
Asuka menghantam wajah Chiro dan Gamaro tepat di atas daratan beberapa kali sehingga kedua wajah mulai dipenuhi dengan darah dan luka, Megumi terus melihat Asuka yang menyiksa Chiro dan Gamaro beberapa kali, ia terus mengawasinya karena Megumi sudah sembilan puluh persen yakin bahwa Asuka adalah seorang penghianat, "Megumi... Sudahlah, mari kita bantu Asuka dalam mengalahkan kedua peserta dari kelas satu itu." Ucap Ophilia yang mulai menyentuh mata kanannya.
Megumi langsung menatap kedua mata Ophilia dengan kedua pupil matanya yang menajam dan berwarna merah. Akina dan Ophilia mulai merasakan tekanan dan kekuatan seorang monster di kedua tatapan Megumi, kedua tatapan Megumi mengartikan sesuatu sehingga membuat mereka berkeringat, "A-Ahh...?"
"Dengarkanlah aku. Aku tidak mau insiden penghianatan seperti Katrina dan Sabrina terjadi, cara yang dilakukan oleh Asuka hampir sama seperti cara murahan yang pernah Katrina dan Sabrina lakukan!" Ucap Megumi dengan nada yang terdengar kesal karena ia sudah menemukan semua bukti-nya, "Sebenarnya... Ketika kalian menikmati makan siang kalian, aku melakukan penyelidikan terhadap seseorang yang telah menghianati kita."
"Kita beristirahat di tempat yang dekat dengan fasilitas yang pernah aku temukan sejak bersama Asuka yaitu Shrink Button. Di saat itulah aku melihat sebuah ranting yang terlihat miring atau pernah diinjak oleh seseorang." Ucap Megumi karena ranting itu memang pernah diinjak oleh seseorang, dia bisa mengetahuinya karena indra penciuman Megumi yang sangat tajam sehingga ia bisa mencium aroma aneh atau aroma yang pernah ada, tetapi di waktu yang sangat lama.
"Aroma yang aku cium adalah sebuah jejak kaki dan jejak kaki itu bukan berasal dari Asuka. Di saat itulah aku merasa curiga sehingga mencari jejak kaki yang lain dan beberapa saat kemudian aku menemukannya, jejak kaki itu terus aku cium dan ikuti sehingga aku menemukan barang bukti yang sangat-sangat jelas." Ucap Megumi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, Akina sadar bahwa Megumi sedang berada di kondisi yang sangat kesal sehingga secara otomatis Megumi berubah menjadi mode Fury karena kekuatannya terus meningkat, Akina dan Ophilia bisa menyadarinya.
"Barang bukti apa yang kau temukan, Megumi?" Tanya Akina, Megumi mulai mengambil sesuatu di saku celananya lalu ia mengeluarkan sebuah gelang bunga mawar yang utut dan yang sudah injak oleh Megumi, "Gelang-gelang ini." Ucap Megumi, mereka berdua mulai menatap gelang itu dengan ekspresi yang terlihat bingung.
"Gelang-gelang ini milik Asuka, ia mendapatkannya ketika ia mengalahkan dua peserta yang berasal dari kelas satu. Gelang-gelang ini terbuat dari monster yang memakan dua peserta itu sehingga Asuka langsung mengubahnya menjadi dua gelang... Ia menggunakan gelang-gelang ini." Megumi mulai menatap gelang itu dan sepertinya gelang itu bisa dijadikan barang bukti juga.
"Terus... Kenapa kamu yakin bahwa Asuka itu seorang penghianat?" Tanya Ophilia selagi menunjuk Asuka.
"Lihatlah kedua lengannya lebih jelas. Ketika aku bersama Asuka mengalahkan peserta kelas dua, Asuka menggunakan kedua kalung itu. Coba kalian pikir lagi lebih logis, Asuka ketika selesai buang air kecil... Kedua gelang-nya hilang dan aku juga mencium jejak Asuka yang pergi ke arah lain lalu jejak kaki itu hilang ketika ia mengikutinya." Ucap Megumi, itu artinya si penghianat memiliki sihir perubahan wujud yang mampu mengubah dirinya menjadi seseorang, "Kesempatan besar... Gelang-gelang ini jatuh ketika Asuka sedang buang air kecil, di saat itu terjadi... Sepertinya Asuka di culik oleh seseorang sehingga ia digantikan oleh si penghianat yang menyamar atau berubah menjadi Asuka."
