
Masih tersisa 10 menit lagi sebelum memasuki tahap selanjutnya yaitu pemilihan peserta turnamen secara acak, Kou baru saja selesai menangis ketika Haruka dan Honoka memberi dirinya beberapa kasih sayang.
Hanya dengan memberikan beberapa hidangan madu sudah cukup, Haruka tidak mengharapkan teman-temannya untuk datang karena mereka memiliki kewajiban untuk bersama keluarganya sendiri.
Haruka terus menatap Kou dari tadi dan ia sekarang terlihat lebih tenang, setidaknya ia sebagai seorang Kakak tertua mencoba untuk menjaga keseimbangan terhadap keluarganya sendiri.
Namun, Haruka sendiri mencoba sekuat mungkin untuk menahan rasa rindunya kepada Korrina juga sehingga ia mulai menghela nafasnya pelan lalu membuka penutup botol Vodka lalu meminumnya dengan penuh kesabaran.
"Kou..." Panggil Honoka.
"Mm...?"
"Apa kamu serius ingin bertarung...? Penyakit dan demam itu bisa muncul kapan pun bukan?"
"Tenang saja... aku akan mencoba sekuat mungkin untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat, asalkan tidak berkaitan dengan The Mind maka semuanya akan berjalan lancar."
Terdengar rasa keyakinan penuh di dalam dirinya, intinya Haruka akan terus mengawasi dirinya ketika Kou bertarung karena ia dapat membantu Kou pada saat keadaan darurat dengan memundurkan waktu lalu meminta Kou untuk menyerah.
Kou mengembungkan kedua pipinya, "Kakak... Tadi Kakak baru saja tidak mempercayaiku bukan...? Aku bisa kok..."
"Ehh...? Ahhhh... Hahaha, baiklah, kalau begitu aku ingin melihat apa yang kamu bisa nanti." Haruka mengelus kepala Kou.
Beberapa menit kemudian, seluruh peserta di minta untuk segera berkumpul di lapangan yang sangat luas untuk melakukan sedikit penyelidikan terhadap kekuatan muri dan sihir mereka.
Semua peserta mulai antri di hadapan tinju mesin sebelum mencobanya, hasilnya terlihat begitu normal dengan ukuran dari hitungan 500-an atau bisa di bilang [S].
Tinju mesin itu dapat mengukur satu pukulan menjadi kekuatan murni, hanya dengan memukulnya dan mesin itu akan mengukurnya lalu memberikan hasil dengan angka dan huruf.
Di mulai dari F sampai SSS, jika kekuatan murni terlalu kuat sampai tidak bisa di ukur maka hasilnya akan memberikan [???] atau [Null]. Kesempatan seperti ini dapat di gunakan dengan menipu beberapa musuh.
Kebetulan Haruka sengaja antri paling belakang bersama teman-temannya, ia mulai membisiki mereka satu-satu untuk menahan diri dalam memukul tinju mesin itu.
Haruka sempat memajukan waktu dengan kedua mata jamnya, melihat hasil pukulan dari teman-temannya mendapatkan hasil yang begitu mengerikan di atas angka 1000 dengan tingkatkan [SSS] di campur plus.
"Seperti biasanya, semua peserta harap bersabar dan jangan saling mendorong satu sama lain, kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukan sedikit tes dan pemilihan peserta..." Ucap seorang wasit.
Melihat hasil yang begitu normal dari seluruh peserta membuat Rokuro merasa gatal untuk memukul mesin pukul itu karena ia sendiri merasa kesulitan dalam berpura-pura menjadi lemah.
Sekarang giliran Honoka untuk mencoba, apa yang Haruka katakan sebelumnya dalam menahan diri dan mencoba untuk lemah membuat Honoka sedikit khawatir.
"Permisi... Boleh aku menanyakan suatu hal yang tidak begitu penting?" Tanya Honoka kepada Wasit di sebelahnya.
"Apa itu...?"
"Mesin tinju ini, bahannya terbuat dari apa? Apakah terbuat dari bahan yang sangat keras di seluruh alam semesta? Kalau tidak salah namanya Omnitone."
"Mesin tinju ini kami buat melalui seluruh bahan yang di campur menjadi satu, berkat bantuan dari beberapa Alkemis." Perkataan wasit itu membuat Honoka sedikit lega.
Semua peserta dan penonton saat ini sedang fokus kepada Honoka, ia menatap ke atas untuk melihat layar hasil yang menunjukkan seluruh hasil kekuatan murni dari peserta yang sudah melakukannya.
