
Korrina menarik keluar sebuah Keris yang tersimpan dalam sarung lalu ia memasang tatapan kaget ketika melihat semuanya masih utuh sampai Keris itu tetap merespon dirinya sebagai pemiliknya.
"Ahh ya, aku mengingatnya dengan jelas... Keris yang dihasilkan dari segala senjata untuk menghentikan Komi, tetapi sekarang aku sudah tidak membutuhkannya lagi."
Korrina mulai menyentuh bilah Keris itu lalu ia bisa merasakan banyak sekali aliran kekuatan murni di dalamnya sampai Shinobu ingin sekali bisa menguasai Keris tersebut sampai dianggap sebagai pemilik barunya.
"Mama tidak pernah menguasai rahasia dari potensi dan kekuatan Keris ini..."
"...sama halnya dengan Koneko yang tidak bisa menggunakan Keris tersebut sebagai sumber kekuatan yang hebat, hanya bisa dipakai untuk senjata biasa saja."
"Ya, menguasai Keris dari gabungan seluruh kekuatan dari pedang tak terhitung itu memang sulit."
"Aku sendiri baru saja menguasai tahapan yang ketiga, dan sisanya tidak bisa dilanjutkan lagi karena aku sudah memiliki pedang sendiri." Korrina memegang erat Keris tersebut sampai mereka dapat melihat bilahnya diselimuti dengan aura Crimson.
"Aku mewarisi pedang ini kepada Kou hanya untuk dijadikan sebagai perlindungan untuk dirinya, aku dengar ia berhasil menggunakannya kepada Zoiru..."
"...tetapi bagaimana untukmu, nak?" Tanya Korrina kepada Shinobu.
Shinobu menggelengkan kepalanya lalu memasang ekspresi kecewa, "Rasanya Keris itu masih belum bisa menerima diriku sebagai pemilik barunya..."
"...itulah kenapa aku lebih memilih menggunakan kekuatanku sendiri bersamaan dengan cakar emas ini." Shinobu memanjangkan cakarnya yang berwarna emas.
"Kalau begitu kamu memang perlu berlatih untuk menumbuhkan kebutuhan itu, keinginan tidak dapat bisa membawa dirimu ke puncak dimana Keris itu bisa membutuhkan dirimu."
Kebutuhan dan keinginan mulai Shinobu pikirkan tanpa henti ketika Shira dan Korrina mengatakannya, "Kekuatan datang sebagai tanggapan atas kebutuhan..."
Korrina tersenyum lalu ia mencoba untuk mengelus kepalanya tetapi dirinya masih menolak untuk menyentuhnya sedikit pun karena rasa benci yang ia miliki untuk dirinya.
"Itu tadi perkataan yang selalu Shira ucapkan ya? Dia memang tidak pernah berubah sama sekali ya..." Korrina menempati kembali Keris itu di atas meja lalu ia bisa merasakan lengan Shinobu.
"Nenek, aku sudah tidak membenci Nenek lagi kok." Ucap Shinobu selagi meraih tangannya itu hanya untuk menepatinya di atas kepala.
"Mama pasti akan senang melihat Nenek kembali dengan selamat, hal itu juga sudah pasti akan membuat diriku lebih senang untuk melihat ratu Touriverse pertama..."
Shinobu tersenyum lembut karena ia sudah bisa melihat kehebatan dari Neneknya sendiri yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, Korrina tersenyum lalu ia memeluk Shinobu erat.
"Terima kasih... karena sudah membiarkan diriku memperbaiki hubungan..."
Pelukan Korrina bertambah semakin erat sehingga Shinobu hanya bisa diam karena ia dapat membaca pikiran dan perasaannya yang tercampur rasa rindu serta penyesalan.
Rasanya ia seperti memeluk Kou dan Shinobu secara bersamaan karena kemiripan itu, "... ..."
Shinobu tersenyum lalu ia mengelus kepala Korrina pelan-pelan, mencoba untuk memberi dirinya waktu agar bisa menikmati kerinduannya itu untuk memeluk seseorang yang mirip dengan putrinya.