Akina dan Ophilia mulai mengerti sekarang, sepertinya Asuka yang sedang menyiksa kedua peserta dari kelas satu itu adalah seseorang yang menyamar menjadi Asuka, "Lalu... Kenapa dia menyiksa mereka berdua?" Tanya Akina.
"Lalu... Kenapa Korrina menusukmu?" Sindir Megumi sehingga membuat Akina dan Ophilia mengerti dengan apa yang Megumi maksud, "Rencana yang sama dengan Katrina dan Sabrina ya...? Murahan juga." Jawab Ophilia selagi memegang dagu-nya.
Asuka mendorong mereka mundur sehingga Megumi muncul di belakang Chiro dan Gamaro, ia langsung melahap habis kepala mereka dengan satu gigitan saja. *BUSH!* Setelah itu Megumi langsung menebas kedua tubuh itu menjadi bagian-bagian kecil, hal itu membuat Asuka terkejut karena ia baru saja kehilangan kedua peserta dari kelas dua, awalnya ia hanya ingin menyiksa mereka agar Megumi tidak mencurigai bahwa Asuka yang sedang menyiksa mereka adalah Asuka yang palsu.
"M-Megumi...?" Asuka terkejut ketika ia melihat Megumi yang memakan kedua teman-temannya, hal itu membuatnya merasa kesal juga sehingga ia hampir menyerang Megumi, tetapi hal itu akan menyebabkan penyamarannya terbongkar, "Kerja bagus karena sudah menjadi predator dari kedua predator yang mengalahkan kelas lima, Asuka." Ucap Megumi.
"Tidak usaha berterima kasih, aku melakukan pekerjaan yang benar." Jawab Asuka, Megumi bergerak maju dan meninggalkan Asuka, "Mari Asuka, kita baru saja menemukan markas kelas satu dan dua." Megumi mulai menatap Ophilia dan Akina dengan tatapan yang mencoba untuk memberikan sinyal.
Mereka berdua mengangguk lalu mengikuti Megumi, Megumi sudah merancang sebuah rencana untuk menjebak penghianat itu, jadi mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Megumi sudah berada di ambang amarah sehingga ia sudah tidak tahan untuk membunuh atau memakan penghianat itu.
Megumi juga sudah melaporkannya kepada Shua dan sepertinya Shua mulai merasa khawatir tentang keberadaan Asuka yang sebenarnya, sepertinya ia diculik oleh kelas satu atau dua, itu kemungkinan besarnya.
Sekarang, rencana yang akan Megumi lakukan adalah untuk Asuka palsu itu memanggil bantuan dari kelas satu atau dua dan sepertinya prediksi Megumi benar, kedua telinga-nya dengan pendengar yang sangat tajam bisa mendengar pergerakkan tangan Asuka yang mulai menyentuh jam tangan secara diam-diam, dia menyentuh pilihan panggilan darurat sehingga panggilan itu diterima oleh kelas satu.
Asuka mulai memanggil bala bantuan untuk bisa mengalahkan Megumi dengan yang lainnya. Mereka sebentar lagi akan tiba di markas rahasia kelas satu dan dua, Megumi bisa melihat beberapa barrier yang sudah mengecil yang mengartikan bahwa besok barrier itu akan mengeliling markas kelas satu dan dua saja.
Kedua mata Megumi bisa melihat dari jarak yang jauh sehingga ia melihat Rexa yang sedang sembunyi di balik pohon selagi mengawasi markas kelas satu dan dua, Megumi juga melihat satu peserta yang bergerak menuju arahnya, "Itu dia...", Ungkap Megumi yang mulai pergi menuju semak-semak.
