
Selvia segera menunjuk kedua katana-nya hingga kedua senjata itu segera di tarik olehnya di genggam erat karena ia merasa curiga dengan pria yang saat ini dipeluk oleh Korrina. Walaupun penampilan terlihat jelas seperti Alvin tetapi terdapat sesuatu yang sangat berbeda di dalam dirinya yang membuat Selvia merasa curiga bahwa pria itu sedang menyamar menjadi Alvin.
"Kau siapa...?" Tanya pria itu.
"Ehh...?" Korrina menatap pria tersebut dengan wajah yang bingung, "Ini aku loh... Korrina Comi, istrimu."
Pria itu hanya bisa tersenyum kecil dan menatap Selvia untuk meyakinkan dirinya bahwa dia datang dengan damai, insting iblis Selvia segera memperingati dirinya bahwa pria tersebut tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya atau mengancam. Selvia menyimpan kembali kedua katana-nya di dalam sarung yang terletak di pinggang-nya.
"Ternyata kau ini mortal legendaris yang dikenal banyak oleh para dewa dan dewi ya... Hahaha, jelas sih karena kau ini adalah cucu dari Iriana."
"Iriana...? Siapa itu...?" Tanya Korrina bingung.
"Intinya kau harus tahu, Korrina." Pria itu segera mundur ke belakang untuk menjaga jarak dengan Korrina karena dirinya milik seseorang.
"Apa...?" Korrina kembali sedih bahwa pria yang di depannya itu bukan Alvin, dia mengharapkan bahwa dia mati dan mengalami reinkarnasi menjadi sesosok pria yang baru seperti pria yang di depannya.
Ketika pria itu melepas jubahnya, Korrina melebarkan matanya karena pria itu benar-benar terlihat sama persis-nya seperti Alvin. Tubuhnya berotot, warna kulit-nya coklat dan itu yang membedakan dirinya dari Alvin yang memiliki kulit putih, warna dari rambut dan mata-nya juga sama-sama merah darah yang menandakan bahwa dia terlihat persis seperti Alvin.
Korrina bisa melihat bahwa pria misterius itu tidak memiliki kedua lengan-nya, hampir sama seperti Alvin ketika kembali pulang dia tidak memiliki lengan.
"Bahkan dia sama tampan-nya dengan Alvin...!" Korrina mengumpat dalam hati sambil menutup lubang hidung-nya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Sepertinya kau sangat tidak asing dengan nama [Eternal] itu... Ya...?" Tanya pria itu.
"Eternal... Apakah itu ras yang berdasarkan keturunan dan kutukan...? Kalau tidak salah ibu-ku pernah bilang bahwa diriku memiliki ras Eternal di dalam diriku yang masih belum mau keluar saat ini. Ras Eternal intinya hampir sama seperti kepribadian ganda yang berbeda semisalnya aku yang baik ini maka sisi Eternal-ku itu jahat...?" Korrina mengetahui informasi tersebut karena dia pernah membaca buku tentang ras Eternal.
"Hooo... Sepertinya apa yang mereka katakan tentang Korrina Comi ini memang benar, kau adalah genius asli dan mendalami banyak sejarah."
"Tidak juga..."
"Aku tahu kau merasa sedih, Korrina. Tentang kematian dari Alvin Ghifari itu memang sudah tercantum di tempat [The Stone of Fate]. Perjuangan terakhirnya adalah dia menahan semua rasa sakit demi melindungi keluarga-nya sendiri---"
__ADS_1
"Hentikan, jangan kau membicarakan Alvin yang sudah hidup tenang di atas sana." Korrina mengalihkan pandangan-nya mencoba untuk menyembunyikan rasa sedihnya.
Selvia mulai merasa penasaran tentang [The Stone of Fate] dan juga kematian dari Alvin Ghifari yang sudah tercantum, dia mulai berpikir bahwa semua takdir makhluk hidup tertulis jelas di batu takdir itu...?
"Ummm..." Selvia mengacungkan tangannya dan pria itu segara menatapnya.
"Ada apa, iblis...?"
"[The Stone of Fate], sebenarnya batu jenis apa itu...? Apakah semua makhluk hidup memiliki takdir yang sudah tercantum di batu tersebut...?" Tanya Selvia.
"Kau benar. Batu takdir itu terletak di suatu daerah dimana mortal atau dewa setinggi apapun tidak akan bisa melihatnya, hanya dewa dan dewi takdir saja yang bisa melihatnya tetapi hanya sementara sedangkan tempat itu saat ini dijaga oleh segalanya. Dia bisa mengubah takdir apapun di batu tersebut dengan menghapusnya lalu menulis sesuatu yang baru."
"Aku bisa mengetahui takdir Alvin karena aku sempat ke tempat batu takdir itu karena segala-nya mengijinkan diriku untuk melihat takdir dari seseorang yang berbeda denganku." Pria itu tersenyum.
"Seseorang yang berbeda denganmu...? Apa yang kau maksud?" Tanya Korrina.
"Jadi begitu ya..." Selvia mulai mengerti.