Setelah semuanya kembali seperti biasa, Shinobu sudah berpikir untuk membahas Ragnarok dengan Korrina karena ia mengetahuinya lebih dulu dari mereka berkat membaca isi buku yang berada di dalam perpustakaan sejak itu.
Beberapa menit kemudian, Shinobu melihat Korrina yang terkesan dengan ruangan bawah tanahnya dipenuhi berbagai macam teknologi dan sistem berbeda.
Setiap ruangan juga memiliki kelebihannya sendiri, tetapi yang paling banyak ia lihat adalah buku sampai sebagiannya berserakan dan bertumpuk di atas meja karena selesai dibaca oleh Shinobu.
"Nenek bangga melihat dirimu masih berjuang keras ya, tingkatkan..." Korrina menatap Shinobu yang mulai mendekati dirinya.
"Nenek, aku ingin membicarakan sesuatu tentang Ragnarok."
"Apakah tidak apa-apa?" Tanya Shinobu selagi memiringkan kepalanya.
Korrina kembali memasang ekspresi serius karena ia tidak bisa bersantai terlalu lama untuk menghadapi persiapan Ragnarok, "Apa yang kau ingin bahas?"
"Aku siap untuk mendengarnya kapan pun..."
"Dimulai saja dari sejarah Ragnarok sampai titik dimana kita harus mempersiapkan perang itu dengan seluruh penghuni Touriverse yang sebagiannya masih rusak."
***
Arata saat ini memperhatikan Koizumi dan Hana yang sedang melakukan latih tanding, motivasi mereka dapat dirasakan dengan jelas karena berita yang Korrina sebutkan sebelumnya tentang Ragnarok.
__ADS_1
Sampai sekarang Arata mengkhawatirkan akan dua hal yaitu Ragnarok serta hubungan cucunya dengan Korrina yang dapat mempengaruhi perkembangan dirinya dalam segi keturunan Comi.
"Ragnarok..."
Arata mencoba untuk memanggil Kuro tetapi ia sadar bahwa dirinya mungkin tidak ingin membahas tentang sejarah yang mengerikan itu.
Perasaan ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh seluruh orang dalam perang Ragnarok dapat ia mengerti sekarang karena sebelumnya Koizumi memperlihatkan sebuah jam pasir.
Jam pasir itu berputar untuk menunjukkan sejarah Ragnarok yang benar-benar mengerikan, saking banyaknya orang berperang dan berjatuhan satu per satu sampai mereka tidak begitu yakin bisa selalu bersama dan bersatu di perang itu.
"Aku tidak bisa membiarkan dirinya membenci Korrina tanpa henti... padahal aku dan Kuro juga sempat melukai dirinya sejak insiden Komi yang menyamar menjadi dirinya."
Arata mulai bertepuk tangan cukup keras sampai menghentikan pertarungan mereka berdua, Koizumi mengalihkan pandangannya kepada Arata yang meminta dirinya untuk turun secepat mungkin agar bisa membahas tentang Korrina.
Beberapa menit kemudian, topik pembicaraan yang dibawa Arata hanya membuat Koizumi semakin muak dan kesal ketika mendengar nama dari Neneknya sendiri.
"Koizumi, apakah kamu yakin tidak ingin menjalani hubungan cucu dan nenek yang baik dengan Korrina...?"
"Seharusnya kau sadar bahwa dirinya melakukan semua ini karena tidak memiliki pilihan lain selain memeriksa apa yang ada di luar sana..."
"...jika dirinya tidak pergi maka kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, intinya dia sudah melindungi kita semua dari jauh dengan menahan penghuni setiap layer termasuk Kountraverse."
"Memendam kebencian tidak akan bisa mengubah apapun, terutama lagi Haruka memang menantikan kedatangan Korrina tetapi terlambat..."
"...keterlambatan itu bisa kau perbaiki dengan bersikap baik kepada Nenekmu yang sudah pulang dari perjalanan panjang."
"Setidaknya berikan dia kasih sayang yang ia butuhkan dari cucunya sendiri, Korrina sudah menanggung banyak sekali beban sejak ia pergi..."
