Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 125 - Bunyi


__ADS_3

Shira bersama rekan-rekannya masih berjuang untuk melawan seluruh pasukan Giblis itu yang tidak ada habisnya, Arata sekarang mulai menyadari betapa kuat-nya pasukan Giblis itu ketika pertarungan terus berlanjut. Pasukan yang baru saja datang dan lahir bahkan memiliki kekuatan yang sudah berada di tingkatan yang berbeda.


Pasukan yang Karla panggil melalui Moirai Arma-nya terbantai habis oleh semua pasukan Giblis itu karena mereka bukan tandingan pasukan Giblis yang sudah berada di tingkatan evolusi yang berbeda. Mereka terus berjuang tanpa mengenal kata lelah juga semangat mereka juga masih terbakar di dalam diri mereka masing-masing.


Beberapa bangsa Giblis itu mulai berevolusi menjadi Giblis yang memiliki ukuran besar, planet yang mereka tempati saat ini sebentar lagi akan berada di ambang kehancuran karena seluruh pasukan Giblis itu terus bertambah dan menyebar ke wilayah lain-nya untuk membunuh seluruh makhluk hidup yang ada di planet tersebut.


Untungnya seluruh pasukan Giblis itu terpojok ketika Akina tiba bersama pasukan malaikat yang ia kumpulkan, semua pasukan Malaikat itu juga mulai melepaskan beberapa ciptaan mereka contohnya seperti Android, Cyborg, dan juga robot besar yang dikendalikan oleh seorang malaikat di dalam-nya.


"Dengan ini bangsa Giblis tidak akan bisa beradaptasi dan mencoba untuk meniru menjadi seorang robot." Ucap Agfi.


Shira dipenuhi dengan keringat dingin serta tenaga-nya terus terkuras tanpa henti karena dia sudah menyelamatkan beberapa teman-temannya yang terluka dengan memancarkan cahaya penyembuh. Seorang Legenda tidak akan pernah menyerah jadi Shira terus bertarung dengan seluruh kemampuan-nya walaupun ia tahu bahwa menghabisi seluruh pasukan Giblis itu mustahil.


Mereka semua sudah bertarung dan mengerahkan kemampuan mereka, Arata juga bahkan tidak memiliki pilihan lain selain memanggil semua pedang [Seven Deadly Sins]-nya, Akina juga melakukan hal yang sama dimana ia memanggil tombak [Seven Heavenly Virtues]. Pasukan Giblis itu tidak akan pernah menyerah sampai mereka semua mati.


Jumlah mereka bukan-nya berkurang tetapi malah bertambah, kekuatan mereka juga terus meningkat. Shira bersama rekan-nya mulai menyerang dengan membabi buta mereka semua, Shira masih tetap merasa tenang karena dia yakin peperangan ini akan berakhir secepatnya dan bisa diatasi dengan mudah jika bala bantuan datang.


Tiba-tiba terdengar suara bunyi yang terdengar bergetar di sekitar wilayah tersebut, bunyi tersebut mengalir dengan getaran dan tetap terdengar jelas ditengah keributan yang berasal dari medan perang tersebut. Mereka semua berhenti bertarung seketika lalu melirik ke atas dan melihat dua Manusia yang sedang menggoyangkan sebuah alat musik yang terbuat dari bambu.


"Aditya...! Andrian...!" Panggil Ophilia dan Agfi, kedua manusia yang datang untuk menyelamatkan mereka adalah Aditya dan Andrian yang saat ini sedang menghasilkan bunyi dari alat musik itu dengan menggoyangkan-nya sampai bambu satu dan yang lain-nya mulai bergetar, menghasilkan bunyi yang merdu.


Shira bersama rekan-nya tiba-tiba mendapatkan sebuah keuntungan ketika mendengar suara dari alat musik tersebut, luka-luka mereka mulai kembali pulih serta tenaga mereka mulai bertambah dan terus meningkat ditambah dengan kekuatan serta kecepatan yang terus meningkat lagi dan lagi.


Berbeda dengan pasukan Giblis dimana tubuh dan kepala mereka bergetar dengan sendiri-nya, mereka semua mengeluarkan suara teriakan keras karena kesakitan ketika mendengar suara bising yang dikeluarkan oleh alat musik tersebut. Aditya dan Andrian tersebut menggoyangkan alat musik-nya tanpa henti.


"Jangan sampai kalian berhenti menggoyangkan alat itu...!" Peringat Shira karena jika mereka berhenti maka seluruh pasukan Giblis itu akan beradaptasi dan kebal dengan bunyi itu.


Semua pasukan GIblis itu meronta kesakitan selama beberapa waktu sebelum kehilangan kesadaran dan jatuh ke tanah, mereka yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membelah diri tidak bisa digunakan karena dampak dari bunyi itu yang membuat mereka semua merasakan sakit kepala yang hebat.


Tidak semua Giblis terjatuh di atas tanah, sebagian Giblis yang berada di tingkat evolusi berbeda masih berdiri tegak namun bukan berarti mereka kebal dengan bunyi tersebut, mereka akhirnya berubah kembali menjadi tingkat biasa, sepertinya bunyi itu dapat membuat seluruh pasukan Giblis berubah kembali ke tingkat biasa-nya atau evolusi biasanya, mereka semua mulai kehilangan keseimbangan.


"Alat musik ini adalah alat tradisional yang digunakan oleh rakyat indonesia untuk menciptakan sebuah lagu, biasa-nya alat musik ini digunakan untuk semacam festival budaya tetapi sepertinya suara dari alat musik ini bisa menjadi sumber kelemahan besar untuk pasukan Giblis." Aditya mulai berbicara.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa mengetahui kelemahan-nya...?! Kami sudah bertarung melawan mereka semua dan masih belum bisa menemukan kelemahan mereka." Ucap Itsuki dengan ekspresi yang terlihat terkesan.


