Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 168 - Yang Terbaik


__ADS_3

Korrina membuka kedua matanya dan ia mulai sadar bahwa dirinya berada di sebuah tempat yang dipenuhi dengan cahaya putih, seorang dewi kematian datang untuk menemui-nya dengan sebuah sabit di tangan kanan-nya. Korrina mulai tersenyum pahit ketika sadar bahwa dirinya benar-benar mati karena sudah mengorbankan diri untuk menyelamatkan Touri.


"Aku benar-benar mati ya...?" Tanya Korrina kepada Dewi itu.


"Benar sekali... Kau mati karena efek dari sihir Crimson yang merusak tubuh-mu secara keseluruhan, kematian-mu tidak sia-sia karena kau sudah mengorbankan diri untuk menyelamatkan semesta Touri." Kata Dewi kematian itu.


"Hei... Apakah aku sesosok Mortal yang berguna di kehidupan-ku ini...?" Tanya Korrina, air mata mengalir keluar melalui kedua matanya karena dia benar-benar merindukan Haruka dan yang lain-nya.


"Kehidupan-mu selalu berguna... Tidak ada kehidupan yang tidak berguna, tetapi kehidupan-mu dan aksi yang kau lakukan selama hidupmu itu mampu membuat seluruh Dewa dan Dewi terkesan... Tidak ada satupun makhluk yang terlihat kesal atas perbuatan-mu, mereka semua pada akhirnya terkesan dan kagum ketika melihat dirimu." Dewi itu mulai tersenyum kepada Korrina sampai ia tidak mempercayai reaksi yang akan ditunjukkan oleh Dewi kematian itu.


Alvenius muncul tepat dihadapan Korrina sampai membuat dirinya terkejut karena seseorang yang hidup dapat mengunjungi seseorang yang mati, "K-Kau...? Kenapa kau bisa datang mengunjungi-ku di dunia kematian...?" Tanya Korrina bingung.


"Aku sudah mendapatkan ijin dari dewa kematian, sepertinya semua orang benar-benar terkesan dengan aksi pahlawan-mu itu, Korrina." Kata Alvenius.


"Itu bukan aksi pahlawan... Itu adalah aksi yang sangat gegabah, aku menyia-nyiakan hidupku dan hasilnya aku membuat kalian semua berakhir dengan tangisan yang menyedihkan, aku bahkan sudah tidak bisa lagi melihat Haruka-ku..." Korrina menundukkan kepalanya, Dewi kematian dan Alvenius mulai menatap satu sama lain lalu mengangguk.


"Seharusnya kau berterima kasih kepada para Dewa dan Dewi yang sudah mengijinkan-mu untuk masuk ke dalam ruangan arwah ini... Kau berada di sebuah ruangan dimana orang yang mati tidak akan bisa merasakan-nya... Hanya orang-orang gugur tertentu yang bisa masuk ke dalam ruangan ini." Kata Alvenius.


"Apa yang kau maksud?" Tanya Korrina.


"Sepertinya tujuan hidup-mu masih banyak ya, seseorang yang menggunakan kehidupan-nya untuk melakukan hal-hal yang berguna itu pasti akan dihormati oleh banyak Dewa termasuk Dewa kematian itu tersendiri... Aku Clare sang Dewi kematian sungguh terharuĀ  dengan aksi hebat-mu itu, Korrina." Dewi kematian yang bernama Clare itu mulai menundukkan kepala-nya kepada Korrina untuk menunjukkan rasa kehormatan-nya.


"Apakah kalian mencoba untuk menghidupkan-ku kembali...? Kalian ingin memberikan diriku kesempatan kedua...?" Korrina mulai menatap mereka dengan ekspresi yang terkejut dan juga terharu, air mata mengalir deras bahwa dirinya tidak akan menyangka bahwa ia memiliki kesempatan untuk kembali hidup lagi.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk segala-nya, Korrina... Alvin pasti bangga dengan perbuatan-mu..." Alvenius tersenyum hingga Alvin muncul tepat di sebelah Korrina sampai membuat dirinya terkejut dan semakin terharu ketika melihat-nya.