"...dan dia datang terpaksa untuk menerima kesakitan lainnya yang harus ia terima secara paksa dalam satu hari tetapi ia tetap memiliki tekad untuk melanjutkan hidupnya."
Koizumi hanya bisa diam selagi menatap daratan karena ia sendiri masih tidak bisa menerima kedatangan Korrina yang terlambat, "... ..."
"Kau hanya memberikan kesakitan yang membekas pada dirinya, aku juga pernah mengalami hal yang sama tetapi dengan menunjukkan kebencian kepada seseorang yang dekat denganmu bukanlah jawaban."
"Dia juga sudah bersujud di hadapan dirimu, apakah kamu masih tidak ingin menerima seseorang yang dekat dengan Ibumu juga?" Tanya Arata selagi menyilangkan kedua lengannya.
"Baiklah..." Jawab Koizumi yang mulai menyilangkan kedua lengannya lalu ia menatap arah lain.
"...dengan satu syarat."
***
"Apakah kamu sudah melupakannya, Hinoka?" Tanya Shizen yang melihat Hinoka duduk di atas tanah melamun.
"Ahahaha... entah kenapa aku merasa pusing tadi, mungkin diriku masih belum bisa merelakan kepergian dari Mama terutama lagi dia berbohong padaku."
"Ahh, rasanya aku juga terseret ke dalam kesalahan karena sudah marah kepada Nenekku sendiri, seharusnya aku bisa mengubahnya dengan menjalani hubungan baru."
Hinoka menyesal seketika memikirkan kembali kejadian sebelumnya dimana ia bisa melihat ekspresi Korrina yang terlihat bingung serta sedih ketika semua kematian putrinya adalah kesalahan dirinya sendiri.
"Kau akan meminta maaf kepada dirinya?" Tanya Shizen.
"Ya, besok pagi aku akan segera mendatangi dirinya dan membiasakan traumaku tentang Ibuku lalu menceritakan semua yang aku inginkan kepada Nenek."
Hinoka menepuk wajahnya beberapa kali hanya untuk mencoba melupakan semua hal mengerikan ketika ia melihat Ibunya gugur kehilangan banyak sekali anggota tubuh serta darah.
***
Korrina dan Shinobu membahas Ragnarok berjam-jam selagi duduk di atas lantai, semua pembahasan itu memicu Shinobu untuk berpikir lebih jauh lagi tentang Ragnarok yang ternyata hanya sebuah cobaan.
Cobaan untuk memperlihatkan siapa yang layak bertahan melawan penghuni dari layer di bawah Touriverse, "Ternyata kita hanya sekedar pion dan budak yang dipakai oleh Zephyra ya..."
"Cukup mengejutkan sekali ya, Koneko..."
"...Kou tidak pernah menggunakan The Mind sampai titik ini tetapi kamu dapat menggunakannya tanpa masalah sama sekali."
__ADS_1
"Ada batasan tertentu, karena Mama tidak bisa menguasai dan mempertahankan The Mind karena kondisinya jadi ia hanya bisa memanfaatkan Heaven's Mind saja."
"The Mind akan menghilang jika orang itu pernah belajar dalam segala hal serta mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih terbuka dengan apapun..."
"...pikiran terbuka serta perjuangan besar dibutuhkan untuk memperlihatkan potensi asli dari The Mind." Kata Shinobu sambil membaca buku.
Pembahasan tentang Ragnarok itu mengaitkan ke masalah Touriverse juga ketika Korrina tidak ada, ia sekarang berbicara secara langsung kepada Legenda yang berhasil memusnahkan umat Manusia dan alam semestanya.
"Koneko."
"Mm?" Shinobu menatap Korrina dengan tatapan polos.
"... ...!!!" Korrina memasang tatapan kaget ketika melihat ekspresi Shinobu berubah drastis menjadi serius termasuk kedua matanya yang memerah karena ia tahu isi pikirannya.
"Apakah kau ingin membahas tentang Touriverse dan setengah penghuninya yang sudah aku musnahkan?" Tanya Shinobu.
