
Malam hari telah tiba, Rokuro sempat membicarakannya bersama teman lainnya dan jawaban yang ia dapatkan tentunya positif bahkan mereka semua sangat menantikan pernikahan dan lamaran itu.
"Kou, apakah aku bisa membalas semua ini...? Kau terlalu baik bahkan aku tidak dapat melakukan apapun untuk membayarnya." Kata Rokuro.
Kou yang sedang bekerja di kursi kecilnya mulai menatap Rokuro, "Aku tidak membutuhkan apapun, lebih baik kamu menerima semua ini dengan rasa penuh bahagia."
"Mungkin, aku juga harus berterima kasih... soal Shuan..." Kou mulai tersipu.
"Soal Shuan?"
"Hm... Kau mengalahkan dirinya sejak itu dan aku tidak menyangka akan melihat sikap yang begitu berbeda darinya, tangisannya itu dan rasa ingin terus berjuang..."
"...aku bisa membacanya dan mengetahuinya dengan mudah bahwa ia membutuhkan banyak waktu untuk terus berkembang." Kou menatap Rokuro.
"Terima kasih, untuk sekarang kamu harus siap-siap menemui Kakak karena ia saat ini bersama Kak Honoka sedang berbelanja." Kou memegang kacamatanya.
"Kamu juga melamar Kakak di waktu yang cukup tepat dalam Neko Isle karena terdapat beberapa perayaan seperti lahirnya Neko Isle dengan melepaskan balon berlambang kucing." Kou terkekeh.
Rokuro menyadari perayaan itu seperti festival karena ia tadi sempat melihat beberapa balon besar yang memancarkan cahaya juga dari dalam.
"Semua balon itu bercahaya... apa terdapat kunang-kunang di dalamnya?" Tanya Rokuro.
"Iya, kunang-kunang itu juga sudah Minami pancarkan cahaya agar bisa memancarkan cahaya yang begitu indah di atas langit gelap." Kou menatap ke atas langit dan ia bisa melihat Haruka mendekati dirinya.
"Kou, kamu sudah mengerjakan dokumen itu?" Tanya Haruka, mencoba untuk mengingatkan adiknya yang terlihat bekerja keras sejak awal.
"Hm~ Semuanya sudah selesai... sudah waktunya untuk beristirahat." Kou mengangguk dan menerima sebuah usapan dari Haruka sehingga ia sadar bahwa rencana telah di mulai.
"Kalau begitu... kalian habiskan waktu berduaan ya, aku ingin mengambil madu." Kou segera melarikan diri, menciptakan sebuah kecanggungan di antara Haruka dan Rokuro karena mereka sudah janjian untuk bertemu.
"Jadi... apa yang kamu butuhkan dariku...?" Tanya Haruka dengan tatapan yang terlihat gugup.
"Sudah lama sekali kita tidak berkencan di Yuusuatouri bukan...? Aku ingin melakukannya di desa ini, berkencan sambil menikmati keindahan alam dan langit-langit malam." Kata Rokuro.
Rokuro tersipu ketika melihat Haruka mengenakan pakaian yang terlihat begitu cocok dengan langit hitam, ia tidak bisa berhenti melihatnya.
"Rambutmu... pakaianmu terlihat berbeda."
"Hm... Honoka menyarankan diriku untuk mengenakannya. Tidak pantas ya?" Tanya Haruka sambil menatap dirinya sendiri.
"Semua yang kau kenakan terlihat cocok, kalau begitu, mari kita melihat pemandangan lautan." Rokuro meraih tangan Haruka lalu ia berjalan pergi menuju lautan.
Haruka mengangguk pelan, ia tidak menyangka Rokuro akan langsung menyadarinya, mungkin ia mendapatkan pria yang dapat di andalkan karena sangat peka terhadap situasi saat ini.
Rokuro mengajak Haruka menuju pantai yang terlihat begitu sepi, hanya terdapat beberapa balon dengan tali yang di ikat dengan tiang, sepertinya festival masih belum di mulai dan itu adalah pertanda yang baik.
"Wahhhh..." Haruka terlihat kagum melihat air lautan yang begitu jernih bahkan cahaya yang di hasilkan bulan dan bintang di atas langit mampu memantulkan cahaya menuju air lautan itu.
Memperlihatkan pandangan lautan yang begitu indah dengan suara ombak tenang, kencan ini mulai berjalan begitu baik bagi Rokuro sehingga ia mengajak Haruka untuk mendekati lautan itu.
"Ayo, Haruka."
"H-Hm..."
Rokuro mengajak Haruka pergi menuju sebuah perahu kecil agar mereka bisa mendekati lautan itu dan mendapatkan pemandangan yang lebih dekat.