"Hanya tiga yang tertera di layar... Kekuatan dengan ukuran 900 lebih dengan tingkatan [SS], Mama pernah bilang soal kekuatan murni tidak begitu mempengaruhi apapun soal pengukuran."
"Kekuatan murni dapat berubah kapan pun, maupun itu meningkat atau berkurang. Baiklah..." Honoka menunjukkan mesin tinju yang hampir memiliki bentuk seperti samsak.
"Ahh... Sebelum itu..." Honoka menatap wasit yang terlihat kesal karena Honoka menghabiskan banyak waktu sekarang.
"Apa yang kau ingin tahu lagi, bisa di percepat?"
"Ini adalah tinju mesin kan...? Apakah bisa di lakukan tanpa harus memukul atau semacamnya?"
__ADS_1
"Tidak selalu harus memukul, menyentuh saja boleh jika kau ingin mendapatkan nilai ukuran yang kecil." Ucap wasit tersebut, Honoka tersenyum lebar dan merasa lega sekarang.
"Baiklah, aku akan memulainya..." Honoka saat ini mencoba sekuat mungkin untuk menenangkan dirinya, mencoba untuk menahan diriĀ dan tidak menggunakan banyak kekuatan.
"Honoka... Pelan-pelan, jika kau tidak menahan diri, kau dapat menghancurkannya." Haruka mulai memperingati Honoka melalui telepati.
"Baiklah, setidaknya akan aku coba."
Honoka mengangkat lengan kanannya lalu ia mengetuk samsak itu pelan menggunakan jarinya sehingga mesin itu mulai mengukur kekuatan Honoka dan memberikan hasil pertama melalui angkat yaitu [23899]
Semua orang langsung tercengang ketika melihatnya karena Honoka hanya perlu mengetuk samsak itu pelan seperti mengetuk sebuah pintu dan hasilnya terlihat seperti satu pukulan dengan kekuatan penuh.
Hasil tingkatan terakhir yang di tunjukkan mesin itu adalah [Null], bisa saja tidak terhingga kekuatan murni Honoka jika menggunakan satu pukulan tadi.
"Loh...?" Honoka terkejut ketika melihatnya hasilnya akan sebesar itu walaupun sudah menahan diri.
"ASTAGA!? Hanya dengan satu ketukan mendapatkan kekuatan murni sebanyak itu!?" Wasit itu sendiri tercengang ketika melihatnya.
"Tu-Tunggu dulu, bukannya mesin ini rusak atau semacamnya? Coba cek dulu..." Ucap Honoka sehingga para wasit langsung melakukan beberapa penyelidikan dengan mesin itu.
"Honoka... Apa yang kamu lakukan...?" Bisik Haruka.
"Hei, sulit tahu... Karena sihir Crimson, mencoba untuk menahan diri hanya akan mempersulit keadaan, berpura-pura menjadi lemah itu sangat sulit." Honoka mulai menggerakkan lengan kanannya.
"Satu sentuhan saja... Jangan di ketuk..." Haruka mundur beberapa langkah.
"Baiklah, sepertinya sudah diperbaiki sekarang, bisakah Anda melakukannya sekali lagi?" Tanya wasit itu, kali ini lebih sopan kepada Honoka karena ia takut terhadap kekuatannya tadi.
Honoka sekarang mencoba untuk fokus, menatap samsak itu lalu menyentuhnya saja dengan satu jari seperti menekan sebuah pintu bel, kali ini hasilnya mendapatkan [1100] dengan tingkatkan [SSS+].
"1100...?"
"1080... Dengan tingkatan yang sama..."
Giliran Minami, ia tersenyum lalu menepuk samsak tinju itu dengan ekornya.
"890... Setidaknya masih normal..."
Giliran Shuan, ia melakukan hal yang sama dengan menepuk samsak tersebut menggunakan ekornya.
"950...!!!"
Giliran Mitsuki, ia mulai menyentuh pelan samsak itu menggunakan jarinya.
"910...!"
Giliran Bakuzen, ia mencoba sekuat mungkin untuk menahan kekuatannya, ia melepaskan satu ketukan.
"1000 pas..."
Giliran Asriel, ia mulai menekan samsak itu menggunakan jarinya.
"1075..."
"Si-Sial... Apakah aku kurang menahan diri?" Honoka terkejut ketika melihat seluruh hasil teman-temannya di bawah rata-rata sedangkan dirinya saat ini masih berada di peringkat satu.
