
"Kiiii...!" Honoka memeluk Haruka erat dan memasukkan kepala-nya ke dalam baju Haruka hingga ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat lelah karena Honoka masih saja takut dengan teman yang benar-benar bisa dia percayai.
Haruka tidak akan membiarkan adik-nya menjadi seorang gadis yang selalu menyendiri, dia segera menyuruh Hana untuk menarik dirinya dengan menggenggam tangan-nya, tetapi jangan terlalu kasar karena dia sudah pasti akan melarikan diri, semalu-nya dirinya... Honoka tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak penting.
"Honono~" Hana mulai memanggil Honoka dengan nama panggilan-nya hingga ia perlahan menggenggam tangan Honoka dan pelan-pelan menarik dirinya keluar hingga ia mulai menatap Hana dengan ekspresi yang terlihat ketakutan.
"Iiiiiii...!" Honoka mendorong Hana mundur lalu ia bersembunyi di belakang Haruka sambil mengintip Hana yang terlihat tersenyum, sepertinya mereka semua tidak akan menyerah sebelum bisa berteman dengan Honoka.
Sepertinya memegang tangan-nya masih belum cukup untuk mendapatkan kepercayaan Honoka, sudah saatnya menggunakan rencana lain yaitu memancing dengan sebuah makanan yang sangat disukai oleh Honoka yaitu donat, sayang sekali Haruka tidak memiliki satu donat di kantong-nya jadi dia menanyakan mereka satu-satu.
"Ahh... Beruntungnya aku bawa..." Kata Asriel, ia memberikan donat itu kepada Haruka dan Haruka memberikannya kepada Hana untuk memancing Honoka menggunakan donat tersebut.
"Honono, mau...?" Hana tersenyum kepada Honoka hingga Honoka melebarkan matanya ketika melihat Hana yang mencoba untuk memberi dirinya sebuah donat, tanpa berpikir dua kali Honok langsung pelan-pelan menghampiri Hana sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat malu.
"Uuu..." Honoka mencoba untuk mengambil donat itu dengan cepat tetapi Hana mengangkat-nya ke atas, karena tinggi badan Honoka itu pendek jadi dia kesulitan untuk mencoba meraih donat tersebut, Hana bersama yang lainnya mulai menertawakan Honoka hingga ia mulai mengembungkan pipi-nya.
"Huuuu...! Mmmm...!!!" Honoka melompat dengan pelan sambil mencoba untuk meraih donat itu, Hana terkekeh lalu ia memberikan donat itu kepada Honoka dan setelah itu mengusap kepala-nya, "Kamu imut banget deh..."
Honoka mulai memakan donat itu dengan pelan, Haruka sekarang mulai menjamin ketika Honoka sudah diberi donat oleh salah satu dari mereka maka dia bisa mempercayai mereka, tetapi Honoka masih bersikap seperti anak kecil tentang sebuah makanan yang sangat dia suka. Apa yang terjadi jika seorang pedofil mencoba untuk memancing-nya menggunakan donat?
Setelah Honoka menghabisi donat itu, dia mencoba untuk meminta donat yang kedua sambil memainkan kedua jari-nya, "Ada... lagi...?"
"Sudah habis." Kata Haruka sambil mengelus kepala-nya.
__ADS_1
"Mmmmm... Ho... no... ka... Honoka... Honoka... Comi..." Honoka memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya kepada mereka semua hingga mereka langsung merayakan-nya dengan kesenangan yang besar karena Honoka sekarang mau berteman dengan mereka, tetapi dia masih mencoba untuk melawan rasa malu-nya itu.
Dengan ini kelas A-10 semuanya sudah berteman dengan baik tetapi salah satu dari mereka masih belum bisa disebut sebagai kelas yang sangat aktif dan bisa mengandalkan kerja sama terhadap sekitar mereka masing-masing, jumlah murid delapan ditambah lagi wali kelas-nya adalah Korrina.
Tidak ada aktivitas yang harus di lakukan di kelas jadi mereka semua mencoba untuk beradaptasi dengan mengelilingi akademi itu, hal yang mereka kunjungi pertama adalah asrama yang benar-benar terpisah. Rokuro dan Asriel mulai berpisah bersama Minami dan yang lain-lainnya karena laki-laki dilarang memasuki asrama wanita.
Mereka mencoba untuk mencari ruangan mereka masing-masing, Honoka menarik baju Haruka dan Hana secara bersamaan ketika melihat sebuah pintu yang memiliki nama mereka bertiga, sepertinya satu ruangan diisi dengan tiga gadis.
"Hanacchi, sepertinya kita satu kamar!" Haruka mencoba untuk membuka pintu itu tetapi tidak bisa karena pintu tersebut terkunci, ketika mereka masuk seorang guru memberitahu mereka untuk menempati tangan mereka di pintu itu agar pintu tersebut bisa terbuka.
"Haruru, apakah kau ingat pintu ini hanya akan terbuka jika kita menyentuh sesuai nama yang tertera disana." Hana mulai berbicara.