Karena sekarang hari yang cocok untuk berkencan, Rokuro berdiri di atas perahu itu lalu mengulurkan lengan kanannya untuk mengajak Haruka menaiki perahu itu juga.
Haruka menatap Rokuro dengan tatapan terpesona lalu ia tersenyum dan menggenggam erat tangannya untuk duduk di hadapan Rokuro sambil melihat sekeliling.
Haruka sempat melihat lumba-lumba mulai melompat-lompat, terlihat sangat indah bahkan Haruka terus menatapnya dengan senyuman lebar sampai membuat Rokuro menelan salivanya karena merasa gugup seketika.
Rokuro mulai menyalakan mesin perahu itu lalu ia menjalankannya menuju bagian tengah dari lautan yang terlihat tenang itu, ia hanya bisa melihat ombak kecil yang mengenai perahu itu dengan halus.
__ADS_1
"Tempat kencan ini cukup indah... aku tidak menyangka akan melihat lautan jernih dari desa seperti ini, dengan langit-langit malam yang memancarkan cahaya bintang."
"Sudah lama sekali kan? Tidak menikmati pemandangan indah seperti ini..."
"Iya, terlihat begitu menenangkan bagi hatiku. Langit hitam yang memancarkan cahaya bintang dan aku bisa melihatnya dengan jelas melalui air lautan ini..."
Rokuro melihat pantai yang terasa sangat jauh sekarang bahkan ia sempat melihat beberapa temannya mulai memegang erat balon itu dan siap melepaskan semuanya ke atas langit.
"Apakah kamu mengingat kencana pertama kita...?" Tanya Rokuro.
"Hm, tentu saja..."
"Aku tidak menyangka semuanya bisa berjalan begitu lancar tanpa adanya kendala atau perdebatan di antara kita."
"Hm~ Cintaku kepadamu hampir sama besarnya dengan lautan ini... tidak akan pernah surut dan hilang begitu saja..." Haruka tersenyum lalu menyentuh air lautan itu.
Rokuro mulai menjalankan kembali pergaulan itu untuk mencari pemandangan yang enak untuk di lihat bagi Haruka karena saat ini ia sedang mengumpulkan beberapa keberanian untuk melamarnya.
"Umm... Rokuro..."
Rokuro mendengar Haruka memanggil dengan nada yang pelan, "Hm?"
"...terima kasih. Karena sudah mau mengajakku berkencan..."
"Ahh... aku tidak melakukan apapun, bukannya ini adalah hal yang cukup wajar?" Jawab Rokuro.
"Entah kenapa... aku rasa kencan ini terasa begitu berbeda, jantungku terus berdetak cepat dan perasaan yang aku rasakan bertambah semakin gugup..." Ucap Haruka pelan dengan wajah yang memerah.
"...semua rasa yang aku rasakan, benar-benar membuatku senang." Haruka memandang arah lain, mencoba untuk tidak menatap Rokuro di hadapannya.
"D-Dan..." Haruka merasakan sebuah penolakan, terlihat kesulitan untuk mengeluarkan perkataan yang ia pikirkan.
"...kejadian yang terjadi sejak itu." Rokuro bisa mendengar nada yang terdengar sangat pelan darinya, rasa kecewa bisa terdengar jelas olehnya.
"Itulah keinginan ku..."
"Aku sendiri yang terlalu lemah... tujuanku untuk bertarung adalah menyembuhkan Kou dan tentunya menghilangkan kutukanku..."
"... tetapi aku gagal dalam bersaing dengan Honoka dan aku sempat kaget mendengar dirimu memohon sesuatu untukku."
"Bukannya kamu sejak awal menginginkan kekuatan dan kemampuan dengan permohonan itu... kau tidak perlu repot-repot membantuku..."
"Tidak, aku tidak membutuhkannya, untuk apa aku harus merasa repot dalam membantumu..."
"Aku ingin menunjukkan sisi positif ku lebih besar kepadaku, aku selalu saja mengandalkan dirimu... aku tidak ingin menyusahkan dirimu lagi..."
"... selama ini, bersama dirimu aku selalu saja tidak bisa di andalkan melainkan dirimu yang melakukan segala hal untukku..."
"Haruka..."
"Aku... aku bodoh dan ceroboh... bahkan aku sendiri lumayan nakal, banyak sekali sikap kekurangan di dalam diriku... tapi..."
"itu yang aku rasakan sebenarnya... aku ingin... aku ingin kamu mengetahuinya." Haruka menatap ke bawah dengan tatapan khawatir.
"Baiklah, aku akan mengingatnya." Jawab Rokuro, membuat Haruka terlihat senang dan merasa bersyukur seketika.
Walaupun Rokuro mengetahui banyak soal kekurangan Haruka, setidaknya ia juga tidak jauh berbeda dengan dirinya dan ia ingin bersama Haruka dapat mengalami perubahan bersama-sama.