"Aku selalu memperhatikan-mu di dunia kematian, Korrina. Kau benar-benar berubah, kau sekarang mengenal banyak sekali orang yang dapat membantu-mu untuk meraih kedamaian...! Kau benar-benar sangat hebat, aku tidak pernah salah untuk memilih-mu menjadi istriku." Alvin mulai menggenggam kedua tangan-nya sampai membuat Korrina menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Aku... selalu merindukan-mu... Alvin...!" Korrina memeluk Alvin dengan sangat erat hingga ia terus menangis.


"Hiduplah sampai kau benar-benar bisa melihat tujuan kenapa Touri itu bisa ada... Kau harus menjaga, Haruka dan yang lainnya... Kau mencoba untuk menggantikan diriku juga tidak apa-apa..." Alvin menatap Korrina lalu tersenyum, ia mulai melepaskan asap yang mampu membuat dirinya menjadi arwah yang terbang ke atas.


"Tidak akan..."


"Semua ini memalukan ya... Aku tidak pernah menyangka bahwa diriku akan diberi kesempatan kedua untuk hidup dan melindungi Touri lagi..." Korrina menghapus air matanya dan setelah itu ia menatap Alvenius yang terlihat bersalah.


"Kesempatan dua itu aku berikan untuk-mu, Korrina." Alvenius mulai berbicara hingga Korrina melebarkan kedua mata-nya, dia mulai mengerti apa yang dia coba maksud karena kehidupan Alvenius pasti akan ia korbankan untuk kesempatan hidup Korrina yang kedua.


"T-Tidak mungkin... Ternyata semua ini... Kau merencanakan-nya...!?" Korrina mulai merasa kesal, ia mencoba untuk menolak-nya tetapi kontrak bersama Dewi kematian sudah Alvenius buat hingga Clare menunjukkan kontrak itu kepada Korrina dan ia segera mengambil-nya.


Isi dari kontrak itu mengatakan bahwa Alvenius akan mengorbankan nyawa-nya untuk memberi Korrina kesempatan kedua-nya, kontrak itu hanya bisa diciptakan jika sang Dewi setuju dengan yang dipikirkan oleh seseorang yang ingin melakukan kontrak tersebut. Korrina menggenggam erat kontrak tersebut dan ia mulai menampar wajah Alvenius dengan ekspresi yang terlihat kesal.


"Kau memang sama bodoh-nya seperti Alvin...!!!" Seru Korrina keras, Alvenius hanya bisa diam sambil meraba pipi-nya yang terkena tampar oleh-nya.


Korrina mulai memeluk Alvenius erat, "Maafkan aku... Seharusnya aku tidak menampar-mu tadi, terima kasih... Sejauh ini aku baru saja melihat ras Eternal yang sangat sopan seperti dirimu, Alvenius. Akan aku gunakan kesempatan kedua ini untuk bertahan hidup dan melindungi mereka semua."


"Ya... Aku percaya itu, kami akan melihat perjuangan-mu di atas sana. Sekarang kau benar-benar sudah berubah... Rambut-mu yang pendek dengan warna merah dan kedua pupil-mu yang berwarna biru tua membuat dirimu menjadi sesosok gadis yang sangat cantik." Alvenius mampu membuat Korrina, ia segera melepas pelukan itu lalu menutup wajah Alvenius menggunakan telapak tangan-nya.


"B-Bodoh, jangan mencoba untuk menggoda-ku seperti itu...! Lebih baik kita mengucapkan kata-kata perpisahan kita sebelum aku mencintaimu...!" Korrina menyilangkan kedua lengan-nya dan ia mulai mengalihkan pandangan-nya.


Clare tertawa terbahak-bahak melihat mereka, sudah saatnya untuk melaksanakan kontrak. Korrina dan Alvenius mulai saling menundukkan kepala mereka dan mengucapkan kata perpisahan mereka, Korrina benar-benar bersyukur dan kagum ketika melihat Alvenius mau membantu-nya dan memberi dirinya kesempatan untuk hidup.


"Kehidupan-ku ini tidak ada gunanya, Korrina. Kehidupan-mu sangatlah berguna bahkan sampai membawa banyak kebahagian untuk orang sekitar." Alvenius tersenyum, tubuhnya mulai dipenuhi dengan asap putih yang mengartikan bahwa arwah-nya akan berubah menjadi sumber kehidupan baru untuk Korrina.