Asuka menatap Megumi yang terlihat seperti ingin buang air kecil, "Kalian pergi duluan, aku akan menyusul kalian nanti." Ucap Megumi, mereka bertiga mengangguk lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju markas kelas satu dan dua. Megumi yang sedang bersembunyi mulai menghubungi Shua, "Shua... Kita sebentar lagi akan menyerang markas satu dan dua, Rexa juga sedang berada di balik pohon bersembunyi selagi mengawasi markas kelas satu dan dua." Ucap Megumi.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti." Shua menutup panggil dari Megumi lalu ia bangkit dari atas tanah sehingga wajahnya langsung terhantam dan membuatnya terdorong ke belakang sehingga menghancurkan pohon yang berada di belakangnya, "Hugghhh...!" Shua mulai menatap ke depan dimana ia melihat seorang peserta yang menggunakan jaket biru, itu artinya dia berasal dari kelas dua.
"Sial... Aku sepertinya ketahuan." Ucap Shua yang mulai memaksakan seluruh tubuhnya untuk bangkit, ia mulai menatap peserta dari kelas biru itu, "Akhirnya aku menemukan seorang peserta dari kelas tiga. Aku Meriaka Risou akan membunuhmu!" Risou melesat menuju arah Shua lalu mulai mencoba untuk menendang Shua dengan memutarkan kedua kakinya beberapa kali.
Shua berhasil menghindari serangan itu dan ia melihat pergerakkan Risou yang hampir sama seperti seseorang yang sedang berdansa, "Cih..." Risou melompat ke depan lalu ia mulai mencoba untuk menginjak-injak wajah Shua, tetapi Shua menahan serangan itu menggunakan kedua lengannya sehingga membuatnya terdorong ke belakang.
"Jika aku kalah atau terbunuh oleh dia maka aku akan menghambat kelas tiga... Kematian diriku dapat membuat semua orang rugi termasuk dengan Megumi yang sudah merancang semua rencana." Ungkap Shua.
Risou melakukan backflip ke depan sehingga menendang wajah Shua lalu ia melanjutkan tendangan itu dengan melakukan serangan kombo, ia menendang seluruh tubuh Shua menggunakan kedua kakinya dan mampu membuat Shua terjatuh di atas tanah, "Sepertinya kau terkena efek dari wabah racun itu ya? Hmph... Sangat menguntungkan bagiku untuk bisa mendapatkan mangsa lemah."
"Aku tidaklah lemah, jangan meremehkanku!" Shua bangkit dari atas tanah lalu ia melihat Risou melompat, tetapi Shua memegang kaki kanannya lalu ia menghantamnya di atas, Risou melompat ke belakang lalu ia tiba-tiba melihat Shua yang muncul di depannya selagi mengepalkan tinju kanannya yang dipenuhi dengan aliran listrik.
"THUNDERSTRUCK!" Shua menghantam dada Risou sehingga menyebabkan jantung Risou langsung hancur, "HUGGHHH!!!" Risou memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya lalu ia menatap Shua dengan kedua penglihatannya yang mulai buram.
"HAHHHHH!!!" Risou sebelum mati langsung menendang leher bagian belakang Shua yang menyebabkannya pingsang lalu tergeletak di atas tanah yang dipenuni air racun, barrier-nya mulai menghilang dan perlahan-lahan seluruh tubuhnya mulai terkena racun, "Ugh..." Risou tergeletak di atas tanah dengan kondisi yang sudah mati.
"... ..." Shua membuka kedua matanya perlahan-lahan dan ia sadar bahwa dirinya telah berhasil mengalahkan Risou dengan hanya satu pukulan yang dipenuhi dengan aliran listrik, seluruh tubuh Shua mulai terasa mati karena infeksi-nya sudah menyebar sehingga ia perlahan-lahan mulai kehilangan detik-detik kehidupannya, "Maafkan... Aku... Semua---"
Shua membulatkan kedua matanya ketika ia melihat kedua kaki yang berada di depannya, "Yggdrasil Life Force." Seseorang mulai menggunakan sihir yang berkaitan Yggdrasil, sudah pasti orang itu bernama Mirai. Ia menyelamatkan Shua di waktu yang tepat sehingga ia mulai menyembuhkan kondisi Shua menggunakan sihir Yggdrasil yang mampu menghancurkan semua racun.
ZUUSSHHH!!!
