
"Dengan Zoiru dan Bamushigaru yang sudah menghilang... aku telah mendapatkan Holy Corpse pertamaku..." Zenzaku mulai berbicara selagi menatap ke depan.
Ia bisa melihat tangan mayat dari Zangges memancarkan cahaya suci sampai tertarik kepada Zenzaku lalu menggantikan lengan satunya lagi sampai ia sekarang memiliki lengan Zangges.
"Lengan Zangges milikku sekarang... aku masih membutuhkan lebih banyak Holy Corpse untuk bisa mengurusi sesuatu sendiri." Zenzaku mulai melakukan beberapa ciptaan menggunakan tangan Zangges.
"Sepertinya akan menghabiskan waktu yang cukup panjang ya...? Belum lagi kau harus mengumpulkan tulang dan organ Zangges."
"Apakah kau ingin kekuasaan terhadap apapun...? Kau harus menunggu dan melakukan proses... untuk sekarang aku sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi."
"Era akan kembali terulang... melihat Phoenix dan Shimatsu sudah menjadi buronan bagi semua penghuni..."
"...era kerajaan akan kembali dan semua perselisihan akan muncul. Aku yakin Kou Comi tidak akan bisa bertahan dengan kondisi sehatnya yang sementara itu."
"Setiap era kebodohan pasti akan kembali kepada kebodohan itu... pekerjaanku akan lebih cepat, hanya menunggu semua dewa agung mati maka aku akan mendapatkan Holy Corpse lagi."
"Masalahnya, Ayah... kemana Korrina Comi? Dia tidak kembali pada saat Touriverse mengalami ancaman besar yang disebabkan oleh Zoiru."
"Dia berada di Outerverse, alam semesta dengan jarak yang sangat jauh, entah dia memiliki pekerjaan entah atau apa... aku tidak bisa mengetahuinya dengan jelas."
"Jika saja aku mendapatkan Holy Corpse lain maka aku dapat mengetahui apa yang coba ia rencanakan..."
"...kita hanya perlu menunggu saja. Aku sudah mendapatkan tangan Zangges, itu artinya aku dapat memberikan kekuatan apapun." Zenzaku mengepalkan tinju kanannya.
***
"Rokuroooooo..."
Terdengar suara Haruka yang mencoba untuk memanggil Rokuro, ia dengan cepat masuk ke dalam kamar dan melihat Haruka merasa tertekan melihat Koizumi terus menangis tanpa henti.
"Dia tidak mau berhenti menangis...! Aku lelah..." Ucap Haruka karena setiap 5 detik berlalu Koizumi selalu menangis lagi dan lagi karena ia minum susu terus.
"Astaga... kau sudah bilang ingin menjaga dirinya seharian buka? Serahkan sisanya kepadaku dan kau pergi tidur saja." Rokuro mulai menggendong Koizumi dan membuat dirinya tenang.
"Tolong ya..." Haruka berbaring di atas sofa, mencoba untuk tidak tetapi Koizumi mulai mengapung dan mengganggu dirinya.
"Daaaaa..." Koizumi menggigit pipi Haruka.
"S-Sakit...! Kenapaaaa... kenapa harus Mama terus yang di ganggu..."
"Gao..." Koizumi memeluk wajah Haruka dan memejamkan kedua matanya.
"Dia memang dekat denganmu Haruka... kau bilang untuk siap menjaga anakmu yang nakal dan keras itu, aku yakin dirinya akan lelah nanti---" Rokuro melebarkan matanya ketika pisau yang ia pedang mulai berkarat.
"Oi, Haruka...!!!"
"Apa...!? Berisik...!!! aku mengantuk...!!!"
"Koizumi memainkan waktu lagi...!!!"
"... ...!" Haruka mulai menggendong Koizumi dan menatap wajah anaknya yang terlihat dingin karena ia masih ingin bermain dengan Haruka.
"Koizumi...! Hentikan!"
"Daaaaa.... dadada~" Jarum jam di kedua matanya berputar cepat sampai mengubah pulau yang dipenuhi dengan tumbuhan dan pohon menjadi mati karena dirinya.
"He-Hentikan...!" Haruka membalikkan waktu dan terjadilah pertarungan antar seorang putri dan ibu yang saling mengadu waktu.
