
"... ..." Koizumi berada dalam sebuah ruangan yang begitu gelap, ia bisa melihat tembok yang begitu rapuh bahkan suara yang ditangkap oleh pendengarannya rata-rata suara teriakan wanita yang meminta untuk keluar.
"Apa ini...?" Tanya Koizumi dengan tatapan yang terlihat gugup, ia mencoba untuk bangkit dari kursinya tetapi tidak bisa.
Tidak lama kemudian, sebuah wajah yang begitu putih dan pucat muncul di balik kegelapan tetap di hadapan Koizumi sampai menyebabkan dirinya terlihat gugup sampai menerima ketakutan yang tidak biasa.
"Ini mimpi 'kan...?" Koizumi melihat banyak sekali wanita bermunculan di hadapannya, semua itu melangkah keluar dari balik kegelapan sampai kedua penglihatannya juga melihat siluet putih di sebelah kanan dan kiri.
Lantai mulai bergetar karena suara langkahan yang besar di belakangnya, tubuhnya mulai berkeringat dingin bahkan hawanya terasa begitu dingin sampai ia mulai memeluk dirinya sendiri selagi mengusap-usap kedua lengannya.
Koizumi mulai memegang pipinya lalu ia mencubitnya cukup kasar agar bisa bebas dari mimpi mengerikan itu, semua wanita berambut panjang di depannya terus melepaskan teriakan keras sampai mulut dan kedua matanya terbuka lebar.
Mereka semua mulai mendekati Koizumi sedikit demi sedikit sampai membuat dirinya semakin panik karena semua wanita itu langsung mengulurkan kedua lengannya dengan cukur yang begitu panjang.
"... ...!!!" Koizumi tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan satu pun kata, mulutnya terasa seperti di jahit sampai tidak bisa terbuka lagi.
***
"Oi! Koizumi...! Koizumi...!" Hinoka langsung menampar pipi Koizumi sampai mengejutkan dirinya sehingga kedua matanya terbuka lebar lalu ia mulai bernafas cukup berat karena berhasil bebas dari mimpi mengerikan tadi.
Banyak sekali makhluk halus mengepung dirinya, melepaskan teriakan keras sampai meminta dirinya untuk pergi dan tidak pernah kembali atau menerima konsekuensinya sampai dirinya bersama semua temannya merasa trauma.
"Jarang sekali aku melihatmu menangis dalam tidurmu... malahan kau selalu menunjukkan ekspresi senang." Kata Hinoka dengan tatapan yang terlihat khawatir.
"Mimpi yang sangat buruk... gunung di Indonesia yang bernama Lawu memang sesuatu hal yang tidak bisa diremehkan begitu saja." Kata Koizumi sambil menyentuh kepalanya itu.
"Pergi... sekarang juga..."
"... ...!" Hinoka dan Koizumi melebarkan kedua matanya ketika mendengar suara pria yang begitu dalam sehingga mereka menatap satu sama lain.
"Jangan mengatakan apapun... kau pasti mendengarnya bukan...?" Tanya Koizumi yang langsung membuka resleting pintu tenda untuk memeriksa kondisi Shinobu yang masih tertidur.
"Di tendaku tadi... sebelum aku melakukan ritual keseharian... aku selalu mendengar banyak sekali langkah yang mengelilingi tendaku itu."
"Ditambah lagi... tadi aku melihat siluet putih yang jelas memiliki tinggi seperti Manusia biasa, apa mungkin itu guling yang katanya mengerikan bagi Nenek kita...?" Tanya Hinoka.
Koizumi mengingat jelas mimpinya bahwa jumlah makhluk halus tadi banyak sekali sampai tidak bisa melakukan apapun kecuali merasa tidak nyaman dan ketakutan karena mereka memiliki keberadaan yang tidak bisa diremehkan begitu saja.
"Aku tidur dulu..." Koizumi masuk ke dalam tenda Shinobu lalu berbaring di sebelahnya.