Korrina dan Selvia sontak kaget, sepertinya seseorang yang memiliki kutukan atau keturunan Eternal maka mereka memiliki dua nyawa, tetapi sayangnya nyawa yang kedua itu dikendalikan oleh kepribadian yang berbeda. Korrina tidak menyangka bahwa ras Eternal Alvin akan bersikap sopan dan lembut seperti ini apa jangan-jangan Alvin memang natural bersikap jahat dan dingin ketika itu.
Selvia menghampiri Korrina untuk mencoba menenangkan-nya, ia mengelus punggungnya dengan pelan dan Korrina hanya bisa senyum kepada Selvia karena dia tidak akan lagi merasa sedih. Dia sudah menerima takdir sejak kecil karena takdir batu itu memang ada jadi dia harus menjalaninya.
"Sepertinya aku mempercayai dirimu sebagai ras Eternal Alvin..." Korrina tersenyum.
"Maaf, Korrina. Aku tidak bisa mencintai dirimu karena aku datang ke sini hanya untuk membantu-mu dan menemani dirimu."
"Santai saja, ketika kau mengatakan batu takdir itu... Aku jadi mengerti tentang kehidupan seimbang yang disediakan oleh Touri." Korrina terkekeh.
Korrina menyuruh Selvia untuk menyiapkan teh untuk ras Eternal Alvin, ketika Selvia pergi ke dapur mereka berdua segera duduk di atas sofa sambil membicarakan tentang Alvin. Ternyata prediksi Korrina benar bahwa Alvin memang lahir natural dengan sikap yang dingin dan jahat sedangkan ras Eternal-nya memiliki sikap kebalikan, dia itu lembut dan baik sekali sampai memperlakukan Korrina seperti putri.
"Kau terlihat tidak sedih dari sebelumnya, apakah semuanya baik-baik saja...?"
__ADS_1
"Kesedihan-ku hilang ketika aku menerima sesuatu yang realita. Kematian Alvin memang sudah tercantum di batu takdir maka aku hanya bisa menerimanya dan membiarkan dirinya hidup damai di alam kematian."
"Maafkan aku, tubuhku ini benar-benar tersegel di dalam tubuh Alvin dan tidak bisa melakukan apapun ketika dirinya tersiksa habis-habisan oleh dewa agung yang bernama Shinku."
"Dewa agung yang bernama Shinku itu pantas menerima penyiksaan dariku suatu saat nanti, ketika semuanya kembali berkumpul dan sudah menjadi lebih kuat maka kita siap untuk menyerang wilayah Crimson dan membasmi segalanya yang ada di dalam wilayah tersebut." Ucap Korrina sambil menunjukkan ekspresi yang sangat kesal.
"Aku lupa untuk memperkenalkan diri, namaku adalah Alvenius. Aku bisa menggunakan tubuh ini semau-ku sekarang karena kematian dari Alvin Ghifari, aku terlahir di wilayah Crimson tetapi berkat kemampuan dan sihirku yang berbeda dengan Alvin, aku dapat menggunakan teleportasi ke tempat ini."
"Hebat sekali..."
"Aku memiliki pengetahuan dan informasi milik Alvin, dia juga meninggalkan beberapa pesan untukmu sebelum detik-detik kematiannya, Korrina."
"A-Apa...?" Korrina segera menatap Alvenius.
"Alvin bilang bahwa aku harus melindungimu dan menjaga-mu sampai perang berakhir, saat ini sejarah yang baru akan muncul karena penyebab dari bangsa Iblis yang saat ini sedang menaklukkan segala semesta termasuk planet dan desa-nya juga. Shinku juga akan melakukan yang sama dimana dia akan menciptakan kehancuran yang besar, jadi aku harus menjaga-mu sampai semuanya selesai."
Air mata mengalir keluar dari mata Korrina dan Alvenius hanya bisa diam lalu memeluknya erat sambil menunjukkan wajah yang bersalah, ia memejamkan kedua matanya dan membiarkan Korrina menangis di pelukan-nya.
"Sejak itu Rina hampir saja menyelamatkan Alvin, tetapi gagal karena Shinku segera menangkap mereka berdua dan mereka tidak memiliki jalan keluar karena pasukan Shinku sudah mengepung mereka."
"Saat ini Rina masih berada di wilayah tersebut, aku harap dia baik-baik saja. Semoga saja Shinku tidak memperlakukan Rina sama halnya dia memperlakukan Alvin dengan menyiksa-nya habis-habisan tanpa memberi dirinya ampun."
Korrina terus menangis dan memegang erat baju Alvenius, sepertinya ini adalah tangisan Korrina yang terakhir karena dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi walaupun dia kehilangan seseorang yang penting.
Selvia datang sambil memegang dua teh dan melihat Alvenius yang saat ini sedang memeluk Korrina, Korrina sudah menangis cukup puas sampai saat ini dia tertidur cukup nyenyak. Selvia hanya bisa tersenyum kecil dan menepatkan kedua cangkir teh itu di atas meja.
"Kau..." Alvenius memanggil Selvia.
"Apa ada yang bisa aku bantu...?" Tanya Selvia.
"Apakah benar bahwa kau ini adalah putri Aldine. Sang Dewi yang menciptakan sihir kuno Void di zaman seperti ini...?"
__ADS_1
Selvia melebarkan matanya ketika mendengar Alvenius yang baru saja menyebut nama ibu-nya yaitu [Aldine].