"Mudah sekali, di dunia kami terdapat seorang manusia hebat yang dapat membunuh tanpa harus menyentuh, tempat persembunyian-nya kedatangan seorang Giblis dan orang itu... Namanya adalah Sakti menggunakan alat ini untuk membuat mereka menjadi lemah." Jawab Aditya.


"Nama dari alat musik ini adalah [Angklung]. Alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu yang dipotong ujung-ujungnya menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi yang terdengar merdu dan bising jika tidak bisa memainkan-nya." Kata Aditya.


Tiba-tiba sebuah meteor besar yang berwarna biru tua meluncur menuju arah pasukan Giblis itu dan berhasil membakar mereka semua menjadi partikel-partikel suci. Korrina bersama yang lain-nya tiba di wilayah itu dan mereka segera menyerang seluruh pasukan Giblis itu hanya terdiam dan terjatuh di atas tanah.


"Ini kesempatan kita untuk mengalahkan mereka...! Mereka lengah...!" Teriak Korrina keras.


Haruka, Selvia, Vania, dan Rexa mulai menyerang seluruh pasukan Giblis itu dengan seluruh kemampuan yang mereka miliki sampai Shira bersama yang lain-nya mulai menatap mereka dengan tatapan dan ekspresi yang aneh. Mereka tiba-tiba datang dan menyerang mereka seolah-olah mereka lengah, bala bantuan seperti mereka tidak dibutuhkan karena Aditya dan Andrian sudah datang terlebih dahulu.


"Ummmm...?" Shira mulai merasa canggung melihat mereka semua membasmi Giblis itu satu per satu dengan menyiksa mereka.


Korrina dan yang lain-nya berhenti menyerang ketika mereka semua mulai menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat aneh. Korrina berhenti menyerang lalu ia mengalihkan pandangan kepada mereka semua yang terlihat sedang menatap Korrina dengan tatapan yang aneh.


"Lihat, Haruka! Mereka juga sama-sama lengah dan diam begitu saja."


"Heh...?"


Krik... krik... krik...


Wajah Korrina mulai berubah menjadi merah dan ia segera mengangkat Haruka lalu menghalang wajah-nya dengan tubuh Haruka, "Mama, kenapa...? Geli...!"


Korrina segera melarikan diri dan bersembunyi di belakang Rexa dan Vania karena rasa malu dan canggung yang ia rasakan saat ini, Rexa dan Vania juga mulai merasakan hal yang sama sampai mereka mulai berlarian di sekitar wilayah itu karena mereka tiba-tiba datang dan menyerang mereka seolah-olah mereka itu benar-benar lengah.


"Hahhhh..." Shira menghela nafas-nya panjang.


***


Mereka semua berhasil membasmi seluruh pasukan Giblis yang menyerang planet itu, mereka juga akhirnya mulai bersatu kembali dan saling menyapa lalu menanyakan tentang keseharian mereka. Haruki dan Chloe tiba-tiba pergi meninggalkan mereka karena tugas mereka sudah selesai untuk membasmi seluruh pasukan Giblis itu.

__ADS_1


"Loh, kenapa kalian ada disini...? Bukannya kalian sedang meneliti sesuatu di Yuutouri?" Tanya Korrina.


"Kami meneliti kelemahan untuk pasukan Giblis menggunakan alat musik ini." Ucap Andrian, ia mulai menunjukkan Angklung itu kepada Korrina.


"Ahhh...! Alat musik tradisional Indonesia...?! Boleh aku coba...?" Tanya Korrina dengan ekspresi yang terlihat bersemangat.


"Tentu." Andrian memberi angklung itu kepada Korrina, "Terima kasih."


"Kau sepertinya masih menggunakan kebaya itu, apakah itu terasa nyaman?" Tanya Aditya.


"Iya, aku sangat menyukai pakaian ini, aku akan terus memakainya dan mencari yang baru nanti di semesta Yuutouri." Korrina mulai menggoyangkan angklung itu dengan cara yang asal sampai menciptakan bunyi yang terdengar bising sampai membuat mereka semua menutup telinga mereka lalu terjatuh di atas tanah.


"A-Ackk..." Korrina melepas angklung itu dan ia segera terjatuh di atas tanah ketika mendengar suara bunyi yang bising itu.


"Sebenarnya... Kedua Angklung yang kita bawa ini sudah mengandung Mana kita yang dapat membuat suara-nya terdengar keras, jika kau memainkan-nya asal seperti itu maka efek yang akan diberikan berakhir merugikan bagi kita semua..." Ucap Aditya yang merasa pusing.


"Maaf, maaf..."


***


~Zuusuatouri~


Shizen saat ini masih menyamar menjadi seorang iblis, ia bisa menyamar dan memiliki penampilan seperti iblis karena bantuan dari Korrina yang menyelimuti tubuhnya dengan sihir ilusi yang dapat mengubah wujud-nya menjadi seorang iblis. Shizen sedang menikmati makan siang-nya yang tidak enak sambil menunggu kedatangan Rxeonal.


"Apakah kau, Shizen?" Tanya seorang iblis yang mulai menepuk punggung-nya.


"Ya, itu benar." Shizen melirik ke arah iblis itu yang ternyata seorang gadis.


"Ini aku, Yuuna... Sepertinya Korrina memberikan tugas yang sama, ia bilang untuk menjaga-mu agar kau tidak terbunuh dan tertangkap basah." Ternyata selama ini Yuuna tidak datang karena dia mendapatkan misi dari Korrina.


"Ohh... Kau ya..."

__ADS_1


"...Yuuna, seorang Saint Soul."


__ADS_2