"Hm... Terima kasih, Alvenius... Aku janji akan menggunakan kesempatan kedua ini untuk melindungi Touri dan teman-temanku!" Jawab Korrina.

__ADS_1


"Transfer Soul!" Clare mulai mengubah arwah Alvenius menjadi sebuah kehidupan untuk Korrina, Korrina mulai disinari dengan cahaya putih dimana ia segera menatap kedua telapak tangan-nya dengan ekspresi yang terlihat terkejut.


"Sampai jumpa lagi, Korrina. Kali ini, kau harus menyusul suami-mu dalam waktu yang lama ya... Carilah jawaban yang kau masih ingin ketahui! Carilah sampai tingkat kesempurnaan!" Kata Clare dan Korrina mengangguk hingga kedua penglihatan-nya mulai buram dan menunjukkan ruangan kamar-nya yang terlihat bersih.


Korrina menghampiri cermin untuk melihat penampilan-nya, tidak ada yang berubah kecuali rambut pendek-nya yang berwarna merah dan kedua pupil-nya yang berwarna biru tua. Ia sontak kaget ketika lensa mata-nya masih ia gunakan, itu artinya dia dapat berkomunikasi dengan Tech.


"Tech... Kau bisa dengar aku...?" Tanya Korrina.


"Selamat datang kembali, Korrina Comi...! Sungguh senang bisa mendengar suara-mu dan penampilan-mu yang sangat berbeda ini, kau terlihat lebih cantik dan indah sekarang. Sudah satu minggu aku tidak mendengar suara-mu." Sistem yang diciptakan oleh Korrina bahkan memiliki perasaan rindu untuk melihat dan mendengar kembali suara pencipta-nya.


"Maaf, sepertinya aku beristirahat dalam waktu yang cukup lama..." Kata Korrina dengan nada lemah lembut-nya, ia benar-benar tidak menyangka bahwa satu minggu telah berlalu sejak kematian-nya itu.


Korrina menghampiri jendela dan melihat batu nisan-nya yang dipenuhi dengan bunga, terdapat beberapa orang yang sedang berlutut di depan batu nisan itu... membuat dirinya merasa terharu karena Arata berada di tempat itu sambil memberi dirinya rasa hormat, ia juga bahkan tidak menyangka bahwa Sakti datang untuk menghormati-nya dirinya juga.


Di lantai bawah Korrina bisa mendengar suara orang-orang yang sedang menikmati makanan mereka, ia mulai berpikir cara agar ia bisa bertemu dengan mereka semua dan menjelaskan kepada mereka semua kenapa ia masih bisa hidup tetapi semua itu terlambat ketika pintu kamar-nya terbuka oleh Haruka yang terlihat masih kecil.


"... ...!" Korrina melirik kepada-nya lalu melebarkan matanya ketika melihat Haruka yang sama terkejut-nya dengan dirinya.


"Heh...?" Haruka mulai merinding ketika melihat Ibu-nya yang berada tepat di hadapan-nya, air mata mengalir deras melalui kedua matanya. Saking senang-nya Haruka tidak bisa mengatakan apapun kecuali mendekatinya sambil menggerakkan kedua lengan-nya seperti anak kecil yang baru saja mempelajari cara untuk berjalan.


Korrina ikut menangis ketika melihat anak-nya yang benar-benar terharu sampai tidak bisa mengatakan apapun ketika bertemu dengan-nya, ia mulai mendekati Haruka lalu memeluk-nya dengan sangat erat dan memberinya kecupan di seluruh wajah-nya.


"Aku pulang, Haruka... Apa yang Mama katakan sejak itu...? Semua-nya akan baik-baik saja..."


"...Ma...Ma..."


"Hweeeeeeehhhhhhhh...!!!" Haruka menangis tersedu-sedu dan suara tangisan-nya bisa terdengar cukup keras, Korrina hanya bisa tersenyum dan merasa lebih bersyukur dari sebelumnya bahwa ia memiliki kesempatan kedua untuk bertemu dengan-nya.

__ADS_1


"Ssshhh... Mama pulang..."


__ADS_2