"Dengar... percuma saja jumlah penghuni Touriverse itu banyak tetapi isinya hanya dipenuhi dengan makhluk-makhluk tak berguna yang hanya merugikan dunia itu sendiri..."
"...Manusia dan mereka yang memihak sesuatu lebih berkuasa adalah salah satunya, itulah kenapa aku memutuskan untuk menghancurkan mereka tanpa memberikan perubahan."
"Perubahan memang sudah aku biarkan terjadi tetapi perubahan itu hanya akan memicu kebencian kepada satu sama lain sehingga menyebabkan kekacauan lain kepada Touriverse..."
"...yang rugi kita semua, Yuutouri sudah tidak pantas memenuhi kriteria mempertahankan Touriverse."
"Jika mereka bertarung, aku tidak begitu yakin bisa bertahan selama beberapa detik..."
"...percuma saja kita memiliki jumlah yang lebih tetapi kita malah kehilangan banyak sekali jumlah yang dapat memberikan kesempatan kalah kita meningkat besar."
Shinobu bangkit dari atas lantai dengan tatapan tajamnya itu seperti hewan buas, "Aku sudah tidak bisa membiarkan apapun berjalan sesuai yang mereka pikirkan..."
"...aku tidak segan untuk menghancurkan apa yang aku anggap salah di pandanganku, walaupun sebagian orang berpikir itu adalah kebenaran dan keadilan."
"Pikiranku jauh lebih terbuka... itulah kenapa aku akan tetap maju untuk mengakhiri semua ini demi masa depan yang lebih baik."
"Harapanku bersinar... sinar itu dapat membutakan mereka yang terus melihatnya, tetapi tidak untuk mereka yang mempercayai apa yang akan coba lakukan." Shinobu melangkah pergi.
Sekarang Korrina mengetahui jelas apa yang Shira coba jelaskan, "Dia benar-benar memiliki kecerdasan dan pikiran terbuka seperti Kou..."
"...namun ia juga memiliki tekad besar dari seorang Shiratori dan keturunan Comi yang dulunya ingin menghancurkan para Dewa serta dunianya dalam pandangan sendiri."
"Salah satunya adalah diriku..." Korrina bangkit dari atas lantai lalu ia dapat mendengar suara yang sangat tidak asing di belakangnya.
Korrina menoleh ke belakang lalu ia bisa melihat pintu besi dengan tanda di larang masuk, suara yang ia dengar terus membuatnya penasaran sampai ia melangkah maju lalu membuka pintu besi tersebut.
Apa yang ia lihat di balik pintu tersebut mengejutkan dirinya karena ia bisa melihat sebuah tabung dengan seekor Eldritch di dalamnya yang berbentuk tidak asing bagi dirinya.
"Ahh...!?" Eo'syl...!?" Tubuh Korrina merinding seketika melihat Eldritch itu ternyata masih hidup.
Penyebab Ragnarok tetap ada karena memberikan kebebasan untuk semua Singularitas serta menyebabkan kekacauan di seluruh layer karena sihir yang terhapus.
"Heaven’s Prime!!!" Korrina memunculkan katana itu untuk menghancurkan Eo'syl, tetapi...
"The Mind!"
Korrina seketika merasakan penghentian dalam tubuhnya sendiri, ia mencoba untuk menyerang Eldritch tetapi tubuhnya tidak mau bergerak serta mengikuti apa yang ia inginkan.
"Nrgghh... A-Apa yang terjadi...?!" Korrina memasang ekspresi kesal lalu ia mendengar suara langkahan di belakangnya sampai ia dapat melihat Shinobu berdiri di hadapannya.
Ekspresinya terlihat sangat serius dan kesal karena Korrina hampir saja menghancurkan sebuah kunci yang dapat memberikan Shinobu jalan menuju sesuatu yang lebih luas agar bisa bebas dari labirin itu.
"Aku tahu, Nenek..."
"...dia adalah penyebab kenapa Ragnarok kembali bangkit."
"Tetapi... aku tidak akan membiarkan dirimu menghancurkan Eo..."
__ADS_1