"Oi... berhenti...!" Rokuro mulai merebut Koizumi dan menatap dirinya dengan tatapan serius.
"Koizumi... jangan nakal..."
"... ..." Koizumi menggembungkan pipinya lalu mencolek pipi Rokuro.
"Papa..."
"Ehh...?"
"Kamu... baru saja lahir beberapa hari yang lalu sudah bisa menyebut namaku, pintar sekali." Rokuro tersenyum penuh dengan rasa bangga sehingga Koizumi tersenyum nakal.
"Buuuu..." Koizumi mengendalikan waktu dan mengubah Rokuro menjadi bayi.
"AHHHHHHH...!!! Koizumi!? Apa yang kamu lakukan!?" Teriak Haruka keras, ia segera mengembalikan Rokuro sebelum Koizumi mengubah dirinya kembali menjadi sesuatu yang lebih kecil.
"Hahahahaha~" Koizumi mulai tertawa sambil berguling di atas lantai karena memainkan waktu jauh lebih menyenangkan dibandingkan makanan yang Rokuro beli.
Beberapa menit kemudian, Koizumi tertidur karena sudah merasa puas bermain sampai ia juga membutuhkan waktu tidur siang untuk mengembalikan semua Lenergynya.
"Cepat...! Dia tertidur, kita juga harus mendapatkan waktu istirahat!" Seru Haruka yang mulai berbaring di atas karpet di sebelah Koizumi sedangkan Rokuro duduk selagi memejamkan kedua matanya.
"Daaaaa~ Gagagaga..." Koizumi baru saja selesai menikmati tidur siangnya karena dirinya baru saja mempercepat waktu bagi dirinya sendiri.
"Apa...?" Rokuro terkejut melihat Koizumi hanya tidur selama 5 detik, Haruka dan Rokuro menatap satu sama lain lalu mereka menghela nafasnya mereka masing-masing.
__ADS_1
"Rokuro, aku memiliki ide..."
"Ide apa...?"
"Peliharaan... keluarkan Mammon cepat."
"Apa?"
"Cepatlah lakukan...!"
Pada akhirnya, Mammon mendapatkan siksaan waktu oleh Koizumi dimana ia terus terjebak di dalam sihir waktu tanpa jeda apapun dan kedua orang tua itu berhasil mendapatkan istirahat yang nyenyak.
***
Bam! Bam! Bam!
"Hinoka...!!! Jangan meledakkan apapun sembarangan... mengubah realitas dengan ledakan itu adalah hal yang terlarang!" Honoka mencoba untuk mencari Hinoka yang pergi entah kemana.
Sebagian dari barang dan alat rumah tangganya telah meledak karena Hinoka yang mengubah semua menjadi ledakan kecil tetapi mengandung suara yang cukup mengganggu tetangga.
Honoka membuka pintu ruang tamu dan ia melihat Hinoka menghilang entah kemana, "Hinoka...!? Astaga, Bakuzen! Bantu aku mencari Hino---"
"Mama..." Honoka terkejut ketika mendengar suara Hinoka di bawahnya, ia bisa melihat anaknya sedang berbaring selagi memegang sebuah granat.
"Ahhh...!" Honoka mengubah granat itu menjadi mainan menggunakan sihir realitas.
"Hinoka... sudah berapa kali kamu mengubah apapun menjadi ledakan... hentikan, kamu kemarin bahkan sampai melempar Molotov ke rumah tetangga." Honoka menggendong Hinoka.
"Hahahahaha~"
"Ibu melarangmu untuk---"
"HWEEHHHHHHHH..."
"I-Iya... jangan lebih dari tiga kali saja..." Kata Honoka dengan tatapan lelah karena ia sendiri belum mendapatkan istirahat yang cukup karena sering di tegur oleh para tetangga.
Untungnya Honoka tinggal di desa yang cukup kecil dan semua penduduknya juga mengerti dengan situasi yang di hadapi oleh Honoka dan Bakuzen, anak mereka Hinoka sangat menyukai ledakan.
"Kalau begitu... mau tidur?" Honoka mulai memberi anaknya sebuah kecupan di bibir.
"Mmmm..." Hinoka mengubah mainan itu menjadi granat.
"Baiklah... untuk yang terakhir ya...?" Kata Honoka.