__ADS_1
"Oi...! Aku juga ingin tidur di tenda sini, tendaku mengalami kondisi yang tidak diinginkan." Hinoka ikut masuk ke dalam tenda itu sampai Koizumi menghela nafasnya ketika mengerjakan dirinya hanya berlagak sok kuat.
"Lihat 'kan...? Siapa yang bilang tidak takut, tetapi akhirnya terlihat sangat ketakutan sampai menghampiri diriku." Kata Koizumi.
"Berisik...! Aku memang tidak takut, walaupun ada gangguan seperti tadi maka aku akan menggunakan senter untuk memperlihatkan wujud asli mereka..."
"...aku yakin mereka semua hanya mencoba untuk menipu diriku, bukannya gunung ini cukup populer terhadap para pendaki gunung? Aku yakin mereka semua mencoba untuk memainkan lelucon."
Semakin lama Hinoka berbicara, Koizumi sudah tertidur duluan selagi memeluk Shinobu yang ia anggap sebagai guling agar ia tidak mengalami mimpi buruk, "Dia sudah tidur duluan...!?"
"Ugh, Sapizumi sialan... kalian semua memang penakut ya, padahal makhluk Astral tidak jauh berbeda dari Shinobu." Hinoka berbaring di sebelah Shinobu lalu ia menatap ke atas, mencoba untuk memejamkan kedua matanya.
Beberapa menit kemudian, Hinoka terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara gamelan yang berada tidak jauh dari tenda itu sampai ia juga bisa mendengar langkahan pelan yang menginjak banyak sekali ranting.
"... ...?" Hinoka memasang tatapan bingung, ia mulai menoleh ke sebelahnya, melihat siluet hitam yang sangat besar dimana langkahnya itu menyebabkan guncangan pada daratan.
Hinoka memutuskan untuk memberanikan dirinya dengan membuka resleting pintu tenda tersebut lalu ia memakai kacamata milik Shinobu yang dapat memancarkan cahaya senter melalui lensanya.
Hinoka melihat sekeliling lalu ia menginjak sesuatu yang begitu dalam, ia melirik ke bawah lalu melihat jejak kaki yang sangat besar, melebihi tapak kakinya sampai ia memasang tatapan kaget.
"Sial... apa-apaan dengan gunung ini, awalnya aku ingin bersenang-senang lebih lama di depan api unggun." Ketika Hinoka mengatakannya, ia bisa merasakan aura yang begitu aneh sehingga ia menoleh ke belakang.
".... ...!" Tubuh Hinoka bertambah semakin merinding sampai ia mulai melangkah pelan-pelan menuju tenda Koizumi sampai ia bisa mendengar suara lainnya tepat di belakang yaitu dekat dengan tenda Konomi dan Ako.
Entah kenapa Hinoka tidak mau melihat ke belakang karena tatapannya fokus tertuju kepada pria di balik pohon itu sampai tubuhnya mulai menggigil.
Hinoka menatap jam tangannya, menunjukkan pukul hampir jam sebelas sampai ia pikir matahari masih lama untuk terbit dari timur, ia harus bertahan hidup dengan menerima semua teror itu.
Semua teman dan sepupunya tertidur lebih cepat, tetapi Hinoka selalu saja terbangun dengan suara apapun yang bisa ia dengar. Hinoka mengedipkan kedua matanya sampai pria itu menghilang seketika sampai mengejutkan dirinya.
"... ...!!!" Hinoka melirik ke belakang sampai ia melihat siluet putih di balik tenda milik Ako, ia ingin sekali teriak dan mengancam orang yang mencoba untuk mengganggu dirinya tetapi mulutnya tidak mau mengeluarkan satu pun kata.
Angin semakin jadi sampai menggerakkan rambut Hinoka, ia juga bisa melihat tenda bergoyang-goyang sampai membangunkan Ako dari tidurnya.
"... ...?" Ako bisa melihat tendanya bersinar karena cahaya yang berasal dari Hinoka, ia mulai memiringkan kepalanya lalu membuka resleting pintu tenda itu sampai mengejutkan Hinoka dimana kedua bahunya terangkat seketika.