Selama ini Mirai telah menyamar menjadi sebuah pohon yang dekat dengan markas kelas satu dan dua, itu artinya ia telah mengumpulkan banyak sekali informasi tentang kelas satu dan dua, "Sekarang... Kita hanya perlu menghancurkan kristal inti kelas empat, aku tahu dia berada di pihak kita, tetapi... Mari kita jelaskan bahwa kelas satu dan dua akan terkalahkan oleh kekuatan milik Rexa." Ucap Mirai.
"Rexa...?"
"Aku sudah memberitahu semuanya, Megumi bersama dengan Akina dan Ophilia saat ini sedang bersama Asuka yang palsu, Asuka yang asli sebenarnya telah di culik oleh kelas satu dan untungnya aku menyelamatkannya sebelum dia di perkosa oleh peserta dari kelas satu dan dua. Asuka yang asli sedang bersama Rexa saat ini dan ia menyuruhnya untuk mengerahkan sihir warisan keluarga Ghifari yang sangat kuat." Ucap Mirai.
Shua mengangguk, sepertinya semua rencana Megumi dan Mirai berjalan cukup lancar. Di sisi lainnya, Megumi melihat Rexa yang sedang di beri kekuatan oleh Asuka. Ia sudah mendapatkan pesan dari Megumi dan hal itu membuatnya yakin bahwa tantangan tiga sebentar lagi akan selesai, "Baiklah..." Megumi bergerak menghampiri Asuka yang palsu.
Akina dan Ophilia melirik ke belakang dimana ia melihat Megumi yang sedang berjalan di belakang Asuka palsu, "... ...!" Megumi mulai melotot lalu ia mengangguk, mereka berdua juga sudah mendapatkan sebuah pesan yang hampir sama seperti SMS di jam tangan mereka, pesan itu di kirim oleh Mirai dan mereka tahu harus apa sekarang.
Untungnya Asuka palsu tidak melihat pesan dari Mirai karena Akina mengajaknya bicara dan mencoba untuk membuatnya terkecoh dengan pertanyaannya, "Sekarang!!!" Megumi langsung melahap kepala palsu Asuka dengan satu gigitan lalu Akina dan Ophilia mulai melempar bola sihir mereka ke arah markas sehingga bola-bola sihir itu menyebabkan ledakan yang lumayan besar.
BAMMMMMMM!!!
Semua peserta itu berhasil menghindarinya dan menyelamatkan kristal inti dari kelas mereka masing-masing, Asuka palsu yang telah di makan mulai berubah menjadi seorang peserta yang berasal dari kelas satu bernama Brotos.
Rexa baru saja mendapatkan signal ledakan dari Ophilia dan Akina yang mengartikan bahwa ia harus mengeluarkan sihir Final Shine Attack terkuatnya, Asuka berhenti memberinya kekuatan lalu Rexa bangkit dari atas dan mulai menatap semua peserta kelas satu dan dua yang sedang mengeluarkan sihir mereka ke arah Akina dan yang lainnya, untungnya Akina menciptakan sebuah barrier dan mulai mengulur waktu bersama dengan Ophilia dan Megumi.
__ADS_1
Rexa masih merasa tidak yakin dan percayai diri untuk bisa mengalahkan mereka menggunakan sihir Final Shine Attack-nya karena sihir itu mampu melukai seluruh tubuhnya sehingga Rexa tidak yakin bisa bertahan lama dalam menggunakannya, "... ..." Kedua kakinya mulai bergetar karena ia masih belum merasa yakin untuk bisa mengalahkan mereka semua menggunakan Final Shine Attack.
"Rexa... Apakah itu kemampuan...? Apakah kau benar-benar pantas untuk disebut sebagai Legenda layak atau putri dari keluarga Ghifari?" Tanya Alvin, suara Alvin mulai terdengar di kedua telinga Rexa dan itu membuatnya terkejut. Rexa mulai melihat sekeliling dimana ia mencoba untuk mencari Alvin, Asuka menatap Rexa dengan tatapan yang terlihat bingung, "Papa...?! Apakah itu kau!? Bagaimana bisa!?" Tanya Rexa.
