Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 750 - Kesatria Zodiak Aquarius dan Cancer


__ADS_3

"Mggggghhhhhhh...!!!" Konomi merasakan kesakitan dahsyat di bagian lidahnya bahkan ia tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun karena lidahnya yang di makan.


Piranha itu masuk ke dalam lantai sampai mengeluarkan genangan air yang mampu membasahi wajah Konomi sehingga pendarahannya mengenai semua air itu sampai mengubahnya menjadi merah.


"S-Sial... serangan dari mana itu...?!" Konomi mencoba untuk bangkit tetapi pergerakan yang ia lakukan terasa begitu licin sehingga ia mencoba untuk menghentikan pendarahan itu.


"Kenapa serangan itu muncul sekarang...?! Seekor piranha... kemungkinan besar berkaitan dengan zodiak Aquarius, terlihat dari namanya..."


Konomi menutup mulutnya, ia mencoba untuk keluar dari toilet itu tetapi ia menyadari seseorang yang kemungkinan akan hilang kendali sehingga masalah bertambah buruk.


"Hinoka... jika aku mendekati dirinya maka ia akan melihat darah di tubuhku..." Ungkap Konomi.


"Apapun yang terjadi... aku mohon, jangan sampai sepupu bodohku itu melihat darah karena pikirannya akan langsung mengingatkan dirinya kembali tentang peristiwa kematian Ibunya." Peringat Koizumi.


"Bukan berarti aku peduli atau apa kepada Hinoka... dia tetap bodoh dan menyebalkan, hanya saja normal bagiku sebagai sepupu paling tua untuk menjaga dirinya." Koizumi menatap arah lain.


"Baiklah, aku akan mencoba sebisa mungkin untuk tidak menunjukkan darah di hadapannya." Konomi mengangguk.


"Sialan... jika seperti ini aku harus bisa memanggil Ako dan membiarkan Hinoka terus melakukan penyelidikan terhadap pedagang itu..." Konomi melebarkan matanya ketika melihat banyak sekali sirip ikan di dalam genangan air itu.


Ketika Konomi mencoba untuk menyerangnya, mereka semua menghilang seketika seperti melakukan teleportasi yang begitu cepat bahkan kecepatannya tidak sempat untuk menandinginya.


Konomi membuka pintu toilet itu pelan-pelan lalu ia mengintip di balik ruangan kerja pedagang itu dimana Hinoka terus memaksa pedagang itu untuk mengatakan sesuatu yang ia ketahui tentang kesatria zodiak.


"Sudah aku bilang... aku hanya mengetahui mereka karena imbalan yang akan di dapatkan ketika berhasil membawa kepala mereka!" Seru pedagang itu.


"Itu terdengar tidak masuk akal...! Aku mengingat seseorang pernah mengatakan bahwa kerajaan ini menerima ancaman dari kesatria zodiak bukan!?" Tanya Hinoka.


Ia mengetahuinya dari Shinobu yang sempat membaca beberapa pikiran penjaga, mereka semua terluka parah dan masih terdapat beberapa bekas luka, semua itu di sebabkan oleh dua Kesatria zodiak.


Mereka semua terluka karena mencoba untuk melindungi kerajaan Lesolvia yang di serang oleh kedua Kesatria zodiak demi mendapatkan imbalan yaitu berlian Legenda.


Raja dari kerajaan itu terpaksa untuk menyerah lalu berjanji akan memberikan imbalan apapun kedua kesatria itu dengan syarat mereka mau melindungi kerajaan itu dari ancaman apapun.


Pedagang itu saat ini berada di situasi yang membingungkan, ia ingin sekali melapor dan memberitahu Hinoka tentang semua kebenarannya tetapi ia takut Kesatria itu sedang melihat.


"Kau tidak perlu takut lagi, paman botak... jika kalian menerima ancaman karena kesatria itu maka biarkan kami membantu." Seru Hinoka.


"Tidak bisa..." Pedagang itu mulai menangis karena takut mati oleh kesatria itu, kebetulan kepiting kecil yang berdiri di atas bahu pedagang tersebut hampir saja membunuh dirinya.


Jika pedagang itu mencoba untuk berbicara maka kepiting tersebut akan membunuh pedagang tersebut dengan mencabik-cabik isi tubuhnya melewati lubang hidungnya itu.