"Ako...! Jangan menakut-nakuti diriku seperti itu...!"
"Kenapa kamu masih belum tidur...?" Tanya Ako selagi mengusap-usap matanya sehingga ia berjalan keluar dari tenda itu untuk menerima panggilan alam yaitu kencing.
__ADS_1
Hinoka melihat Ako melewati dirinya tanpa merasa ketakutan karena ia masih setengah sadar dari tidurnya, ia mulai mendengar suara gamelan lagi yang kali ini membuat Ako sadar seketika.
"Hinoka, kamu tidak boleh memainkan musik pada malam hari... bisa mengganggu mereka loh..." Ako kembali mendekati Hinoka yang mulai menutup mulutnya.
"Aku tidak bisa memainkan alat musik Indonesia... dengar... suara gamelan itu terdengar begitu dekat, seperti di balik pohon itu." Kata Hinoka yang mulai memberikan Ako isyarat untuk melihat pohon di hadapannya.
"Mungkin ini akan menjadi lebih seru lagi, jika kita mau memeriksa suara itu dari dekat... bagaimana? Tentunya aku tidak merasa takut sama sekali~" Kata Hinoka selagi menepuk dadanya penuh rasa bangga sampai Ako pergi kembali menuju tendanya.
"Aku masih ngantuk..." Kata Ako yang mencoba untuk tidak memedulikan permainan Hinoka sampai ia mulai masuk kembali ke dalam tenda, mencoba untuk tidur dengan menyumbat kedua telinganya.
"... ...!" Suara gamelan itu bertambah semakin keras sampai menyebabkan Hinoka tidak bisa bergerak sama sekali karena saking takutnya, tetapi ia mencoba untuk bersikap kuat seperti biasanya.
Hinoka mencoba untuk mundur kembali menuju tenda Shinobu lalu ia duduk selagi bersandar untuk menghela nafasnya lega sampai pendengarannya terus menangkap suara gamelan itu bertambah sangat keras di sekitarnya.
Hinoka kembali masuk ke dalam tenda lalu ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya sambil menutup kedua telinganya agar ia tidak bisa mendengar suara gamelan tadi yang selalu mengganggunya.
Beberapa menit kemudian, Hinoka berhasil tertidur dengan tenang, tetapi tidurnya tidak begitu lama karena setengah jam kemudian ia kembali bangun dengan kedua matanya yang ia bukan pelan-pelan.
"Hihihi... Hihihi... Hihihi..."
Kedua tangan Hinoka disentuh oleh sesuatu dimana kedua telinganya tidak lagi terhalang, suara tawa kecil itu berasal dari anak kecil entah itu apa sampai menyebabkan Hinoka untuk terus merapatkan kedua matanya untuk mencoba kembali tidur.
Wajah Hinoka langsung disentuh oleh sebuah tapak yang begitu kecil, Hinoka melebarkan kedua matanya lalu melihat Shinobu yang terlihat seperti tertawa kecil kepada Hinoka dengan kedua matanya yang terbuka lebar.
"Hihihi... Hihihi... Hihihi..."
"...kami suka denganmu..."
"...ayo bermain lagi..."
"...atau kamu ingin masuk ke dalam gerbang dimensi kami...?"
"...Hihihi." Shinobu terus tertawa kecil sampai menyebabkan tubuh Hinoka bergetar ketakutan sehingga ia mulai memegang erat kedua tangan Shinobu lalu melarikan diri dari tenda tersebut.
"Koizumi...! Bangun...! Koneko terlihat aneh dan mengerikan...!!!" Seru Hinoka keras sampai ia mundur ke belakang lalu punggungnya menyentuh sesuatu.
Hinoka melebarkan kedua matanya lalu ia menoleh ke belakang sampai dikejutkan dengan sesosok makhluk putih yang dibungkus dengan kain, wajahnya terbakar hitam sampai membuat Hinoka terjatuh di depannya.
"Aaaahhhhhhhhhhhhhh...!!!"
__ADS_1