Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1016 - Perdebatan dalam Sebuah Pertemuan


__ADS_3

"Kenapa dia baru datang sekarang...?" Koizumi memulai pembicaraan dengan ekspresi suram ketika melihat Korrina untuk pertama kalinya datang dalam waktu yang kurang tepat.


"Apa...?" Tanya Arata.


Hinoka memasang tatapan kaget ketika melihat neneknya sendiri ternyata memang memiliki kemiripan dalam warna rambut dan kedua mata biru mudah suci seperti surga.


"Anu..." Shinobu memanggil Korrina sampai dirinya langsung menatap gadis kecil berambut emas itu.


"Namamu pasti Shinobu Koneko ya... salam kenal, Koneko. Aku ini nenekmu, ya, bisa dibilang seperti itu." Korrina mengatakannya dengan nada yang canggung.


Shinobu melangkah ke belakang sampai bersembunyi di balik Shira karena rasa malunya ketika bertemu dengan seseorang yang ia kenal tetapi sudah lama sekali tidak saling menyambut.


"Astaga... dia memang mirip dengan Kou..." Korrina tersenyum pahit sampai hatinya terasa begitu berat ketika melihat ketiga cucunya untuk pertama kalinya.


"Kenapa kamu malu-malu seperti itu, nak? Bukannya kamu sudah melampaui sikap yang membuatmu merasa malu?" Tanya Shira yang mulai mengelus kepalanya.


"Tidak... anu... rasanya Koneko ingin melaporkan kejadian ini langsung kepada Mama, tetapi ia sudah beristirahat dengan tenang."


"Begitu ya..." Korrina mencoba untuk memberanikan diri dengan mendekati mereka semua tetapi Hinoka langsung memanggil dirinya dengan ekspresi yang sedih.


"Kenapa kamu baru datang sekarang...?" Tanya Hinoka yang mengingat perkataan Honoka bahwa ibunya akan selalu dilindungi oleh neneknya yang menjaga surga.


Hanya Hinoka dan Koizumi yang berbicara secara frontal langsung kepada Korrina sampai Arata dan Shizen mencoba untuk meminta tolong kepada mereka agar bisa menjaga kesopanan.


"Hinoka, tidak boleh---"


"Ti-Tidak...!" Hinoka membantah dengan suara yang lemas karena perasaan sedih dan traumanya kembali muncul tentang Honoka yang gugur dalam pelukannya.


Shinobu menatap Hinoka dan Koizumi dengan ekspresi khawatir sampai ia tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan mereka melampiaskan semua kesedihan tentang Ibu mereka sendiri.


Shinobu hanya bisa diam karena ia sendiri sudah mengetahui jawaban yang jelas dari Kou bahwa ia sudah merasa puas untuk melihat ibunya dalam masa-masa terakhirnya.


Tetapi untuk mereka mungkin memiliki riwayat yang berbeda, "Ada apa dengan kedua sepupumu, Shinobu?"


"Ko-Koneko tidak tahu..." Shinobu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa...!? Kenapa Nenek tidak ada di sana untuk Ibuku!?" Tanya Hinoka yang mulai menaikkan nada suaranya sehingga Korrina dapat melihat mata Hinoka mulai berkaca-kaca.


"Mama sudah menantikan kehadiran dirimu sejak lama sekali... ratusan tahun lamanya kau baru saja datang hanya untuk melihat Ibuku yang sudah gugur lamanya..."


"...gugur dalam keadaan menyedihkan, anggota tubuh yang menghilang sampai dipenuhi banyak sekali darah..."


"...meminta permohonan dirimu untuk datang dan pertolongan untuk menyelamatkan dirinya!" Seru Hinoka yang mulai menangis.


Hinoka menunjukkan keseriusan yang mengejutkan mereka semua, jarang sekali ia bersikap seperti itu karena ia biasanya dirinya beriklan tidak waras.


"Soal itu... mungkin aku memang terlambat untuk datang." Jawab Korrina yang memasang ekspresi bersalah.


"Untuk apa kau pergi sejauh itu...!? Apakah kau lebih memilih perjalanan yang panjang dibandingkan keluargamu sendiri...!?"


Trauma masa lalu mempengaruhi pikirannya kembali sampai menyebabkan kedua matanya berubah menjadi merah akan kebencian terhadap Korrina yang tidak pernah pulang dan ada untuk ibunya sendiri.


"Gawat...! Hinoka, hentikan!!!" Shizen langsung menarik Hinoka sebelum ia benar-benar hilang kendali.


Korrina melompat ke belakang hanya untuk menghindari pengubahan realitas ledakan yang hampir mengenai dirinya bersama seluruh temannya yang berada di dekat ledakan itu.


Ledakan itu mengejutkan mereka semua karena apa yang Hinoka katakan benar-benar serius, awalnya mereka mengira pertemuan antara nenek dan cucu akan menghangatkan hati tetapi hasilnya kebalikan.