"H-Hinoka... pelan-pelan saja... jangan memaksa dirinya, dia sampai menangis."


"Tidak, Ako, jika terus seperti ini maka dia bertambah semakin mencurigakan... aku yakin dia mengetahui ancaman dari kesatria zodiak itu." Kata Hinoka.


Konomi mencoba untuk mengajak Ako mendekati dirinya tetapi ia terus fokus kepada Hinoka yang terus memaksa pedagang tersebut.

__ADS_1


Ketika Konomi mencoba untuk mendekat lidahnya yang masih berdarah sampai mengeluarkan piranha yang langsung memakan isi mulutnya itu.


Mulutnya langsung memuntahkan banyak darah sehingga ia terjatuh di hadapan toilet itu sampai menyebabkan sedikit keributan yang menarik perhatian mereka.


Ketika Hinoka dan Ako mencoba untuk menoleh ke belakang, darah yang di muntahkan oleh Konomi menghilang karena di pindahkan oleh piranha tersebut.


"Sekarang aku mengerti dengan informasi yang di berikan oleh Cordelia..."


"...Konomi tidak akan bisa melakukan apapun di tempat sepi seperti itu karena sihirnya akan menyebabkan kehancuran besar di sekeliling kerajaan tersebut." Kata Kanzer.


"Kita... harus berhati-hati agar tidak berpapasan dengan Konomi... dia dapat membekukan tubuh kita..." Ariana berbicara selagi tidur.


"Jika dia mencoba untuk menggunakan sihir... piranha... hiu... ubur-ubur... akan menyerap dan memindahkannya..."


"...jika seseorang sudah terluka oleh... kemampuan itu maka... tidak ada takdir atau cara untuk... menyelamatkannya." Ariana kembali melanjutkan tidurnya, membiarkan semua peliharaannya bekerja sendiri.


"Jika kau sudah berhasil mengurus Konomi maka Ako, setelah itu di lanjutkan dengan Hinoka..."


"Apa yang terjadi... dengan Koizumi... dan Shinobu?"


"Santai saja... mereka sedang memeriksa setiap tempat untuk menanyakan informasi tentang kesatria Zodiak seperti kita."


Kanzer mulai mengerutkan dahinya, "Hal yang paling brengsek adalah kemampuan Shinobu..."


"...mereka dapat mengumpulkan informasi lebih cepat, jika mereka mencoba untuk berbohong maka Shinobu dapat mengetahuinya."


"Jangan sampai kita... mengecewakan pemimpin penuh keberanian..."


"Kalau begitu... Kanzer... kenapa tidak menyingkirkan Hinoka...?"


"Aku akan lakukan jika Ako menyadari keberadaan Konomi, kita lakukan ini bersama."


"Mm..."


***


Konomi mencoba untuk mengeringkan semua air yang ia lihat menggunakan tombak dengan ujung berbentuk pedang sampai menghasilkan suhu yang sangat panas.


"Ahh!!! Aku mengetahuinya!" Pedagang itu bangkit dari kursi lalu menunjuk ke arah selatan untuk meminta Hinoka memeriksa sesuatu.


"Aku mengenal seseorang yang mengetahui kedua kesatria itu... mereka berada di ujung selatan, di dalam rumah berwarna merah itu!" Pedagang berbicara seperti itu karena Kanzer yang mengendalikan lidahnya untuk berbicara.


"Benarkah?! Akhirnya kamu mau berbicara...! Kalau begitu, ayo, Ako!!!" Hinoka bergegas keluar dari toko itu sangat cepat sampai meninggalkan Ako sendirian.


"Tu-Tunggu!" Ako mencoba untuk mengejar Hinoka tetapi Konomi langsung menahan dirinya.


Ako menatap Konomi lalu tercengang seketika karena ia melihat tubuhnya di penuhi dengan darah bahkan tangannya saat ini menutup mulutnya yang mengalami pendarahan cukup parah.

__ADS_1


"Kakak...?! A-Apa yang terjadi...?! Pedagang, tolong---" Ako mencoba untuk meminta tolong kepada pedagang itu tetapi ia menghilang entah kenapa.