"Sudahkan? Tidur yuk---"
"HWEEEEEHHHH...!!! wedakwan... wedakwan...!"
"Kau ingin melihat ledakannya!?"
"Aahhhhhhh...! Jadi seorang Ibu ternyata sulit...!!!"
"Sudahlah, Honoka, biar aku saja yang mengambil alih soal Hinoka." Bakuzen mulai menggendong Hinoka dan membawa dirinya keluar.
"Jangan sampai dia tidak tidur siang..." Kata Honoka.
Pada akhirnya, Hinoka tertidur setelah ia berhasil meledakkan sebuah gunung yang ia jadikan sebagai makanan sampai dirinya merasa puas dan tertidur seketika.
***
"Nyonya, aku baru saja mendapatkan pesan dari Arata bahwa semua persiapan sudah selesai." Kata Tech yang mulai melaporkan semua informasi penting kepada Kou.
"Baiklah... jadwalku hari ini sangat sibuk dan panjang... hmm, aku akan mengurus keluarga Shimatsu terlebih dahulu." Kou menutup dokumennya lalu ia menyentuh kacamatanya sampai Super Tech terbang ke arah Kou.
Kou langsung menggunakan Super Tech untuk pergi mengunjungi beberapa orang yang membutuhkan bantuan dirinya, ia juga tidak lupa untuk pamit kepada Shuan yang saat ini terus tidur, mencoba untuk melupakan Minami.
Dengan kecepatan penuh Kou pergi menuju sebuah pulau tersembunyi dimana Ophilia dan Arata berlindung di sana untuk melanjutkan hidup mereka dari nol.
Tidak lama kemudian, Kou bisa melihat restoran besar yang sangat mewah dan banyak sekali pelanggan berdatangan untuk menikmati hidangan yang di sediakan oleh restoran itu.
Kou mendarat di atas tanah dan ia mendapatkan beberapa sambutan dari semua pelanggan itu, Kou melepaskan zirah bagian kepalanya lalu ia melirik sekeliling dan melihat seluruh pelayan yang ia sewa bekerja dengan baik.
Kou mulai melewati semua pelanggan itu untuk mengunjungi dapur dan ia melihat Arata bersama Ophilia sedang memasak seperti biasanya dengan sedikit penyamaran agar tidak ada yang mengetahui mereka.
"Selamat siang..."
"Ahh, Kou." Ophilia melihat Kou dan ia langsung tersenyum.
"Sepertinya bisnis sudah berjalan dengan lancar ya...? Syukurlah, kalian bekerja dengan baik." Kou mengangguk, merasa puas bahwa semuanya berjalan lancar.
"Semua ini berkat dirimu, Kou... kami selalu meminta bantuanmu, dan tentunya kita akan membalas budimu suatu saat nanti ketika kamu membutuhkan sesuatu."
"Aku hanya membutuhkan kebahagiaan dan senyuman kalian... sudah cukup, kalau begitu lanjutkan pekerjaannya ya, jika ingin sesuatu maka hubungi saja aku." Kou memasang kepala zirah bagi kepalanya.
__ADS_1
"Tunggu, Kou." Kata Ophilia, ia bergegas menghampiri rumahnya untuk mengambil sebuah koper yang berisi berlian.
"Kami sudah tidak membutuhkannya---"
Kou mulai menyentuh itu, dan menolak koper tersebut karena ia datang untuk memberikan biaya kehidupan mereka, ia juga tidak ingin mendapatkan kembaliannya.
"Sudah lah, terima saja... tabung untuk sesuatu, kalian pasti membutuhkan liburan juga bukan?" Tanya Kou.
"Kau ada benarnya... tetapi kita sudah menjadi buronan."
"Dengan menyamar, semuanya akan aman-aman saja. Aku juga memiliki banyak tempat liburan yang sudah ku beli, mungkin kalian akan suka." Kou memberikan Ophilia beberapa tiket.
"Kalau begitu sampai jumpa, aku harus bertemu dengan beberapa orang..." Kou berjalan pergi dan ia mulai terbang ke atas langit lalu melaju penuh kecepatan ke arah pulau Neko Island.
"Sekarang aku mengerti kekuatan Kou yang sebenarnya..." Arata mulai berbicara.
"Kekuatan Kou...?"
