Apa yang terjadi jika kita terjatuh? Kalah...?" Tanya Shira.
"Tidak, kita akan kembali menuju awal. Baiklah, sudah di mulai..."
Mereka semua mulai melakukan sedikit pemanasan dengan menggerakkan kedua kaki itu di atas lantai sampai mereka bisa melihat karakter yang mereka gunakan mulai bergerak.
***
*POV dalam Game*
__ADS_1
Shira menoleh ke sebelah kanan dan kiri, ia bisa melihat banyak sekali pemain yang sudah siap untuk berjalan cepat ke depan sampai menginjak garis akhir.
Permainan di mulai dan semua pemain langsung maju ke depan, melihat tiga kincir angin yang dapat menjatuhkan mereka juga membawa mereka bersama dengan arus.
Mereka semua mulai melompatinya, Arata dan Rokuro sengaja di tabrak oleh kincir itu agar bisa mempercepat proses sampai ke jalan yang lebih jauh dari para pemain.
Kou merasa penasaran melihatnya sampai ia juga mencoba untuk di tabrak dengan kincir itu tetapi ia malah terjatuh dari atas arena.
"Ahhhh!? Kok aku terjatuh...!"
"Kamu membutuhkan keberuntungan!"
Haruki dan Shira berada di belakang Arata, mereka bisa melihat kincir angin besar yang menghalang jalan, Haruki melompat ke depan tetapi ia menabrak kincir itu sampai terjatuh dan kembali ke belakang.
"Brengsek...! Sulit juga untuk mengendalikannya..."
Shira melompat ke depan dan ia bisa melihat Shizen bersama Bakuzen mencoba untuk menyusulnya tetapi ia mulai melompat ke depan terus menerus untuk mempercepat gerakannya.
Di sisi lainnya, terdapat pemain yang mengalami kesialan, Honoka terus menabrak kincir angin itu sampai ia tidak bisa bergerak atau lolos menuju jalan di hadapannya.
"Kincir angin ini terus menabrak diriku...! Aku terjebak...! Bagaimana caranya aku keluar!?"
"Sepertinya kamu memang sungguh menyedihkan dalam bermain video game adikku!" Kata Haruka sambil lari ke depan dan mendapatkan sebuah bantuan dari lantai yang membawanya ke depan.
Yuuna melompat ke depan tetapi ia terjatuh sampai kembali ke belakang, "Aku terlalu berisiko tadi, salah..."
Shuan berhasil melompati semua kincir angin yang berada di lantai, ia sempat melihat Rokuro dan Arata berada di paling depan, berhasil menghindari semua rintangan itu.
Honoka yang terjebak di kincir angin besar itu berhasil melompat ke depan dan mendarat di rintangan lainnya tetapi ia menerima kesialan lain dimana kincir angin di atas lantai menjatuhkan dirinya.
"Astaga...!!!"
"Aku berada di paling depan...!!!" Arata hampir saja menginjak peringat satu tetapi Rokuro menariknya sampai ia mendapatkan peringat ke satu.
"Rokuro, brengsek!!! Berani-beraninya kau menarik Ayahmu!" Arata melompat ke depan dan berhasil mendapatkan peringat ke dua.
"Tidak ada yang melarang untuk menarik bukan." Rokuro tertawa.
Shira bisa melihat 12 orang sudah mendapatkan keamanan menuju ronde selanjutnya, hanya tersisa 36 orang lagi karena sepuluh pemain tidak akan bisa selamat jika yang berhasil menginjak garis akhir berjumlah 40 orang.
Permainan terus berlanjut, semua pemain itu sudah menginjak akhir kecuali Haruka dan Honoka yang berada di belakang.
Hanya tersisa satu orang lagi yang bisa mengamankan posisi ke empat puluh, kebetulan Haruka berada di paling depan sehingga ia tersenyum jahat lalu menahan Honoka.
"Apa yang kamu lakukan, Kakak...?! Jangan mendorong dan menahanku...!"
"Kamu kalah, hahaha!" Haruka melompat ke belakang dan ia berhasil mengamankan posisi terakhir, hanya Honoka yang telah dan itu artinya dia telah mengalami diskualifikasi.
***
Honoka melepas kacamata virtual itu, "Kakak! Itu curang... kenapa kamu mendorong dan menahanku!? Aku sudah cukup mengalami kesialan di video game itu."
"Maafkan aku, adikku. Video game juga berkaitan dengan latihan dan tantangan jadi aku tidak akan kalah..."
"...dia game itu juga kau dapat mendorong dan menahan seseorang sampai ia terlambat untuk memasuki akhir." Haruka tertawa.
"Ugghh, sialan... di ronde awal, aku sudah kalah..."
"...cukup memalukan."
__ADS_1