Asuka mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan melihat Rexa berbicara sendiri, suara itu bisa Rexa dengar karena aura Crimson-nya yang bisa Alvin rasakan dari Crimson Realm, ia hanya bisa mengawasi Rexa karena dia memiliki sihir crimson yang sangat besar atau bisa disebut dengan sempurna, "Kau hanya perlu membunuh mereka menggunakan Final Shine Attack terbesarmu!" Suruh Alvin.
"Aku tidak bisa... Aku tidak yakin bahwa aku akan bertahan lama menggunakan sihir Final Shine Attack yang lebih besar dan lebih bertahan lama." Jawab Rexa dengan nada yang terdengar putus asa, "Aku tahu bahwa kau pasti bisa mengalahkannya...! Kau hanya perlu percaya kepada dirimu dan hatimu sendiri, Rexa."
"Saat ini... Kau adalah putriku yang mampu mengontrol Crimson untuk bisa mencapai ke titik yang sempurna. Kau bisa saja melampaui kekuatan kedua kakak-mu yaitu Agfi dan Rina. Aku yakin bahwa sihir Final Shine Attack-mu adalah yang terkuat karena aku sering melihatmu yang selalu melatih sihir warisan kita." Ucap Alvin.
"Baiklah, jika Papa mempercayai-ku maka aku akan melakukannya! Aku akan melakukan semua hal yang kau pernah ajarkan kepadaku!" Rexa mulai mengepalkan tinju kanannya lalu aura Crimson-nya mulai muncul dan mengelilingi seluruh tubuhnya sehingga menghancurkan pohon yang terletak di depannya, semua peserta kelas satu dan dua saat ini sedang bertarung melawan Akina, Ophilia, dan Megumi. Mereka bertiga mencoba untuk mengulurkan waktu dan membuat mereka tidak bahwa kematian sebentar lagi akan mendatangi mereka.
Rexa menunjuk ke depan menggunakan telapak tangan kanannya lalu ia mulai menciptakan bola Crimson besar melalui telapak tangan kanannya, "Final...!" Rexa memundurkan lengan kanannya ke belakang sehingga bola crimson itu mulai membesar sehingga dikelilingi oleh listrik-listrik merah, "Shine...!!!" Rexa sudah siap untuk meluncurkan Final Shine Attack terkuat-nya ke arah mereka, tetapi Hibike menyadari kekuatan yang besar, kekuatan itu berada di sebelah kanannya dan ia langsung melirik ke sebelah kanan dimana ia melihat Rexa.
"SIALAAANN!!!" Hibike meledakkan dirinya sendiri menggunakan sihir angin sehingga mampu membuat Ophilia, Akina, dan Megumi terdorong ke belakang. Kedua telapak tangan Akina mulai bersinar putih, "CHASTITY COLOSSAL PROTECTION!!!" Akina mulai menciptakan barrier yang membuat mereka terjebak di dalamnya sehingga mereka tidak memiliki jalan keluar selagi melawan gelombang Final Shine Attack milik Rexa.
"ATTTACCCKKKK!!!" Teriak Rexa keras sehingga ia menembak gelombang Crimson ke depan, "ANGELIC HOLY WRATH!!!" Hibike mengangkat kedua jari-nya ke atas lalu ia menciptakan sebuah bola yang berbentuk hampir sama matahari, ia melempar sihir itu ke arah sihir Final Shine Attack milik Rexa sehingga saling mendorong satu sama lain, "Nrrgghh..." Lengan kanan Rexa mulai bergetar sehingga mengeluarkan darah.
"Heh... Sihir Crimson-mu tidak akan bertahan lama." Ucap Hibike yang menunjuk sihirnya menggunakan kedua jarinya, peserta yang lainnya tidak bisa melarikan diri, jika mereka maju ke depan dan mencoba untuk melewati kedua sihir yang teradu itu maka mereka akan terpental ke belakang, menghancurkan barrier yang menghalangi mereka juga akan sia-sia karena barrier itu sangatlah tebal dan membuat tangan atau kaki mereka terbakar jika mencoba untuk menyerangnya.