"Kau ada benar-nya juga." Haruka mulai menyentuh pintu itu hingga terbuka, "Lagi-lagi teknologi dan sistem yang dibuat oleh Mama..."
"Nyahahaha! Kau sangat beruntung untuk bisa sekamar dengan cahaya keadilan, Mitsuki!" Minami mulai bergaya tetapi Mitsuki tidak menghiraukan-nya karena dia sudah masuk ke dalam kamarnya bersama Marie.
"Oi! Kau dengar!?"
Begitu Haruka masuk ke dalam kamar, ia terkejut ketika melihat satu kasur yang sangat besar, mungkin lima orang cukup untuk berbaring bersama-sama di atas kasur tersebut. Honoka dengan pelan menghampiri kasur itu lalu ia berbaring di atas sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat nyaman karena kasur yang empuk itu.
"Honono, kamu menikmati kasur yang empuk ini ya." Hana naik ke atas kasur itu lalu ia duduk di atasnya sambil melihat ruangan yang luas itu, kasur berwarna merah muda dengan lantai yang terasa lembut untuk diinjak serta warna luar angkasa untuk tembok dan langit-langitnya.
Haruka membuka lemari-nya dan ia melihat beberapa seragam serta piyama yang sudah disediakan, ia baru saja ingat apa yang Korrina katakan... Mereka semua harus tinggal di asrama itu sampai lulus di akademi Yuzu dengan membawa nama baik-nya dan mengalahkan akademi yang berada tingkat lima besar.
__ADS_1
Terdengar banyak sekali ledakan yang berasal dari lapangan, Hana melirik ke belakang dan mulai mengintip dari jendela hingga ia melihat banyak sekali murid yang sedang berlatih dan latih tanding, ledakan yang mereka keluarkan sangat dahsyat hingga Hana sendiri cukup terkesan untuk melihat-nya.
"Mama-ku bilang bahwa kita semua akan bersaing melawan semua kelas A untuk bisa dipilih sebagai murid yang mewakili akademi Yuzu, ketika kita sudah lulus kelas A maka kita semua akan masuk ke dalam kelas B... Kalau tidak salah terdapat lima kelas dengan tingkatan yang berbeda.. A sampai E." Kata Haruka sambil menghampiri jendela besar itu.
"Aku penasaran... Kenapa kamu tertarik untuk masuk ke dalam akademi ini...? Aku pernah dengar cerita tentang-mu dari Mama dan Papa-ku bahwa kau bisa mengendalikan waktu semau-mu." Kata Hana dan Haruka mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat malas karena dia dipaksa untuk ikut.
"Yahhh... Bukan-nya tidak tertarik sih, Mama-ku memaksa diriku dan aku tidak memiliki rasa penyesalan lain ketika Honoka ikut, dia itu adikku yang masih harus belajar dengan berbagai hal. Mama dan aku terlalu memanjakan dirinya hingga ia bersikap malu dan ketakutan seperti itu setiap saat..."
"...Jika saja dia sendiri tanpa-ku atau Mama pasti dia akan berkeliaran." Haruka melirik kepada Honoka yang saat ini sedang tertidur dengan damai.
"Kau sepertinya kakak yang baik ya, Haruru. Apakah kamu kakak tertua?"
"Tidak... Aku memiliki banyak saudara, hampir bisa disebut lima sih... Yang paling tua pergi entah kemana dan kedua kakak-ku yang lain saat ini sedang berlatih di suatu tempat entah dimana. Kalau satu lagi aku sudah lupa dia pergi entah kemana, yahh... Aku tidak membenci mereka atau apapun itu, aku sangat menyayangi mereka." Haruka duduk di sebelah Honoka sambil mengusap pipi-nya.
"Yahhh, pokok-nya aku senang bisa mendapatkan teman seumuran dengan Honoka dan aku walaupun kita tidak memiliki umur sih, ahahaha. Semoga kita bisa berteman ya, Hana. Aku juga menyarankan-mu untuk tidak mencoba bertarung melawan Honoka..." Haruka mulai menempati sebuah selimut di tubuh-nya.
"Bertarung sih tidak tetapi aku ingin melakukan latih tanding bersama kalian berdua, aku belum pernah mendengar banyak cerita tentang Honoka. Apa kekuatan-nya? Apakah Crimson, Sacred, Scarlet, atau waktu?"
"Dia dapat mengontrol realita, sihir yang cukup menakutkan jika Honoka mampu menyempurnakan-nya seperti diriku yang sudah menjadikan segala waktu menjadi milik-ku. Dia dapat mengubah apapun semau-nya, dia itu cukup berbahaya ketika bertarung."
"Sihir realita...?"
"Ya... Dia dapat membunuh musuh-nya dengan sekejap, menggunakan sihir realita yang dapat mengubah musuh menjadi pasir, batu, atau benda-benda mati lainnya... Dia bisa melakukannya." Kata Haruka sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.
__ADS_1
"H-Hebat...!"