"Tenang saja, Honoka... Biarkan aku melakukannya sekarang..." Hana tersenyum lalu menghampiri samsak tinju itu dan memberikan satu ketukan.
"1090..."
__ADS_1
"Sial... Aku hampir mengalahkan Honoka soal berpura-pura menjadi lemah." Hana menghela nafasnya, bagi dirinya itu adalah hal yang biasa.
Namun, bagi semua peserta terutama wasit itu sangat mengejutkan karena mereka tidak perlu menggunakan satu pukulan untuk mendapatkan kekuatan murni yang berukuran sangat besar.
Sekarang hanya tersisa 2 orang lagi yaitu Kou dan Rokuro, Haruka mulai menatap Kou yang tidak memiliki kekuatan murni atau sihir apapun jadi hasilnya bisa saja normal atau sangat rendah.
"Kou... Kau duluan saja, aku terakhir." Ucap Rokuro selagi mengusap kepalanya.
Kou mengangguk lalu ia menghampiri Haruka yang terlihat sedikit khawatir, "Untuk dirimu adalah sebuah pengecualian... Lepaskan semua kekuatanmu..."
Kou mengangguk lalu ia mendekati samsak tinju di hadapannya, wasit itu mulai menurunkan mesin tinju itu yang terlalu tinggi untuk Kou.
Kou mulai menatap samsak itu lalu ia mengepalkan tinju kanannya, mencoba sekuat mungkin untuk mengeluarkan kekuatannya agar memberikan hasil rata-rata.
Kou memukul samsak tinju itu, memberikannya hasil yang mengejutkan semua orang karena ia mendapatkan hasil dari [0] dengan tingkatkan [F].
"Nol...?" Semua orang langsung merasa lega ketika mengetahui terdapat satu peserta lemah.
"Wasit, bisakah kau cek sekali lagi mesin itu? Tidak mungkin hasilnya sangat rendah seperti nol." Ucap Haruka.
"Semuanya aman... Bagaimana jika di coba sekali---" Wasit itu tercengang ketika melihat Kou memukul samsak itu beberapa kali sampai ia kelelahan.
Hasilnya tetap sama yaitu nol, sebagian dari peserta dan penonton mulai kecewa dan menertawakan dirinya karena seorang anak dari ratu Touriverse ternyata sangat lemah.
"Oi, oi, apakah kau serius nol?"
"Nol itu bahkan lebih buruk dari seorang bayi yang baru saja lahir..."
"Apakah dia benar-benar anak dari ratu Touriverse itu?"
Kou terdiam seketika, ia mengepalkan kedua tinjunya sehingga Haruka mulai mengelus kepalanya.
"Lakukan saja, jangan menahan diri, adikku."
Ketika Haruka mengizinkan dirinya, Kou mengangguk lalu memasang wajah penuh tekad sehingga seluruh temannya di kejutkan dengan aura putih yang terlepas dari tubuh Kou.
"Kouko..." Aura putih itu membentuk Kouko dan ia mulai menyentuh lengan kanan Kou, membantu dirinya untuk memukul samsak tinju itu secara bersamaan.
Kouko tidak dapat di lihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri dan mereka yang sudah mengenal dekat Kou, hasil dari pukulan tadi cukup mengejutkan karena hasilnya yaitu [5000].
""Lima ribu!?""
Semua orang terkejut seketika, wasit itu segera mengecek mesin itu yang selama ini tidak rusak, otomatis para peserta langsung tidak menganggap Kou lemah.
Kou melompat-lompat kecil di hadapan Haruka bahwa ia hasil mengontrol Kou untuk melakukan beberapa serangan.
"A-Apa itu tadi...?" Tanya Bakuzen.
"Sisi Eternal Kou yaitu Kouko, jika Kou tidak dapat menggunakan sihir atau kekuatan murni maka Kouko kebalikannya..."
"...intinya dia akan bertarung!" Haruka mulai mengelus kepala Kou.
"Mundur..." Ucap Rokuro karena sekarang adalah gilirannya, tidak perlu menahan diri atau apapun karena ia bertarung hanya untuk melawan yang terkuat.
Satu pukulan mampu menghancurkan mesin itu berkeping-keping sehingga mengejutkan semua peserta bahkan wasit di sekitar.
Haruka menepuk wajahnya sendiri.
"Hahhhh..."
__ADS_1