Hinoka sebenarnya sudah melepaskan banyak sekali pengubahan realitas menjadi ledakan tetapi semua itu tersedot ke dalam Heaven's Gate sampai tertutup rapat dan meninggalkan satu sihir saja.


Pikirannya terus terpengaruh dengan trauma itu sampai ia mencoba untuk mengubah tubuh Korrina menjadi ledakan tetapi Shinobu berhasil menidurkan dirinya dengan hanya berbicara di dalam pikirannya.

__ADS_1


Hinoka langsung terjatuh di atas pangkuan Shizen, "Aku meminta maaf sebesar-besarnya dengan perilaku Hinoka saat ini..."


"Tidak apa-apa... aku memang yang salah, dia memiliki poin yang benar." Jawab Korrina.


"Memangnya kau pergi kemana saja sampai menghabiskan waktu ratusan tahun lamanya...? Mencoba untuk melarikan diri dari tanggung jawab itu?" Koizumi sekarang yang mulai berbicara.


"Koizumi, hentikan---"


"Diam, Kakek... ini tidak berkaitan apapun dengan dirimu." Ucap Koizumi karena masalah ini berkaitan dengan Haruka dan keturunannya sebagai Comi.


"Ini adalah urusan keturunanku sendiri... dan apa yang Ibuku sebenarnya inginkan." Koizumi mengepalkan kedua tinjunya lalu ia melangkah maju mendekati Korrina.


Pandangan mereka saling bertemu seketika tetapi dengan raut wajah yang berbeda, Korrina merasa semakin bersalah ketika melihat Koizumi memasang ekspresi kesal karena kedatangan dirinya yang terlambat.


"Kamu pasti putri dari Haruka ya... Shimatsu Koizumi---"


"Kenapa kamu datang sekarang...? Kenapa tidak sebelumnya dimana Touriverse masih bisa dibilang waras dan tidak menerima kegilaan apapun..."


"...jelaskan padaku, apa yang kau bawa selama perjalananmu itu." Ucap Koizumi dengan ekspresi kesal.


Korrina mengangguk lalu ia menjelaskan semuanya kembali dimulai dari awal sampai akhir kepada mereka semua, kali ini yang mendengar berita buruk itu adalah Hana, Koizumi, Shizen, dan Hinoka yang tertidur.


Penjelasan itu berakhir sepuluh menit kemudian sampai api yang sudah menyala di dalam tubuh Koizumi hanya bertambah besar ketika mengetahui Ragnarok adalah akhir dari segalanya.


Api itu terasa seperti menerima siraman bensin sehingga Koizumi terus merapatkan giginya kesal, "Perjalanan itu tidak memberikan dirimu keuntungan apapun..."


"...kau tidak menerima keuntungan melainkan kerugian dalam sudut pandangan apapun, termasuk meninggalkan Ibu yang gugur menantikan kedatangan dirimu dengan cepat!"


"Ibuku menantikan dirimu untuk pulang... tetapi kau tidak pernah kembali dan ada di sisinya bahkan ketika aku lahir saja tidak ada..."


"...pergi sejauh-jauhnya dengan menghabiskan waktu lama hanya untuk membawa berita buruk yang menekan banyak sekali orang." Kedua tinju Koizumi bergetar seketika.


"Koizumi, maafkan aku..."


"...sepertinya diriku memang sudah melakukan kesalahan untuk pergi sejauh itu hanya demi mencegah Ragnarok yang selama ini tidak bisa dihentikan."


"Itu artinya semua yang aku lihat ini bisa saja mati dalam sekejap... Ragnarok, perang antar kedua penghuni yang berada di dalam layer..." Ucap Koizumi.


"...sungguh menyebalkan, awalnya aku mengharapkan sebuah kedamaian hidup tetapi kutukan kita saling bertemu sampai menyuguhi kita dengan sesuatu yang mengerikan."


Mendengar penjelasan Ragnarok sempat membuat Koizumi takut karena ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam medan tempur itu, tetapi ia setidaknya menerima motivasi untuk berlatih tanpa henti demi mempersiapkan diri.


"Sudahlah..." Koizumi melangkah pergi meninggalkan Korrina tanpa mengatakan apapun karena ia menyimpan rasa benci pada dirinya yang meninggalkan pertanggung jawaban paling penting.


"Apakah semua yang kamu katakan itu benar, Korrina...?" Tanya Hana dengan tatapan datar.


"Ya... kita hanya perlu menunggu Dewi penghakiman datang untuk memperingati kita tentang akhir dari segalanya..."


"...Ragnarok."


"Oh."


"Kau mau pergi kemana, Koizumi? Setidaknya kau perlu berbicara dengan baik-baik pada nenekmu ini, walaupun perjalanannya tidak memberikan hasil apapun..."


"...setidaknya dia sudah mencoba sebisa mungkin untuk menahan semua ancaman sampai pada akhirnya ia berhasil memberikan kita beberapa informasi penting!"