"D-Dia menghilang...!"


"Bagus sekali, pedagang... sekarang aku meminta dirimu untuk membunuh Hinoka dengan pasukan kepiting yang akan membantu dirimu." Kanzer berbicara melalui pikiran pedagang tersebut.


"Dengan ini... kita bisa menikmati waktu yang cukup lama menghabisi kedua gadis kembar itu." Kanzer membangunkan Ariana sampai ia mengangguk cepat.


"Alchemia Regeneration..." Ako langsung menggunakan sihir pemulihan untuk menyembuhkan semua luka yang Konomi terima.


Sihir regenerasi yang dicampur dengan alkemis yang mampu meregenerasi seluruh luka-luka dan sel-sel yang mati maupun rusak, bahkan mampu meregenerasi bagian tubuhnya yang terpisah.


"Gawat, Ako... seperti yang di katakan pedagang tadi, kedua kesatria itu telah menjadi kerajaan ini sebagai sandera terhadap imbalan dan perlindungan!" Konomi langsung menjelaskannya dengan cepat.


"Musuh yang melukai diriku tadi adalah Kesatria Aquarius dengan kemampuan yang---" Di saat yang bersamaan Kanzer mengendalikan lidah Konomi agar ia mengatakan sesuatu yang dipenuhi kebohongan.


"---mampu melakukan perpindahan dengan daratan kering seperti ini! Ia dapat mengubah apapun menjadi air dan di saat itulah ikan piranha akan muncul!"


Konomi melebarkan matanya sehingga ia melihat Ako langsung melarikan di ke dalam toilet, bersiap untuk menyambut serangan apapun dari piranha yang di maksud oleh Konomi.


"Terima kasih, Konomi... berkat kemampuanku yang lain, aku dapat mengendalikan lidah apapun agar mereka dapat mengatakan sesuatu penuh dengan kebohongan."


"Jika keadaan menjadi seperti ini maka adikmu akan terbunuh oleh sihir Ariana..." Kanzer tersenyum, ia masih memperhatikan keadaan menggunakan kepiting kecil yang menempel di atas atap.


"K-Kenapa aku berbohong kepada Ako...!? Jangan-jangan... Kesatria Cancer...!?" Ungkap Konomi lalu ia menatap Ako yang sedang menyalakan wastafel.


Konomi bergegas masuk ke dalam toilet lalu mengeringkan semua air ya ia lihat menggunakan tombaknya sampai membuat Ako kebingungan seketika.


"A-A-Ada apa, Kakak...? Musuh... Musuhnya seperti apa...?" Tanya Ako yang terlihat khawatir seketika.


"Jangan-jangan... apakah musuh itu Kesatria yang tak kasat mata itu?" Ako mengeluarkan senjata sihir berbentuk pedang lalu ia menghancurkan setiap benda yang ia lihat menggunakan pedang tersebut.


Konomi panik seketika, ia mencoba untuk berbicara tetapi perkataannya di penuhi kebohongan sehingga ia langsung menutup mulutnya dengan ekspresi ketakutan.


Kepiting kecil itu turun dari atas atap lalu mendarat di atas bahu Ako dan melukai dirinya kecil sampai luka tersebut mengeluarkan sedikit darah yang membuat dirinya merasa di gigit oleh sesuatu.


"Aww..." Ako menatap lengan kanannya lalu ia terkejut ketika melihat luka kecil yang menghasilkan setetes darah.


"Ahhh...!!!" Konomi melebarkan matanya ketika melihat satu tetes darah di lengan kanannya sehingga...


...seekor piranha melompat dari dalam darah tersebut lalu menggigit leher Ako sehingga mengejutkan dirinya bersama Konomi karena ia melihat saudara kembarnya menerima gigitan di bagian paling fatal.


"Ako...!!!"


"Hugggghhhh...!!!" Ako memuntahkan banyak darah melalui mulutnya sehingga ia terjatuh di atas tanah.


Piranha itu menjatuhkan tubuh Ako sampai darahnya meneteskan di lantai sampai menyebabkan genangan darah besar yang mengeluarkan ubur-ubur dan hiu yang memperhatikan Konomi.

__ADS_1


"Akoooooooo...!!!"


__ADS_2