"Baiklah... bisakah aku mengatakan sesuatu...?" Rokuro mulai memberanikan diri untuk mengeluarkan kotak merah yang ia simpan di dalam saku celananya.
"Mm...? Iya, silakan..."
"Menikah lah denganku."
__ADS_1
"...huh?"
"Aku ingin menjadikan dirimu sebagai istriku, Haruka, menikahlah denganku maka aku akan membuatmu menjadi gadis yang paling bahagia di seluruh alam semesta." Rokuro mengeluarkan kotak merah itu.
Haruka menatap kotak tersebut dengan tatapan yang terlihat kaget, seolah-olah ia tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar dan lihat dari Rokuro.
"Um... um..."
"Mungkin terlalu cepat untuk kita menikah... tetapi aku ingin secepatnya membuat dirimu bahagia agar kita bisa memulai kehidupan baru bersama."
Wajah Haruka berubah menjadi merah seketika, "... ..."
Situasi mulai terasa canggung ketika Haruka berhenti berbicara, wajahnya memerah seketika membuat Rokuro bertambah semakin gugup karena membuat Haruka kaget seperti itu.
Kedua mata Haruka mulai berkaca-kaca, "Hiks... hiks..."
Rokuro melihat Haruka menangis tepat di hadapannya, "Haruka...?"
"...ini bukan mimpi 'kan?"
"Tidak, aku yakin kita berdua sudah bangun dari mimpi."
"Jika surga menolak pendosa seperti diriku maka akan ku buat anak surga seperti dirimu menerimaku, menikahlah denganku, Haruka Comi." Ucap Rokuro dengan tatapan serius.
"Hm... aku mau..."
"...aku mau menjadi istrimu."
"Aku ingin menikah denganmu juga." Haruka menjawabnya dengan senyuman lebar yang ia pasang di wajahnya.
Sambil menangis, Haruka berbicara dengan sekuat tenaga sampai Rokuro bisa mendengar jelas jawabannya yang membuat dirinya merasa sangat lega dan bahagia.
Rokuro bukan hanya mendengar jawaban itu dari kedua telinganya saja melainkan tubuhnya sampai bisa merasakan jawaban itu.
"Aku sangat senang... untuk mendengar jawaban seperti itu." Rokuro tersenyum lebar, pertama kalinya ia menunjukkan senyuman itu untuk kedua kalinya.
"Aku lebih senang mendengar lamaran itu..." Kata Haruka sambil menghapus air matanya.
"Itu artinya kita sudah menjadi suami dan istri kan...?"
"Ya... untuk sekarang dan untuk selama-lamanya..."
"Begitu ya... Hahaha..." Rasa bahagia yang Rokuro tahan terlepas seketika karena ia tidak dapat menahan rasa yang terus bergejolak tinggi melihat calon istrinya menjawab dengan tangisan bahagia.
"Hahaha... Hahahaha!" Rokuro mulai tertawa lalu ia memeluk Haruka erat dan memberinya sebuah kecupan di pipi sampai mengejutkan dirinya seketika.
"Ahh...! Hati-hati, kita bisa saja jatuh..." Haruka terkekeh dan ia melihat Rokuro menatap dirinya.
Rokuro membuka kotak itu dan menunjukkan sebuah cincin Crimson yang membuat Haruka tersenyum lebar, ia mengulurkan lengan kanannya.
"Jariku sudah siap untuk menerima cincin itu... jadikanlah diriku untukmu sepenuhnya." Ucap Haruka.
Rokuro mengangguk lalu ia memasukkan cincin itu ke jari emas milik Haruka lalu ia menatap cincin tersebut sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat senang.
"Mulai dari sekarang... kamu adalah suamiku..." Haruka tersenyum dengan air mata yang mengalir keluar, ia bersama Rokuro mulai menatap satu sama lain.
Rokuro mendekati wajahnya dengan Haruka sampai kedua bibir mereka mulai bertemu dan saling bersentuh, kedua tapak tangan mereka juga saling menggenggam erat.
Semua balon berlambang kucing itu mulai di lepaskan, jumlahnya sangat banyak bahkan Rokuro sempat membuka matanya untuk melihat semua balon itu beterbangan sambil memancarkan cahaya emas yang begitu indah.
Rokuro menatap ke depan dan sontak kaget ketika melihat Korrina berdiri di atas lautan sambil tersenyum, setelah itu ia menghilang begitu saja dan bersatu dengan cahaya dari balon itu.
"... ..." Rokuro dan Haruka berhenti berciuman lalu mereka menatap satu sama lain, Haruka memeluknya erat dan menyadarkan kepalanya dengan dada Rokuro untuk mendengar detak jantungnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu..."