"REXA!!! FOKUSSS!!!" Teriak Alvin sehingga Hibike bisa melihat sesosok Alvin Ghifari yang sedang berada di belakang Rexa selagi menunjuk gelombang Final Shine Attack menggunakan telapak tangan kanannya, "Aku tidak menyangka bahwa tantangan tiga akan memiliki klimaks yang sengit!" Ucap Hibike yang mulai menambah dorongan besar ke sihirnya sehingga sihir milik Hibike mampu mendorong sihir Final Shine Attack milik Rexa.
"Nrrgghh... Ugghhh..." Rexa berlutut di depan selagi menahan sihir-nya untuk tidak kalah dengan sihir milik Hibike, jika ia menyerah maka ia akan mati karena terkena sihir dari Angelic Holy Wrath yang mampu membakar tubuh sampai tulang-tulangnya, "BERTAHANLAH!!! REXAA!!!" Teriak Alvin sehingga Rexa kembali bangkit lalu menambahkan tenaga untuk mendorong sihir milik Hibike.
Ophilia, Akina, dan Megumi mulai meluncurkan banyak sekali sihir ke arah Hibike sehingga membuatnya terluka dan melemah, "C-Curang...!" Ucap Hibike sehingga mereka bertiga mulai diserang oleh beberapa peserta dari kelas satu dan dua, "Cih!" Megumi mencoba untuk membunuh Hibike, tetapi itu cukup beresiko karena bisa-bisa sihir Final Shine Attack Rexa akan mengenai Megumi bersama dengan teman-temannya.
"Ahh...!!!" Megumi dan yang lainnya mulai merasakan keberadaan Shua yang sedang melayang di atas langit berkat bantuan dari sayap-nya yang terbuat dari listrik, Megumi bersama dengan Ophilia dan Akina langsung melompat keluar dari barrier itu sehingga Shua mulai menyengat seluruh tubuh Hibike menggunakan sihir listriknya, "HAAAAHHHHHHHH!!!" Teriak Shua keras sehingga ia menambahkan kekuatan besar yang mampu membuat Hibike tersengat di bagian organ-organ tubuhnya dan membuatnya hancur karena tersambar oleh listrik yang kuat.
"SEKARANG!!!" Teriak Alvin.
"AAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!" Teriak Rexa keras sehingga ia menambahkan kekuatan terakhirnya yang mampu membuat sihir Final Shine Attack-nya mendorong sihir milik Hibike mundur, gelombang Crimson itu mengenai tubuh Hibike serta tubuh peserta yang lainnya. Gelombang itu perlahan-lahan mulai membuat kedua kristal inti dari kelas satu dan dua retak, Rexa berjalan ke depan selagi mencoba untuk menghancurkan barrier milik Akina dan Lina karena ia ingin mencoba untuk memberi mereka semua pelajaran, "... ..."
"T-TIDAK MUNGKIN...!!! SEHARUSNYA... RENCANAKU... ITU... SEMPURNAAAAAAGGHHHHH---" Seluruh tubuh Hibike langsung terbakar habis sehingga sihir milik Rexa langsung menghancurkan barrier milik Akina dan juga milik Lina. Sihir Final Shine Attack itu bergerak ke depan lalu meluncur ke atas langit lalu meledak.
BAAAMMMMMMMMMMMMM!!!!
"... ..." Rexa tergeletak di atas tanah dengan kondisi yang sangat lelah, "Aku sudah jelas bangga melihatnya, Rexa." Alvin tersenyum lalu berhenti menghubungi Rexa dengan menggunakan sihir telepati-nya melalui sihir Crimson milik Rexa.
"Perhatian! Perhatian! Tantangan ketiga telah selesai, pemenang dari tantangan ketiga adalah kelas tiga karena sudah menghancurkan inti kristal yang terakhir. Selamat dan kami harap semua peserta kelas tiga untuk beristirahat di akademi." Ucap Lina yang mulai memindahkan semua peserta yang bertahan hidup ke akademi.
__ADS_1
Sudah resmi bahwa kelas tiga telah memenangkan tiga tantangan yang disediakan oleh Academy of Solicitation, mereka semua bisa menang karena semangat dan usaha mereka yang tidak pernah patah atau hancur. Bukan karena kekuatan, tetapi ikatan, semangat, dan juga usaha yang sangat keras.