"Ya, bukan The Mind melainkan hatinya yang begitu emas dan tulus untuk membantu siapa pun... dia memang gadis yang berbeda." Arata mulai mematikan kompornya.
"Hm... kamu benar..." Ophilia terkekeh.
"Tiga apel memang tidak jatuh jauh dari pohonnya."
***
Kou mendarat di Neko Island, ia bisa melihat banyak sekali bangsa Neko Legenda sedang menjalani kehidupan seperti biasanya tanpa persetujuan apapun.
"Selamat datang, ratu Touriverse." Kepala desa Neko Isle bernama Meko datang untuk menyambut Kou.
"Meko, selamat siang. Bisakah aku bertemu dengan Hana?" Tanya Kou.
"Hana? Dia sedang mengajar di akademi... mungkin lima menit lagi bel istirahat kedua akan berdiri, kamu bisa menunggu dirinya di dalam kok."
"Baiklah, kalau begitu permisi." Kou terbang menghampiri akademi.
Beberapa menit kemudian, Hana baru saja selesai mengajar beberapa murid dan ia ingin menikmati istirahat dengan mengambil beberapa makanan sehingga ia mulai dikejutkan oleh Kou yang sedang duduk di kursi kerja.
"Halo, guru, selamat siang." Kou terkekeh.
"Kou... hahaha, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Hana, ia menempati semua kertasnya di atas meja.
"Semuanya berjalan baik-baik saja?"
"Ya... mereka semua ternyata sangat menurut, aku sudah terbiasa menjadi seorang guru yang dapat mengajar mereka semua tentang hal baik."
"Syukurlah... ehh... aku juga sadar bahwa kamu mengenakan telinga dan ekor kucing palsu, terlihat sangat cocok." Kou bangkit untuk memberikan Hana tempat duduk.
"Kou, terima atas semua kebaikanmu... aku sekarang sudah dapat melanjutkan kehidupan baru, dan tentunya memenuhi mimpi Minami yang belum terpenuhi." Hana menundukkan kepalanya kepada Kou.
"Hm~ sama-sama, jika membutuhkan sesuatu maka hubungi saja aku."
Hana tersenyum, dan terkejut ketika melihat perut Kou yang sedikit membesar sampai ia langsung menyadari sesuatu bahwa Kou mungkin sedang hamil.
"Kou... kamu... sedang hamil?"
"Hehehe, iya... baru saja beberapa hari, bukan sesuatu yang spesial kok. Aku juga belum memberitahu Shuan karena ia terus melakukan hibernasi."
"Astaga, suami yang tidak bertanggung jawab tetapi aku juga mengerti dengan kondisinya itu..." Hana memasang wajah sedih sebentar lalu ia meraih tangan Kou
"Aku memiliki sebuah hadiah awal untuk anakmu, kamu masih ingat perkataan Minami sejak Neko Isle lahir...?"
"Ahh...! Dia ingin mewariskan semua barangnya kepada anakku ya?" Tanya Kou.
"Itu benar, aku sudah memajang semua barangnya dengan baik dan benar. Sudah waktunya untuk memberinya kepadamu, ayo." Hana membawa Kou menuju rumah Minami yang sekarang menjadi rumahnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Hana membuka laci milik Minami lalu ia mengeluarkan sebuah ikat rambut, penutup mata, dan syal.
"Ketiga barang itu selalu Minami kenakan ketika bertarung... kebetulan, ia terakhir menggunakan ketika berhadapan dengan Zoiru."
Kou memegang erat ikat rambut itu, "Baiklah... aku akan memberikannya kepada anakku jika sudah waktunya."
"Sekali lagi.... terima kasih atas kerja kerasmu, ratu Touriverse." Hana menundukkan kepala kepada Kou.
"Ayolah, jangan memanggilku seperti itu. Semua teman dan keluargaku memanggil diriku Kou... Kou Comi."
"Kalau begitu aku akan mengurus pekerjaan lainnya ya."
"Ehh...? Jangan memaksa diri, kamu sedang hamil."
"Tenang saja, kalau begitu... aku berangkat dulu." Kou memasang zirah bagian kepalanya lalu ia terbang meninggalkan Neko Isle dan Hana melihatnya.
"Golden Heart..."
__ADS_1
"...ya?"