Koizumi berhenti melangkah lalu ia melirik ke belakang hanya untuk melihat Korrina sekali lagi yang sedang memasang tatapan bersalah.


Korrina tanpa berpikir dua kali langsung berlutut di hadapan Koizumi lalu bersujud di hadapannya hanya untuk meminta maaf sebesar-besarnya, "Aku meminta maaf..."


"...tolong maafkan diriku yang tidak pernah belajar dari kesalahannya sendiri, rasanya melihat sebuah penyesalan dari awal bisa dibilang cukup menyulitkan."

__ADS_1


"Aku merasa tidak keberatan sama sekali jika kamu ingin membenciku atau tidak, tetapi aku hanya ingin meminta maaf atas semua masalah dan keterlambatan yang kulakukan."


"... ..." Tanpa mengeluarkan satu pun kata, Koizumi dan Hana langsung berpindah menuju dimensi lain karena Koizumi masih tidak bisa menerima dirinya.


Keterlambatan yang mengubah Touriverse dalam sudut pandang apapun sampai menggugurkan nyawa dari ketiga putrinya lalu memberikan berita terburuk yang pernah ada yaitu Ragnarok.


Karena Koizumi bisa melihat kembali sejarah menggunakan kubusnya, ia dapat mengetahui dengan jelas betapa mengerikannya Ragnarok itu ketika ia menyaksikannya bersama Hana di dalam dimensi itu.


Arata merasa bertanggung jawab tentang hal tersebut tetapi jika ia berada di posisi Koizumi maka reaksinya juga bisa dibilang sama.


Pergi jauh tanpa memberikan hasil baik apapun demi mengorbankan semua hal yang penting sama saja dengan kebohongan, "Maaf, Korrina..."


"...aku akan mewakili permintaan maaf Koizumi kepada dirimu." Arata menundukkan kepalanya tetapi Korrina langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa, memang aku yang salah... aku yang pantas untuk menerimanya." Jawab Korrina yang mulai tersenyum pahit.


Yang tersisa hanyalah Shinobu di baik tubuh Shira, keheningan kembali muncul sehingga Korrina mulai membahas kembali tentang Ragnarok tersebut sampai menyebabkan beberapa pengunduran.


Shira, Arata, dan Haruki terpaksa harus mengundur jadwal latihan itu demi bisa mendukung Korrina dari belakang dalam menjelaskan Ragnarok kepada semua orang.


Untuk sekarang, lebih baik beristirahat terlebih dahulu sebelum rasa ketakutan dan trauma tentang Ragnarok datang mempengaruhi lagi.


Ophilia melihat Korrina yang berjalan lemas karena dikejutkan dengan reaksi Hinoka dan Koizumi, ia juga bahkan masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah meninggalkan ketiga anaknya.


"Korrina, biar aku bantu." Ophilia membantu Korrina untuk berjalan karena ia terlihat seperti lemas sampai tidak tahu cara untuk menggerakkan kedua kakinya.


"Semuanya akan baik-baik saja... mungkin membutuhkan waktu agar mereka bisa sadar dengan perjuanganmu..."


"...mereka kan gadis yang sudah menginjak dewasa, sudah pasti mereka akan merasa kesal lebih cepat."


"Perjuangan apa... aku tidak bisa menyebutnya sebagai perjuangan jika aku sudah merugikan banyak sekali pihak..." Korrina tersenyum pahit.


"...yah, aku sudah siap untuk menerima semuanya... lagi pula aku tidak merasa keberatan jika mereka membenci diriku, itu adalah pilihan yang wajar."


"Jika kamu ingin marah dan benci diriku juga tidak apa..."


"Jangan pesimis seperti itu... aku sudah mengerti apa yang kamu coba lakukan."


Mereka semua mulai bubar untuk mempersiapkan Ragnarok, Korrina sempat meminta mereka untuk tidak menunggu siapapun melainkan diri mereka sendiri untuk mempersiapkan Ragnarok dengan latihan.


"Shinobu..."


"Iya...?"


"Apakah kamu membenci dirinya?" Tanya Shira.


"Koneko benci nenek Korrina." Jawab Shinobu dengan jujur.


"Begitu ya, kamu menanganinya dengan baik..." Shira mengelus kepalanya ketika melihat Shinobu yang dapat mengendalikan perasaannya.


"Tetapi... walaupun aku membenci dirinya, mengabaikan Nenek bukanlah sebuah pilihan karena ia baru saja pulang sampai merasakan banyak penderitaan..."


"...semuanya terasa mendadak." Shinobu melepas tangan Shira lalu ia melangkah menuju Korrina hanya untuk menarik lengan kirinya sampai ia langsung menoleh ke belakang.


"Nenek.." Ucap Shinobu dengan tatapan polosnya.


"Ada apa, Koneko...?" Korrina tersenyum kecil kepada dirinya.


"Ehh...? Pulang...?"


"Mm, ke rumah."

__ADS_1


__ADS_2